
Dua minggu berlalu sejak aku bertemu dengan kak Arya. Kia bilang kak Arya menyukaiku, namun aku tak percaya.
Semua lelaki tampan menurutku hanya damai jika dilihat, tapi membuat luka jika kau menggunakan perasaanmu padanya. Pasti banyak wanita yang akan mengejarnya, pasti banyak tingkah maupun sikap mereka yang akan membuatmu cemburu, dan itu semua berpeluang untuk selingkuh nanti.
"Terserah lu deh Nya. Capek gue nasihatin elu. Nih ya kalau misalnya kak Arya itu sukanya sama gue pasti langsung gue terima. Nah lu? Malah menghindar dari dia, aneh lu.." Gerutu Kia saat kami bersantai sore di balkon.
"Lah kak Zaky gimana kalau lu mau sama kak Arya?" Balasku seraya tersenyum jahil ke arah Kia.
"Oh iya, gimana nasib kak Zaky cintaku sayangku nanti yaa......" Kia mendramatisir keadaan sambil mengelus dadanya dengan kedua telapak tangan.
"Lebay lu...." Sahutku, seraya menampar gemas lengannya.
"Hahaha... Nya ini kan cuma misalnya, toh kak Arya sukanya sama elu. Sekarang jujur deh sama gue gimana perasaan lu?" Kia menatap tajam ke arahku, tanda dia sedang serius dengan kata-katanya.
"Sebenernya gue juga suka sih.. tapi...gue gak yakin Ya. Gue ini di bandingkan sama mantannya itu ibarat langit sama bumi.." Aku menerawang jauh ke masa lalu ketika teman-teman kekasih kak Arya membully ku.
"Cewek miskin, sok kecakepan mau ngerebut Arya, Hello..sadar diri lu..!"
"Dasar ja***g, body kerempeng gini mau sok nyaingin Alexa, ngaca woi..!"
"Heh..! Mimpi jangan ketinggian, kalau jatuh bisa langsung pindah alam lu..!"
Begitulah kata-kata tajam mereka padaku. Aku diam. Aku tak sanggup melawan mereka yang hampir semua orang tuanya mempunyai kuasa.
Aku tahu jika aku melawan, maka beasiswa ku di sekolah ini yang akan jadi taruhannya. Aku tak mau kalau sampai orang tuaku berurusan dengan orang tua mereka.
Cukup aku yang menerima penghinaan ini. Cukup aku yang merasakan sakit ini. Jangan sampai orang tuaku yang telah bersusah payah bekerja demi aku dan juga adikku ikut terbebani dengan masalahku di sekolah ini.
"Hei Nya. Lu jangan insecure gitu dong. Harta bisa di cari, tampang bisa di poles, tapi cinta yang tulus itu langka Nya. Jangan di sia-sia in....." Kia masih menceramahiku panjang lebar soal ini.
"Lu sejak kapan jadi muridnya pak Mario Teguh Ya? Bijaksana banget omongan lu sore ini." Ujarku seraya tersenyum tipis ke arah Kia.
"Terserah lu deh Nya. Terserah." Sahut Kia kesal, seraya mengerucutkan bibirnya, mungkin masih mengumpat di dalam hati soal sikapku yang keras kepala ini.
"Iya..iya..makasih ya Kia sayang udah perhatian banget sama gue. Gue bakal pikirin baik-baik semua kata-kata lu." Ucapku mantap sambil menepuk pelan pundak Kia.
Langit masih cerah. Cahaya mega merah yang mulai muncul membius pandangan kami. Warnanya menyebar di antara awan putih, kemudian membaur menjadikannya beberapa gradasi warna yang akan membuatmu terpesona dalam sekali pandang
.
.
.
...--------∆∆∆∆∆--------...
Selasa siang, ketika aku pulang dari sif pagi bersama Monik, kak Arya mengabariku kalau dia sudah ada di depan kos.
"Duhh gimana nih Mon..?" Ucapku gelisah setelah memasukkan ponselku ke dalam tas.
"Kenapa? Arya?", Monik langsung bisa menebak karena kemarin aku sudah menceritakan masalahku ini padanya.
"Iya, dia udah di depan kos..."
"Tenang Nya. Tarik napas, keluarkan perlahan. Santai. Tenang. Ikuti kata hatimu, okey?" Aku menuruti kata-kata Monik yang bagai sugesti positif di otakku.
"Oke. Thanks ya Mon."
Monik tetap di sampingku saat kami sampai di depan kos dan berhadapan dengan kak Arya.
Kak Arya masih duduk di atas motornya, pakai kaos warna putih dengan outer semi jas berwarna biru dongker.
Perfect. Sempurna. Style ala korea yang semakin membuat para gadis tak bisa berkedip melihatnya.
__ADS_1
"Hai kak, udah lama nunggu? Kenalin ini teman satu sif satu kos sekaligus sahabatku, Monika...." Aku memperkenalkan Monik sebagai sahabatku. Mereka berjabat tangan sebentar dan Monik sukses terpaku melihat wajah kak Arya.
"Oh..ya.. hai kak, gue Monik. Emmm... Nya gue naik duluan ya..." Akhirnya Monik sadar setelah aku mencubit pelan panggulnya.
"Arya. Panggil aja Arya." Kak Arya tersenyum ke arah Monik sambil melirikku.
"Eh bareng. Kak gue bersih-bersih dulu ya, kak Arya tunggu aja di toko atau kafe kemarin." Aku langsung menyeret Monik naik ke kos tanpa menunggu jawaban kak Arya.
"Gila Nya. Tampang si Arya Damage nya gak tanggung-tanggung. Nih ya kalau dia nembak gue, pasti langsung gue terima." Kia mengomeliku sepanjang jalan kami menaiki tangga sampai kamarku.
"Udah ngomongnya? Lama-lama lu mirip Kia tau gak kalau nyeramahin gue, Hihihi.."
"Lu emang aneh Nya, di taksir cowok ganteng malah ogah-ogahan."
Aku segera mandi dengan cepat, meninggalkan Monik yang masih menggerutu kesal di kamarku.
"Nya, lu jangan pakai hijau, pakai kaos putih kemarin aja biar matching sama Arya." Aku tertawa mendengar komentar Monik yang mengamati dandananku.
"Ini aja, kan lengan pendek, gue lapisin outer putih, gimana?"
"Oke juga selera lu. Yaudah buruan sana berangkat. Nanti pulangnya bawain camilan ya.."
"Siipppp...." Aku keluar kamar setelah rapi dan wangi. Entahlah, kurasa aku mulai terbiasa seperti ini sejak menerima seragam kerja, harus rapi dan wangi setiap kali keluar.
Aku celingukan setelah sampai di bawah. Di mana kak Arya?
"Nya, sini, pacar kamu di sini nih...!!" Teriak bu Ratmi dari dapur warungnya. Membuatku ingin menghilang saat ini juga.
Astaghfirullah bu Ratmiii...teriaknya kencang banget. haduh gimana kalau ibu kos dengar ini ya? Kak Arya juga ngapain malah di situ sih? Batinku.
Kulangkahkan kakiku ke arah warung bu Ratmi. Untungnya warung ini sedang sepi jadi tak masalah kalau aku mengobrol sebentar dengan kak Arya di sini.
"Sini Nya. Lu mau pesen apa?" Tanya kak Arya begitu aku duduk di sampingnya.
"Gak usah kak, Anya masih kenyang." Aku melirik ke arah bu Ratmi yang sedang mengawasi kami sambil tersenyum-senyum.
"Tiga ribu nak.." Jawab bu Ratmi seraya melangkah mendekati meja kami.
"Kak Arya mau pulang?" Tanyaku penasaran.
"Gak lah. Mau ngajakin lu jalan bentar, gimana?" Tanpa sadar senyumku mengembang.
"Boleh deh..." Ujarku lirih.
"Emang kalau gue mau pulang lu mau ikut?" Tanya kak Arya, sembari menaikkan sebelah alisnya dan menatapku jahil.
"Apaan sih kak, udah ayo jalan... Buk kita keluar dulu yaa..." Pamitku pada bu Ratmi.
"Iya Nya hati-hati..." Sahut bu Ratmi sembari meletakkan gelas bekas minum kak Arya ke dalam bak cucian piring.
"Lu masih sama ya, sopan sama semua orang. Lu juga kelihatan akrab sama pemilik warung tadi" Komentar kak Arya padaku sebelum dia memakai helmnya.
"Jelas akrab lah kak, bu Ratmi kan dekat sama kos gue. Jadi kalau butuh apa-apa pasti larinya ke beliau."
"Hmmm gitu. Iya juga sih."
Kak Arya melajukan motornya ke arah selatan. Lurus sampai kami melewati persimpangan jalan menuju pantai dan menuju alun-alun kota.
Kak Arya memilih ke pantai. Melewati beberapa perumahan elit, juga beberapa gedung pencakar langit.
"Lu udah pernah ke pantai sini belum?" Tanya kak Arya ketika kami terhenti di lampu merah.
"Belum kak."
__ADS_1
Selanjutnya kami diam, menikmati udara sejuk yang menerpa kulit ketika jalanan mulai menurun. Melewati jalan setapak yang sudah di tata sedemikian rupa hingga terlihat estetik di pandangan mata kami.
Kami berhenti di parkiran motor di samping gerbang masuk wisata. Setelah itu kami berjalan menuju hamparan pasir putih yang begitu indah.
"Cantik banget....Subhanallah..." Kak Arya membiarkanku berlari-lari kecil di depannya.
"Ada yang lebih cantik loh Nya..." Kak Arya berjalan mensejajari langkahku.
"Apa kak? Mana yang lebih cantik?" Aku menoleh ke arah kak Arya.
"Nih cewek di sampingku." Jawab kak Arya seraya memandangku lembut dan menunjukkan sedikit senyumnya padaku.
Duhh kak.. please deh, jangan senyum kayak gitu ke gue. Lesung pipi kakak tuh perfect banget tau gak. Batinku
"Apa sih kak. Gombal terus.." Aku menghindari tatapan matanya kemudian berjongkok mengambil kerang cantik yang terdampar di antara pasir putih di depanku.
"Serius Nya. Lu itu cantik menurut gue...jadi.." Kak Arya ikut berjongkok di depanku.
"Kak, udah deh, gak mempan tau kalau kak Arya mau gombalin aku kayak gombalin cewek-cewek kakak waktu sekolah dulu." Sahutku seraya kembali berdiri dan melepas kerang cantik yang tadi kujadikan alasan menghindari tatapan matanya.
"Anya. Dengar dulu." Ucap kak Arya lirih, sembari kembali berdiri dari jongkoknya.
"Nya, gue suka semua yang lu lakukan. Kebiasaan lu, wajah lu, sikap lu sama gue, semuanya gue suka. Gue.. gue sayang sama lu Nya. Elu..mau kan jadi pacar gue?" Aku terdiam ketika kak Arya langsung memegang kedua tanganku dan mengatakan hal itu dengan suara begitu lembut.
Kami terdiam beberapa saat.
"Tapi kak..gue.. gue ini miskin, gue gak sebanding sama mereka yang cantik dan kaya. Keluarga gue...."
"Nya, gue gak masalah sama itu semua. Harta itu bisa dicari, oke? Jadi gimana?" Tukas kak Arya, sedikit kesal dengan jawabanku.
Kami terdiam kembali beberapa saat.
"Gini aja deh Nya. Gue tunggu lu di kafe sebelah kanan sana. Kalau lu terima gue, lu susul gue ke sana. Kalau gak ya lu di sini aja sampai maghrib."
Aku menganga mendengar ucapan kak Arya. Ini masih pukul empat sore. Gila. Bisa jamuran kalau gue di sini sampai mahgrib.
"Kak tega bener nyuruh gue di sini sampai maghrib," Protesku ketika kak Arya baru dua langkah menjauhiku.
"Makanya buruan kasih jawaban, ayo ikutin gue ke kafe..." Aku mendengar tawa kak Arya setelah mengatakan hal itu.
Sial. Licik juga kak Arya. Tapi emang dari dulu kayak gitu kan dia ke gue? Jahil banget. Gimana nih. Gue suka dia juga sih, tapi kalau nanti dia selingkuh gimana? Saingan gue pasti cantik-cantik sexy-sexy kan? Batinku.
Aku melihat kak Arya telah duduk lesehan menempati meja yang ada di teras kafe. Dia memesan makanan, kemudian memperhatikan aku yang masih berdiri tak jauh dari kafe itu.
Ah, bodo amat kalau nanti dia selingkuh. Yang penting sekarang perasaan kita kan? Batinku.
Setelah hampir sepuluh menit berfikir akhirnya kuputuskan untuk melangkah mendekati meja kak Arya di luar kafe.
Senyum kak Arya mengembang sempurna ketika aku melepas sandal, lalu duduk lesehan di depannya.
"Apa sih kak, udah jangan senyum-senyum gitu dong." Gerutuku salah tingkah.
"Jadi gue diterima nih, kita resmi pacaran kan?" Tanya kak Arya sambil memegang telapak tangan kanan ku di atas meja.
"Dengan satu syarat." Sahutku serius.
"Apa sih Nya pakai syarat segala." Ucap kak Arya kesal.
"Jangan sampai selingkuh, oke?"
"Anya..Anya.. baru pacaran udah mikirin selingkuh. Iya gue janji. Gue sayang sama lu."
"Gue pegang janji kakak. Gue juga sayang sama kak Ar", Ucapku lirih, tak berani membalas tatapan mata kak Arya.
__ADS_1
"Apa tadi? Kak Ar? Oke, gue suka panggilan lu itu. Anya sayang." Aku malu sekali kak Arya memanggilku sayang.
Entahlah, apa yang aku putuskan ini benar atau salah. Yang pasti sekarang aku punya seseorang yang akan selalu di sampingku dan sayang padaku.