
Dua bulan berlalu.
Tanpa terasa sudah kujalani dengan penuh lika-liku. Betapa berat sif malam hari pertama sampai ketiga. Betapa merepotkan nya saat kami mengerjakan mie ekspor negara T. Juga sif dua yang menurutku waktunya terasa lebih panjang di banding sif pagi atau sif malam.
Pernah berfikir untuk menyerah, namun bayangan wajah ibu dan ayah berhasil menguatkan ku. Tujuan awal ku berkerja adalah untuk mereka. Agar mereka tak perlu lagi bekerja terlalu keras untukku dan adikku. Agar Ibu tenang di rumah, tak usah menjadi buruh cuci ataupun buruh setrika pada tetangga kami.
Drrrtt...Drrrttt
Ponselku bergetar tepat setelah aku keluar dari gerbang pabrik.
Kak Arya,
Hai sayang,,sudah keluar pabrik? Kangen nih... besok jadi pulang bareng kan??
*H**ai juga...sudah, ini baru aja keluar gerbang sama Monik. Jadi, tapi beneran gak apa-apa? Aku gak mau ngerepotin terus*.... Balasku.
Bulan lalu aku pulang kampung bersama kak Arya. Dia mengantarku sampai rumah, mampir sebentar lalu pulang. Aku khawatir dia di marahi ibu atau ayahnya karena saat malam dia baru sampai di rumahnya.
"Besok lu jadi pulang Nya? Sama pacar lu?" Tanya Monik sambil tetap berjalan di sampingku.
"Iya Mon...lu juga pulang kan? Kenapa?" Tanyaku heran, tapi tetap berjalan santai menuju kos.
"Iya lah, mumpung besok setengah hari dan minggunya libur. Gak apa-apa kok...cuman..." Monik menggantung kata-katanya hingga membuatku penasaran.
"Cuman apa?"
"Kok gue merasa pacar lu agak berubah ya Nya. Dulu dia mandang lu tuh dengan sayang, tapi kemarin waktu kita ketemu, dia mandang lu seolah lu itu makanan. Sorry ya Nya kalau lu tersinggung." Monik berhenti di samping pedagang nasi goreng lalu menatapku khawatir.
"Apaan sih Mon, gue gak ngerti sama perumpamaan lu. Lu mau beli nasi goreng?" Tanyaku datar, hingga membuat Monik berdecak kecewa.
"Iya, ayo tungguin gue ya.." Kami melongok ke dalam, ada beberapa orang yang antri membeli, tiga cowok dan dua cewek. Monik masuk ke dalam sana, sementara aku menunggunya di sebuah bangku panjang yang diletakkan di luar, berbatasan dengan tembok gang.
"Beli nasi goreng juga Nya?" Sebuah suara mengagetkanku.
"Eh? Iya kak. Eh gak, teman kosku yang mau beli, aku cuma nunggu di sini." Ternyata itu kak Sam. Dan sekarang dia nyengir gak jelas setelah mendengar jawabanku yang belepotan.
Astaga, kalau di luar tanpa topi kerja dan masker ternyata manis banget orangnya.
"Boleh duduk? Gue udah beli, tapi temanku masih antri di dalam." Aku mengangguk, kemudian kak Sam duduk di sampingku.
"Kak Sam kos di mana?" Tanyaku sambil berbalas pesan dengan kak Arya.
"Di RT.10, lu di mana?" Tanya kak Sam sembari memasukkan makanannya ke dalam tas punggung.
"Di toko pojok, ruko pertama setelah bundaran satu.Tau gak kak?"
"Oh itu. Tau tau..."
Lima menit kemudian teman kak Sam muncul lalu mereka pamit duluan meninggalkanku.
"Siapa barusan Nya? Manis banget..." Monik muncul sembari tersenyum jahil ke arahku.
"Itu kak Sam, supply bumbu line gue. Kenapa lu? Naksir?" Aku menaikkan sebelah alisku ke arah Monik.
"Enak aja, gue kira lu yang naksir.. haha.. Udah ayo pulang.."
"Sembarangan. Gue udah punya kak Arya tau.."
Kami pulang sambil bercerita dan tertawa-tawa sepanjang jalan. Monik semangat sekali menceritakan tentang anak baru, cowok bagian kartoning yang naksir padanya.
"Hah serius tadi dia nembak lu?" Tanyaku pada Monik sebelum kami menyebrang jalan.
"Iya Nya. Tau gak, dia ngambilin garnis ayam bawang di line dua puluh lima buat gue, biar gak ngantuk dan gak di marahi kakak senior katanya. Haha..."
"So sweet banget... makanya lu kalau sif pagi, malamnya jangan begadang biar gak ngantuk." Monik hanya tertawa menanggapi ucapan ku.
__ADS_1
Sampai di kos ku lihat Zumi sedang mencuci seragam, sedangkan Putri menonton drama korea di depan kamarnya.
"Nya, tadi ada yang nyariin elu" Teriak Putri ketika aku hampir membuka pintu kamarku.
"Siapa?" Tanyaku heran.
"Lupa gak tanya namanya siapa, hehe. Tapi itu cewek cantik, rambutnya sebahu, pakai motor beat hitam." Jelas Putri tanpa menoleh ke arahku.
"Terus lu jawab apa tadi?"
"Gue bilang lu masih di jalan, terus dia langsung balik gak tau ke mana."
"Oh yaudah, thanks ya.."
Aku melenggang masuk kamar. Melempar tas ke atas kasur, kemudian mengambil baju ganti.
Aku mandi dengan cepat, lalu menjemur handuk ku di balkon. Tiba-tiba bu Ratmi berteriak padaku, mengatakan bahwa ada temanku yang menunggu di bawah.
Siapa sih? Padahal aku mau tidur siang sebentar .. Yasudah lah turun aja. Mungkin ada hal yang penting. Batinku.
Aku turun ke bawah perlahan sambil mengecek akun sosial media yang jarang ku pakai. Semua masih sama, tak ada notifikasi pembaruan maupun pesan sama sekali.
"Anya... baru pulang kerja ya? Maaf ganggu..." Ujar seseorang di hadapanku.
"Kak Selly? Iya kak. Gak apa-apa kok. Ada apa ya kak?" Tanyaku heran.
Ternyata dia kak Selly, tapi kali ini dengan tampilan berbeda. Celana levis hitam, kaos hitam, juga outer hitam ala-ala bodyguard berdiri dengan jarak dua langkah di depanku.
"Lu bisa ikut gue sekarang gak? Kak Vero....."
"Kak Vero kenapa kak?" Sahutku tak sabar.
"Mending lu ikut gue sekarang. Ayo." Kak Selly menarik tanganku menuju motornya.
"Bentar kak, gue gak bawa ponsel sama dompet, gue ambil dulu bentar ya.." Aku segera berbalik namun secepat kilat kak Selly menahan lenganku.
Apa yang terjadi dengan kak Vero? Kenapa kak Selly sampai se-ngotot ini?? Batinku.
"Tapi kak semua video yang biasa bikin kak Vero tenang ada di ponselku." Ucapku mantap, juga dengan nada tinggi.
"Di ponsel gue juga ada. Udah buruan Nya, jangan bikin gue kesulitan juga, please...!" Ujar kak Selly terlihat frustasi.
Ya Allah sebenarnya ada apa ini? Kak Selly juga berpakaian aneh hari ini. Batinku.
Akhirnya aku menurut. Kami diam selama di perjalanan karena kak Selly mengendarai motor dengan kecepatan cukup tinggi.
Tunggu. Ini bukan ke arah rumah sakit kan? Ke mana kak Selly akan membawaku?? Batinku.
.
.
...----------------...
Universitas XX, Negara T.
Seorang lelaki baru saja keluar dari sidang skripsi dengan tersenyum tipis. Celana bahan hitam dengan kemeja slim fit dark blue membuat pesonanya tak tertandingi. Kacamata bening yang bertengger di hidung mancungnya menambah kesan cerdas, dingin, juga begitu berwibawa.
Di luar gedung, banyak kaum hawa menyambutnya dengan kado masing-masing di tangan mereka. Buket bunga, coklat, jam tangan, dan masih banyak lagi, rela mengantri hanya demi melihat sang pujaan hati.
"Aaaa dia sudah keluar...!"
"Waaa tampannya calon pacar gue...!"
"Ngaco, dia calon suami gue tau..!"
__ADS_1
"Duhh senyumnya bikin detak jantung gue mau meledak..!"
Begitulah teriakan-teriakan mereka satu sama lain. Namun ketika lelaki itu mulai melangkah, mereka semua kompak terdiam.
"Gimana bro?" Tanya salah seorang pria yang sejak tadi menunggunya keluar dari ruang sidang.
Lelaki tadi lagi-lagi hanya tersenyum menjawab pertanyaan temannya.
"Lulus bro?"
"Selamat ya bro..."
Lelaki tadi hanya mengangguk sekilas kemudian tersenyum miring ke arah teman-temannya.
"Sukses selalu man.."
"You're the best brother..."
Kemudian mereka berlima berjalan beriringan membelah kerumunan fans si lelaki tadi.
''Kak se-selamat ya.." Ujar seorang gadis dengan berani, sambil menyodorkan sebuah kotak kado.
"Kak semoga makin sukses ya.." Ucap gadis lainnya juga dengan menyodorkan kotak kado, namun ukurannya sedikit lebih besar dari kotak kado gadis pertama tadi.
Lelaki tadi hanya mengibaskan tangannya ke arah kanan. "Thanks." Ucapnya singkat, padat dan jelas.
"Ladies, silahkan taruh kado-kado kalian ke mobil hitam itu ya, yang parkir paling kanan, oke?" Sahut salah satu teman Lelaki tadi, kemudian para gadis pun berlomba-lomba sampai ke mobil yang di maksud dan menaruh semua kado mereka di dalam sana.
"Sayang...! Kangen..! Gimana tadi? Pasti lulus dong.. ya kan? Ya kan?" Teriak seorang gadis cantik berwajah riang dan manja yang baru muncul di depan mereka.
Lelaki tadi hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya menyambut sang gadis. Setelah sang gadis melingkarkan tangannya ke lengan si lelaki, mereka berenam kemudian berjalan menuju sebuah restoran yang ada di depan kampus ini.
Drrtt..Drrttt
Ponsel lelaki tadi berbunyi, kemudian dia langsung mengangkatnya.
"Ya."
"Apa?"
"Sembuh?"
"Oke, secepatnya."
Percakapan yang singkat. Membuat semua teman-temannya terdiam menyimak pembicaraan lelaki tadi.
"Everybody. Semuanya. Silahkan pesan makanan sepuasnya, gue traktir sebagai tasyakuran karena kelulusan skripsi gue." Ucap si lelaki dengan suara begitu tenang dan dalam, membius hampir semua wanita yang ada di kafe ini.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers...
Terima kasih sudah berkenan hadir dan mendukung karya pertama saya ya...
Semoga kita semua selalu sehat dan rejekinya lancar...
Mohon maaf kalau update selalu malam..
Saya seorang ibu rumah tangga yang kebetulan bisa menjahit..
__ADS_1
Jadi..
Mohon di maklumi yaaa...😁😂