
"Nya lu tadi makan apa?" Tanya Starla ketika ia kembali dari giliran sholat shubuh nya.
"Soto. Kenapa emang?!" Jawab ku tanpa menoleh ke arahnya.
"Enak nggak? Gue tadi mau nyusulin, tapi nggak jadi." Starla kali ini cukup kalem, tak berteriak sama sekali.
"Enak lah, cuaca dingin kan cocok banget makan makanan yang berkuah hangat. Hehe..." Tukas ku mengiming-imingi Starla.
"Enakan tidur tau Nya. Brrrrr. Hahaha.." Starla malah menertawakan dirinya sendiri.
"Woooiiiii Teletubbies, jangan miring-miring terus minyak lu... Anya Geraldine bantu benerin minyak miring juga dong..." Teriakan kak Andini membuyarkan tawa kami. Membuat kami langsung diam dan lebih fokus lagi pada mie berjalan di depan kami.
Line kembali hening. Saat subuh selalu begini. Tiap orang fokus dengan pekerjaan masing-masing agar tidak mengantuk dan membebani rekannya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa......" Suara teriakan kami kompak menggema ketika mendadak suasana terang berubah menjadi gelap gulita.
Aku berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan mata ku.
"Yesss..."
"Alhamdulillah..."
"Asik...sik...sik..sik..."
Hingga kemudian bermacam-macam ungkapan lega keluar dari teman-teman ku menyadarkan ku.
Listrik padam.
Listrik padam otomatis mesin mati.
Mesin mati otomatis konveyor tak bergerak lagi.
"Ahh capeknyaa..." Lirih Starla sembari duduk selonjoran di bawah konveyornya.
"Hei nak lu itu ngantuk bukan capek." Tukas kak Andini seraya melirik tajam ke arah Starla.
"Hehe..dua-duanya dong kak..." Kilah Starla.
"Hilih. Dasar lu." Sewot kak Andini.
"Haiii...giliran siapa nih yang belum? Anya?!" Seru bu Tuti yang baru kembali dari sholat subuh.
"Siap bu...." Ujar ku senang.
Kali ini terakhir giliran ku sholat, plus mati listrik jadi perjalanan terasa santai dan tak di buru waktu.
Aku dan beberapa rekan kerja line lain sholat bersama dengan tenang walau dalam suasana gelap.
__ADS_1
Beberapa staf IT dan staf kantor nampak mulai berkeliling, memeriksa keadaan bagian produksi sekaligus mesin-mesinnya.
Aku mengabaikan aktivitas mereka dan hendak kembali setelah sholat. Namun di luar, nampak dua orang pria berpakaian hitam tengah memasang sesuatu di luar gedung N-2.
Siapa mereka? Kenapa mengendap-endap begitu? Pasti bukan pengawal bayangan kan? Batin ku.
Reflek aku melangkah keluar mengintip mereka di balik sebuah pilar besar di luar tempat ku sholat tadi.
Satu pria berhasil memasang sesuatu, lalu mengacungkan ibu jarinya ke arah temannya. Temannya mengangguk, kemudian mereka bergegas meninggalkan tempat itu seraya celingukan menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan aman.
Mencurigakan banget. Kayak maling aja. Tapi maling apaan? Gak bawa apa-apa tuh... Batin ku.
"Kenapa di sini? Hayo masuk.." Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan ku.
"Astaghfirullah...kaget saya bu.. Ini loh habis buang sampah bungkus permen, hehe..." Aku tidak berbohong, tadi memang sempat membuang sampah sebelum mengamati dua orang aneh.
"Oh yasudah, masuk yuk.." Ajak bu Ika yang tak lain adalah penjaga kunci loker sif B yang selalu membantu ku bila masuk angin di sif malam.
"Iya bu." Aku melangkah masuk mengikuti bu Ika. Lalu lurus masuk ke dalam, kembali menuju ruang packing.
Sampai line sembilan ku lihat teman-teman ku sedang membersihkan area kerjanya masing-masing. Ada yang menyapu, menata bumbu, memilih minyak, bahkan mengumpulkan dan melipat kecil plastik-plastik besar bekas wadah bumbu.
"Ayo Nya bantuin teman kamu bersih-bersih. Empat puluh lima menit lagi kita pergantian sif." Seru bapak operator ketika melihat ku memasuki mesin dua puluh tujuh.
"Siap pak." Jawab ku sopan.
Kami semua larut dalam pekerjaan kami hingga waktu peegantian sif pun tiba.
"Enak lu Mel, santai nggak dikejar waktu awal kerja." Gerutu kak Andini sembari duduk dan mengamati teman yang lain.
"Hai kakak-kakak tersayang... Gue bawa berita bagus nih...katanya presdir kita bakal visit kesini loh nanti," Seru Friska yang datang ke arah kami dengan hebohnya.
"Hooo beneran? Presdir tampan kita itu mau kesini??" Sahut Starla antusias.
"Iya gaes. Gue denger sendiri tadi waktu ceklok banyak staf kantor yang ngomongin." Jawab Friska setengah berbisik kepada kami.
"Aduh gimana ini. Anya, Feni, kita di sini dulu aja ya nungguin kedatangan presdir tampan gue. .." Rengek Starla dengan mimik memelas.
"Ogah.."
''Males.."
Jawab Feni dan aku hampir bersamaan.
"Hahaha....Nak nak kalau lu disini sampai jamuran juga pak presdir nggak bakalan tahu." Cibir kak Andini.
"Kalo mau ketemu, sana tungguin di depan gerbang, kali aja lu tahu yang mana mobilnya. Hahaha..." Sahut kak Dewi setuju.
__ADS_1
"Ah, kalian jahat.." Tukas Starla dengan wajah teraniaya.
Sementara itu di sebuah rumah mewah. Nampak rapat darurat kecil telah di bentuk. Suasana tegang menyelimuti tatkala hal buruk yang selama ini di khawatirkan kini telah menjadi kenyataan.
"Semalam surat ini sampai di rumah papa. Entah apa lagi yang akan mama kalian lakukan dengan menguasai separuh perusahaan keluarga kakek kalian." Ucap pak Gunawan pasrah.
"Jadi yang tersisa tinggal kantor pusat, perusahaan di kota G, kota J, dan cabang 4 kita? Astaga...." Lanjut Veronika mulai lemas.
"Pasti ada yang tidak beres ini pa. Pasti ada mata-mata atau mungkin penghianat kak." Ujar Gara berspekulasi.
"Bisa jadi." Jawab Vero ambigu.
"Why? Kenapa? Kakak udah punya dugaan tersangka?" Tanya Gara.
"Ada tiga penyusup dan dua penghianat. Tapi kakak belum punya cukup bukti. Gak bisa eksekusi tanpa bukti dan saksi kan?" Ucap Vero seraya tersenyum smirk melirik sang papa dan juga sang adik.
"Great. Kakak emang the best." Ujar Gara seraya mengacungkan kedua ibu jari tangannya.
"Jangan senang dulu...selanjutnya gimana dek? Siap mulai plan B?! Kita butuh sesuatu yang cukup kuat untuk menjatuhkan dukungan lawan" Tanya Veronika.
"Siapa takut. Tapi gue punya satu permintaan." Tawar Gara.
"Apaan? Jangan aneh-aneh deh.." Sinis Veronika.
"Gue mau tambahan satu orang IT buat membongkar sesuatu."
"Bongkar apa?" Tukas pak Gunawan.
"Masih rahasia pa. Gara juga belum tahu pasti apa itu." Jawab Gara ambigu.
"Deal. Kamu pilih sendiri orangnya, mereka ada di ruang kontrol." Ujar pak Gunawan dengan suara lirih dan terkesan acuh tak acuh.
Mereka kemudian membubarkan diri setelah mematangkan rencana kedua.
"Gun, kenapa nggak langsung memberi tahu mereka yang sebenarnya saja?" Protes pak Dan ketika Vero dan Gara tak terlihat lagi.
"Gue nggak sanggup Dan. Ini akan mempengaruhi mental mereka jika mereka tahu dari ku." Ucap pak Gunawan dengan wajah sendu.
Pak Gunawan membuka laci, mengambil figura kecil, lalu menatap foto keluarga yang di ambil ketika Gara masih balita.
"Gue tahu apa yang lo rasain sekarang Gun. Gue yakin dia masih hidup walau entah sekarang ada dimana." Ujar pak Dan sembari menepuk pelan bahu pak Gunawan.
"Gue harap kata-kata lo benar Dan." Lirih pak Gunawan seraya menatap lekat foto keluarganya.
Dan gue akan menebus semua kesalahan dan dosa gue di masa lalu. Batin pak Gunawan.
.
__ADS_1
.
.