Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
73. Belum siap


__ADS_3

Suara ini...


Suara yang dulu tak pernah ku anggap namun tiba-tiba datang dan langsung ingin meminang.


Suara santai yang cukup menggoda bila disertai tawa renyah.


Suara yang membuat beberapa gadis jadi membenci ku.


Suara yang telah lama hilang bagai ditelan bumi.


"Anya....apa kabar?" Tanpa sadar pemilik suara ini telah berdiri di depan ku dan juga kak Selly. Menatap kami bergantian sembari tersenyum penuh arti.


"Sekarang lebih baik dari kemarin kak. Kakak apa kabar?" Tanya ku balik dengan suara agak gugup.


"Aku Baik. Ini....." Ia beralih menatap kak Selly.


"Ini kak Selly, saudara jauh ibu." Aku terpaksa berbohong agar ia tak bertanya lagi. "Kak Selly...ini kak Zidan, putra dari bos tempat ayah bekerja." Lanjut ku memperkenalkan mereka.


"Hai, salam kenal." Ujar kak Selly seraya tersenyum ramah.


"Salam kenal juga. Emmm... Nya, aku turut berduka." Ucap nya lirih, di sertai raut sendu menatap ku.


"Ia kak. Makasih." Tukas ku dengan lirih juga, kembali teringat lagi dengan almarhum ayah.


Kak Selly menaikkan sebelah alisnya, memasang senyum smirk ke arah ku seraya perlahan berdiri dari tempat duduknya. "Gue ke dalam dulu ya Nya, mau mastiin sarapan tante Ami." Pamitnya kemudian.


"Tapi kak......." Sergah ku cepat.


"Udah gak apa-apa. Lu di sini aja, kalian kan udah lama gak ketemu, pasti butuh ngobrol-ngobrol santai kan.." Entah benar atau hanya halusinasi ku saja, aku melihat kak Selly sekilas menarik sudut bibirnya sembari menatap kak Zidan sebelum ia melenggang masuk ke kamar ibu.


"Kenapa Nya?" Tanya kak Zidan. Ia mengambil tempat duduk kak Selly, lalu memandang ku dengan sedikit cemas.


"Gak apa-apa kak....aku cuma khawatir sama Fani, sepertinya dia syok dengan kejadian ini." Kilah ku tanpa melihat wajah kak Zidan.


"Hmmmm....nanti aku coba jenguk boleh?"


"Boleh."


Hening. Entah kenapa kini aku merasa gugup di dekatnya. Aku bingung tak tahu harus bicara apa.


"Nya, maaf ya...." Ujar kak Zidan tiba-tiba. Ia menatap ku sendu, berkedip dengan sangat pelan hingga membuat ku sedikit salah tingkah di hadapan nya.


"Maaf kenapa kak?" Tanya ku tak mengerti.


"Maaf kalau gara-gara pengakuan ku, kamu jadi kepikiran dan malah dibenci sebagian cewek yang suka sama aku." Ucap kak Zidan pelan, seolah mengerti bahwa tindakan nekat nya tahun lalu berdampak besar pada ku.


"Gak apa-apa kak. Itu mah urusan mereka mau benci aku atau enggak. Oh iya, emm..maaf ya bulan kemarin aku gak bisa datang, Aku turut berduka." Bulan kemarin ibu kak Zidan meninggal, ibu mengabari ku, namun aku tak bisa pulang karena masih bekerja.

__ADS_1


"Iya, it's okay, aku tahu kamu kerja jauh." Jawab kak Zidan singkat.


Hening kembali.


Satu menit,


dua menit,


tiga menit,


"Nya...." Panggil kak Zidan ragu.


"Ya... kenapa kak?" Tanya ku gugup.


"Gak jadi." Kak Zidan menghela napas panjang. Kemudian mencoba memegang telapak tangan ku, "Nya gimana kalau kamu gak usah balik kerja aja?"


"Maksud kakak?" Tanya ku kaget.


"Iya, gak usah balik kerja, kamu di sini aja rawat ibu kamu sama Fani." Tukas kak Zidan, kali ini terdengar tegas, tak ragu sama sekali.


"Maaf, tapi aku harus kerja kak. Aku sekarang adalah tulang punggung keluarga, harus bisa lindungi ibu dan Fani seperti ayah...." Jawab ku sendu, lagi-lagi teringat pada ayah.


"Kalau gitu izinkan aku yang gantiin kamu Nya. Kita bisa nikah, biar aku yang kerja, kamu di rumah aja jagain ibu sama Fani." Tukas kak Zidan mantap.


Duarrr....!!!


Dumm.. Duom... Duarr..!!!


Aku terhenyak. Terkejut dan reflek berjingkat secepat kilat. Aku langsung menarik tangan ku dari genggaman tangan kak Zidan.


Appaaa?!?!?!?


Apa-apaan ini? Kenapa kak Zidan gampang sekali bilang nikah? Lagi kesambet kuntilanak apa jailangkung nih orang?! Batin ku.


"Ma...maaf kak." Aku tak tahu harus bilang apa ketika kak Zidan terlihat takut karena reaksi ku yang menepis tangan nya lagi.


"Heii..maaf kenapa? Kamu gak mau nikah sama aku?" Tanya nya dengan raut cemas.


"Kak..please. Ayah baru di makamkan kemarin, kenapa mendadak kakak ngomongin nikah sama Anya?" Tanya ku balik, heran dengan kata-katanya yang terdengar hanya asal bunyi, yang cuma menuruti nafsu suka saja tanpa memikirkannya dengan matang.


"Ya...maksud aku...maksud aku gak sekarang nikahnya Nya. Kita bisa nikah minggu depan, atau bulan depan, yang penting kamu gak usah balik kerja dulu." Jawab kak Zidan. Ia kini tak lagi berusaha memegang tangan ku.


"Maaf kak. Anya belum siap. Ibu dan Fani masih sakit jadi Anya harus kerja biar bisa bayar biaya perawatan mereka." Ujar ku mulai tenang, dan bisa menghadap wajah kak Zidan tanpa ragu lagi.


"Tapi aku sayang sama kamu Nya..." Ucap kak Zidan lirih, ia bersedekap sembari menatap ku putus asa.


"Maaf kak..tapi Anya belum siap. Anya masih mau kerja, masih mau ibu dan Fani sembuh dulu." Jawab ku canggung.

__ADS_1


"Tapi kamu juga sayang kan sama aku?"


"Entahlah kak. Saat ini yang jelas aku gak bisa mikir sayang atau apapun itu, aku mau fokus sama kesembuhan ibu dan Fani aja." Jawab ku jujur.


Kak Zidan menghela napas panjang mendengar jawaban ku. Aku tahu ia mungkin telah mendengar aku putus dengan kak Arya dari Kia, makanya ia berani menemui ku lagi sekarang.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku bakal nungguin," Kak Zidan akhirnya menyerah, pasrah dengan semua penolakan halus yang kuberikan.


"Jangan nungguin Anya kak. Masih banyak gadis baik yang cantik yang pinter yang lebih baik dari Anya, yang lebih cocok dampingin kakak." Ucap ku santai, berusaha memberi pengertian pada kak Zidan.


"Yah...tergantung nanti aja Nya, siapa tahu besok atau lusa kamu jadi sayang sama aku kan? Hehe..." Kak Zidan kembali ceria, lalu tiba-tiba mengeluarkan amplop coklat dari sakunya.


"Apa ini kak?" Tanya ku heran.


"Titipan dari ayahku, ini gaji terakhir ayah kamu." Jawab kak Zidan.


"Oh, iya, makasih ya kak." Aku menerima amplop itu, lalu memasukkannya ke dalam saku kemeja yang ku kenakan.


"Oiya, aku balik dulu ya, musti buka toko. Nanti siang atau malam aku kesini lagi." Pamit kak Zidan sembari berdiri, tapi masih memandang ku dengan penuh harap.


''Iya kak...makasih..." Jawab ku seraya tersenyum membalas senyumannya.


Kak Zidan berlalu, namun aku jadi galau. Apa aku salah telah menolak dia lagi?


Kak Zidan baik, jujur, tampan, pengertian. Banyak gadis yang tertarik padanya, namun entah kenapa aku hanya menganggapnya sebagai kakak.


"Anya. Gimana?"


"Astaghfirullah.! Kak Selly..ngagetin tau." Aku terlonjak, terkejut tiba-tiba kak Selly sudah berdiri di samping ku sambil tersenyum lebar menatap ku.


"Gimana?" Tanya nya lagi.


"Apanya yang gimana?" Tanya ku bingung.


"Tadi...bukannya dia suka sama lu.." Kak Selly menaikkan sebelah alisnya lagi.


"Ah, sok tau nih kakak..." Kilah ku seraya melangkah menuju kamar ibu.


"Hei...gue tau kali mana cowok yang ngarepin sama yang biasa aja." Teriak kak Selly sembari mensejajari langkah ku.


"Sssttt...kak udah deh jangan di bahas." Tukas ku gemas.


"Hayo...malu nih... Hihihiii" Ledek kak Selly lagi.


"Au ah..." Balas ku cuek sembari masuk ke kamar ibu.


Kak Selly diam begitu kami masuk ke kamar ibu. Ibu belum bangun, namun wajahnya sudah lebih segar, tak sepucat kemarin.

__ADS_1


Ibu....kapan ibu bangun?


__ADS_2