
Satu tahun kemudian.
Tak terasa hari berganti begitu cepat. Rutinitas harian yang membuat jenuh namun menyenangkan berlalu dan terus berganti.
Seperti sore ini, kami semua menikmati sepiring gorengan dan seteko es cincau di depan kos.
"Ciyeee...abis kencan kemana Yes?" Sapa Kia ketika melihat Yessi baru diantar pulang oleh pacarnya.
"Ke pantai dong...nih buat kalian..." Jawab Yessi seraya meletakkan beberapa plastik keripik di depan kami.
"Mantap Yes..." Seru Inda sembari mengacungkan ibu jari tangannya.
"Lu gak pernah kencan lagi Nya?" Tanya Monik.
"Iya ya, Anya sekarang jarang kencan, padahal gue hampir tiap pulang kampung selalu kencan, ketemu kak Arya juga." Ucapan Kia membuatku sedikit terkesiap, namun aku buru-buru mengganti ekspresiku dengan datar seperti semula.
"Hei barbie lokal, emangnya kalau gue kencan tuh musti lapor ke elu?" Kilah ku sembari mencomot keripik pisang di sebelah Kia.
"Bukan gitu, tapi lu sama cowok lu gak apa-apa kan Nya?" Tanya Kia.
"Nah..itu juga yang mau gue tanyain.." Sahut Monik.
Aku terdiam. Tak bisa lagi membohongi mereka dengan senyumanku yang mulai mereka sadari nampak kaku.
"Ayo Nya cerita aja, kita ini udah seperti keluarga kedua tau..." Ucap Inda sembari ikut mencomot keripik pisang di samping Kia.
Aku hanya diam, menikmati kunyahan keripik pisang di mulutku. Aku bingung bagaimana menjelaskan kondisi ini pada mereka. Kak Arya memang baik, perhatian, tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia jadi berubah, sering tak fokus bila bersamaku.
Ia kerap kali melihat ponsel di tengah percakapan kami. Pernah ada satu nama yang menelfon, lalu ia nampak sangat cemas ketika aku menanyakannya.
"Teman kerja, ada sedikit masalah di laporan keuangan yang kami kerjakan, makanya gue jadi khawatir.." Kak Arya selalu berkilah demikian, sampai aku begitu hafal tiap kata yang akan dia ucapkan.
Pernah ia tak mengabari ku selama tiga hari. Saat kutanyakan ia bilang sedang ikut bosnya meeting dengan investor di sebuah villa di pegunungan hingga tak ada sinyal di sana. Apa itu masuk akal?
Entahlah. Aku tak mau curiga. Aku enggan mendebatnya. Aku percaya pada kejujurannya, karena sekali ia berbohong lagi, maka takkan ada kesempatan kedua untuknya.
"Woe..malah ngelamun.. Ayo cerita.." Kia menepuk pundak ku, hingga aku sedikit tersentak karenanya.
Inda, Kia, Ike, Ira, dan Monik menatapku penasaran.
"Kenapa? Kalian penasaran? Hehe...."
"Serius Anyaaaaa...!!" Seru mereka hampir bersamaan.
"Duh paduan suara kalian fales gaes...." Keluhku sembari menutup sebelah telingaku.
"Jadi mau cerita gak? Sedikit info ya, gue pernah lihat cowok lu makan suap-suapan sama cewek di mall KV dekat tempat kerja cowok lu." Ucapan Monik sontak membuat kami semua menatapnya curiga.
"Kok lu bisa kesana? Ngapain?" Ujar Inda dan Ike bersamaan.
"Ya ngapel lah, cowok gue kerja di sana. Hehe..." Jawab Monik sambil nyengir ke arah kami.
Jadi..apakah sikapnya yang berubah karena ini? Karena dia nemuin cewek yang lebih membuatnya menarik daripada gue? Batinku.
Beberapa bulan lalu dia memang mengaku dekat dengan salah satu teman kantornya. Seorang janda anak satu, katanya waktu itu anaknya sakit, jadi dia menolong untuk ikut menjaga sang anak sebelum keluarga lainnya datang.
Aku sempat marah karena ia sebelumnya berbohong sedang bekerja, dan baru mengaku sewaktu aku meminta video call.
Aku mendiamkannya. Bahkan sampai ia datang ke kos dan menunggu hampir tiga jam di depan pintu luar tangga kos karena aku tak mau menemuinya.
Ia sangat menyesal, dan berjanji takkan membohongiku lagi hal apapun.
Tapi sekarang...kenapa seolah perkataannya kemarin hanya alasan untuk sekedar menenangkan ku?
"Sebenarnya kami baik-baik aja...tapi gue sedikit curiga sama tingkah kak Arya akhir-akhir ini......." Aku berkata lirih, setelah mempertimbangkan beberapa hal.
"Gimana kalau lu pastiin aja Nya. Lu tiba-tiba kesana kasih dia kejutan atau apa gitu." Ucap Ike dengan semangat, membuat kami semua menganggukkan kepala setuju dengan idenya.
"Lusa aja gimana? Lusa kan weekend." Seru Kia mantap, diikuti tatapan kami semua ke arahnya.
"Setujuuu....!!!" Seru kami semua.
"Gue punya ide..." Monik kemudian membisikkan rencananya pada kami.
.
.
__ADS_1
.
Sabtu sore seperti yang telah Monik rencanakan, kami semua melaksanakan tugas masing-masing.
Kia dan Ike menghubungi kak Arya bergantian, mengatakan bahwa aku sakit, dan membutuhkan bantuannya.
Inda mendandaniku seperti gadis dewasa. Yah aku memang sudah dewasa, namun wajahku masih tampak imut, masih seperti anak sekolahan yang polos.
Monik bersiap menemaniku, beserta pacarnya tentu saja.
"Good luck Nya.." Seru Inda dan Ike ketika aku berangkat bersama Monik menaiki mobil pacarnya.
"Kak Arya bilang dia masih lembur menyelesaikan laporan bulanan, jadi besok pagi dia baru bisa kesini nemenin elu." Ucap Kia sembari menunjukkan bukti chat kak Arya di ponselnya.
Aku memeriksa sekilas isi percakapan mereka. Hanya sedikit khawatir dan permintaan maaf. Ia sama sekali tak menanyakan aku sakit apa atau bagaimana diagnosa dokter yang memeriksaku.
Hufft.. Aku menghela napas panjang. Semoga ini hanya kecurigaan ku saja. Semoga ini tak terjadi. Semoga kak Arya tak selingkuh seperti dugaan teman-temanku.
"Santai Nya. Santai. Ada gue, tenang." Ucap Monik sebelum kami sampai di tempat kos kak Arya.
Aku tersenyum lebar demi menenangkan Monik yang ikut cemas melihat ku terus melamun.
Kami berhenti di depan sebuah kafe di sebrang jalan kos kak Arya. Monik bilang pacarnya sering melihat Arya di kafe ini bersama seorang wanita saat sore atau malam hari.
"Itu..itu kak Arya bukan Nya?" Teriak Monik setelah hampir setengah jam kami menunggu di dalam mobil.
Degg...
Jantungku terasa berhenti berdetak sesaat. Lalu tiba-tiba berdenyut ngilu sampai ke ulu hati.
Aku melihatnya.
Seorang pria yang cukup tampan dengan lesung pipi menawan menghampiri seorang wanita di dalam kafe itu.
Ia masih memakai baju kerjanya. Masih ada dasi juga name tag di outfit yang ia kenakan.
Ia berjalan, menenteng tas kerjanya sambil tersenyum penuh cinta.
Aku melihatnya.!??!!
Monik tampak geram dan langsung ingin keluar mobil demi melabrak kak Arya.
"Lepasin Nya. Gue mau hajar tuh cowok." Ujar Monik penuh emosi ketika aku menahannya.
"Gue punya cara yang lebih elegan." Ucap ku mantap, hingga membuat Monik terdiam karena aku tak lagi menangis di depannya.
Aku merapikan dandanan ku. Merapikan eye liner dan blush on yang kupakai. Memakai masker dan kaca mata bening, kemudian bersiap keluar mobil.
"Apa yang mau lo lakuin Nya?", Reza, pacar Monik, ikut turun mengawal kami.
Aku masuk ke dalam kafe, lalu duduk tepat di belakang kursi yang kak Arya tempati bersama selingkuhannya.
Reza memesan beberapa makanan dan minuman untuk kami, sementara aku dan Monik sibuk menguping pembicaraan kak Arya.
"Makasih ya sayang, berkat bantuan kamu Lia sekarang sudah sembuh." Ucap sang wanita sembari melingkarkan tangannya ke lengan kak Arya.
"It's ok. Cuma bantuan kecil. Kamu yang udah sering bantuin aku." Ujar kak Arya sembari menoel manja dagu sang wanita.
Ughhh... Dasar buaya. Batinku.
Monik menyodorkan piringnya padaku sambil berucap, "Makan dulu, perang itu butuh banyak asupan nutrisi Nya."
Sial. Tapi emang bener sih. Butuh banyak tenaga untuk menonjok mukanya nanti. Batinku.
Tanpa ba-bi-bu aku menghabiskan makanan dengan cepat, lalu minum, kemudian mengeluarkan cermin kecil dari dalam dompetku.
"Lu masih cantik, riasan Inda emang bagus, cocok buat lu." Komentar Monik setelah ia mengamati apa yang kulakukan.
Aku tersenyum tipis mendengar pujian Monik, lalu kembali mengedarkan pandanganku ke arah kak Arya dan wanitanya.
Aku duduk menyamping, sehingga dari sini aku bisa melihat punggung kak Arya dan selingkuhannya.
Monik tampak berselfi ria, padahal ia hanya ingin mengabadikan gambar di belakangnya. Kak Arya berbisik di telinga sang wanita sembari tangannya meremas panggul si wanita dari belakang.
Hatiku panas. Dan rasa panas ini menyebar dalam sekejap ke seluruh pembuluh darah di tubuhku.
__ADS_1
Dadaku berdebar keras, terasa berdentum-dentum di telingaku. Aku berdiri, dengan nafas panjang-panjang menahan letupan emosi.
"Lu mau apa?" Tanya Monik, sembari menahan lengan ku.
"Mau kasih status baru buat kak Arya." Jawab ku datar, tanpa menoleh ke arah Monik.
Reza menahan Monik yang akan mengikutiku. Ia paham, bahwa aku ingin menyelesaikan ini seorang diri.
Aku melangkah pelan memutari mejaku. Menuju meja kak Arya yang kebetulan berada berdampingan dengan meja kami di sudut kafe.
Sang wanita nampak memegang tengkuk kak Arya, sementara kak Arya masih asyik *******-***** panggul sang wanita dari belakang.
Prok... Prokk... Prokkk...
Ake bertepuk tangan sambil tersenyum sinis, hingga membuat kak Arya dan sang wanita tersentak kaget, lalu melepas ciuman mereka dengan gelagapan.
Aku duduk di depan mereka sembari melepas satu tepukan keras, hingga membuat beberapa pengunjung sadar dan menoleh ke arah kami.
"Kenapa berhenti, lanjutin aja.." Ucap ku datar.
"Siapa lu? Kenapa kesini? Ganggu orang pacaran aja..!" Hardik sang wanita dengan emosi tertahan.
Aku tertawa hambar, kemudian melepaskan masker duckbil yang ku pakai.
Kak Arya terdiam kaku. Mulutnya menganga dan matanya tak berkedip saat melihat penampilan terbaru ku. Yah selama ini aku memang tak pernah dandan, tak pernah memakai riasan selengkap ini. Mungkin ini juga yang menyebabkan kak Arya mencari wanita lain.
"Gue siapa? Tanya aja sama pacar lu ini." Jawab ku datar, sembari menekankan kata 'pacar' dengan sedikit emosi jiwa.
"Sayang dia siapa?" Tanya sang wanita sembari bersandar di lengan kak Arya.
"A-Anya. Lu..." Kak Arya bahkan tergagap dan tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Jadi ini.................lembur yang di maksud Kia tadi di ponselnya. Nge-lembur-in wanita murahan ini." Ucap ku datar, sembari menilik penampilan selingkuhan kak Arya.
Pantes kak Arya berpaling. Bodynya kayak biola Sharukh Khan gini. Tapi sayang pakaiannya tak sesuai ukuran, sesak sekali, menonjol dimana-mana. Batinku.
"Bu-bukannya lu sakit? Sakit apa?" Tanya kak Arya random. Sepertinya ia terlalu cemas hingga tak bisa berfikir sebelum mengeluarkan kata-katanya.
"Hei wanita jal**g. Jaga tuh mulut ya! Dasar pengganggu!!" Teriak si wanita, hingga membuat beberapa pengunjung kembali menoleh ke arah kami.
"Nis..! Diem..!!" Bentak kak Arya pada si wanita.
"Tapi sayang, dia.." Kilah si wanita.
"Diam atau pergi..!!" Bentak kak Arya lagi.
"Sakit? Hemph..." Ujar ku remeh, seraya menertawakan pertengkaran dua makhluk di depan ku.
"Sakit banget......................di sini." lanjut ku sembari menunjuk dada atas ku.
"Nya gue... Gue bisa jelasin ini, oke.. " Ucap kak Arya cemas ketika aku mulai berdiri.
"Sayang jangan bilang kalau dia ini juga pacar kamu.. Jawab..!!" Teriak selingkuhan kak Arya dengan lebih keras. Namun kak Arya tak mempedulikannya.
Kak Arya ikut berdiri, lalu mendekat dan hampir menyentuh lengan ku.
"STOP...!.! JANGAN SENTUH GUE..!!" Kak Arya mematung, tak menyangka dengan penolakan dan ucapan pelan namun penuh amarah dari ku.
"Heh wanita jal**g. Pergi sana. Jangan ganggu pacar gue lagi..!" Bentak selingkuhan kak Arya. Ia kini ikut berdiri dan memegang lengan kanan ku.
"Lu mau tau kan siapa gue? Gue MANTAN PACAR ARYA BAGASKARA, mulai dari detik ini." Ucap ku dalam dengan suara serak menahan emosi.
"Nya, dengerin gue dulu. Gue..." Kak Arya memegang lengan kiri ku.
Aku menghempaskan tangan mereka dari lengan ku bersamaan dengan kekuatan penuh, hingga membuat mereka tersentak dan mundur selangkah ke belakang.
Si Wanita akan jatuh dan dengan reflek kak Arya langsung menangkap tubuhnya.
Prok.. Prokk...
Aku kembali bertepuk tangan. Namun kali ini air mataku tak bisa ku bendung lagi.
"Selamat ya kak. Sudah berhasil mengahancurkan kepercayaan ku......
Percuma kalian good looking tapi attitude blasteran Jahannam." Ucap ku lantang, kemudian berlalu pergi. Meninggalkan kak Arya dan si wanita yang kini berdiri mematung mendengar kata-kataku.
.
__ADS_1
.
.