
Minggu siang.
Udara panas pedesaan yang terasa sejuk memang menenangkan. Semilir anginnya membawa kedamaian dan juga pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang lelah dengan permasalahan dunia.
Berjalan-jalan di persawahan dekat rumah, mengawasi beberapa anak kecil yang bermain dan berlarian di lapangan, udara bersih, serta kecantikan awan putih biru yang membentang di langit, membuat hati terasa lebih lapang dan penuh rasa syukur.
"Kak, udah hampir jam sebelas, pulang yuk..." Fani menghampiri sang kakak yang duduk manis di pinggir lapangan.
"Nanti aja ya dek, kita pulang bareng ayah.."Tolak ku halus.
"Eh, ada Anya. Kok di rumah? Gak kerja? Apa udah di PHK?" Sapa bu Wati dengan raut wajah sinis, ia membawa sekeranjang buah-buahan di tangan kiri, sementara tangan kanan ia gunakan untuk merapikan krah bajunya, seolah memamerkan bahwa ia mempunyai dua buah cincin baru di jari manis dan jari tengahnya.
"Kebetulan libur bu..." Jawabku singkat.
"Halah gaya kamu Nya. Kia aja gak pulang kok kamu pulang. Paling-paling kamu ini gak betah di kota orang, makanya kalau jadi anak kampung yasudah di kampung aja, gak usah sok ke kota.." Cibir bu Wati sembari melangkah pulang meninggalkan Anya dan Fani.
Sabar Nya. Sabar. Gak usah di dengar. Gak perlu di masukin ke dalam hati. Tenang Nya. Tenang. Oke. Batinku.
"Jangan di pikirin kak. Omongan bu Wati emang pedes kayak sambel geprek ibu.. Hihihi.." Celetuk Fani sembari terkikik geli mendengar kata-katanya sendiri.
"Wah, bener banget itu dekk.." Ucapku sembari tersenyum lebar.
"Ayo pulang kak. Ibu mau bikin sup jamur, pasti enak banget.." Ujar Fani sembari menarik tanganku.
"Iya..iya...." Aku berjalan bergandengan tangan dengan adikku seraya mengembangkan senyum tipis. Ah, adik semata wayangku yang lucu, kini tampak semakin dewasa.
Sampai di rumah, kami segera mencuci kaki dan tangan kemudian membantu ibu memasak makan siang di dapur. Fani bertugas mencuci sayur dan buah sedangkan aku menggoreng ikan.
Pukul dua belas lebih seperempat kami selesai memasak, bertepatan dengan ayah yang baru pulang dari sawah.
Kami bercengkrama di meja makan sembari menunggu ayah selesai mandi.
"Kak dari tadi ponsel kakak getar-getar terus nih" Ujar Fani sembari menyodorkan ponselku ke hadapanku.
"Oke, makasih Fani sayang..." Ucapku lembut seraya mengambil ponsel kemudian membuka kunciannya.
Aneh.
Ada satu nomor yang mengirimiku 13 pesan dan 7 panggilan tak terjawab.
"WHAT..?!?!?!"
Aku tersentak kaget, dan reflek langsung berdiri dari kursiku.
Sebuah pesan tak terduga dari kak Vero membuatku mengerutkan kening bingung, terheran, bahkan rasanya aku kesulitan menelan air ludahku sendiri.
Ku baca lagi pesan terakhirnya....
Kak Vero,
Nya gue udah di jalan dekat rumah lu. Keluar dong..! Rumah lu yang mana?
"Siapa kak?" Fani yang ikut kaget akhirnya ikut mengintip pesan chat di ponselku.
__ADS_1
"Kenapa nak?" Tanya ibu dengan raut khawatir sembari menatapku was-was.
Sepersekian menit berikutnya aku berlari keluar rumah. Bahkan mengabaikan pertanyaan Fani dan juga ibu.
Bagaimana mungkin kak Vero tau rumahku? Bukankah waktu itu aku hanya menyebut kota J sebagai asal daerahku? Apa jangan-jangan dugaan gue bener, kalau mereka bukanlah orang kaya biasa? Apa kak Vero kesini naik mobil? Apa membawa beberapa pengawal dari rumahnya? Aaarrrghhhh.. Batinku berkecamuk bingung.
Ku edarkan pandanganku dari ujung halaman rumah. Menatap dua sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan serta satu minibus hitam di seberang jalan.
"Anya...!! Akhirnya ketemu..!" Seru kak Vero setelah melepas helm dan juga masker wajah yang menutupi kepalanya.
Aku melambaikan tangan sembari bernafas lega mengetahui kak Vero datang dengan motor.
"Kalian pulang saja. Aku aman di sini. Sana-sana!" Samar-samar aku mendengar berisik perintah kak Vero, kemudian satu motor dan sebuah minibus di seberang jalan bergerak menjauh dari tempat ini.
"Kakak sehat? Sama siapa tadi? kok bisa tau alamat Anya?" Tanyaku beruntun pada kak Vero.
"Heh lu ganti profesi sekarang Nya? Tanya-tanya mulu kayak wartawan."
Aku tersenyum kikuk mendengar sindiran kak Vero.
"Yasudah yuk masuk kak. Sini gue bawa motornya, kakak pasti capek..."
Kak Vero tersenyum lebar mendengar ucapan ku.
"Ini siapa kak..." Tanya Fani malu-malu, ia bergelayut pada salah satu tiang penyangga atap teras rumah kami.
"Halo cantik...masih ingat kakak? Kan kita sudah kenalan lewat panggilan video..." Sapa kak Vero sembari melangkah menghampiri Fani.
"Oh yang tadi pagi pakai piyama doraemon ya?!" Seru Fani berbinar, kemudian ia menyodorkan tangan kanannya.
"Yups..betul sekali..kenapa? Minta hadiah ya? Sebentar.." Kak Vero mulai membuka resleting tas nya.
"Ih, bukan kak! Salim tau. Kata ibu, Fani harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Begini........" Fani langsung menyambar tangan kanan kak Vero lalu mencium punggung tangannya.
"Oh begitu ya...anak pintar... nih buat kamu.. belajar yang rajin yaa..." Ujar kak Vero sembari menyerahkan sebungkus coklat pada Fani.
"Eh, ada tamu.. ajak masuk nak.. loh Fani dapat apa? Udah bilang makasih belum?" Ucap ibu yang tiba-tiba muncul di tengah pintu rumah.
"Makasih kak...." Ujar Fani malu-malu.
"Ibu...saya Vero, teman Anya." Kak Fani menjabat tangan ibu, kemudian mencium punggung tangannya seperti yang barusan di lakukan Fani.
"Oh iya, yang tadi pagi ya.. ayo masuk nak, masuk..." Ibu langsung menggiring mami ke meja makan. Ada ayah yang ternyata sudah duduk di tempatnya.
Aku memperkenalkan kak Vero pada ayah dan ayah pun menyambut kak Vero dengan ramah.
Kami makan bersama dan saling melempar cerita serta candaan dengan ramai. Kak Vero lebih banyak diam dan memperhatikan kami, namun ia akan langsung tertawa ketika ada hal yang membuatnya merasa lucu.
Setelah makan aku mengajak kak Vero untuk beristirahat di kamarku. Ia sangat antusias, dan mengatakan bahwa ia bahagia karena merasa punya keluarga yang utuh dan begitu damai.
"Nya, gue boleh nginep gak?" Tanya kak Vero setelah ia mengganti bajunya dengan sebuah tunik dan celana pendek sedikit di bawah lutut.
"Boleh...tapi gimana dengan orang tua kakak? Apa mereka udah tau kakak di sini" Tanyaku hati-hati.
__ADS_1
"Udah donk...papa bilang gak masalah asal dua pengawal bayangan gak gue usir..haha" Ucap kak Vero santai.
"Pengawal bayangan? Maksudnya gimana kak"?
"Itu tuh bodyguard yang ngawasin gue dari jauh Nya. Lu gak tau? Gara gak cerita?" Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menjawab pertanyaan kak Vero.
"Hmmm karena Gara gak cerita jadi gue juga gak mau cerita..." Ucap kak Vero lirih sambari meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya di bawah dagu.
"Loh kok gitu?" Protesku.
"Iya donk. Gue yakin Gara pasti punya alasan khusus kenapa belum cerita sama lu Nya." Ucap kak Vero pelan, kemudian berbaring di kasurku.
"Gitu ya kak...padahal gue gak suka di bohongi.." Keluhku.
"Bukan bohong, gue tau siapa adik gue Nya. Gak semua orang bisa bersikap seperti yang kita inginkan." Tutur kak Vero dengan raut wajah serius.
"Hmmm yasudahlah, terserah dia aja kak..." Ucapku pasrah, sembari ikut berbaring di samping kak Vero.
Hening.
Kami terdiam beberapa saat dengan pikiran masing-masing.
"Nya, lu tau gak kenapa mantan suami gue selingkuh?" Tanya kak Vero tiba-tiba.
Aku menoleh, lalu mengerjap pelan, memastikan bagaimana ekspresi kak Vero ketika membahas ini. "Gak tau kak.." Jawabku.
"Katanya gue terlalu monoton. Gak bisa lagi kasih dia kebahagiaan. Padahal gue yang selalu ngalah Nya. Dia bilang A selalu gue turutin. Gue berhenti kerja, gue gak lanjutin S3, gue di rumah ngrawat Miko sendiri. Dia ngatur gue dan gue gak bisa protes di depan dia."
Aku mendengarkan semua keluh kesah kak Vero dengan tenang. Aku paham saat ini kak Vero hanya butuh teman untuk mengeluarkan isi hati, mengurangi beban pikiran dan keruwetan kisah rumah tangganya.
"Menurut lu, gue salah gak kalau terus nurutin dia Nya?" Tanya kak Vero di akhir cerita.
"Mmmm..kakak gak sepenuhnya salah, justru dia itu yang kebanyakan halu kak.." Ucapku datar.
"Halu gimana maksud lu?" Tanya kak Vero penasaran. Ia sampai bergerak menyamping dan mengahadapkan wajahnye ke arahku.
"Iya halu kak, dia kebanyakan berkhayal. Level avatar yang bisa mengendalikan air, angin, api, dan tanah aja gak bisa mengendalikan orang lain, apalagi dia? Dia gak punya level apa-apa kan? Avatar aja bukan kok mau sok ngatur kehidupan seorang Veronika. Mimpi."
Kak Vero terbahak mendengar ucapanku. Ia sampai bangun dan duduk agar lebih puas tertawa lepas.
"Ya ya ya...lu bener..." Kak Vero masih melanjutkan tawanya setelah mengatakan hal itu.
"Setau gue ya kak. Berdasarkan pengamatan sama ayah sama ibu di rumah...rumah tangga itu saling membahagiakan, bukan saling menuntut untuk di bahagiakan." Ujarku mantap.
"Gaya lu Nya.. pakai pengamatan segala.. kayak mau ajuin proposal aja.." kak Vero kembali berbaring di sebelahku.
"Iya dong kak. Kan gue belum ngalamin rumah tangga. Baru pacaran doang, hehe.." Tukasku sambil meletakkan ponselku di atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Ya ya ya.. terserah lu deh Nya...." Kak Vero kemudian terdiam dan mulai memejamkan matanya.
Selamat istirahat kak. Semoga setelah ini kakak kembali semangat menjalani hidup dan kembali bersinar untuk keluarga kakak. Batinku.
.
__ADS_1
.
.