
Udara tengah malam yang begitu dingin. Semilir anginnya tetap bisa menerobos menyentuh kulit meski sudah kututup rapat dengan jaket.
Banyak muda-mudi masih santai duduk berjajar di luar kafe maupun di beberapa warung kopi. Toko-toko besar masih buka sedangkan toko pakaian dan aksessories nampak baru menutup pintu toko mereka.
Kali ini Gara mengantarku pulang ke kos. Aku menyeringai lebar ketika dia mengatakan, "Nih aku tadi bawa matic, jangan protes lagi."
Gara banyak bicara malam ini, mungkin sebagai pelepas penat karena besok dia akan berada di negara lain. Dia mengatakan semua tentang kak Vero. Awal mula kak Vero menikah sampai depresi, juga apapun yang di sukai maupun di benci oleh kakaknya.
Duhh bundaran masih rame banget. Semoga Monik dan Ira sudah pulang atau masih nongkrong di tempat lain. Batinku.
"Gue langsung balik ya Nya. Met istirahat." Ucap Gara riang sementara aku turun dari motornya.
"Oke. Titidije (haTi-hati di jalan) ya..." Ucapku seraya mengembalikan helm nya.
"Eh hampir lupa. Nih buat lu, dari kak Vero, bukan gue.." Gara memberiku tas kertas yang mirip dengan yang ia berikan pada kak Vero siang tadi.
"Apa nih?" Tanyaku heran dan penasaran.
"Gak tau, itu kan dari kak Vero, tadi pas dia bangun nanyain Lu, terus pas gue pamit mau ketemu lu dia nyuruh gue ngasih ini buat lu." Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Gara.
"Nah yang ini baru dari gue. Dah gue balik dulu. Jangan mimpiin gue yang ganteng ini ya. Haha. Assalamu'alaikum." Gara langsung menghidupkan motornya dan berlalu dari hadapanku yang masih terbengong menatapnya.
"Wa'alaikumsalam..." Ucapku lirih kemudian melangkah masuk ke kos seraya mengulum senyum tipis.
Dasar, selalu bisa bikin gue speachless aja tuh cowok narsis. Apa ini ya? Hmmm... dari baunya sih kayak martabak manis yang gue makan tadi. Haha, lumayan buat camilan tengah malam. Batinku.
Kos sudah sepi, Monik kemungkinan belum pulang karena dia tak ada di depan tv.
Aku membuka pelan pintu kamar. Kulihat semua sudah tidur dengan pose masing-masing.
Inda miring menghadap tembok. Ike miring membelakangi Inda sambil memeluk boneka tedy bear besar miliknya. Kia tengkurap dengan kepala menghadap ke arah kasur sebelah yang biasa kutempati.
Aku melangkah perlahan, meletakkan tas lalu membuka almari dan mengambil baju ganti. Kia sedikit bergerak seraya bergumam tak jelas. Mungkin ia sedikit terganggu saat aku menutup pintu almari yang menimbulkan sedikit suara derit.
Aku mencuci tangan dan kaki lalu berganti baju dengan cepat karena udara semakin terasa dingin. Pori-pori di tanganku menyemul hingga membuat lenganku merinding kaku.
"Wah, sudah jam dua belas lewat seperempat ternyata, pantesan suasana senyap banget." Gumamku setelah keluar dari kamar mandi dan melihat jam dinding di ruang tengah.
Aku melangkah ke balkon untuk menjemur handuk. Kulihat beberapa seragam kerja telah berjajar dengan capstok berwarna-warni.
Ini punya Kia, ada namanya di ujung belakang seragam. Hmmm pintar juga, mereka menjemur seragam dengan capstok berbeda warna biar gak tertukar satu sama lain. Batinku.
Aku kembali masuk lalu menutup pintu kos. Pintu ini tak pernah di kunci karena kami keluar dan masuk dengan waktu yang berbeda satu sama lain. Kami hanya mengunci pintu kamar masing-masing jika keluar.
Aku merebahkan badan di kasur kosong sebelah Kia. Merasakan betapa nyamannya punggung ini dalam posisi terlentang dengan tangan dan kaki sejajar.
Aku berdo'a kemudian mulai berdzikir sambil memejamkan mata. Membiarkan suara cicak dan beberapa orang yang baru pulang di depan kos. Aku menikmati posisi ini sampai tiba di alam mimpi.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Nya.. Anya.. bangun Nya...!!" Kia menggoyang-goyangkan lenganku agar aku terbangun.
"Apa sih Ya. Gue masih ngantuk tau, gue tadi udah subuhan." Jawabku tanpa membuka kelopak mataku.
"Nya ini martabak punya siapa? Gue minta ya.." Kali ini sepertinya suara Inda.
"Iya, makan aja..." Aku mulai membuka mata, lalu mengerjap sebentar untuk memulihkan kesadaranku. Kulihat Inda dan Ike sudah rapi dengan seragamnya sementara Kia masih memakai tank top hitam favoritnya.
"Mantap nih Nya. Beli di mana?" Aku hanya diam, tak menjawab pertanyaan Inda.
"Wah masih belum sadar dia Nda. Masih setengah mimpi kali ya..." Ike terdengar mengomentariku.
"Nya.. woii Nyaa bangunn..!!" Teriak Kia di sampingku, membuatku reflek memukulnya dengan boneka kecil di kasurnya.
"Gue udah bangun Ya, gak usah teriak juga kali..!" Seruku kesal, membuat mereka semua tertawa melihat ekspresiku.
"Lu pulang jam berapa Nya? Gue tidur setengah dua belas tapi lu belum pulang." Pertanyaan Ike membuatku terdiam, lalu tersenyum tipis ke arah Kia.
"Kenapa lu senyum-senyum ke gue? Aahh gue tahu..lu abis kencan ya semalam? Sama Gara-Gara itu ya? Makanya pulang bawa makanan lagi..!!" Tebakan Kia perlahan membuatku meringis.
Gila sih. Kenapa Kia selalu tau apa yang gue lakukan? Batinku.
"Bukan. Kita cuma teman!" Tukasku cepat kemudian melangkah keluar, kabur menuju kamar mandi.
"Nya ada telfon. Gue angkat ya..!!!" Teriak Kia.
Aku tak menjawab. Kia ini sudah seperti saudaraku, dia mengenal hampir semua keluarga dan temanku, jadi tak masalah kalau dia yang mengangkat panggilan di ponselku.
Lima menit kemudian aku kembali ke kamar. Kali ini mereka semua sudah siap berangkat.
"Dari kak Arya Nya. Kenapa sih lu gak angkat telfon dia semalam, dia protes ke gue tau.." Keluh Kia seraya menyerahkan ponselku.
"Capek Ya. Lagian udah malam, males gue." Jawabku lirih kemudian duduk dan mencomot martabak yang masih tersisa di meja.
"Telpon kak Arya malas, giliran ketemu Gara semangat. Ciyeee..." Ledek Kia sembari menyemprotkan parfum ke baju seragamnya.
"Wah..Anya kayaknya udah ada main nih..." Goda Ike.
"Ati-ati Nya. Kota orang ini." Sahut Inda menasihati.
"Lah kan dapat martabak, ya semangat dong, gue laper. Haha..." Ucapanku membuat Kia mendengus kesal.
"Ck, jadi semangat karena makanan? bukan orangnya? Wah parah lu Nya." Aku hanya menjulurkan lidah membalas Kia.
Ike dan Inda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku sebelum mereka berlalu dari pintu kamar.
__ADS_1
"Ya tunggu Ya..!!" Seruku saat Kia hampir melewati pintu kamar.
"Apalagi sih Nya...? Udah mau telat nih..." Kia menoleh kesal ke arahku.
"Bet yang lu pakai kok beda sama yang di pakai Ike dan Inda?" Ucapanku sontak membuat mereka semua berhenti dan memperhatikan bet yang mereka pakai dan yang di pakai Kia.
"Loh iya, Ya kenapa lu pakai merah? sekarang waktunya biru...!" Seru Ike panik.
"Duh iya, buruan ganti sana.!" Inda ikut panik lalu mendorong Kia kembali masuk ke kamar.
"Aduh..untung lu ingetin Nya.". Secepat kilat Kia mengganti seragamnya, kemudian berlalu dari hadapanku. Ike, Inda, dan Ira menunggu di luar kamar kami.
"Thanks ya Nya..! Gue berangkat dulu.. Assalamu'alaikum..!!" Teriak Kia, Inda, dan juga Ike hampir bersamaan.
"Wa'alaikumsalam..".
Heran gue. Kenapa sih mereka itu suka sekali teriak-teriak. Batinku.
Nada dering di ponselku berbunyi. Dari kak Arya.
Assalamu'alaikum Nya. Maaf ya gue ganggu pagi-pagi gini.
Wa'alaikumsalam kak. Santai aja...
Gimana lu disitu? Betah?
Alhamdulillah betah kak. Btw tadi malam katanya ada kabar bagus kak.. kabar apa?
Oh iya, itu...gue diterima kerja di kantor HG Corp.
Alhamdulillah... bagian apa kak? Dimana?
Di kota S..kalau bagiannya gue belum tau, kayaknya sih staf accounting sesuai jurusan kuliahku.
Emmm gitu ya kak....
Iya, karena itu sekitar sepuluh hari lagi gue pulang, gak jadi sebulan. Hehe...
Oh ya? Kalau gitu selamat ya kak...
Kami kemudian terlibat obrolan cukup panjang mengingat beberapa momen semasa sekolah. Kak Arya dulu pernah satu bangku denganku saat ujian tengah semester. Waktu itu tempat duduk murid kelas tujuh, delapan, dan sembilan di acak. Jadi tak ada yang bisa mencontek ke teman lainnya.
Sejak saat itu kami cukup akrab, bahkan beberapa temannya mengira bahwa kak Arya sedang mendekatiku karena kami sering bertemu dan mengobrol akrab di perpustakaan.
Saat itu kak Arya memang populer, hampir semua siswi mengaguminya termasuk aku. Dia tinggi, cukup tampan, ramah, pintar, juga pernah memenangkan olimpiade matematika.
Suatu ketika, pacarnya melabrakku karena melihat kak Arya duduk begitu dekat denganku di perpustakaan. Aku malu, hampir semua siswa-siswi memandangku sinis meski kak Arya menjelaskan dengan lantang kalau kami cuma teman, dan dia duduk di dekatku karena sedang mengajariku satu soal matematika.
Sejak saat itu aku menjauhi kak Arya. Jika kami bertemu di dalam perpustakaan, maka aku akan keluar menghindar. Saat dia ke kelasku memintaku untuk mengajarinya soal biologi kelas tujuh, aku menolaknya. Bahkan pernah sekali dia menawari untuk mengantarku pulang, namun aku pun mengacuhkannya.
Sampai saat kak Arya lulus dan kudengar ia putus dengan pacarnya aku tak lagi melihatnya.
__ADS_1
Tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba muncul mencariku. Apa yang sebenarnya dia rencanakan?