
Terik matahari siang yang memancar penuh senyuman semakin mengobarkan semangat kami. Kami sampai di depan pintu gerbang pabrik lalu berjalan sekitar sepuluh meter menuju lapangan.
Tanah yang cukup lapang ini biasa digunakan sebagai lahan parkir mobil-mobil box pengangkut bahan mentah yang silih berganti keluar masuk gudang.
Kami berbaris kembali, namun kali ini para lelaki di komando langsung oleh pak Doni, sedangkan para wanita bersama bu Sonia.
"Bagaimana ladies? Apa kalian siap?", teriak bu Sonia lantang.
"Siap bu..." jawab kami kompak.
Kami kemudian diarahkan ke sisi kanan. Ada beberapa mesin yang berderet di sini. Seperti mesin ATM namun terdapat infrared untuk scan barcode seperti di sebelah mesin kasir beberapa swalayan besar.
"Ini adalah mesin ceklok. Tempat kalian absen masuk dan pulang. Cara menggunakannya seperti ini." Bu Sonia kemudian memperagakan bagaimana cara menggunakan mesin tersebut.
Kami cukup menempelkan bagian barcode yang ada pada ID Card kami ke sensor infrared yang ada pada mesin, lalu setelah muncul data kami di layar kemudian tekan enter dengan jari telunjuk.
Jika layar menunjukkan waktu saat kalian menekan enter tadi artinya ceklok kalian berhasil, namun jika muncul yang lain artinya ceklok kalian gagal dan kalian harus mengulangi dari awal.
"Bu bagaimana jika setelah tiga kali ternyata data kami belum muncul-muncul?" Tanya Dian.
"Jika ada kejadian seperti itu kalian bisa melapor ke satpam yang berjaga di sini. Nanti mereka akan membuatkan kalian absen manual untuk diberikan pada bagian HRD." Jelas bu Sonia kemudian mengarahkan kami masuk lebih dalam ke area pabrik.
"Di depan kalian ini adalah kantor utama, hanya manager dan jajaran di atasnya yang bisa masuk ke dalam, terutama di lantai dua, itu khusus ruangan presdir PT. KingNoodle." Ucap bu sonia kemudian berjalan ke arah kanan.
Sebelah kanan adalah bangunan yang cukup besar. Di pintu utama tertera N-1, artinya Noodle-1, gedung pertama tempat memproduksi mie.
Lalu lanjut bangunan di sebelahnya nampak lebih terbuka dengan beberapa mobil box pengangkut tepung yang berjajar di luar. Itu adalah area pengolahan tepung, hampir semua pekerjanya adalah pria di area tersebut.
Berikutnya di sisi kanan jalan yang kami lewati ada musholla yang cukup besar, lalu di sampingnya ada aula yang sangat luas dengan banyak meja kursi yang berjajar dari ujung sampai ujung.
__ADS_1
"Ini adalah area kantin. Dekat dengan musholla dan juga toilet bersama di samping kiri agar kalian mudah jika ingin melaksanakan sholat." Jelas bu Sonia lagi.
Selanjutnya kami memasuki jalanan paving yang cukup lebar. Bau-bau menyengat seperti bawang merah, bawang putih, aroma minyak, sambal, penggorengan menyatu membuat kami semua menutup hidung.
Ini area wajib bermasker. Gedung sebelah kiri adalah Bumbu N-1, dan yang kanan adalah Bumbu N-2. Gedung N-2 sendiri berada di ujung jalan ini. Gedung paling besar dengan cat putih yang masih tampak baru.
Kami berkeliling sebentar di gedung N-2. Beberapa mandor dan maintenance yang berpapasan dengan kami selalu tersenyum ke arah bu Sonia. Apa mereka semua mengenal bu Sonia? Entahlah.
"Bu Sonia hari ini berapa jumlah karyawan masuk?" Tanya seorang lelaki berperawakan besar yang tiba-tiba menghampiri kami.
"Ada 50 orang pak, hampir semua fresh graduate. Apa pak Robby membutuhkan?" Tanya bu Sonia.
Pak Robby membuka map dokumen kemudian menyerahkan satu lembarnya kepada bu Sonia.
"Baiklah pak nanti pak Doni yang akan mengurus penempatannya." Ucap bu Sonia setelah membaca sekilas dokumen yang diterimanya.
"Baiklah bu kalau begitu saya permisi." Pamit pak Robby kemudian memasuki ruangan yang ada di hadapan kami.
Sampai di depan tirai besar kami di semprot cairan hand sanitizer, lalu masuk menggunakan masker yang tersedia di kotak di depan pintu.
Udara panas dan pengap menyambut kami di area depan. Ada banyak konveyor memanjang dari ujung timur ke ujung selatan.
Kami mendekat ke arah dua orang karyawan yang berada di tengah konveyor, mereka bertugas membalik mie yang keluar dari mesin besar di ujung timur.
"Ini adalah ruang proses. Pengolahan mi tahap pertama dari bagian tepung, lalu di sini, terakhir di bagian packing." Jelas bu Sonia kemudian melangkah lebih ke dalam.
Kami melewati pintu besar yang terbuat dari kaca tembus pandang. Di bagian packing lebih ramai lagi dengan suara-suara mesin.
Mie yang keluar dari ruang proses terus mengalir ke bagian ini, masuk ke percabangan mesin, lalu mengalir melewati beberapa pekerja yang berdiri di kanan kiri konveyor.
__ADS_1
Mereka bertugas meletakkan bumbu, minyak, dan juga garnis ke atas mie yang melaju di atas konveyor. Melaju sampai bagian belakang ada mesin seal, untuk membungkus mie.
Terakhir bagian karton, mie yang telah terbungkus rapi dimasukkan ke dalam karton lalu masuk ke gudang melalui jendela besar yang berada paling belakang dari mesin-mesin ini.
Kami ternganga melihat proses pembuatan mie instan yang begitu panjang. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing saat bu Sonia selesai menjelaskan semua proses tersebut.
Siska mengangkat tangan lalu bertanya. "Bu disini sangat ramai dan panas, bagaimana kalau kita haus? Apa kita harus keluar dari sini terlebih dahulu? Jauh sekali bu kalau harus minum di luar."
Kami semua mengangguk membenarkan pertanyaan Siska. Mungkin perlu lima belas sampai dua puluh menit kalau kami harus berjalan keluar dari sini.
"Pertanyaan yang bagus. Kalian lihat ada celah cukup lebar di tengah konveyor dengan mesin nomor dua puluh lima itu?" Tanya bu Sonia sambil menunjuk ke arah tengah sisi kanan dari tempatnya berdiri. "Itu adalah ruang untuk minum, jika haus kalian tinggal bilang ke rekan kalian lalu menuju kesana untuk minum." Jelasnya kemudian.
Beberapa dari kami yang penasaran dipersilahkan untuk melihat ruang tempat minum. Tempat ini cukup bersih, sepetak ruang dengan banyak kran air minum di dalamnya. Ada banyak gelas yang tersusun rapi disisi kanan dan kiri kran tersebut.
Kami kembali melangkah menuju bagian-bagian lain. Panas mentari yang menyengat tak menyurutkan langkah kami. Jam istirahat siang kami habiskan dengan mengamati lalu lalang karyawan yang keluar masuk dari tempat kerja ke kantin.
Keletihan mereka tampak jelas. Raut lesu yang menghiasi wajah mereka. Semua bisa dengan jelas kami amati. Ada yang tertawa riang, bergerombol dengan kawan-kawannya, sendiri, berdua mungkin dengan sahabat atau kekasih atau suami?
"Liat yang mana Nya?" Tanya Siska kemudian duduk di sampingku dengan membawa makanannya.
"Anya tuh ngelamunin yang di rumah Sis," Goda Dian sambil mengamati ku yang hanya diam menatap keramaian di hadapan kami.
"Guys, besok kita bakal bekerja seperti mereka. Apa kalian siap?" Tanyaku seraya melirik Dian dan juga Siska.
"Siap gak siap harus kita jalani lah Nya." Jawab Dian enteng.
"Ini pilihan kita Nya, so we must doing the best. Kita lakukan yang terbaik, okey?" Lanjut Siska penuh semangat.
"Okey..." Sahutku dan Dian kompak.
__ADS_1
Ya. Ini adalah pilihan kami. Ini adalah awal perjalananku. Ini adalah saat dimana aku harus bisa mandiri menatap dunia.
Selamat datang di dunia kerja..!!