Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
27. Ternyata...


__ADS_3

Tiga detik berlalu terasa lambat untukku. Kak Andini terdiam mematung menatap lekat ke arahku. Dadaku berdebar, keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tanganku.


"An jangan nakutin anak baru gitu lah. Nanti kalau dia resign baru tau rasa lo keteteran terus gak bisa istirahat." Sergap seseorang yang baru datang. Dia meninju pelan lengan kak Andini sambil tertawa lebar ke arahku.


Apa-apaan sih mereka ini? Batinku.


"Dek sini bentar deh aku kasih tau sesuatu." Ujar kak Andini serius.


Aku mendekat kaku, tak bisa berkata apapun di dekatnya.


"Santai dek.. ini belum waktunya kerja.. An senyum dikit lah, nakutin tau wajah datar lu itu..." Gerutu seseorang yang meninju lengan kak Andini tadi.


"Hehe..iya kak." Aku tersenyum kaku. Sementara kak Andini tetap bermuka serius menatapku.


"Sebelumnya kenalin gue Andini, Cekker mesin ini, kalau dia Lisa Cekker mesin dua puluh lima..." Kak Andini mulai rileks dan sedikit tersenyum, membuat debaran di dadaku sedikit berkurang.


Ah ternyata gak marah toh. Bikin deg-degan aja nih kak Andini. Batinku.


"Hai hai haiii..apa kabar semuanya...." Ucap seseorang lagi yang baru datang dengan membawa satu plastik besar garnis.


"Berisik Lu teletubbies.." Sahut bu Tuti sambil tertawa renyah.


"Starla bu Tuti. Star-la. Panggil aja Lala, jangan Teletubbies dong buk." Protesnya dengan muka cemberut.


Kami semua tertawa mendengar pembicaraan mereka yang cukup konyol.


"Nak tak kasih tau ya. Di sini kita mengerjakan mie khusus ekspor dan rata-rata kemasan bumbunya lebih licin dari bumbu lokal. Jadi jangan kaget kalau gue sering marah atau teriak-teriak emosi karena pasangan bumbu kalian gak tepat di atas mie. Jangan dimasukin ke hati semua kata-kata gue kalau emosi. Itu murni karena kita sama-sama pekerja, jangan sampai menjadi beban untuk teman yang lain. Tapi kalau udah keluar dari sini kita semua sama. Sebagai teman, sebagai keluarga kedua, Paham?" Jelas kak Andini panjang lebar.


"I-iya kak.." Aku mengerjap beberapa kali, tak menyangka kalau kak Andini akan memberiku kuliah lima detik.


"Iya dek. Jangan gampang ngambek, jangan langsung resign ya kalau diomelin Andin. Sabar aja, lama-lama kalian juga bakal kebal sama ocehan dia.. hihihii..." Ucap kak Lisa sembari melangkah menjauhi mesin kami.


"Heh awas ya lu Lis..." Kak Andini bersiap melempar minyak sementara kak Lisa sudah kabur duluan keluar menuju mesin dua puluh lima sambil ketawa ngakak.


"An ayo sini.. tiga menit lagi jam dua..!!" Teriak kak Lani.


Kak Andini kemudian menghampiri kak Lani dan bersiap menggantikan posisinya.


Kulihat banyak operator yang berlari karena hampir terlambat datang, sementara yang mau pulang sudah bersiap meninggalkan mesinnya untuk berbaris memanjang menuju pintu keluar.

__ADS_1


Ceklok antri, beli makan di kantin antri, kamar mandi antri, wudhu antri, sholat antri, sekarang mau keluar pergantian sif juga antri? Batinku.


"Hai semuanya... maaf maaf hampir telat. Cekloknya puwanjang tau..." Ucap seseorang yang baru datang dengan heboh dan langsung menggantikan kak Mela memasang bumbu.


"Telat-telat aja lu kerjaannya. Untung gue ini baik hati dan tidak pendendam." Gerutu kak Mela sambil bersiap keluar.


"Dinda telat gue matiin nih mesin." Sahut kak Andini sambil tertawa sinis tapi kemudian kak Mela menghampiri dan mencubit pinggangnya.


"Aduh..! Mel dendam lo ya adikmu gue ceramahi?..." Teriak kak Andini.


"Bodo.." Kak Mela tak menoleh lagi hanya melambaikan sebelah tangannya kepada kami.


Haha. Sepertinya aku bakal betah di sini. Orang-orangnya ramah, lucu, dan penuh semangat. Tapi gimana nanti kalau sif malam ya? Batinku.


"Dek ayo bantuin aku pasang minyak. Dinda bisa pasang bumbu sendirian..!" Teriakan bu Tuti membuyarkan lamunanku.


"Iya bu..." Aku langsung bergeser ke tempat yang ditinggalkan Yayuk tadi.


"Hai adek baru.. nama gue Dinda, kalau kamu siapa?" Tanya Dinda sambil memasang bumbu dengan santai dan riang gembira.


"Anya geraldine versi remaja dia ini kak..!" Lala langsung menyahut sementara aku masih membuka mulut bersiap akan menjawab pertanyaan kak Dinda.


"Hehe bisa aja kak" Aku tersenyum malu mendengar ucapan kak Dinda.


"Halah nanti kalau dia udah punya suami juga bakal montok kayak aku Din." Sahut bu Tuti sambil ikut tertawa.


"Woi woii.. minyak jangan miring-miring terus.. minyak woi.. fokus.." Teriak kak Andini.


Aku lebih fokus lagi memasangi minyak di atas mie-mie yang berjalan meski tetap terlewat dua atau tiga mie namun bu Tuti dengan sigap mengisi kekosongan missing yang kuciptakan.


.


.


.


.


Di gedung tertinggi HG Corporation.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya berkutat dengan beberapa dokumen di atas meja. Sang asisten yang setia mendampingi juga tak kalah sibuk dengan tumpukan map di hadapannya.


Tok,, tok,, tok,,


"Maaf tuan..." Seorang pengawal masuk setelah mengetuk pintu yang dibiarkan setengah terbuka oleh tuannya.


"Ada apa?" Tanya sang asisten tanpa menoleh ke arah pengawal yang baru masuk.


"Tuan muda kabur lagi. Kami terkecoh karena tuan muda memakai motor asisten pribadinya tuan. Mohon maafkan keteledoran kami." si pengawal melapor sambil menunduk takut.


"Hah..kemarin putriku yang gila, sekarang putraku yang ingin membuatku gila. Dan, urus dia, kalau perlu pindahkan S2 nya ke luar negeri." Ucap sang bos besar tanpa menoleh ke arah pengawal maupun asistennya.


"Baik tuan."


"Pastikan juga psikolog yang merawat putriku benar-benar handal. Dalam tiga bulan ini kalau tak ada kemajuan pecat dia."


"Baik tuan".


"Mengenai kerja sama dengan Mr. Smith, suruh Jonathan menanganinya."


"Baik tuan."


Singkat, padat, jelas. Sang asisten kemudian keluar dan menyuruh si pengawal mengikutinya masuk ke ruang meeting.


"Pengawal bayangan tetap mengikutinya kan?" Tanya sang asisten seraya duduk di salah satu kursi ruang meeting ini sementara si pengawal tetap berdiri.


"Iya tuan. Ini beberapa laporan dari mereka." Pengawal itu menyerahkan amplop coklat berisi banyak foto kepada sang asisten.


"Apa ini???"


"Itu kejadian tadi pagi tuan....." Si pengawal pun menceritakan semua hal yang dilakukan tuan mudanya ketika kabur dari pengawasan.


"Baguslah, setidaknya dia tidak membuat masalah. Apa dia menemui kakaknya?" sang asisten masih mengamati beberapa foto di atas meja.


"Iya tuan. Sebelum kembali ke rumah utama."


"Cari tau latar belakang gadis ini, pastikan tak ada yang mengetahui tugas ini termasuk tuan besar." Ucap sang asisten seraya melemparkan satu foto ke arah si pengawal


"Baik tuan." Si pengawal sigap menangkap foto itu kemudian berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


Menarik. Siapa sebenarnya anda ini nona? Bisa membuat tuan muda kami tertawa sepanjang jalan seperti ini. Batin sang asisten.


__ADS_2