Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
81. Project baru


__ADS_3

Satu minggu berlalu dari pengangkatan presdir baru. Beberapa peraturan baru juga mulai di terapkan, beberapa pimpinan di ganti, bahkan sekertaris pun punya kriteria khusus jika ingin masuk ke ruangannya.


"OMG...gimana nih gaes..kenapa gue udah merinding duluan....." Keluh Maya pada rekan-rekannya.


"Tumben. Biasanya lu PD abis.." Sahut Dian.


"Nih gara-gara Thalita, kemarin dia di semprot abis-abisan karena terlalu centil di depan presdir." Jawab Maya.


"Lah kenapa jadi gue? Kemarin gue cuma minta nomornya doang, eh malah tuh asistennya marah-marah. Pak Kris mah cuman ngelirik manja aja ke gue.." Tukas Thalita dengan gaya centilnya.


"Huuu...gaya lu... Udah May gak usah dengerin Thalita, buruan sana, jangan sampai pak Kris nungguin elu." Ucap Dian seraya mengibaskan sebelah tangannya ke arah pintu keluar ruang kerja mereka.


"Oke. Do'ain gue ya gaes..." Pamit Maya sembari melangkah kemudian membuka pintu keluar.


Ruangan divisi marketing masih satu lantai dengan ruangan presdir, hanya terhalang ruang rapat dan ruang markas bintang tiga.


"Pak presdir ada bu? Saya Maya perwakilan dari divisi marketing." Ucap Maya memperkenalkan diri di hadapan sekertaris sang presdir.


"Oke. Silahkan Maya." Jawab sang sekertaris dengan ramah namun masih terkesan datar.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk." Ujar sebuah suara dari dalam ruangan.


Maya melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati bahkan sepatu hak tingginya saja tak mengeluarkan suara sama sekali.


"Rok sebatas lutut, kemeja rapi, blazer matching dengan warna sepatu dan jam tangan. Oke, silahkan duduk." Seorang pria cukup tampan dan necis tiba-tiba mengomentari penampilan Maya.


Gila banget. Ini sekertaris pribadi, *p*engawal, apa fashion stylist sih? Seenaknya ngomentarin pakaian gue. Batin Maya.


"Ehmmm....nama?" Suara sang presdir membuyarkan lamunan Maya.


"Maya Kharisma pak." Jawab Maya singkat dan jelas.


"Jelaskan konsep baru kalian." Perintah sang presdir dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ini adalah ringkasan ide terbaru yang kami rancang kemarin pak..." Maya memberikan sebuah berkas ke depan meja sang presdir.


"Biasanya produk parfum dan makanan kami promosikan terpisah menjadi dua stand, namun kali ini kami berencana untuk menggabungkan keduanya." Lanjutnya.


Sang presdir mengangguk samar mendengar penjelasan Maya.


"Aroma parfum eau de toilette dengan latar bernuansa snow white, lalu gazebo kecil yang menyajikan makanan hangat, mie rasa kuah soto misalnya, akan sangat menarik minat konsumen anak-anak, remaja, maupun dewasa." Jelas Maya dengan intonasi penuh percaya diri.


"Good. Bagaimana dengan model?" Tanya sang presdir.


"Jika pak Kris setuju kami akan menggunakan nona Carla Cinciana untuk model parfum, dan pasangan penyanyi Tina-Haris sebagai model makanan." Jawab Maya sembari tersenyum bangga.

__ADS_1


"Okay, saya setuju." Ucap sang Presdir.


"Serius pak?." Ujar Maya antusias.


Mantap nih pak presdir, kalau ambil keputusan langsung yes aja gak pake lama gak pake komplain sana-sini. Batin Maya.


"Of course. Jika ini berhasil dan penjualan meningkat, kalian akan dapat bonus tambahan. So, kerjakan dengan detail semaximal mungkin." Ujar sang presdir sembari menandatangani berkas yang diajukan Maya.


"Siap pak. Terima kasih." Ujar Maya sembari berdiri kemudian menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.


"Sama-sama nona, silahkan kembali bekerja." Tiba-tiba pria necis di sebelah sang presdir menyambut uluran tangan Maya dan malah menyuruhnya pergi.


Sial....kenapa malah si lambe turah ganteng ini sih yang jabat tangan gue? Apa emang rumor tentang presdir yang tak mau menyentuh wanita sembarangan itu benar adanya ya?!. Batin Maya.


"Oh i-iya pak. Permisi." Ujar Maya sedikit tergagap.


Maya melenggang keluar dengan perasaan senang bercampur dongkol. Setelah sampai di ruang kerja, ia meletakkan dokumen dengan kasar ke atas mejanya.


"Kenapa muka lu May?" Tanya Thalita.


"Gimana May? Di acc gak sama pak Kris?" Tanya Dian.


"Di acc sih. Tapi mukanya tetep datar, gak ada senyum-senyumnya tahu gak. Belum lagi tuh pengawalnya, udah kayak fashion stylist banget ngomentarin baju gue." Keluh Maya kemudian meneguk air mineral di samping meja kerjanya.


"Haha...rasain. Kemarin gue malah parah, 'rok nona terlalu pendek, nona mau bekerja atau mau menggoda presdir kita?' Alamaaakkk.. Berasa mau gue cabik-cabik aja tuh muka ganteng pengawalnya." Gerutu Thalita kesal sembari menirukan logat suara sang asisten presdir, hingga membuat teman-temannya mendengus tawa geli.


"Iya lah, menurut gue nih ya..pertama kali ke ruangan presdir harus lebih cantik. Gue udh pakai dres sexy, pakai blazer gue yang paling mahal juga. Eh, malah di komentarin kayak gitu, hufff.." Jawab Thalita masih kesal.


"Hahaha...makanya jangan kecentilan terus. Ayo kerja-kerja. Kata pak Kris kalau project baru kita kali ini berhasil dan penjualan meningkat, kita bakal dapat bonus tambahan." Ujar Maya bangga.


"Wah mantep tuh. Ayo gaes kerja-kerja." Suara pak Ubaid tiba-tiba muncul dan membubarkan kerumunan di meja Maya.


"Huu..bapak kalau masalah bonus aja cepet banget tanggap. Hati aku dong pak tolong tanggepin juga.." Gerutu Thalita dengan suara manja.


"Mau di geprek lu kalau ketahuan bu Ubaid di rumah?" Tukas Dian di sambut tawa teman-teman lainnya.


"Yaelah, bercanda kali..." Ujar Thalita pasrah.


Sementara itu di ruangan sang presdir. Nampak dua asisten sedang berkutat dengan laptop masing-masing.


Tak lama ponsel sang presdir berdering. Dan ia pun mengangkatnya, menyapa tanpa basa-basi.


"Gimana rencana kakak?" Tanya sang presdir.


"Satu titik terang. Waspadai kantor cabang HG nomor 4, tugaskan dua orang bintang tiga di sana." Jawab sang kakak.


"Baiklah. Bagaimana dengan anak Mr. Smith itu?"

__ADS_1


"Nanti sore dia sampai di hotel kita, tugas lu meeting di sana dan tunjukkan pesona sang presdir muda di hadapannya, hahaha.. Gimana?."


"Siap kakak bos...tapi...by the way...gak ada wartawan kan? Males banget gue kalau ada mereka..."


"Heh, ada atau tidaknya wartawan itu urusan lu. Gue masih punya banyak kerjaan. Bye." Putus sang kakak dengan suara kesal tanpa mendengar balasan sang adik.


Astaga. Nih kakak gue apa bukan sih? Kejam banget sama adik sendiri. Batin sang presdir.


.


.


.


Kantor cabang HG nomor 4.


Seorang wanita paruh baya dengan tampilan elegan dan berkelas duduk berhadapan dengan salah satu sekertaris manager di kafetaria lantai satu kantor cabang HG nomor 4.


"Ini yang nyonya minta. Transfer lima puluh juta sesuai janji nyonya." Ucap Vita sembari menyerahkan sebuah amplop besar ke hadapan nya.


"Bagus. Aku transfer sekarang juga. Tapi ingat, jangan sampai hal ini bocor kemana pun, jika kamu tertangkap, kamu tanggung sendiri resikonya, jangan pernah libatkan aku." Ujar sang nyonya dengan suara angkuh nya.


"Baiklah, terimakasih. Senang bisa bekerjasama dengan nyonya." Ucap Vita sembari tersenyum senang.


"Nikmati makananmu, jangan lupa laporkan semua perkembangan perusahaan pada ku." Ujar sang nyonya seraya berdiri, kemudian melangkah meninggalkan si sekertaris dengan beberapa menu makanan pesanannya.


Sang sekertaris tersenyum senang, dengan hanya menduplikat beberapa berkas penting perusahaan saja ia bisa memperoleh banyak uang tanpa mengeluarkan tenaga ekstra.


"Vita Dwi Ningtyas. 38 tahun. Suami seorang driver walikota. Punya satu anak perempuan berusia tujuh tahun yang menderita patah tulang di lengan kiri. Masih tinggal bersama orang tua dan mulai kredit perumahan senilai lima ratus lima puluh juta rupiah." Suara seorang pria dengan tiba-tiba membuat Vita tersedak makanannya sendiri.


"Si-siapa anda?" Tanya Vita dengan cemas.


"Salah satu pengawal bayangan HG Corp. Hanya memberi peringatan bahwa tindakan anda sedang di awasi." Jawab sang pria.


"Bintang tiga? Tapi saya tidak melakukan apapun yang merugikan perusahaan." Sangkal Vita dengan suara sedikit bergetar.


"Lebih tepatnya belum merugikan. Namun iya, jika anda nekat. Silahkan lanjutkan aksi anda jika menurut anda itu benar. Tapi silahkan tanggung sendiri resikonya." Ujar sang pria sembari bangkit dari kursinya.


"Kamu....!!!" Vita tak dapat melanjutkan kata-katanya. Pria itu telah pergi setelah memperingatkan sekaligus mengancamnya.


Sial. Bahkan aku baru saja memulai, kenapa cepat sekali ketahuan??? Batin Vita.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2