
Rumah sakit kota G.
Selly baru saja terbangun di tengah malam saat bu Ami perlahan membuka matanya. Mengerjap berulang kali sampai benar-benar bisa terbuka sepenuhnya.
Ini dimana? Putih, hijau, rumah sakit? Kecelakaan, ayah, Fani... Kenapa mereka tega melakukan ini? Tuan besar, ya..tuan harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Batin bu Ami
"Ibu. Ibu sudah sadar. Apa ibu mau minum? Atau apakah ada yang sakit bu?" Tanya Selly dengan bahagia.
"Si...si..si..a..pa?"
Kenapa aku susah sekali mengeluarkan suara? Apa yang terjadi pada ku? Batin bu Ami
"Oh saya Selly bu, pengawal nona Veronika yang bertugas menjaga ibu." Jawab Selly jujur. Ia kemudian memencet tombol darurat dan tak lama kemudian beberapa dokter dan perawat datang memeriksa bu Ami.
"Semuanya normal, selamat ya ibu Anda selamat dari masa kritisnya." Ucap sang dokter sembari tersenyum lebar ke arah Selly.
"Terima kasih dok." Balas Selly dengan ramah.
"Oh iya kabar baiknya putri ibu juga sudah melewati masa kritisnya, mungkin besok dia akan sadar." Ujar sang dokter kemudian pergi meninggalkan ruangan ini.
Selly mendekat lagi ke bed bu Ami, menawarkan minum dan makan, namun hanya di balas gelengan kepala oleh bu Ami.
"A..a..anya..." Bu Ami mencoba lagi mengeluarkan suaranya.
"Anya? Anya bekerja seperti biasa bu. Tapi tenang saja, ada Iwan yang akan menjaganya dari jauh." Jelas Selly ketika melihat raut kekhawatiran dari wajah bu Ami.
Bu Ami menghela napas lega mendengar hal itu. Dulu bu Ami bekerja cukup lama pada keluarga Hanggara jadi ia dengan jelas mengetahui bagaimana sifat kedua majikannya itu.
Tuan besar cukup arogan dan keras kepala. Sedangkan nyonya besar ambisius dan nekat. Sejak Gara berumur dua tahun mereka sering kali bertengkar hebat hingga bu Ami hafal apa saja kebiasaan buruk majikannya tersebut.
"Ve...ro?". Tanya bu Ami lagi.
"Nona Vero dan Tuan muda Krisna sedang dalam tugas besar bu, mereka juga menitip pesan mohon maaf pada ibu sekeluarga. Maaf karena menyeret ibu sekeluarga dalam lingkaran masalah keluarga Hanggara." Jawab Selly panjang lebar.
Drrrtt... Drrrttt
Ponsel Selly bergetar. Panggilan masuk dari bos besar.
''Siap tuan..."
"..................................."
"Siap laksanakan tuan."
"…..............."
"Mengerti tuan."
Selly menutup panggilan. Singkat padat dan jelas. Dan bu Ami pun tahu dengan siapa Selly berbicara.
"Bu, sebentar ya Selly mau ke resepsionis dulu." Ujar Selly kemudian pergi tergesa-gesa tanpa mendengar jawaban bu Ami.
__ADS_1
Apa yang terjadi? Apakah nyonya besar sudah mendapatkan surat perjanjian asli itu? Tuan besar maafkan aku karena akhirnya tak bisa mempertahankan surat asli itu. Batin bu Ami.
......................
Pukul 04.04
Pak Ilham berjalan lurus ke arah kantornya yang cukup sepi.
"Malam hampir pagi pak... Pak stok tepung di gudang untuk sif C sudah siap." Sapa seorang pria di depan gudang di seberang kantor pak Ilham.
"Bagus. Lanjutkan"
"Siap pak.."
Pak Ilham kembali berjalan, menyeberang, kemudian perlahan mengamati keadaan sekitar pintu masuk kantornya.
Kenapa sepi sekali? Kemana keponakan nekat dan gadis aneh itu? Batin pak Ilham.
"Pak mereka masih di dalam pak, belum keluar sama sekali." Lapor seorang pria berseragam hitam yang ditugaskannya menjaga kantor ini.
"Apa?!?" Sahut pak Ilham kaget.
Ngapain mereka di dalam hampir empat jam? Malam ini udara cukup dingin dan... Aaakkhh.. Jangan-jangan mereka.......... Batin pak Ilham.
Tanpa ba-bi-bu pak Ilham segera membuka pintu kantornya.
Klek. Klek.
Pak Ilham kemudian mengeluarkan kunci duplikat dari kantong celananya. Diputarnya kunci itu perlahan-lahan ke dalam lubangnya. Lalu ia buka pintu kantornya dengan sangat hati-hati. Mengendap bagai satpol pp yang hendak menggerebek tindak kejahatan.
"Astaga..." Gumam pak Ilham sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ketika pintu telah terbuka dan ia masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Pak Ilham mengambil ponsel, lalu memotret kelakuan keponakannya yang cukup absurd.
Cekrek. Cekrek. Cekrek
"Pemandangan yang bagus. Bisa kutunjukkan pada Gunawan saat waktunya tepat nanti." Gumam pak Ilham seraya tersenyum penuh arti.
Plok..plok..plok...
Pak Ilham bertepuk tangan tiga kali membangunkan dua insan yang tengah tertidur lelap di depannya.
Anya yang posisi tidurnya hanya duduk bersandar di kursi segera terbangun, sementara Gara yang tidur tengkurap di sofa panjang masih nampak tenang-tenang saja, tak terganggu sama sekali dengan keributan kecil ulah sang paman.
"Emm pak Ilham....hehe..maaf pak, Anya ketiduran..." Ucap Anya kaku dan sungkan. Ia pun melipat sebuah jas yang entah sejak kapan menyelimutinya dengan nyaman.
Pak Ilham tersenyum, lalu melangkah ke arah Gara. Ia mulai menepuk pelan bahu sang keponakan.
"Hei boy, bangun..."Seru pak Ilham.
"Hem...sebentar lagi bi..." Jawab Gara tanpa membuka kelopak matanya.
__ADS_1
"Bangun...!!" Seru pak Ilham lagi dengan suara sedikit keras dan tepukan yang semakin kencang.
"Apasih bi....lima menit lagi, okey." Gara hanya bergerak sedikit sambil menjawabnya, hingga membuat sang paman menahan kesal.
"Awaasss ada petasaaan..awaaass..!!" Teriak pak Ilham tepat di samping telinga Gara.
"Mana..mana..mana petasannya.. mana....... Aduh.." Gara langsung terbangun dan kebingungan hingga ia jatuh dari sofa akibat kecerobohannya sendiri.
"Hahahahahahhahaaa..." Anya dan Pak Ilham akhirnya tertawa lepas melihat wajah bingung bercampur kesal Gara.
"Om Ilhaaaaammm...!!" Teriak Gara kesal. Ia kemudian bangun dan berlari ke kamar mandi.
"Hahaha...pak Ilham bisa di hukum loh nanti kalau bikin Gara marah." Ledek Anya sembari menyudahi tawa nya.
"Heh..sudah berani meledek rupanya yaa.." Tukas pak Ilham dengab wajah datar.
"Eh? Emm..maaf pak." Ucap Anya gugup.
"Udah Nya, gak usah takut sama om gesrek macam dia." Sahut Gara dengan mimik kesal. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Dengan beberapa tetes air yang tersisa dan menetes dari rambut tipis di pelipisnya.
"Heh keponakan gak ada akhlak, katanya mau menyusun rencana untuk misi besar, kenapa kalian malah tidur?" Protes pak Ilham tak terima.
"Sudah selesai om, lagian orang ngantuk, ya tidur aja." Jawab Gara enteng seraya berjalan ke arah Anya.
"Lu gimana sih? Malah ikutan tidur..kenapa gak bangunin gue? Gue kan minta bangunin pas jam istirahat selesai.. Kalau gini kan gue jadi gak balik kerja...haduhh.. Gimana nasib teman-teman ya..." Protes Anya kesal.
Gara hanya menaikkan sebelah alisnya, tak menjawab protes dari wanita di hadapannya.
"Hahahaha...baru kali ini aku lihat ada yang berani marah-marah sama keponakan nakal ku ini selain kakaknya." Tawa pak Ilham pecah begitu melihat interaksi antara Anya dan Gara.
"Ck. Iya iyaaa maaf. Yaudah lu balik aja sekarang." Ujar Gara dengan malas, lalu duduk di sofa sambil memejamkan matanya.
"Enak ya, mentang-mentang mau jadi bos besar, suka ngatur seenaknya. Gak ada kompensasi lain apa selain maaf. Yaudah gue balik, awas lu cariin gue lagi." Anya menggerutu kesal sembari berjalan pergi.
"Hahahahahahaha.." Tawa pak Ilham pecah lagi mendengar omelan ku pada Gara.
"Iyaa nanti gue kirim sarapan deh ke kosan lu. Udah sana-sana pergi. Hush-hus..." Usir Gara tanpa menoleh Anya, ia hanya mengibaskan telapak tangannya seakan mengusir lalat yang setia mengitari makanannya.
"Oke. Sekalian teman-teman gue ya..hehe. Pak Ilham saya pamit balik kerja." Ucap Anya penuh semangat sebelum keluar dari ruangan ini.
"Hahahahahahahhaaa..." Pak Ilham tertawa lagi dengan lepas, membuat sang keponakan melempar bantal duduknya ke arah sang paman.
"Jangan ketawa terus deh om, gak lucu tahu..!"
"Haha..oke-oke. Jadi, apa sebenarnya rencana kamu?" Tanya pak Ilham serius.
Gara berdiri, kemudian melangkah menuju kursi di depan meja sang paman. Meminum sebotol kecil air mineral sebelum mengatakan tujuannya.
"Ini rencanaku................................."
.
__ADS_1
.