
Suasana rumah yang sangat ku rindukan akhirnya bisa ku nikmati lagi. Bercengkrama bersama ibu dan ayah di depan tv, melihat Fani yang antusias bertanya makanan dan camilan apa saja yang tengah ia keluarkan semua dari paper bag yang ku bawakan.
"Onde-onde ternyata gak se-enak yang Devan sama Naya bilang kak. Masih enak ayam goreng masakan ibu." Komentarnya ketika telah menghabiskan setengah burger di mulutnya.
"Adek, makan yang benar ayo, jangan bicara dulu kalau masih mengunyah.." Ucap ibu sambil mengubah posisi duduknya.
"Ibu capek? Masih rutin periksa kesehatan sama kak Dewi kan bu?" Tanyaku sembari mengambil sebungkus snack di depan Fani.
"Masih kak.." Jawab ibu seraya tersenyum ke arah ku.
"Kakak ihh, itu punya Fani kak! Kok di ambil sih..!!" Keluh Fani dengan wajah cemberut dan nampak begitu kesal.
"Cuma satu dek.. tuh masih banyak.." Balasku seraya membuka snack di tanganku.
"Ayah.. kakak tuh yah..." Rengek Fani pada ayah yang tengah serius menonton berita di tv.
"Kenapa dek.. kalau gak ada kakak di tanyain terus, sekarang ada kakak malah berantem mulu..." Ujar ayah dengan nada lembut sembari mengelus pelan kepala Fani.
Aku menjulurkan lidahku meledek Fani. Membuat ia semakin cemberut kesal dan menatapku dengan tajam.
"Kakak..sudah dong jangan gangguin adik kamu terus.." Aku nyengir mendengar ucapan ibu, sementara Fani ganti menjulurkan lidahnya mengejek ku.
"Kalian berdua harus selalu menyayangi satu sama lain ya... Jadi nanti kalau ayah dan ibu sudah gak ada kalian tetap rukun, saling melindungi, gak boleh bertengkar, gak boleh musuhan. Oke?" Ujar ayah sembari memandang ke arah ku dan adikku dengan tersenyum lebar.
"Oke ayah. Asal kakak bawa makanan enak tiap pulang, Fani pasti tambah sayang sama kakak." Sahut Fani asal, lalu membuka snack keripik kentang di depannya.
"Ayah kok gitu? Ayah dan ibu pasti bisa nemenin kami sampai tua nanti. Jangan bicara gitu lagi ya yah..." Ucapku sembari berbaring ke pangkuan ibu.
"Iya nak, InsyaAllah kita akan selalu bersama. Tapi kalian harus janji apapun yang terjadi nanti kalian harus terus bersama dan saling menguatkan." Ujar ibu seraya merapikan poni ku ke samping.
"Iya bu, Anya janji." Aku menutup kelopak mataku, menahan agar air mataku tak jatuh. Entah kenapa perasaanku tak enak ketika ibu dan ayah mengatakan hal ini.
"Kak, tadi kakak ganteng gak ikut kesini?" Tanya Fani tiba-tiba, membuatku langsung membuka mata dan melirik sinis ke arahnya.
"Siapa kakak ganteng dek?" Tanya ayah penasaran.
"Pacar kak Anya lah, siapa lagi. Hehe.." Jawab Fani polos.
"Oiya, kenapa gak mampir tadi kak?" Tanya ibu.
"Sudah malam bu, di rumah katanya ada saudara jauh yang datang, jadi dia buru-buru pulang." Jelas ku tanpa menoleh ke arah ibu.
"Oh iya, ayah ingat, bulan kemarin waktu kamu pulang kan bareng dia juga ya nak." Ucap ayah sembari memandangku, memastikan ekspresi ku ketika membicarakan seorang pria yang mulai singgah di hatiku.
"Iya yah...tapi Anya balik kerja sendiri senin siang, kan Anya masuk malam. Kalau kak Arya balik besok sore." Ujar ku sembari duduk kembali. Tak mau kalau sampai ibu kesemutan karena capek pahanya terus kujadikan alas tidur.
"Kamu serius suka sama dia nak?" Tanya ayah hati-hati.
Wajahku bersemu merah malu karenya pertanyaan ayah. Entahlah, aku tak biasa menunjukkan perasaan ku yang satu ini ke ayah ataupun ibu.
"Sudah yah, tuh kakak sudah malu-malu kucing, jadi sudah pasti suka kan?" Ibu tersenyum lebar ketika mengatakan hal itu, membuatku semakin salah tingkah di depan mereka.
"Kak ponsel kakak bunyi tuh..." Ucap Fani tiba-tiba.
"Tolong ambilin ya dek,..." Ucapku dengan tersenyum lebar ke arah Fani.
"Oke kak..." Fani masuk ke kamarku sebentar, kemudian muncul dengan ponsel di telinganya. Ia tersenyum jahil ke arahku sebelum aku menengadahkan tangan meminta ponselku kembali.
Aku berpamitan pada ayah dan ibu untuk ke ruang tamu, menjawab telfon kak Arya.
Hei sayang, tadi kata Fani lu udah kangen sama gue...hehe...
__ADS_1
Itu mah Fani yang kangen, bukan gue.
'Ah menyebalkan sekali si Chibi Maruko Chan ini. Kenapa pakai bilang kangen sih? Aku kan lagi badmood.' Gumam ku sedikit kesal.
Kami hanya mengobrol sebentar. Kemudian aku kembali ke ruang tengah bersama ayah dan ibu.
"Aaaa....! Ampun kak ampun..." Teriak Fani ketika aku sampai dan langsung menggelitiki pinggangnya.
"Sudah..sudah..Anya.. Fani..Duh.. berasa nonton Tom & Jerry ibu di sini...." Keluh ibu.
"Sudah malam, ayo tidur nak, tidur..." Ucap ayah.
"Aku mau tidur sama kakak ya? Ya, ya ya?" Ujar Fani ketika aku berhenti menggelitikinya.
"Boleh, tapi gak boleh jahil lagi, oke?" Balasku seraya melangkah ke kamarku.
"Siap bos...!" Fani berjalan mengikuti ku dengan posisi jari tangan kanan sejajar dengan pelipisnya, hormat grak.
.
.
...----------------...
Pagi yang paling ku rindukan pun tiba. Kami sarapan bersama-sama dengan damai dan penuh canda.
Ibu bercerita bahwa semua hutang di warung telah ia lunasi dengan gaji yang kemarin ku kirimkan.
Ayah masih sibuk di sawah, namun kini berencana untuk berdagang buah jika modalnya sudah terkumpul.
Fani berceloteh ria mengenai sekolah dan teman-temannya.
Aku menceritakan pekerjaan, teman-teman kerja, juga tentang kos, ibu kos, serta bu Ratmi. Cerita yang sudah ku saring sedemikian rupa hingga yang baik-baik saja yang ku ceritakan pada mereka.
Drrttt...Drrrttt
Ponselku berdering.
Panggilan video dari kak Vero.
"Assalamu'alaikum Anya..." Sapa kak Vero riang.
"Wa'alaikumsalam kak.. wah kakak ceria banget pagi ini..." Komentarku sembari merubah posisi duduk ku.
"Halo kak....namaku Fani.. aku adik kak Anya yang paling imut dan lucu." Sahut Fani yang tiba-tiba muncul dan duduk di pangkuan ku.
"Fani.. sayang.. sini nak.. gak sopan nak menyela obrolan kak Anya sama temannya." Ibu memanggil Fani sembari menumpuk piring-piring kotor bekas kami sarapan tadi.
"Halo juga sayang.. wah iya, kamu lucu banget. Anya gue boleh kenalan gak sama ibu lu?" Ucap kak Vero tiba-tiba.
Aku melirik ke arah ibu. Menaikkan sebelah alisku sebagai isyarat tanya apa ibu mau bicara dengan kak Vero.
Ibu mengangguk, kemudian aku menyerahkan ponselku pada ibu.
"Assalamu'alaikum ibu Anya..apa kabar?" Ucap kak Vero begitu wajah ibu muncul di layar ponselnya.
"Wa'alaikumsalam nak.. kabar ibu baik.. nak Vero sendiri gimana? Kata Anya nak Vero baru sembuh ya..."
"Iya bu..."
Ibu dan kak Vero mengobrol hampir lima belas menit. Kak Vero bilang kalau dia ingin sekali kesini, ingin menginjak tanah di kota baru, ingin suasana yang damai, juga ingin merasakan keluarga yang utuh.
__ADS_1
Aku, ayah, dan ibu terharu dengan ucapan kak Vero. Bahkan ibu sampai berkaca-kaca mendengarnya.
"Boleh. Kapanpun nak Vero mau kesini, silahkan nak, pintu rumah ibu selalu terbuka untuk kamu." Ucap ibu sebelum mengakhiri obrolan mereka tadi pagi.
"Kak Fani beliin kaos kaki baru dong.. kaos kaki Fani sudah melar, masak tiap hari harus di lilitin karet gelang dulu biar gak turun kalau Fani pakai..." Fani menggerutu, menghampiriku yang sedang menyapu halaman rumah.
"Iya.. sebentar ya dek, ini kakak selesaikan dulu"
"Asiikkk...!" Teriak Fani dengan gembira, sembari berjoged ria berlari masuk ke dalam rumah.
Setengah jam kemudian aku dan Fani keluar rumah menuju toko pak Amin.
Toko ini bersebelahan dengan warung mak Yah, jadi orang-orang bisa langsung belanja sayur ke warung mak Yah, kemudian beli sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya ke toko pak Amin.
"Hei Anya, apa kabar? Mau beli apa?" Tanya kak Sarah ramah setelah keluar dari toko.
"Hai juga kak. Kabarku baik. Kakak sendiri gimana? Ini loh mau beli kaos kaki buat Fani."
"Gak beli skincare? Kan udah kerja. Atau masih gak mampu ya beli skincare mahal kayak punyaku." Kak Sarah mulai berkata tajam padaku.
"Gak kok. Kakak aja yang cantik, Anya begini aja, nanti kalau Anya ikutan pakai skincare mahal Anya khawatir nanti kak Sarah kalah saing, hehe." Balasku seraya melangkah meninggalkan kak Sarah yang ternganga mendengar kata-kataku.
"Sudah ayo jauhi aja si Anya. Kemarin malam aku lihat dia di antar cowok, pasti gak bener tuh Anya sekarang." Ujar bu Nurma pada kak Sarah.
Aku masih mendengar mereka membicarakan ku. Mengumbar kejelekan-kejelekan keluargaku yang tak semuanya benar.
Kalau dengan kak Sarah, aku masih berani menjawab. Namun dengan bu Nurma? Lebih baik aku diam, bicara pun tak ada gunanya, ia nanti malah akan semakin gencar menghina keluargaku.
"Kak yang ini bagus kak! Fani mau yang ini ya..!" Teriak Fani dari dalam toko. Ia berdiri di barisan kaos kaki yang terpajang di dinding toko sebelah kanan.
Untung saja Fani gak dengar apa yang mereka gosipkan... Batinku.
Aku menghampiri Fani, kemudian menyetujui apa yang dia pilih.
"Dua ya kak.. biar kalau hujan, basah, masih ada cadangan gantinya..hehe..." Ucap adikku penuh harap.
"Iya Fani sayang.. tapi belajarnya makin giat ya, kalau bisa jadi juara kelas lagi, oke?"
"Oke Kak.." Dengan semangat Fani membawa dua pasang kaos kaki ke depan pak Amir.
"Eh, Anya pulang... Gimana kabarnya nak?" Sapa pak Amir ketika melihatku berdiri di belakang Fani.
"Alhamdulillah baik pak. Ini sama gula satu kilo, telur satu kilo, sosis lima ribu ya pak." Ucapku sembari mengambil dompet di saku celana ku.
"Siap. Sebentar ya,"
Setelah selesai kami berjalan kaki kembali ke rumah. Melewati bangunan TK tempat dulu aku dan Fani sekolah. Masih ada beberapa pedagang keliling di pinggir lapangan, dan Fani sangat antusias mengajakku ke sana.
"Ayo kak beli es potong, sudah lama kita gak jajan es..." (Es potong\= Es dengan bentuk persegi panjang dengan beberapa varian rasa yang bisa di potong menjadi tiga sampai lima bagian, tergantung pembeli mau membeli dengan harga berapa, kemudian di kasih tusukan di ujung potongan tersebut agar pembeli mudah memakannya)
Kami duduk di bebatuan di pinggir lapangan. Batu bekas sisa pembangunan gedung TK yang sudah lama teronggok di sana.
Sambil menikmati es potong, Fani banyak bercerita tentang kebahagiaan ibu dan ayah ketika menerima uang pemberianku. Mereka nampak berbinar dan begitu bangga padaku. Mereka langsung menggunakannya untuk membeli kebutuhan dapur dan membayar hutang mereka di warung.
"Bu Wati sama bu Nurma sudah diam kak. Sudah gak pernah lagi marah-marahin ibu." Ucap Fani di akhir ceritanya.
Aku lega. Aku sungguh bersyukur memiliki Fani. Walau masih kecil tapi dia cukup mengerti dengan kondisi keluarga kami. Fani bisa membuat kami ceria kembali. Dan Fani selalu mengatakan semua hal padaku, yang bahkan ayah dan ibu tak mampu mengatakannya.
.
.
__ADS_1
.