
"Yakin nih gak usah kasih tau Gara?" Tanya kak Vero yang siang ini baru muncul dengan tampilan segar.
"Iya kak. Dia pasti lagi sibuk, dia kemarin cerita tentang kerjaan dia yang cukup ruwet dan melelahkan." Jawab ku sembari berjalan, lalu duduk di samping kak Vero.
"Oke. Tapi kalau nanti dia ngamuk, lu yang hadapi ya..." Kak Vero menyeringai menatap ku.
"Beres." Aku sedikit bisa tersenyum siang ini. Aku harus kuat untuk ibu dan adikku.
Ayah mungkin telah di kebumikan, namun wajah teduh dan kata-kata bijaknya terus terngiang di telinga ku.
Fani masih di IGD. Gadis kecil itu juga menderita gegar otak ringan. Fani yang riang gembira suka berceloteh kemungkinan besar tak bisa kembali seperti sedia kala.
Gadis kecil yang sering ku jahili dan balik menjahiliku kini terbaring tak berdaya di ranjang IGD sejak semalam.
Entah bagaimana kecelakaan ini bermula. Cerita dari pak polisi pada tante Mina dan kak Vero masih belum sepenuhnya ku cerna. Bayangan wajah ayah, ibu, dan Fani yang pucat memejamkan mata berhasil membuat ku terpaku dan tak sanggup merasakan atau mendengar apa-apa di sekitar ku.
Aku tersentak. Tersadar dari lamunan ku ketika tente Mina berteriak memanggil dokter.
Apa? Apa yang terjadi? Kapan tante Mina datang? Kenapa ini?!? Batin ku.
Seorang dokter dan beberapa perawat datang memeriksa ibu. Mencatat denyut jantung, juga tekanan darah ibu.
Beberapa saat kemudian mereka sibuk memasukkan beberapa suntikan ke infus ibu.
Aku tegang dan berdiri kaku di depan pintu ruang rawat ibu yang setengah transparan. Napas ku sesak, seakan tengah berlari marathon sepuluh kilometer.
"Bagaimana dok? Ibu saya kenapa? Kenapa kalian masukin banyak sekali obat?!" Tanya ku cepat ketika dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan ibu.
"Ibu ami baik-baik saja nak. Ini wajar terjadi pada pasien pasca operasi. Tetap semangati beliau ya.." Dokter paruh baya yang menangani ibu kali ini tersenyum, kemudian berlalu sementara aku bersandar lega di samping kursi tunggu.
"Sabar Nya..ibu lu pasti kuat, jadi lu harus lebih kuat, oke!.." Ucap kak Vero pelan seraya mengelus lengan kanan ku.
"Sebaiknya kamu pulang dulu Nya, biar tante yang jaga ibu kamu." Ucap tante Mina pelan, ikut mengelus sebelah lengan ku.
"Tapi..tapi... Anya gak mau ninggalin ibu tante.." Gumam ku sembari berkaca-kaca menahan tangis. Aku takut. Aku sungguh takut jika terjadi sesuatu pada ibu.
"Gimana kalau ke kantin aja, lu belum makan kan? Ayo gue temenin..." Bujuk kak Vero sembari berusaha menarik tangan ku dan menyadarkan ku dari lamunan.
Aku mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki kak Vero. Rasanya masih seperti mimpi. Aku tak pernah ke sini. Namun sekarang kehidupan ku seakan berakhir di sini. Ayah meninggal, Fani koma, dan ibu........
Sementara itu di sebuah penthouse hotel ternama di kota G.
Seorang lelaki paruh baya nampak menahan amarah. Beberapa investor menarik kerja sama mereka akibat salah satu cabang pabrik mereka kemarin mengalami sabotase.
Ada beberapa bahan baku yang tak sesuai dengan standard namun tetap masuk gudang sehingga terproses menjadi produk jual. Hal itu menyebabkan kerugian besar karena langsung terjadi komplain konsumen dimana-mana.
__ADS_1
"Breng**k..! Kali ini siapa yang mau main-main dengan ku?!?" Ujar pak Gunawan sembari meremas dan merobek laporan terbaru pemegang saham dalam satu minggu ini.
"Dugaan sementara ini ulah suami nyonya besar tuan." Lapor salah satu asisten seraya merunduk dan melirik-lirik takut.
"Siapa yang kau panggil nyonya besar hah? Dia bukan siapa-siapa lagi di sini..!!" Teriak pak Gunawan murka.
"Maaf tuan." Sahut sang asisten dengan raut wajah panik.
"Keluar...!!" Terika pak Gunawan lagi. Sedetik kemudian ia menelfon beberapa bawahannya untuk segera mendatanginya ke hotel ini.
"Gun, ini gawat. Benar-benar kondisi darurat.!" Seru pak Danu, ia tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, berlari, lalu menunjukkan sebuah video di ponselnya.
Video kiriman dari salah satu pengawal bayangan yang selama ini mengikuti putra-putrinya.
Video dimana Vero memarahi beberapa pengawal yang menjaganya.
Video yang memperlihatkan Vero memeluk seseorang yang tengah menangis meraung di depan kamar jenazah.
Video yang juga menampakkan seorang gadis yang berusaha mengajak bicara seorang pasien yang terbaring dengan wajah pucat di balik masker oksigen yang menutup hidung serta mulutnya.
"Bu Ami.... Bukankah dia Mami Dan? Apa hubungannya dengan teman Vero itu?!" Tanya pak Gunawan dengan dahi berkerut, berusaha mengingat-ingat detail wajah Pengasuh putranya sebelum ayahnya meninggal.
"Benar Gun.. dia adalah Mami. Gadis itu adalah putri pertamanya. Gara sudah mengenalinya, tapi Vero sepertinya tak tahu apa-apa. Darurat yang ku maksud adalah mantan istrimu mengetahui ini dan menyerang mereka. Dia juga mengira dokumen wasiat ayahmu berada di tangan Mami." Jelas pak Danu sembari menunjukkan beberapa foto lainnya.
"Kemarin malam motor mereka di tabrak oleh truk di dekat tol, setelah anak buahku ikut menyelidiki ternyata sopir truk itu adalah anak buah suami nyonya besar."
"Jangan lagi sebut dia nyonya besar...!!!" Sentak pak Gunawan dengan suara dalam menahan amarah.
"Oke. Oke. Baiklah. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya pak Danu gusar.
"Telfon Vero, suruh dia kembali. Jangan sampai mereka sadar kalau kita sudah tahu hal ini."
"Tapi Gun, bagaimana kalau mereka masih memburu keluarga Ami? Bagaimanapun kita masih membutuhkan kesaksian Ami kan?!" Ujar pak Danu sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
"Biar bintang tiga yang menjaga mereka, aku tak mau Gara ataupun Vero malah jadi sasaran jika terus ada di sana." Pak Gunawan kemudian terdiam, memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi jika mantan istrinya itu kembali menggugat perusahaan yang ia miliki.
Saat ayahnya kritis, beliau sempat berkata bahwa separuh perusahaan yang ia miliki terpaksa diserahkan pada mantan istrinya. Namun ketika ayahnya meninggal, mantan istrinya malah muncul dan mengakui semua perusahaan itu telah di wariskan padanya.
Perkara ini akhirnya menempuh jalur hukum dengan rentang waktu hampir satu tahun. Berkas dokumen mantan istrinya itu di nyatakan palsu, sehingga dia kalah di pengadilan.
Sampai sekarang, mereka masih mencari dokumen asli yang kemungkinan besar di simpan oleh salah satu dari tiga pengasuh anak mereka. Pengasuh-pengasuh itu mengundurkan diri, tepat satu bulan setelah kematian ayahnya.
"Maaf tuan, beberapa orang yang tuan panggil telah berkumpul di ruang tamu." Ucap salah satu pengawal yang baru masuk, menyadarkan pak Gunawan dari lamunannya.
"Hmm... suruh mereka kemari." Ucap oak Gunawan sembari duduk kembali ke kursi nya.
__ADS_1
Rapat dadakan ini di mulai dengan raut gelisah beberapa orang. Rapat darurat yang membahas dan saling mengemukakan pendapat tentang jalan keluar masalah sabotase produk pabrik, juga tentang pergerakan beberapa orang baru yang sedikit mencurigakan.
Orang-orang baru ini sering ke toilet bersama di jam tertentu beberapa kali. Seperti sebuah kode yang sengaja mereka ciptakan sendiri dwmi menghindari kecurigaan pengawal bayangan yang berseliweran di dalam perusahaan.
Sebuah monitor di nyalakan, menampilkan beberapa CCTV tersembunyi di depan toilet.
"Perusahaan Mr. Smith rapi, gak bisa gue intip sama sekali berkas maupun kontrak kerjasama mereka." Ujar seorang wanita yang mengenakan jas kerja berwarna kuning sembari merapikan make up nya.
"Sama. Di Perusahaan Mr. Nakamura juga nihil, gak ada yang bisa gue akalin." Ucap seorang wanita di sebelahnya setelah mengoleskan lipstik merah jambu senada dengan jas kerja yang di pakainya.
Mereka kemudian keluar, dan anehnya setelah keluar mereka sama sekali tak bertegur sapa seakan tak kenal satu sama lain.
"Wanita dengan jas kuning itu bukannya karyawan baru di divisi marketing? Dan yang berjas pink itu staf accounting kan? Pak Fendi?!" Tanya Pak Danu cepat.
"Be..benar pak" Jawab pak Fendi mendadak terbata. Pak Fendi menjabat sebagai manager HRD cukup lama. Ia sudah tau bagaimana watak pak Danu, tangan kanan bos besar nya di kantor ini yang terkenal ramah namun tegas ketika ada yang melanggar peraturan.
"Kumpulkan mereka besok pagi di ruangan ku. Ambil data diri beserta apapun yang anda ketahui tentang mereka." Ujar pak Danu dengan intonasi tegas dan pandangan tajam.
"Baik pak." Jawab pak Fendi singkat.
Rapat berakhir setengah jam kemudian. Pak Danu yang merasa lelah langsung menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, bersandar, kemudian bersiap menelfon Veronika.
"Katakan saja kalau kita membutuhkannya untuk segera menangani sabotase kemarin. Jangan menyinggung soal mamanya." Ucap pak Gunawan setelah ia ikut duduk di samping pak Danu.
"Tak ada jawaban Gun." Ucap pak Danu gusar, setelah beberapa kali mencoba menghubungi sang keponakan.
"Coba gue yang telfon." Pak Gunawan pun mencoba menghubungi putrinya. Masuk, tapi tak di jawab.
"Gue coba hubungi Selly." Pak Danu kembali menelfon. Pada deringan ketiga baru terdengar jawaban di sebrang sana.
"Halo. Dimana Vero?!" Tanya pak Danu dengan intonasi penuh emosi.
".................."
"Apa?!?!?!" Teriak pak Danu terkaget, hingga ponselnya bergeser sedikit ke samping.
"Apa? Apa yang terjadi Dan?!?" Teriak pak Gunawan ikut panik.
"Vero..............."
.
.
.
__ADS_1