
Seminggu berlalu dari saat aku menerima surat kak Zidan. Entahlah aku benar-benar tidak tau apa yang kurasakan saat ini.
Aku lega dia menyadari sikapnya yang terlalu terburu-buru, aku sedih karena dia masih mengharapkan ku, aku merasa bersalah karena langsung menolaknya saat itu.
Jujur aku memang belum pernah jatuh cinta. Kata orang rasa itu sangatlah indah, kita bisa tersenyum setiap hari hanya dengan mengingat wajahnya. Cuaca buruk bisa nampak cerah ketika mengingat canda tawanya. Dan waktu seakan berhenti jika kita bersamanya.
Apakah ada yang seperti itu?
"Hayo siang-siang kerjaannya melamun, mikirin siapa non?", Ucap Kia mengagetkanku.
"Astaghfirullahal'adziim.. Kia! Ngagetin tau, kalau gue kena serangan jantung gimana?", omelku sambil meletakkan novel yang baru ku baca ke atas meja.
"Salah sendiri melamun. Gue ketok-ketok pintu, salam ribuan kali juga kagak lu jawab, lama-lama kesambet jin lu kalau melamun siang-siang gini," omel Kia padaku.
"Gak papa asal jinnya cantik dan baik hati, nanti tak suruh ngasih mutiara satu kardus penuh biar keluarga gue mendadak jadi milyarder. Haha". Balasku pada Kia.
"Lu kira jinny oh jinny bisa kasih lu mutiara? Wahh halusinasi lu parah sekarang." Kia geleng-geleng kepala tak bisa lagi mendebat ku.
"By the way ada angin apa nih lu tiba-tiba kesini? Ada kabar apa?", tanyaku.
"Gue dapat panggilan kerja di pabrik kasa Nya. Mulai besok gue kerja, lu gak mau daftar juga? Ayo besok sekalian gue bawain surat lamaran kerja lu ke HRD," ucap Kia penuh semangat.
Pabrik kasa itu kan dekat dengan salah satu toko keluarganya kak Zidan. Ah gak-gak gue gak mau dulu berurusan sama mereka. Batinku.
"Emmm.. gak dulu deh Ya. Gue nunggu panggilan dari pabriknya si Anis aja." Tolakku pelan.
"Tapi ini udah hampir dua minggu gak ada kabar loh Nya." Tukas Kia pesimis.
"Iya gue tau, tapi entah kenapa gue merasa yakin gitu kalau kita pasti dipanggil nanti." kataku meyakinkan Kia.
"Hmmm yasudahlah terserah lu aja kalau gitu. Nanti kalau lu dapat panggilan kabari gue ya." Ucap Kia seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Lah lu mau kemana?" Tanyaku heran.
"Mau ke toko sembako depan rumah bu RT disuruh ibu beli beras. Ayo ikut, jangan di rumah mulu," omel Kia padaku.
__ADS_1
"Okelah, aku ganti rok dulu ya.." ucapku sambil berlari ke kamarku. Di rumah aku biasa mengenakan celana pendek, tapi kalau keluar selalu pakai rok pnjang atau celana panjang.
"Bu, Anya nemenin Kia ke toko pak Amin sebentar ya.." Pamitku pada ibu yang tengah merapikan mainan adikku ke dalam kotak kardus.
"Iya, hati-hati. Jangan dengerin apa yang gak pantes kamu dengerin ya nak.." ucap ibu yang kini selalu mengiringi saat aku keluar rumah.
Kia menceritakan pengalamannya saat melamar kerja, juga beberapa teman barunya yang cukup humoris. Sampai di warung mak Yah tampak bu Sofi, bu nurma, kak Dini, juga kak Sarah yang sedang berbelanja.
"Eh nak Anya gimana ibu kamu nak? Sudah sehat?", tanya bu Sofi ketika aku baru memasuki toko.
"Alhamdulillah sudah sehat bu Rt. Ibu apa kabar?", jawabku ramah. Kulihat kak Dini dan kak Sarah sudah selesai berbelanja tapi masih betah di toko ini.
"Darah tingginya kumat lagi? Pasti mikirin kamu nih Nya. Makanya kalau ekonomi gak mampu gak usah minta kuliah, nyusahin orangtua saja", omel bu nurma diiringi tatapan sinis kak Sarah.
"Bu Nurma sudah. Ayo kita pulang, Nya kita duluan ya.." Pamit bu Rt Sofi kemudian.
"Kenapa sih bu? Nih ya Aku kasih tau. Si Anya udah mau kuliah gak bisa, mau dilamar orang ditolak pula, sok cantik sekali, padahal kalah jauh sama keponakanku Sarah, mau kerja apa ke luar kota segala? mau jual diri ya!." ucap bu Nurma berapi-api.
Tanganku terkepal kuat. Ingin rasanya kutinju mulut bu Nurma yang kelewatan ini.
"Eh eh bu Rt tunggu.." Teriak bu Nurma kemudian menyusul bu Sofi.
"Makanya jangan sok cantik Nya. Skincare gak punya saja sok nolak lamaran orang", ucap kak Sarah sambil berlalu dari hadapanku.
*Cih. kalau kakak tau siapa yang kutolak, kujamin kak Sarah bakal nangis guling-guling di jalanan. Haha*. Batinku.
"Udah jangan dimasukin dalam hati omongan mereka Nya. Kamu masih masa pertumbuhan, kerja aja dulu, nikmati masa muda, yoga, nge-gym biar badan jadi sexy kayak aku. Tapi jangan ngarep Zidan bakal tertarik loh ya, awas Zidan itu punya aku, oke? Bye Nya.." ucap kak Dini panjang lebar seraya meninggalkanku berdiri mematung di tempat.
Gila. Awalnya manis akhirnya ngancem. Heran. Kok ada ya jenis orang seperti itu?!?. Batinku.
"Nya gue udah selesai. Pulang yok." Perkataan Kia membuyarkan keherananku.
"Oh oke." Jawabku singkat.
Sejak keluar toko aku hanya diam. Meski aku cuek dan tak membalas apapun yang mereka katakan tapi sedikit banyak tentu ucapan mereka juga mempengaruhi pikiranku.
__ADS_1
Mengapa mereka sejahat itu kepadaku dan keluargaku? Apa salah kami?
Aku ingin marah? Tapi untuk apa? Tak ada gunanya juga marah, mereka tak akan berhenti jika aku hanya melawan dengan amarah. Itu yang selalu ada di fikiranku.
Yang harus kulakukan adalah aku harus sukses, harus bisa membuktikan ke mereka kalau aku dan keluargaku tak serendah itu.
"Nya, lu kenapa sih diem aja dari tadi? Bu Nurma menghina kamu lagi?" Tanya Kia yang mungkin sedikit mendengar percakapan kami dari dalam toko.
"Biasa lah Ya. Anjing menggonggong kafilah berlalu." Jawabku singkat. Menghibur diri. Meredakan getar emosi yang tadi hampir meledak.
"Sabar ya Nya. Jangan dipikirin. Semoga besok lu dapat panggilan kerja, terus gaji lu banyak, terus lu sukses, terus lu beli tuh mulut bu Nurma. Gimana?" Kia ikut emosi rupanya.
Aku tersenyum simpul menanggapi ucapan Kia. "Wah bagus tuh ide lu. Aamiinnn. Tapi ngomong-ngomong buat apa juga gue beli tuh mulut? Mending buat nraktir lu makan mie ayam kan? Haha.."
"Haha bener juga. Heh tapi kalau lu udah sukses ya jangan mie ayam dong Nya. Naik dikit lah level makanannya. Pizza atau steak gitu lah biar lebih keren." Protes Kia.
"Oke lah terserah lu. Yang penting tunggu gue sukses dulu yak."
"Siap nyonya."
Kami bercanda sepanjang jalan sampai ke rumah. Kia memberiku beberapa permen untuk Fani. Katanya sebagai hadiah jaga rahasia.
Wait.
Tunggu.
Fani dan Kia punya rahasia?
Rahasia apa?
Kenpa aku sampai gak tau???
.
.
__ADS_1
.