Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
88. Wanita licik.


__ADS_3

Pukul setengah delapan tepat, aku sampai di depan kos. Masuk ke kamar dengan membawa sepuluh kotak makanan dalam kresek besar.


"Nah...ini nih yang paling gue suka dari Anya. Pulang-pulang bawa makanan." Seru Ira dengan riang ketika melihat ku masuk ke dalam kamar.


"Dari mana aja lu Nya?!" Tanya Kia.


"Kata Monik lu kebelet tadi, tapi masak sampai satu jam lebih baru nyampek kos?!" Tanya Ike.


"Nih Nya minum dulu, baru cerita." Ujar Inda sembari menyodorkan teh hangat di cangkir kecil pada ku.


"Makasih Inda sayang. Ceritanya panjang gaes. Mending kalian makan dulu," Ucap ku mengalihkan perhatian mereka.


"Hoo....makanan lagi? Pasti dari Gara-gara teman lu yang misterius itu lagi kan Nya?!" Tanya Monik cepat seperti tanpa napas menyerbu ku.


"Yang jelas ini halal. Ok? Gue mandi dulu ya...bye....." Aku melenggang ke kamar mandi diiringi tatapan horor dari teman-teman ku.


"Aneh tahu nggak sih si Anya?" Ucap Inda.


"Iya, seperti ada yang di sembunyiin.." Sambung Ike.


"Udahlah gaes, kalau udah waktunya dia pasti bakal cerita sendiri kok.." Lanjut Kia tenang karena ia cukup kenal bagaimana sifat Anya.


.


.


.


Kantor PT. Kingnoodle


"Maaf cari siapa ya?". Tanya salah satu staf HRD pada seorang pria berpakaian santai yang baru masuk ke lobi kantornya.


"Pak presdir ada? Saya ada janji dengan beliau." Ucap pria itu to the point.


"Silahkan masuk. Pak Presdir ada di lantai dua." Ujar staf HRD itu dengan sopan.


"Thanks..." Ujar pria itu kemudian berlalu naik ke lantai dua.


Hanya ada beberapa karyawan di lantai dua. Satu ruang meeting, dan satu ruang khusus presdir yang nampak terpisah dari ruangan lainnya.


''Bintang tiga? Masuk, presdir sudah menunggumu." Sapa sang asisten presdir dengan wajah serius.


Pria bintang tiga hanya mengangguk merespon sapaan sang asisten, kemudian mengikutinya masuk ke ruangan presdir.


"Duduk." Ucap sang presdir ketika dua orang pria masuk ke ruangannya.


"Iwan, pengawal bayangan nyonya Veronika yang ditugaskan untuk mengawal nona Anya." Jelas sang asisten.


"Benar tuan." Jawab pria ini.


Sementara sang presdir hanya melirik sekilas pria bernama Iwan ini.


"Jelaskan kenapa lu bisa makan berdua dengan nona Anya?" Tanya sang asisten.


"Jadi pagi ini nona Anya tidak keluar-keluar dari pabrik, padahal hampir semua karyawan sif B sudah keluar. Saya khawatir, makanya saat nona Anya keluar saya berinisiatif menyamar sebagai ojek untuk mengantarnya pulang sembari bertanya apa yang terjadi padanya." Jelas Iwan.


"Ceritakan sedetail mungkin." Tukas sang presdir dengan raut wajah nampak khawatir.


Iwan pun akhirnya menceritakan semua hal yang di katakan oleh Anya, termasuk tentang rekaman suara yang kini telah dikirimkan Anya ke ponsel Iwan.


"Wanita licik. Pras, lihat CCTV terdekat yang mengarah ke toilet dan temukan pelaku." Perintah sang presdir dengan wajah dan tatapan tajam.


"Siap tuan." Sang asisten kemudian keluar melaksanakan perintah sang presdir.

__ADS_1


"Dan kamu. Jika ada hal seperti ini langsung laporkan pada ku." Ucap sang presdir dengan wajah datarnya.


"Siap tuan."


Iwan masih setia duduk di depan sang presdir, ingin menanyakan sesuatu tapi mendadak ragu.


"Kenapa masih disini..ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya sang presdir tanpa menoleh ke arah Iwan. Ia kini membuka laptopnya dan mulai bekerja.


"Emmm....boleh saya tahu dari mana tuan tahu kalau kami makan bersama? Bukankah tak ada pengawal lain di sana?!" Tanya Iwan dengan hati-hati.


"Yakin mau tahu?" Tanya sang presdir sembari menoleh ke arah Iwan dengan raut wajah dan tatapan mengintimidasi, tak lupa ia juga menarik sedikit sudut bibirnya.


"Ti..tidak tuan. Permisi." Secepat kilat Iwan melangkah keluar dari ruangan presdir. Ia bahkan mengelus dadanya pelan ketika sampai di luar.


Gila. Aura presdir beda banget, berasa di cekek gue... Batin Iwan.


"Kenapa lu?" Tanya Pras mengagetkan Iwan.


"Ah, tidak. Hanya sedikit gerah. Permisi." Iwan langsung pamit,meninggalkan sang asisten presdir yang menatapnya dengan penuh curiga.


Pengawal aneh. Ini masih pagi, ruangan juga ber-AC. Gerah darimana coba? Batin Pras.


Sementara itu, beberapa menit kemudian di ruangan lain, beberapa staf mulai bekerja dengan dokumen masing-masing.


"Lilis. Di panggil presdir ke ruangannya." Seru Mala, salah satu staf HRD dengan suara lantang.


"Kenapa ya bu?" Tanya Lilis khawatir.


"Entahlah Lis, gue juga nggak tahu. Tapi pak Yudha, Bu Ester, dan terakhir elu yang di panggil." Jelas Mala.


Lilis pun melangkah menuju ruangan sang presdir sembari bertanya-tanya dalam hati.


Nggak mungkin gue ketahuan ngambil dokumen sekarang kan? Nuriva tadi udah gue ancem, dan nanti sore dokumen itu bakal balik biar gue nggak dicurigai. Apa mungkin jabatan gue mau di naikin ya? Secara, kinerja gue lebih bagus daripada bu Ester. Asik... Batin Lilis.


"Well..rok selutut aman, tapi kemeja anda terlalu pressbody, anda mau kerja atau mau menarik perhatian lawan jenis?" Seru sang asisten ketika Lilis baru saja melewatinya, kemudian duduk di sebelah kanan bu Ester.


"Ma-maaf pak." Ujar Lilis sedikit kaku.


Gila banget..baru juga masuk, udah kena semprot aja..nih asisten presdir apa komentator kontes nyanyi sih? Batin Lilis.


"Pak Yudha, anda tahu apa kesalahan anda?" Tanya sang presdir.


"Belum pak. Mohon beritahu saya agar saya bisa memperbaikinya." Jawab pak Yudha sedikit takut.


"Anda telah meloloskan wanita licik untuk masuk ke kantor kita." Ujar sang presdir dengan wajah datarnya.


"Apa? Si-siapa pak? Biar saya urus nanti. Saya akan segera memecatnya dan memasukkannya ke dalam blacklist" Ucap pak Yudha khawatir.


What? Siapa? Apa gue? Atau Lilis? Tapi bukankah kami selama ini jujur dan selalu taat aturan?! Batin bu Ester.


"Bu Ester. Anda tahu apa kesalahan anda?!" Tanya sang presdir.


"Be-belum pak. Maaf, tolong beritahu saya agar saya bisa merevisinya." Jawab bu Ester dengan raut wajah khawatir.


"Anda teledor, sehingga kehilangan satu dokumen penting perusahaan kita." Ucap sang presdir tegas, hingga bu Ester tak dapat mengatakan sepatah kata pun untuk membela dirinya.


Dokumen? Dokumen apa?! Batin bu Ester.


Gawat. Dokumen itu....kenapa gue bisa ketahuan sekarang? Bukannya CCTV sudah aman kemarin? Batin Lilis.


"Dan Lilis. Kesalahan apa yang ingin anda akui?" Ujar sang presdir dengan aura dinginnya. Sehingga semua yang hadir kini kembali menatap Lilis dengan deretan pertanyaan yang muncul di benak masing-masing.


"Sa-saya. Mak-maksud presdir bagaimana? Sa-saya tidak mengerti apa salah saya?" Jawab Lilis dengan suara terbata dan wajah nampak begitu khawatir.

__ADS_1


"Lilis Lestari, 38 tahun, janda dua kali, menjadi tulang punggung keluarga dan saat ini tengah mengincar salah satu kepala sif di perusahaan ini." Ujar sang asisten presdir dengan lantang, lalu berjalan ke arah Lilis.


"Akui perbuatan kamu atau....." Lanjut sang presdir dengan menggantung kalimatnya.


"Baiklah-baiklah sa-saya salah. Sa-saya sudah mengambil salah satu dokumen profit perusahaan yang akan diajukan untuk perpanjangan kerjasama dengan negara T. Tap-tapi saya di suruh, sa-saya akan mendapatkan..."


"Siapa yang menyuruh anda?" Tukas sang presdir dengan suara meninggi, hingga Lilis terkaget dan tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Sa-saya tidak tahu. Di-dia hanya datang dengan seragam hitam dan memakai masker." Jelas Lilis dengan berkeringat dingin, ia gemetar karena kali ini karirnya pasti tamat.


"Pras, selidiki lebih lanjut."


"Siap tuan."


"Pak Yudha...." Ucap sang presdir menggantung.


"Lilis, kamu di pecat, segera kemasi barang-barang kamu." Sahut pak Yudha mengerti akan tugasnya.


"Pak saya mohon pak jangan pecat saya pak, saya butuh pekerjaan ini pak. Ibu saya sudah tua dan anak saya masih kecil masih butuh biaya pak. Saya janji saya tidak akan melakukan ini lagi pak saya mohon..." Ratap Lilis dengan berurai air mata berlutut di samping tempat duduknya.


"Apa jaminan kalau kamu tak akan menghianati perusahaan ini lagi?" Tanya sang presdir.


Sial. Ternyata presdir tak bisa ku bohongi. Batin Lilis.


"Sa-saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan. Apapun yang membuat anda memaafkan kesalahan saya" Jawab Lilis seraya menyeringai tipis. Ia menunduk seraya menghapus air matanya.


"Hmmm...menarik. Baiklah...." Ucap sang presdir menggantung.


Hah. Laki-laki pasti puas mendengar jawaban ku. Hahaha gue emang jago dalam hal ini. Batin Lilis.


"...Kalau begitu tanda tangani perjanjian ini." Lanjut sang presdir seraya menyerahkan sebuah dokumen perjanjian pada Lilis.


Lilis bangkit, kemudian kembali duduk sambil membaca perjanjian apa yang di maksudkan oleh sang presdir.


Apa-apaan ini? Batin Lilis.


"Pak kenapa saya jadi penjaga kunci loker? Kenapa malah Nuriva yang harus menggantikan posisi saya? Kenapa bukan Mela atau teman-teman saya yang lain?!" Protes Lilis dengan nada kesal, tak peduli dengan tatapan jijik dari pak Yudha maupun bu Ester di sampingnya.


"Pras....." Sahut sang presdir.


Sang asisten maju, kemudian memutar sebuah rekaman suara di ponselnya.


Yah. Rekaman suara di toilet tadi pagi yang sempat di ambil oleh Anya.


Apa? Bagaimana mungkin? Siapa yang merekam? Batin Lilis.


Semua orang menatap horor ke arah Lilis.


"Pilih di pecat, di penjara, atau tanda tangani perjanjian itu. Kurasa dengan laporan pencurian dokumen dan pembully an cukup bisa memenjarakan anda beberapa tahun." Ujar sang asisten seraya mematikan rekaman ponselnya.


"Ba-baik pak.'' Ucap Lilis pucat seraya menandatangani berkas perjanjian yang menurutnya tak masuk akal itu.


Sial. Benar-benar sial kali ini. Walau aku mendapat uang puluhan juta, tapi malah jabatanku yang diturunkan. Awas aja lu wanita sok cantik. Batin Lilis.


"Bu Ester, segera urus perpindahan job mereka. Pak Yudha, awasi setiap pergerakan anak buah baru anda." Ucap sang presdir tegas.


"Baik pak." Jawab kompak bu Ester dan pak Yudha.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2