
Aku mengerjap dua kali. Memastikan dengan jelas rupa wajah seseorang di depan ku. Ini halusinasi ataukah nyata. Tampangnya begitu nyata, namun penampilannya sungguh berbeda.
Potongan rambutnya lebih pendek, lebih rapi, dan nampak semakin hmmm... handsome.
"Gara...!?" Seru ku dengan berbinar, setelah yakin bahwa dia memang Gara.
"Ayo....mau naik gak??" Tanya Gara sembari menahan tawa dan menaikkan sebelah alisnya.
"Iya..iya....sabar dong..." Akhirnya aku mendekat dan berusaha naik ke boncengan motornya.
Kaki kiri ku naikkan ke pijakan motor, kemudian aku melompat naik seraya berpegangan dan bertumpu pada pundak Gara.
"Nah kemajuan nih..lu gak kesal gue pakai motor gede gini.. haha..." Ledek Gara setelah aku selesai me-nyamankan posisi duduk ku.
"Bukan gitu. Gue tadi lagi kesel banget. Nah lu datangnya tepat waktu, jadi gue lega. Udah ayo jalan." Aku menepuk pelan pundak Gara yang kurasa semakin kokoh. Ia terkikik kemudian menyalakan mesin motornya.
"Oh, bukannya...karena gue makin ganteng ya? Hihihi..." Gara semakin terkikik, hingga membuatku kembali memukul bahunya dengan gemas.
Motor Gara melaju kencang, stabil di tengah jalan karena jalanan mulai sepi. Aku diam ketika ia melewati bundaran begitu saja. Aku menikmati udara malam yang menerobos masuk ke dalam jaket serta baju seragamku.
"Heh ngapain lu ngajak gue ke hotel? Gue teriak nih ya kalau lu macem-macem.." Ancam ku dengan cemas ketika ia berhenti di depan pintu gerbang sebuah hotel.
"Apaan sih, gue mau tukar jaket. Tunggu sebentar di sini, oke?" Ucap Gara sembari turun dan langsung berlari masuk ke dalam hotel. Meninggalkan ku yang masih berada di atas boncengan motornya.
"Loh..loh.. hei.. Gara... yach gimana sih nih cowok main kabur-kabur aja.. gue kan belum turun.. haduh ini gimana gue turunnya coba? Kalau langsung lompat bisa sih, tapi kalau nanti motornya malah ikutan jatuh gimana?" Gerutu ku kesal.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Untunglah sepi, tak ada orang, jadi tak kan ada yang menertawakan posisiku.
Dua menit kemudian Gara muncul. Ia langsung tertawa lebar melihat wajahku yang cemberut, kesal setengah mati di atas motor.
"Lu gila ya? Sengaja ninggalin gue di atas motor, biar di ketawain orang-orang yang lewat?" Protes ku sinis, namun ia hanya terkekeh dan mengabaikan ku.
"Dasar gila. Awas aja lu kalau macem-macem, gue laporin kak Vero nih." Ancam ku kesal, hingga membuatnya menoleh dan menatapku tajam.
"Heh, tahu gak? Cuman elu yang berani protes dan berani ngatain gue gila. Pakai ngancam segala. Tanpa lu lapor, nanti juga kak Vero bakal tahu kalau lu pergi sama gue." Ucapan Gara membuatku terdiam, sampai ia berbalik kemudian menjalankan motornya kembali.
Masak sih kak Vero bisa tau sendiri? Tau darimana coba? Batinku.
Sepanjang perjalanan kami diam. Beberapa menit berlalu, hingga kami melewati jalanan di samping pesisir pantai.
Gara berhenti di sebuah kafe outdoor dengan view langsung menghadap ke arah pantai. Kali ini gue langsung turun, tak mau ditinggal seperti tadi.
"Ke sana yuk.. lebih nyaman kayaknya." Aku mengikuti Gara berjalan ke sebelah kiri. Ada beberapa gazebo kecil dengan sebuah meja di dalamnya.
"Ramai ya..padahal udah malam" Ujarku ketika melewati beberapa gazebo yang ramai dengan beberapa pengunjung.
"Iya, banyak yang pulang kerja langsung ke sini Nya. Hang out sama teman, diskusi tugas kuliah, pacaran, sekedar cuci mata juga banyak." Ucap Gara pelan, kemudian kami sampai di sebuah gazebo yang masih kosong.
"Cantik ya.. adem, terang, banyak lampu hiasnya." Komentarku sebelum duduk lesehan dan bersandar di salah satu dindingnya.
Beda banget sama gazebo besar yang ada di atas bukit kemarin. Serem. Batinku.
"Jus jambu dua, es jeruk dua, nasi goreng spesial dua, sama kentang goreng dua porsi..." Aku memperhatikan Gara yang tengah memesan makanan pada pelayan yang menghampiri kami.
"Ngapain lu lihatin gue gitu? Terpesona?" Gara menaik-naikkan alisnya seraya tersenyum jahil ke arahku.
"PD banget lu. Narsis lu itu gak berkurang sama sekali ya biarpun dari luar negeri." Sahut ku dengan raut wajah datar menatapnya.
__ADS_1
"Haha...btw kenapa lu tadi kesal? Jalan sendirian keluar pabrik..bukannya ini waktunya lu kerja?" Tanya Gara penasaran.
Aku menceritakan kejadian di pabrik yang membuatku kesal dan merasa sangat bodoh.
Gara heran, seolah baru tahu jika ada peraturan seperti itu di sana.
Pesanan kami sampai, tepat setelah aku menyelesaikan ceritaku.
Kami menikmati makanan sambil bercerita tentang kak Vero yang kemarin sempat menyusul ku ke kota J.
"Jadi, siapa lu sebenarnya dan kenapa lu bohongin gue?" Tanyaku serius, hingga membuat Gara menghela napas panjang sembari menatap pesisir pantai yang mulai menghembuskan hawa dinginnya.
"Maaf. Gue gak ada maksud buat bohongin elu. Itu udah jadi keputusan papa buat rahasiain identitas kita dari semua orang, sampai nanti dia sendiri yang memeperkenalkan kita ke publik." Jelasnya tanpa menoleh ke arah ku.
"Masak sih? Kayak artis atau konglomerat aja... Yakin cuma itu alasannya?" Tanya ku ragu.
"Haha...ada lagi sih alasan lainnya.."
"Apa? Ayo buruan kasih tau..."
"Gue takut lu berubah setelah tau siapa gue sebenarnya. Gue takut lu jadi naksir gue dan ngejar-ngejar gue seperti para wanita yang sering gue ceritain ke elu." Jelas Gara seraya menoleh pelan ke arahku.
"Hah? Jangan gila deh. Gue udah punya pacar, jadi gak mungkin lah gue naksir apalagi ngejar-ngejar lu." Tukas ku tak terima. "Tunggu, jadi mereka ngejar lu bukan cuma karena lu tampan dan jenius? Tapi karena lu juga kaya raya??" Lanjutku.
"Yups...betul banget..." Singkatnya, membenarkan apa yang ku katakan.
"Se-kaya apa??" Tanya ku penasaran.
"Janji dulu lu gak akan berubah sama gue kalau gue jujur."
"Oke. Gue janji. Gue bakal tetap jadi teman lu. Gak berubah dari segi manapun." Ucap ku mantap.
"Tau...itu yang punya pabrik mie tempat gue kerja dan pabrik kopi juga teh di sini kan?"
"Ya...itu punya papa.." Ucap Gara pelan. Membuat mulut ku menganga, dan menjatuhkan sendok di tangan ku.
Gila. Astaga. Gue berteman sama milyarder dong ini. Haduh..gimana ini... Batinku.
"Nya. Woi. Anya..!!" Seru Gara, membuyarkan lamunanku.
''Eh..Oh..iya..kenapa?" Jawab ku tiba-tiba tak jelas.
"Lu udah tau, jadi jangan berubah. Gue butuh teman yang tulus kayak lu, bukan karena lihat harta dan tampang doang." Jelasnya.
"Jujur sih gue kaget. Tapi bukan jadi naksir, malah gue jadi minder. Gue ini miskin, mana pantes temenan sama kalian yang kaya raya gini." Ucap ku sambil menunduk.
"Heh, ngomong apa sih? Semua sama di mata Tuhan. Lagian anggap saja kita ini sama-sama pekerja, bukannya kak Vero juga gak ngaku kan sama lu?"
"Iya juga sih...tapi nanti gimana sama papa lu? Kalau tahu kalian punya teman kayak gue, nanti dia bisa singkirin gue dan keluarga gue..." Ujar ku memelas.
"Heh, lu kebanyakan nonton sinetron ikan terbang apa drama korea sih? Bisa banget mikir gitu?"
"Ini serius. Gila ya lu. Kalau nanti ayah sama ibu gue kenapa-kenapa gimana?" Ucap ku khawatir.
"Sebelum gue dan Vero tau siapa lu. Papa pasti udah tau lebih dulu. Lu lihat penghuni gazebo sebelah kanan gue? Itu pengawal bayangan yang bertugas ngawasin gue."
Aku langsung menilik ke gazebo sebelah kanan kami. Ada sepasang mata yang memang memperhatikan kami, namun langsung terkesiap dan pura-pura pacaran ketika aku memandang mereka.
__ADS_1
"Jadi mereka itu bintang tiga?" Tanya ku dengan raut wajah bingung.
"Yups, betul banget."
Aku terdiam, berusaha mencerna kebenaran yang baru saja aku ketahui. Mereka kaya raya, sedangkan gue bagai remahan rengginang di meja dapur mereka.
Beberapa detik kemudian aku teringat sesuatu, lalu aku mengambilnya dari dompet, dan menyerahkan kembali kepada Gara.
"Apa nih? Mau lu balikin?" Tanya Gara.
"Iya, kak Vero udah sembuh, jadi ATM ini gue balikin..."
"No..no..gak bisa..itu udah jadi hak milik lu. Salah sendiri lu gak pernah gunain." Ucap Gara enteng.
Ya, selama ini aku memang mengunjungi dan membawakan kak Vero barang atau makanan dengan uangku sendiri.
"Tapi..."
"Udah, itu buat lu.. Tenang, untuk itu papa gak tahu, itu hasil kerja gue sendiri, gue punya resto yang gue kelola dari nol." Sahut Gara cepat, hingga aku tak bisa menyelesaikan kalimatku.
"Yang bener lu?" Tanya ku tak percaya.
"Kapan-kapan deh gue ajak lu kesana." Jawab Gara santai.
"Di tunggu."
Hening.
Kami terdiam beberapa saat sambil memandangi ombak pesisir pantai di depan kami.
Aku melirik Gara dari balik pundak. Ia nampak sedih, dan menahan air matanya.
"Gara, kalau lu punya beban, ada baiknya lu keluarkan. Di pendam hanya akan membuatmu tertekan." Gara terkesiap mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku tanpa menatapnya.
Gara beringsut pelan, lalu menjuntaikan kakinya ke bawah. "Sebenarnya tempat ini kenangan terakhir kami bersama mama. Kami kesini sewaktu merayakan ulang tahun kakak. Lalu beberapa minggu kemudian papa dan mama bertengkar dan mama pergi tanpa pamit padaku atau pada kakak." Ucapnya menerawang jauh ke barisan ombak di depan sana.
"Gue yakin mama lu pasti punya alasan. Jangan membenci. Hati lu terlalu baik jika melakukannya. Suatu saat nanti pasti lu bakal tau semua yang sebenarnya terjadi." Ucap ku pelan.
"Thanks ya...udah mau nemanin gue di pesisir rindu. Gue gak tau apa yang gue rasa, tapi ketika kak Vero bilang kalau ibu lu baik dan anggap dia seperti anaknya sendiri, gue jadi iri. Dan jujur, gue kangen sama mama." Ucap Gara lirih, lalu cepat-cepat ia menghapus sudut kelopak matanya.
"Heiii..kalau lu mau, lu boleh kok anggap ibu gue kayak mama lu juga. Ibu pasti senang punya anak laki-laki." Seru ku berusaha menghibur Gara.
"Serius?" Lirih Gara lagi.
Aku mengangguk mantap, hingga membuat Gara kembali tersenyum lebar.
"Thanks..."
"Heh, makasih terus, bayar nih makanan terus antar gue pulang ke kos."
"Haha.. iya iya.. cerewet.."
Kami tertawa lepas setelah itu. Ya, saat sedih dan terluka kita memang butuh seorang sahabat. Sahabat yang mengerti kondisi, bukan sekedar menghakimi.
.
.
__ADS_1
.