
Dua hari berlalu dari terakhir aku menerima kabar bagus menurut kak Arya. Setelahnya ia tak menghubungiku sama sekali.
Ini hari minggu. Kia, Ike, Ira, dan Inda kompak akan berbelanja ke mall terdekat dari kos kami. Putri dan Zumy akan pergi berkencan dengan pacar masing-masing.
Aku? Aku akan berkunjung ke rumah sakit tempat kak Vero di rawat.
"Waduh...rajin banget Nya, setengah tujuh udah jemur cucian.." May datang dari arah tangga bersama Lala dengan wajah sendu menahan kantuk. Rupanya mereka pulang kerja sif malam langsung membeli nasi bungkus untuk sarapan.
"Haha.. bisa aja lu May. Yah biar bisa santai abis sarapan, makanya nyuci dulu dari pagi." Jawabku tanpa menoleh lagi ke arah May.
"Nya kamar mandi bawah kotor banget, tapi gak ada yang bersihin. Gimana kalau kita bikin piket aja biar tiap hari bersih." Ike muncul di belakang May dengan handuk di rambutnya.
"Nah setujuu....!!" Teriak Kia yang masih menjemur cucian di ujung balkon tepat di depan kamar kami.
"Boleh juga tuh, kebetulan kita ada dua puluh satu orang, pas nih tiap hari tiga orang yang piket." Ucap May sembari melangkah ke ruang tengah di depan tv.
"Makanan datang.. ayo girls makan dulu, tinggalin itu kerjaan..!" Seru Ira dan Inda yang datang membawa beberapa nasi bungkus untuk kami.
Kami semua berkumpul di depan tv. Makan sambil berdiskusi menentukan jadwal piket.
Aku, Kia, dan Monik mendapat bagian hari sabtu, sementara Ike, Inda, dan Ira hari minggu.
Setelah selesai kami semua kembali ke aktifitas masing-masing.
.
.
.
Kos sangat sepi ketika aku keluar kamar. May dan Lala sudah di alam mimpi, begitu juga Monik dan teman sekamarnya. Anak-anak nonsif sudah berangkat ke mall setwngah jam yang lalu.
Aku memutuskan memakai kaos pemberian kak Vero, tapi karena lengan pendek maka aku merangkapnya dengan outer rajut lengan panjang.
"Mau ke mana Nya?" Sapa ibu kos padaku.
"Mau ketemu teman bu. Ibu mau nitip sesuatu mungkin?" Aku memperhatikan ibu kos yang tengah merekap orderan tokonya di meja kecil yang menghadap tangga tempatku berdiri.
"Kamu mau pergi ke daerah mana? Bisa nitip vitaminnya buat ibu menyusui gak? Kebetulan tinggal dua biji, belum sempat beli lagi." Ucap ibu kos seraya mengambil dompet di saku bajunya.
"Di.. di sekitar rumah sakit bu, iya nanti Anya belikan, kebetulan di sana ada apotiknya juga kan bu.." Ucapku agak gugup. Tak mungkin aku bilang kalau aku menjenguk teman yang di rawat di bagian psikologi kan? Bisa panjang nanti pertanyaan ibu kos ini.
"Iya apotik di sana lengkap banget Nya. Ini uangnya, kembaliannya buat tambahan ongkos kamu naik angkot saja, gak boleh ditolak, oke!" Ibu kos tersenyum melihatku yang hanya bisa nyengir mendengar perintahnya.
"Okelah siap bos..! kalau gitu Anya pamit, Assalamu'alaikum.." Ucapku sembari menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya.
Aku berjalan memutar bundaran dan berhenti di pinggir jalan raya tepat di depan dealer tempat kerja Hilda.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian aku mendapatkan angkot ke arah rumah sakit. Hanya sekitar dua puluh menit aku sampai, lalu berjalan kaki dari gerbang ke dalam gedung rumah sakit ini karena angkot tak boleh masuk.
"Pagi nona, mau menjenguk siapa?" Tanya seorang perawat cantik di meja depan pavilium Kenanga.
Loh kemarin-kemarin gak ada perawat jaga di sini kenapa sekarang ada ya? Batinku.
"Mau jenguk kak Veronika. Masih di sini kan ruangannya?" Tanyaku ragu.
"Masih nona. Dengan nona siapa? Saya konfirmasi dulu ya apakah nona didizinkan masuk." Aku menyebutkan namaku kemudian si perawat menelfon seseorang meminta izin apa aku boleh masuk atau tidak.
Aneh sekali. Seperti mau masuk istana presiden saja. Pakai konfirmasi segala. Batinku.
"Silahkan nona. Ada nona Selly juga di dalam." Si perawat bahkan sekarang mengantarku sampai ke pintu kamar rawat kak Vero.
"Assalamu'alaikum kak...gimana kabar kakak?" Seruku riang, membuat kak Vero berbinar menyambutku.
"Wa'alaikumsalam..Anyaaaa.!!. sini sini sini.. Selly kamu keluar saja jangan ganggu aku sama Anya.. kalian juga.. Husss huss husss" Kak Vero mengusir semua orang di ruangannya seperti mengusir ayam yang masuk ke rumahnya.
Aku mengambil tangan kak Vero kemudian menciumnya. "Kak Vero kenapa mengusir mereka?" Tanyaku dengan nada suara lembut.
"Hikss.. mereka membosankan, aku ajak main gak ada yang ngerti." Keluhnya sambil berkaca-kaca.
"Hmmm begitu....gimana kalau sekarang kita nonton naruto aja kak, ada yang terbaru loh." Kak Vero langsung tersenyum lebar mendengar ajakanku.
"Ayo ayo..." Kak Vero kini menepuk kasur di sebelahnya, menyuruhku pindah dari sofa.
"Sarapan sudah, tapi obat belum." Ucapnya cemberut, persis anak kecil.
"Kenapa? Pahit ya?" Kak Vero mengangguk. "Anya punya cara biar obatnya gak pahit, kakak mau gak?" Kak Vero kini menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bosen sama obat. Kenapa aku gak boleh makan es krim saja sih?" Keluhnya dengan wajah begitu kesal.
"Kakak.. kalau kakak minum obatnya rajin, nanti cepat sembuh, nah kalau kak Vero sembuh dan boleh keluar dari rumah sakit ini, nanti pasti bisa makan es krim kak.." Ucapku seraya beranjak dari kasur setelah meletakkan ponselku ke tangan kak Vero.
"Tapi nanti Gara protes 'Jangan banyak-banyak kak' gitu... wahh sudah mulai Nya, ayo nonton, kamu ngapain disitu?" Aku tertawa geli mendengar kak Vero menirukan suara Gara.
"Tenang kak, nanti biar Anya yang lakban mulut Gara biar gak bisa larang-larang kak Vero lagi, Hihihi.. Iya, kakak nonton duluan aja, aku mau menggerus obat ini dulu biar rasanya gak terlalu pahit lagi."
Aku menggerus dua kapsul obat kak Vero menggunakan dua sendok makan yang tumpang tindih. Setelah lumayan halus kutuang sedikit air gula yang kebetulan tersedia berjajar di samping teh manis di atas nakas.
Kuaduk sebentar agar tercampur rata kemudian kubawa ke tempat kak Vero duduk.
"Kak di sendok ini obatnya sudah tidak sepahit tadi, tapi kalau tetap gak enak kakak langsung minum air gula ini ya.." Ucapku sembari mengambil air gula di atas nakas tadi.
Kak Vero menurut saat aku membantunya minum obat dari sendok yang kubawa meski kemudian dia menutup rapat matanya menahan pahit, dan secepat kilat kusodorkan air gula di tangan kiriku padanya.
"Wahhhh iya Nya.. gak pahit. Kenapa mereka dari kemarin gak punya ide begini sih? Dasar bodoh ya mereka itu...." Gerutu kak Vero kemudian beralih kembali melihat ponselku.
__ADS_1
"Kakak.. mereka gak bodoh, mereka cuma gak tahu bagaimana caranya membuat obat ini menjadi gak pahit lagi. Mereka sudah menjaga kak Vero dengan baik jadi kakak gak boleh marah-marah ke mereka yaa..." Ucapku pelan setelah meletakkan kembali gelas air gula ke atas nakas.
"Iya juga ya Nya. Mereka jagain aku gantian pagi sama malam. Haha. Biar aku gak bisa kabur katanya." Ucap kak Vero tanpa melihatku.
Kami kemudian menonton video itu bersama-sama. Kak Vero mengomentari banyak adegan lucu di film itu, juga beberapa kostum yang tampak aneh menurutnya.
"Huaaaa....mmm" kak Vero menguap lebar saat film hampir selesai. Nampaknya efek obat yang dia minum tadi sudah mulai bekerja.
"Kak sambil rebahan yuk. Anya mulai ngantuk nih..." Pancingku agar kak Vero menurut.
"He.em..." kak Vero berbaring, sementara aku memegangi ponsel di depannya. Tiba-tiba tangan kak Vero memencet tombol di atas bed nya dan dua orang perawat tergopoh-gopoh muncul ke kamar kami.
"Aku mau sate ayam sama sate kelinci ya.. buat Anya makan siang nanti, aku mau bobok." Ucapnya setengah sadar dan anehnya para perawat tadi langsung keluar begitu kak Vero melibaskan tangannya.
Hah? Gak salah nih? Kok kayak sultan aja gaya kak Vero ini. Apa mungkin karena sakitnya jadi para perawat itu nurut gitu aja perintahnya..?!?' Batinku.
Drrrt...Drrrttt
Ponselku bergetar, untung kak Vero sudah tidur.
Kubaca dan langsung kubalas chat yang baru masuk.
Kak Arya : Siang Nya.. lagi jalan-jalan kah? Ini kan hari libur... jangan lupa makan siang loh...
Siang juga kak. Iya nih..oke kakak juga jaga kesehatan yaa.. Balasku.
Kia : Nya lu mau nitip apa? Mumpung gue masih muter-muter nih....
Gak usah Ya... gue belum ada yang mau dibeli.. tapi thanks ya udah nawarin... Balasku.
Aku turun dari ranjang kak Vero, kemudian duduk di sofa panjang di depannya. Ada beberapa camilan dan dua botol air mineral di atas meja.
Aku baru sadar kalau ruangan kak Vero ini cukup besar. Ada tv LCD di sudut dinding di hadapanku, ada satu bed lagi di samping kiri pintu kamar, juga kamar mandi dalam di sebelah kanan bed kak Vero.
Lebih luas dari kamar kosku. Ini ruangan VIP apa VVIP ya? Batinku.
"Hai Nya, apa kak Vero sudah tidur?" Tanya Selly setelah membuka pintu kamar dan berjalan ke arahku.
"Sudah.. tuh lihat... Lu tadi kemana? Maaf ya gara-gara gue datang jadi elu diusir sama kak Vero." Aku menggeser tempatku duduk agar Selly bisa ikut duduk di sebelahku.
"Gak papa, udah biasa. Oiya ini tadi pesanan lu, ayo makan." Selly membuka kotak berisi sate ayam dan sate kelinci, juga satu kotak lagi berisi nasi dan sambal sate.
"Loh tadi kak Vero yang pesan..." Ucapku sedikit tak enak hati.
"Udah ayo makan, gak usah sungkan, kak Vero memang baik, walau sakit tapi masih memperhatikan orang-orang yang menyayanginya." Ucap Selly sembari mengambil dua piring dan dua sendok makan dari dalam laci nakas.
Kami makan perlahan sambil sesekali menoleh ke arah kak Vero yang sedang terlelap. Wajahnya cantik, namun nasibnya benar-benar malang.
__ADS_1