
**Hallo para reader sayang....
Maafkan daku yang sok sibuk ini yaaa....
Banyak jahitan deadline sampai gak sempet nulis lanjutan kisah Anya...
Oke.. Ayo silahkan cek episode selanjutnya..
Terima kasih atas semua dukungan kalian.....🤗🤗🤗**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Desiran angin di sepanjang pantai menyentuh lembut permukaan kulit. Mengusir rasa gerah yang melanda. Gerah di badan, sekaligus gerah di hati.
Aku rapuh, namun tetap berwajah datar. Aku menangis, namun tanpa suara.
Aku memandang ombak yang berkejaran dengan riang gembira. Tetap berjuang menghancurkan batu karang walau tau itu takkan mudah.
Setelah patah hati aku menjadi sedikit pendiam. Mudah menangis di malam hari, juga mudah melamun di siang hari.
Berulang kali Kia, Monik, Inda, maupun Ike menghibur ku, namun hanya ku tanggapi dengan senyuman dan anggukan sesaat saja.
Saat sif sore aku tak pernah lagi pulang ke kos tepat waktu. Aku selalu keluar, meladeni siapapun yang mengajak ku keluar malam.
Pernah sekali aku pulang lewat jam dua belas malam karena keasyikan mengobrol di kafe yang lumayan jauh dari kos.
Kia, Yessi dan Monik menegur ku. Menceramahi ku panjang kali lebar. Seperti seorang ibu memarahi anaknya yang bertingkah tak sopan.
Aku tahu mereka peduli dan menyayangi ku. Namun entah kenapa hatiku terasa hampa. Kosong. Kecewa terlalu dalam. Rasanya lebih sesak dan ngilu dari saat aku mundur tak jadi kuliah.
"Lu cantik Nya. Dan lu gak pantes nangisin biawak cap kadal itu." Ucapan Monik yang terus mengiringi omelan nya tiap malam saat melihat ku duduk sendirian di balkon luar kamar kami.
"Lu harus move on Nya. Cowok bukan cuma komodo gila itu, oke?" Hibur Kia ketika ia pulang kerja mendapati ku masih melamun sambil stalking sosial media milik kak Arya.
"Semangat Nya. Gue yakin kalau buaya itu gak ditakdirkan buat elu, itu artinya masih ada cowok yang jutaan kali lebih baik buat lu." Ujar Ike ketika menegur ku yang sedang mencuci baju sambil berlinang air mata.
Satu tahun lebih kami bersama. Meninggalkan begitu banyak kenangan manis. Kenangan yang kini hanya bisa membuatku tersenyum dalam tangisan, sekaligus menangis dalam senyuman.
Aku ingat saat kak Arya ulang tahun, aku memberinya kejutan dengan datang ke tempat kos nya. Aku memberinya kado sebuah jam tangan couple, yang salah satunya telah ku pakai.
Aku ingat ketika kami tak dapat tempat parkir ke sebuah wisata. Kak Arya berbalik arah mengajak ku ke rumah temannya yang mempunyai kebun strawberry. Waktu itu ia dengan bangga mengenalkan ku sebagai pacarnya pada keluarga temannya itu.
Pernah pulang kampung basah kuyup karena hujan badai di tengah jalan.
Pernah di marahi ayah karena kami pulang terlalu malam.
Pernah ke rumah ku hanya untuk menemaniku yang mencuci baju sendirian di rumah.
Pernah ke pasar malam sampai bertemu dengan teman-teman ku semasa sekolah.
Semua kenangan itu kini berputar dalam ingatan ku. Tak bisa hilang walau telah ku lenyap kan berulang kali dari benak ku.
"Maaf...." Ujar kak Arya berulang kali tiada henti.
Sore ini ku putuskan untuk bicara dengannya. Menyelesaikan apa yang masih mengganjal di hati dan pikiran ku.
Seminggu ini aku telah mengabaikannya. Tak membalas pesan maupun panggilan video darinya. Aku muak, aku marah, aku kecewa, aku sesak, tak tahu lagi apa yang harus ku katakan untuk menggambarkan rasa sakit ini.
__ADS_1
"Sejak kapan?" Ucap ku datar.
"Maksudnya?" Kak Arya bingung dengan ekspresi dan kata-kata ku.
"Sejak kapan kak Ar berhubungan dengan wanita itu di belakang ku?" Aku tak mau lagi memandang wajah kak Arya, jadi aku berbicara sambil memandang ombak di pantai ini.
"Sekitar enam bulan lalu.. maaf Nya.. Gue gak bermaksud bohong, gue hanya-"
"Hanya terbawa emosi sesaat? Hanya terbawa suasana? Basi kak." Sahut ku dingin.
"Nya maaf......" Ucap kak Arya lagi. Ia berusaha memegang tangan ku, namun langsung ku tepis secepat mungkin.
"Gue gak butuh maaf, gue butuh tahu apa kurangnya gue, hingga kak Ar tega bermain api di belakang." Ucap ku sedikit parau.
"Kamu gak kurang apapun sayang. Kamu cewek sempurna, cantik, easygoing, gak pernah minta apapun dariku, gak pernah nuntut aku harus begini-begitu, gak-"
"Gak pernah bisa kau sentuh.! Ia kan? Karena itu lu cari wanita lain yang bisa lu sentuh sekaligus lu ajak masuk kamar." Sahut ku sinis.
Kak Arya terkesiap kaget. Ia nampak begitu heran dengan ekspresi datar ku saat mengatakan hal se-sensitif itu.
"Nya bukan gitu...." Kak Arya menghela napas panjang, seolah berat untuk mengatakan sebuah kejujuran padaku, "Oke, gue akuin gue emang salah, tapi gue sama dia gak serius Nya. Gue cuma cinta sama lu, sayang gue tulus cuma buat elu."
"Jadi sama tuh cewek sayangnya gak tulus tapi bisa lu tidurin? Enak banget jadi lu ya.." Aku tersenyum kecut sembari mengalihkan pandangan ku darinya.
Hening.
Kak Arya terdiam.
Aku juga masih diam, menunggu pengakuan lain darinya.
"Gue khilaf, tapi dia juga tau gue udah punya lu, jadi dia gak akan nuntut apa-apa Nya. Lu jangan khawatir, lu tetap nomor satu di hati gue." Kak Arya nekat menggenggam tangan ku walau aku menolak.
Aku meniru ekspresi wajah datar ini dari film 'Ada apa dengan Cinta' season dua. Dimana wajah datar Dian Sastro menjadi daya tarik tersendiri dalam perannya.
"Oke, gue ngaku. Gue emang udah tidur sama dia, tapi sumpah itu tidak sengaja karena keadaan. Waktu itu kami sama-sama mabuk di pesta, lalu yah...berakhir di ranjang." Aku heran, kenapa kak Arya sama sekali tak merasa bersalah ketika menceritakan hal ini.
"Jadi..udah berapa kali?" Tukas ku sinis.
"Apanya?" Kak Arya bingung.
"Berapa kali tidur bareng lah kak. Gila apa gue nanyain berapa ronde kalian tiap main." Jawab ku kesal.
"Emmmm.. itu... " kak Ar bergumam tak jelas dan nampak gelisah.
"Hemph...udah gak usah di jawab, gue udah tau jawabannya." Ujar ku remeh, sembari tertawa hambar menghadap pantai.
"Tapi gue tetap sayang sama lu Nya. Gue lebih pilih elu dari pada dia, please percaya sama gue ya sayang...." Kak Arya hampir mencium punggung tangan ku, namun aku langsung menarik lepas tangan ku dari genggamannya.
"Maaf kak, gue gak bisa balik jalan sama lu lagi. Satu dua kebohongan bisa gue maafin dengan alasan yang masuk akal. Tapi satu penghianatan? Jangan harap mendapat pengampunan semudah itu." Ucap ku mantap dan sedikit judes.
"Nya, please.. Kasih gue kesempatan lagi, gue janji gak akan ulangi ke khilafan ini..." Kak Arya memelas, bahkan ia hampir berjongkok di depan ku.
Aku berdiri, menghindari tatapan dan gestur rasa bersalahnya. Aku berjalan ke tepi pantai, mengabaikan rasa iba yang tiba-tiba muncul kala melihat air mata nya.
"Nya, please... Lu masih sayang kan sama gue.." Kak Arya menyusul ku.
"Itu yang gue benci kak. Gue bodoh, sudah di hianati tapi masih menyayangi." Ucap ku sendu.
__ADS_1
"Jadi lu mau kan balikan sama gue..! Gue sayang banget sama lu Nya" Seru kak Arya dengan pupil yang melebar serta sorot mata berbinar memandang ku.
Pandangan itu. Aku tahu pandangan itu penuh cinta. Tapi....
Aku juga melihat pandangan itu ketika dia menghampiri wanitanya di kafe saat itu.
Dan entah sudah berapa wanita yang ia kasih pandangan memuja semacam itu.?!?
"Heh. Sayang? Kalau sayang gak mungkin akan ada perselingkuhan. Jadi udah berapa cewek yang lu bilang sayang kayak gini kak?" Aku berbalik, menuju tempat ku duduk tadi.
"Nya.....Gue-"
"Cukup kak.! Cukup gue yang sakit, cewek lain jangan sampai mengalami hal yang sama. Dia udah lu tidurin, bagaimana kalau besok dia hamil? Itu pilihan lu, jadi lu harus tanggung sendiri resikonya." Ucap ku seraya memandang bola matanya dengan raut serius, tanpa air mata sedikit pun.
Kak Arya diam. Ia tak bisa lagi berkata apapun untuk meyakinkan ku.
Drrrtt.. Drrttt
Ponsel kak Arya di atas meja bergetar. Aku meliriknya sekikas. Ada panggilan dari 'my J' tertera di layar depan ponselnya sebelum kak Arya lantas mematikannya.
"Kenapa di mati in? My J? Hemph.. manis sekali. Udah sana kakak temuin dia, jangan-jangan dia mau kasih tau kalau lagi hamil. Kita udah selesai. Cukup sampai di sini. Jangan ikutin gue lagi..
Satu lagi gue minta, saat kita bertemu lagi kak Ar jangan pernah ungkit masalalu kita ini."
Aku melangkah pergi.
Cukup sampai di sini.
Cukup sudah rasa ini membelenggu.
Cukup sudah kasih ini berlalu.
Cukup.
Aku meninggalkan kak Arya yang berdiri kaku di depan tempat duduk ku tadi. Ia bergetar, lalu menghapus sudut kelopak matanya yang basah, ia seolah sungguh menyesal atas apa yang telah ia lakukan padaku.
Aku berlari masuk ke dalam sebuah kafe. Aku mencari toilet, lalu menangis sejadi-jadinya di sana.
Dada ku sungguh sesak. Rasanya ngilu dari dada sampai kerongkongan. Bahkan air mata ini tak bisa membuat hati ku lega walau telah berulang kali ku tumpahkan.
Bagaimana bisa seorang pria mengakui cinta pada satu wanita, sedangkan ia bisa seenaknya tidur dengan wanita lainnya?!?
Bagaimana bisa seorang pria bilang sayang pada satu wanita, tapi juga memandang wanita lain dengan rasa sayang?!?
Bagaimana bisa seorang pria meminta kesempatan kedua, padahal ia tahu luka yang ia timbulkan begitu dalam?!?
Aku sesenggukan selama hampir satu jam. Mata ku merah, dan kelopak nya membesar.
Akh. Aku benci semua ini.
Mengapa setiap aku menangis kelopak mata ku jadi membengkak semacam ini?!?
Bikin malu saja.
.
.
__ADS_1
.