
"Nya tungguin...." Teriak Monik sambil berlari dari gerbang pabrik.
Aku menoleh, lalu menghentikan langkah ku menunggu Monik sampai.
"Gila, gue ngantuk banget sepanjang malam tadi Nya. Gue jadi di hukum di suruh bersih-bersih line sama kak Ridwan." Gerutu Monik setelah sampai di samping ku.
"Udah ayo buruan jalan, gak usah beli sarapan nanti gue traktir." Ujar ku tiba-tiba hingga membuat Monik terdiam.
"Serius lu mau traktir gue? Dalam rangka apa nih? Punya pacar baru?!" Tebak Monik seraya berjalan menyusul ku.
"Ngarang lu. Emang kalau traktir sahabat harus pakai dalam rangka apa dulu gitu?" Jawab ku sok cuek
"Yaa enggak juga sih, hehe..." Ucap Monik seraya tersenyum senang.
"Yaudah ayo.." Ujar ku sembari mengirim pesan pada Kia dan kawan-kawan se-kamar kami.
Sampai di bundaran terlihat beberapa pedagang makanan mulai menjajakan dagangannya. Para pekerja yang baru pulang pun nampak memenuhi kursi-kursi di sepanjang taman kecil di sudut gang utara kos ruko yang kami tempati.
"Nya itu siapa?" Tanya Monik ketika kami melihat seorang pria menurunkan sekitar sepuluh box makanan dari motornya.
"Ayo kita lihat."
Kami melangkah mendekati orang tersebut. Ia nampak menghubungi seseorang dan tiba-tiba ponsel ku berdering.
"Siapa?" Tanya ku.
"Eh," Pria ini menoleh ke belakang, lalu melihat ku yang tengah mengangkat panggilannya. "Ini non Anya?" Tanya pria ini kemudian.
"Iya, siapa ya?"
"Ini, saya mengantar pesanan pak Gara, katanya buat bu Anya." Jawab pria ini kemudian menyuruh ku menanda tangani surat terima delivery order nya.
"Ciyeeee......" Ledek Monik sembari terkekeh dan mencolek gemas lengan ku.
"Sssttt..apasih Mon. Buruan deh bantuin angkatin.." Gerutu ku pada Monik.
Kami membawa masing-masing lima kotak, kemudian naik ke atas. nampak anak-anak kamar dapan yang sedang sarapan sambil nonton tv, juga Inda dan Ike yang sedang menjemur cucian.
"Hmmm...bau ayam panggang..." Ujar Ira yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Gila sih hidung lu tajem banget." Sahut Monik seraya masuk ke kamar ku.
__ADS_1
"Sini Ir, lu kebagian kok, ada sepuluh kotak ini.." Seru ku kemudian dan di sambut wajah berseri-seri dari Ira.
"Mantap...ini sih cewek sholihah menantu idaman beneran namanya." Gumam Ira seraya duduk di sebelah Kia yang sedang menyisir rambutnya.
"Pasti dari Gara nih.. Ciyyeee..." Seru Kia sembari menaruh sisirnya, kemudian mengambil satu kotak dan membukanya.
"Asik..beneran ayam panggang nih. Fix mending lu jadian aja deh sama Gara Nya, kayaknya doi naksir lu." Ucap Ira setelah membuka kotaknya.
"Udah diem deh! Mending ayo makan aja..." Sahut ku seraya mengambil dan membuka satu kotak.
Sementara itu di kantor pusat HG Corp. Kesibukan para karyawan mulai nampak ketika matahari semakin meninggi.
"Gaes siaga satu, bos besar bakal ngadain konferensi pers siang ini.!" Seru pak Ikhsan, sang direktur pemasaran pada semua staf nya.
"Buat apa pak? Pembukaan cabang baru?" Tanya Dian, salah satu staf advertising yang paling populer di sini.
"Bukan, beliau mau memperkenalkan putra nya." Jawab pak Ikhsan.
"OMG...berarti nanti kita bisa lihat langsung tuan muda kita dong..." Seru Thalita, salah satu staf advertising yang paling centil dan cantik di sini.
"Yes..kabarnya doi masih single loh, ganteng and mempesona banget..." Sahut Maya, staf advertising paling sexy di sini.
"Heh, dari mana lo tahu?!" Tukas Ubaid, manager pemasaran yang baru di angkat minggu ini.
"Serius lu? Hmmm gue kabarin bestie gue yang lain ah..." Ucap Thalita sembari berlalu dari hadapan mereka semua.
Pak Ubaid kemudian membahas sesuatu dengan pak Ikhsan. Sampai setengah jam kemudian bel alarm tanda siaga satu di bunyikan.
"Presdir akan datang, ayo cepat-cepat bersihkan diri dan ruangan masing-masing." Ujar Bu Sella, sang manager HRD.
Semua karyawan mulai menata ruang dan meja kerjanya serapi mungkin, kemudian merapikan penampilan mereka sebelum keluar menyambut sang presdir HG Corp yang terkenal perfeksionis itu.
Satu jam kemudian beberapa mobil mewah datang beriringan. Para karyawan telah berbaris rapi memanjang sesuai jabatan dan tugas masing-masing.
Seorang pria paruhbaya masuk ke aula perusahaan dengan begitu gagah dan nampak sedikit arogan. Tatapannya tajam dan sesekali melirik beberapa karyawannya yang mengenakan pakaian sedikit kurang bahan.
"Dan, di mana anak itu?" Tanya nya pada sang asisten.
"Satu menit lagi sampai bos." Jawab sang asisten sembari menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sesuai perkiraan, satu menit kemudian mobil sport mewah berwarna hitam sampai tepat di depan lobi perusahaan.
__ADS_1
Semua terdiam ketika seorang lelaki tampan nan mempesona keluar dari dalam mobil sembari melempar kuncinya pada salah satu satpam yang berjaga di depan lobi.
Ia masuk, melangkah perlahan dengan aura kepemimpinan yang sangat berwibawa ketika pintu lobi otomatis terbuka. Membuat hampir semua wanita menatap tak berkedip pada sosoknya yang begitu rupawan.
"Aaaaa........ini tuan muda apa aktor terkenal sih? Ganteng banget..."
"Sumpah ini mah kebangetan perfect, gue rela deh lembur kerja tiap hari gak dibayar asal sama dia terus..."
"Fix, cocok banget jadi calon imam gue nih..."
"OMG, dia barusan lirik gue..haduh gue mau pingsan nih..."
Begitulah rata-rata gumaman kecil para wanita yang hadir. Sang tuan muda yang selama ini tak ter-expose kini muncul di hadapan mereka.
Sang tuan muda yang menurut rumor adalah seorang cassanova berkelas. Hanya mau bersentuhan dengan wanita yang dia inginkan saja.
Meski harta mu berlimpah, tapi jika tuan muda tak menginginkanmu, maka kau pun takkan bisa mendekatinya.
Meski kecantikanmu bagaikan dewi kahyangan, namun jika tuan muda tak menyukaimu, maka kau pun takkan bisa menyentuhnya.
"Satu menit, satu juta." Singkat sang presdir ketika putranya sampai dan berhenti di sampingnya.
"......" Sang putra tak menjawab, hanya menaikkan sedikit sudut bibir kanan nya lalu menyapukan pandangannya ke semua karyawan yang hadir di hadapannya.
"Gila gila...ini sih lebih hot dari suami gue.."
"Sial banget gue lahir lebih dulu dari dia..."
"Senyumnya mematikan...Hmmm..."
"Gue mau deh jadi partner ONS nya, gak dibayar juga gue rela.."
Kasak-kusuk gumaman para wanita kembali terdengar. Sedikit vulgar dan berani khas dari bagian wanita-wanita sekretaris pimpinan beberapa kantor cabang.
Sampai semuanya kembali terdiam ketika sang Presdir berdehem pelan dua kali.
"Para direktur dan manager silahkan ke aula, yang lain silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." Ujar pak Dani memecah keheningan.
.
__ADS_1
.
.