
Mega merah perlahan memudar, berganti menjadi panorama gelap malam.
Beberapa pemuda tampak ramai bercengkrama di depan kos Anis. Hilda dan beberapa temannya juga terlihat mengobrol dengan mereka.
"Nya keluar yuk," Ajak Anis sambil melipat sajadahnya.
"Kemana? Tapi aku belum sholat isya'." Tanyaku seraya masuk ke kamar Anis.
"Ke tukang jahit. Seragam lo katanya kepanjangan, ayo kesana mumpung masih sore," Ucap Anis.
"Oh iya, gue lupa. Ayo, tapi gue sholat isya' dulu ya." Pamitku lalu beranjak ke kamar mandi mengambil air wudlu.
"Gue tunggu di depan Nya." Teriak Anis.
.
.
.
Drreet. . . drreett. . . dreett. . .
Ponselku berbunyi ketika aku selesai melaksanakan sholat isya'.
Dari Kia.
"Anyaaaaa. Gue dapat panggilan kerja dari PT. KingNoodle Nya..!!" Teriak Kia sesaat setelah kuterima panggilan darinya.
"Alhamdulillah. Terus gimana?" tanyaku.
"Ya gue udah resign tadi dari kerjaan gue. Besok pagi gue berangkat ke tempat lu." ucap Kia.
"Oke. Langsung ke kos aja ya, nanti aku kasih tau Anis."
"Anis sif apa?"
"Anis sif pagi. Gue belum tau sif apa, tadi cuma pengenalan lingkungan, peraturan kerja, sama pembagian seragam. Besok baru ada pembagian job wilayah." Jelasku sambil keluar dari kamar.
"Gaya lu pakai job wilayah segala. Yasudah gue mau beres-beres buat persiapan besok dulu ya. Assalamu'alaikum. Bye Nya." Ucap Kia mengakhiri percakapan kami.
"Dari Kia?" Tanya Anis sesaat setelah aku keluar kos dan memakai sandal favoritku.
"Iya." Jawabku singkat.
"Tadi dia juga chat gue waktu lu masih sholat. Gue nyuruh dia langsung ke kos aja. Besok dia sampai kita sudah di pabrik kan?" Ucap Anis lalu melangkah keluar ke gang.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Anis, lalu mengikutinya berjalan keluar.
"Nis nitip sabun cuci sama in**mie goreng satu ya.." Teriak salah satu teman Anis.
"Iyaa.." Balas Anis sambil ikut teriak.
"Kalian semua akrab dan kompak ya, kayak keluarga." Ucapku santai sambil tetap berjalan di samping Anis.
"Sekarang mah kompak Nya. Tapi dulu waktu pertama ketemu dan berkumpul wah jangan tanya. Ribut mulu, ada aja yang di ributkan. Ada yang jorok habis makan gak mau nyuci piring lah. Ada yang mandinya kelamaan lah. Ada yang waktunya ngisi air galon tapi pura-pura lupa lah. Banyak pokoknya." Ucap Anis diselingi tertawaan kecil.
"Oya? Tapi selama aku di sana kalian fine-fine semua tuh." Ucapku heran.
"Iya seperti yang kubilang tadi, dulu ribetnya masyaAllah. Sekarang damainya Alhamdulillah, paling yang ribut ya itu-itu aja orangnya. Haha"
"Oh gitu ya."
Kami masih mengobrol ringan sampai tiba di depan rumah bu Sumi, penjahit langganan Anis. Tempatnya cukup bersih dan rapi.
"Kapanjangan 7cm ya. pinggangnya 3cm kanan kiri. Atasannya gimana?" Tanya bu Sumi.
"Atasannya dikecilkan sedikit saja bu.." Jawabku singkat.
"Yasudah silahkan ditunggu ya. Mau minum apa?" Tawar bu Sumi ramah.
Anis tampak sedikit gelisah. Kulihat dia sedikit pucat setelah melihat ponselnya.
"Kenapa Nis?" Tanyaku khawatir.
"Pacar gue sakit, tapi dia tetep mau masuk kerja sif malam. Aduh gimana sih dia ini Nya...." Ucapnya dengan sendu, matanya mulai berkaca-kaca.
Duhh sweet banget sih kalian berdua. Yang satu laporan yang satu kuatir banget. Batinku.
"Ini masih sore, gimana kalau lu antar dia periksa ke dokter dulu. Kalau dokter yang nyuruh dia istirahat kan dia pasti gak bisa nolak Nis." Saranku sambil mengelus lengan Anis yang mulai meneteskan air mata.
"Ah iya, lu bener juga. Tapi lu gimana kalau gue tinggal?" tanya Anis.
"Hei gak papa kali Nis. Ini dekat sama kos, gue bisa balik sendiri nanti. Udah sana antar cowok lu keburu malam." Ucapku sambil sedikit tertawa melihat ekspresi Anis.
"Hehe iya juga ya. Yasudah thanks ya Nya buat sarannya. Bye." Pamit Anis kemudian dia melangkah keluar meninggalkanku sendiri di teras rumah bu Sumi.
Anis kelihatan sayang banget sama pacarnya. Seperti apa ya mereka kalau pacaran? Haha. Batinku.
Sekitar setengah jam menunggu akhirnya seragamku selesai dipermak.
"Semuanya tiga puluh ribu nak" Ucap bu Sumi sambil menyerahkan seragamku.
__ADS_1
"Ini bu. Terima kasih. Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum." Pamitku.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati nak.."
.
.
.
Keesokan harinya kulihat Anis sudah rapi dengan seragam kerjanya.
Nih anak tadi malam balik jam berapa kok sepagi ini sudah siap berangkat kerja. Batinku.
"Jam berapa nih Nis kok lu udah rapi?" Tanyaku heran.
"Ya mau berangkat kerja lah. Noh udah setengah enam. Jam kerja sif pagi kan jam enam pagi sampai jam dua siang." Jawab Anis sambil menyemprotkan parfum ke baju seragamnya.
"Oh iya gue lupa. Hehe. Gue masih masuk jam tujuh pagi nanti Nis. Tapi langsung ceklok, gak usah ke kantor pak Doni dulu kayak kemarin." Ucapku sambil mengamati Anis yang mengecek kelengkapan kerjanya.
"Baju rapi dan wangi. ID Card oke. Bet seragam merah untuk hari rabu-kamis. Bekal makan dan minum oke. Sabun cuci muka dan mukena oke." Ucap Anis mengabsen barang bawaannya.
"Kenapa bawa bekal sama mukena Nis? Bukannya di kantin banyak yang jualan? Terus mukena di musholla bukannya banyak?" Tanyaku heran.
"Kelamaan kalau kita sholat ke musholla besar di samping kantin Nya. Lebih cepat sholat di musholla kecil dekat toilet N-1, efisien waktu, wudlu nya antri tau. Kalau bekal ini buat pacar gue nanti." Jelas Anis seraya tersipu di akhir kalimatnya.
"Oh begitu tow..." Ucapku sambil menatap lekat wajah Anis yang memerah.
"Apasih Nya nglihatin gue kayak gitu." Ucap Anis salah tingkah.
"Lu balik jam berapa semalam? Atau jangan bilang kalau lu nginep dan ngerawat cowok lu di kosan dia." Tanyaku sesikit berbisik. Membuat wajah Anis kian memerah malu.
"Apaan sih Nya. Gak gue gak nginep. Iya oke gue ngerawat dia, badannya panas banget Nya, gue gak tega, tapi jam satu gue pulang kok di antar teman sekamarnya." Jelas Anis.
"Hahah iya deh iya. Calon istri yang baik hati." Ucapku menjahili Anis.
"Sialan lu. Awas jangan bilang-bilang ke yang lain Nya. Malu gue." Ucap Anis setengah kesal menatapku yang masih tertawa.
"Siap nyonya Damar." Ucapku sambil terkikik geli keluar kamar menuju kamar mandi yang sudah kosong.
"Anyaaaaa... awas lu ya..!! Tau darimana nama cowok gue?!" Teriak Anis kesal.
Aku tertawa lepas mendengar Anis menggerutu sambil memakai kaoskaki dan sepatunya. Hilda dan teman-teman lain yang menanyakan 'ada apa' cuma dia jawab 'gak apa-apa'.
Haha. Apa segitu malunya ketahuan merawat sang pacar sampai tengah malam?
__ADS_1