Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
55. Sanksi Khusus


__ADS_3

Hampir pukul dua belas malam Gara mengantarku sampai di depan kos.


Suasana sudah tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pemuda di bundaran, satu penjual gorengan, dan satu warung di seberang jalan bundaran ini yang masih buka.


"Masih mau nongkrong lagi? Atau mau pulang?" Tanya ku pada Gara setelah turun dari motornya.


"Pulang lah. Bisa di omelin kakak kalau gue masih kelayapan jam segini." Jawab Gara sembari menyalakan mesin motornya.


"Yaudah sana pulang, salam buat kak Vero ya.. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...." Gara melambaikan sebelah tangannya kemudian berlalu dari hadapan ku.


Aku berbalik, hendak melangkah masuk ke dalam kos, namun tiba-tiba....


"Ciyyeeeeee....!!!!!"


Aku terkesiap kaget, dan langsung menengadahkan kepala ku ke atas. Ke arah sumber suara ribut itu berasal.


Ternyata itu suara teriakan melengking dari Kia, Inda, Ike, dan Ira yang tengah berdiri berjajar di balkon atas. Mereka lantas terkekeh meledek ku ketika aku menatap kesal ke arah mereka.


Huft. Sudah gila ya mereka? Bikin malu aja, tuh orang-orang di bundaran pada lihatin kan??. Batinku.


Aku masuk, lalu naik ke lantai atas. Kia, Ike, Inda, dan Ira menatap ku tajam, seolah menantikan perkataan atau penjelasan dariku.


"Nya kenapa lu pulang? Gak kerja?" Tanya Ike ketika aku membuka pintu kamar dan mereka semua mengikuti ku masuk.


"Bet celana gue salah gaes. Jadi gue di suruh pulang." Jawab ku sembari melepas baju dan celana seragam ku. Menyisakan kaos lengan pendek serta hot pants berwarna hitam favoritku.


"OMG...kok bisa?" Tanya Kia.


"Bisa lah, salah gue juga sih buru-buru terus gak cek waktu mau berangkat." Jawabku sambil beringsut duduk di samping Kia.


"Maaf ya Nya kita gak ngingetin." Ike bersuara lirih merasa bersalah.


"It's oke. Gak masalah." Aku meletakkan bungkusan ke atas meja kecil di depan kami.


"Tadi siapa Nya?" Tanya Inda.


"Mau tau aja apa mau tau banget? Hehee.." Jawab ku seraya terkekeh geli melihat raut wajah penasaran mereka.


"Gue cium pakai piring lama-lama lu Nya. Jawab aja napa..." Tukas Ike sambil meletakkan piring ke atas meja.


"Itu tadi kak Arya apa Gara?" Sahut Kia to the point.


"Gara." Jawab ku singkat, membuat mereka saling melempar lirikan satu sama lain.


"Ganteng banget Nya..." Sahut Ike dengan tersenyum-senyum ke arah ku.


"Ganteng orangnya apa motornya? Perasaan dia tadi gak buka helm, dari mana lu tau kalau dia ganteng?" Tukas Inda heran.


"Haha...tau aja lu Nda kalau yang gue maksud itu motornya. Hihihi....''


"Huuuuu...." Kami kompak menyoraki Ike bersama-sama.


"Bau nasi goreng, buat kita ya Nya? Hehe.." Ira akhirnya ikut bersuara.


"Iya, silahkan makan aja...tadi pas gue keluar pabrik, tiba-tiba Gara nyamperin gue. Yasudah gue ikut dia aja dari pada kesel pulang mendadak, kan lebih enak makan-makan. Hahaha..."


"Bisa banget ya kebetulannya..." Gumam Kia sembari membuka bungkusan nasi goreng di depannya.


Sementara itu di rumah sakit kota J, beberapa perawat nampak sibuk hilir mudik menangani para korban kecelakaan beruntun.


Sebuah minibus tiba-tiba keluar jalur dan menerobos jalanan di sisi kanan, menyebabkan beberapa kendaraan tertabrak dan tiga pejalan kaki tewas di tempat.


"Ibu..huaaa... Ibu yah.... Ibu...huaaa....." Raung seorang anak kecil di pangkuan sang ayah ketika sang ibu di dorong memasuki ruang operasi.


"Sssttt.. cup cup.. sudah nak.. ibu gak apa-apa.. sudah ya jangan nangis lagi.." Bujuk sang ayah seraya mengelus pelan punggung putrinya.


"Telpon kak Anya yah...huaaa.. Kak Anya telpon yah..huaaa.." Seru sang anak dengan suara serak karena terlalu lama menangis.


"Dek, kak Anya masih kerja. Besok saja ya..." Jawab sang ayah pelan. Sembari mendekap tubuh putrinya.


.


.

__ADS_1


.


Pagi menjelang.


Sinar indahnya menghangatkan, juga memberi warna baru di tengah awan.


Aku keluar dari kamar mandi, lalu menjemur handuk di balkon.


Alhamdulillah...segarnya...Batinku.


"Nya ponsel lu bunyi.." Teriak Kia dari dalam kamar.


Aku masuk, lalu segera membuka ponsel. Ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab.


(Krisna~ Pagi Nya, gue sama kak Vero otw ke negara T, belajar ngurusin bisnis papa di sini. Jangan kangen sama sobatmu yang ganteng ini ya.. Haha)


(Kak Arya~ Pagi sayang..aku berangkat kerja dulu ya.. Muach.. jangan lupa sarapan,oke?)


(Kak Vero~Anya... Gue pamit mau lanjutin S3 ke negara T. Lu baik-baik ya di sini. Kalau ada apa-apa langsung hubungi gue, oke?)


(Ayah~Nak tadi malam kami mengalami kecelakaan, saat ini ibumu di rumah sakit, lengannya patah. Kamu jangan khawatir ya, ayah dan adikmu baik-baik saja)


Aku tersentak dengan mulut sedikit menganga, perlahan air mata langsung mengucur deras membasahi pipi. "Ibu.." Lirihku.


"Loh Nya..kenapa?"


"Kenapa nangis Nya?"


"Nya lu gak apa-apa kan?"


Tanya Kia, Inda, dan Ike beruntun, namun sama sekali tak terdengar di telingaku.


Kia mengambil ponselku dan langsung membacanya bersama mereka.


Sedetik kemudian mereka saling berpandangan, lalu kompak mendatangi dan memelukku erat.


"Sabar ya Nya..." Ucap Kia.


"Lu harus kuat Nya.." Ujar Inda.


Aku mengggeleng lemah. Tak bisa berkata-kata. Kia mengelus pundak ku, menguatkan perasaan ku.


"Entahlah, gue harus gimana gaes? Kalau gue pulang, nanti malam berarti gue gak masuk lagi dong..kalau gue gak masuk nanti mengurangi gaji, sedangkan ibu di rumah sakit pasti butuh banyak biaya nantinya." Aku berbicara sambil menangis, membuat teman-temanku ikut menitikkan air matanya melihatku.


"Mending lu telfon ayah lu dulu Nya. Pastiin kondisinya dulu," Saran Inda.


Aku langsung menelfon ayah dan menanyakan kondisi mereka, sementara teman-temanku bersiap untuk berangkat kerja.


Ayah dan Fani hanya lecet, sedangkan ibu lengannya patah, namun operasi telah berhasil dan hasilnya bagus, jadi mungkin lusa ibu sudah diperbolehkan pulang.


Aku menghela napas lega. Ayah bilang aku tak perlu pulang karena biaya ibu sudah di tanggung oleh pihak jasa raharja.


Adikku Fani sementara di titipkan kepada tante Mina, adik ayah yang ada di desa tetangga.


Aku menghapus air mataku, aku harus kuat. Aku harus bisa menjadi anak sulung yang membanggakan kedua orang tua.


Kia dan teman-teman nonshift telah berangkat, bersamaan dengan Monik dan Yessi yang baru sampai kosan.


Monik dan Yessi ikut menenangkanku. Di depan kamar tadi Kia sempat memberitahu mereka bahwa ibuku mengalami kecelakaan.


"Jadi apa rencana lu selanjutnya Nya?" Tanya Monik.


"Mungkin kalau minggu libur, pulang kerja gue langsung pulang Mon."


"Jadi lu nanti malam masuk?" Tanya Yessi khawatir.


"Iya..kenapa? Kok muka lu cemas gitu?"


"Mmmmm setau gue, kalau gak masuk karena salah atribut nanti bakal kena omel atasan Nya, terus bakal ada sanksi khusus juga." Terang Yessi.


"Serius?" Monik ikut terkejut.


"Iyaaa....." Yessi mengangguk ragu.


.

__ADS_1


.


.


Malam ini aku, Monik, Yessi, Putri, dan Zumy berangkat bersama-sama. Kami baru berpisah setelah ceklok kemudian menuju tempat kerja masing-masing.


"Gue duluan. Semangat Nya..!!" Seru Monik berbinar, sebelum kemudian berlari lebih dulu masuk ke line tempatnya.


"Hai nak....kanapa tadi malam bisa salah bet?" Tanya kak Andin begitu aku muncul dan meletakkan minyak di samping Yayuk.


"Maaf ya kak..aku buru-buru jadi lupa gak ngecek kelengkapan sebelum berangkat kerja." Ucapku setengah berteriak, karena suara bertambah bising akibat pergantian shift.


Lima menit kemudian kami bekerja seperti biasa. Sampai tiba-tiba bapak operator mesin menghampiriku.


"Anya. Di panggil ke kantor kepala shift B. Tau kan tempatnya? Di samping gedung Tepung 2." Ucapnya sembari bersiap menggantikanku pasang minyak.


"Iya pak.." Jawab ku lirih.


"Semangat nak.." Ujar kak Andini diiringi tawa teman-teman pasang lainnya.


Aku melangkah pelan keluar. Kalau di marahi tak apa, tapi bagaimana kalau dapat SP atau gaji bulan ini di potong? Ibu masih butuh perawatan, dan ayah sementara tak bisa setiap hari bekerja karena harus menjaga ibu.


Aku melewati bu Ika penjaga kunci loker. Ia tengah sibuk merawat beberapa wanita yang muntah-muntah dan masuk angin, hingga tak menyadari kehadiranku.


Aku mengerjap pelan, memastikan bahwa gedung kecil di depanku ini adalah kantor kepala shift B.


Tok..tok..tok..


Aku mengetuk pintu pelan, sembari berusaha bersikap setenang mungkin.


"Permisi pak... Saya Anya dari packing line sembilan." Sapa ku ketika seseorang dari dalam membuka pintu.


"Oh iya silahkan, pak Ilham di dalam." Ucap seseorang yang membuka pintu tadi.


Seorang lelaki paruh baya nampak duduk di ujung ruangan sembari membaca sebuah berkas di atas meja. Ia menoleh dan langsung berdiri ketika aku berjalan ke arahnya.


"Silahkan duduk." Lelaki tadi menyuruhku duduk di meja depan, lalu ia pun menghampiri dan duduk di depanku.


"Pak Ilham memanggil saya?" Tanya ku hati-hati.


"Iya. Anya Zahrotul Jannah, packing line sembilan. Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" Tanya pak Ilham dengan suara dalam dan nampak berwibawa.


"Sudah tiga bulan lebih pak." Jawab ku.


"Sudah tahu alasan kenapa kamu saya panggil kemari?" Tanya pak Ilham lagi.


"Saya kemarin salah memakai bet di celana kerja pak, sehingga saya tak di perbolehkan masuk kerja." Jawab ku sedikit gelisah.


"Good. Lain kali jangan sampai salah atribut lagi ya. Tanda tangan di sini." Pak Ilham kemudian tersenyum sambil menyodorkan secarik kertas berisi pernyataan bahwa aku telah menjalani sanksi khusus karena kemarin melanggar peraturan.


Loh kok? Kok gue gak di marahi? Kok malah langsung di suruh tanda tangan? Aneh. Batinku.


"Maaf pak, sanksi khusus nya apa ya? Kenapa saya langsung di suruh tanda tangan?" Tanya ku pelan dan hati-hati, setelah menandatangani kertas pernyataan ini.


"Kamu mau tahu apa sanksi khusus buat kamu?" Tanya pak Ilham dengan melirik ke arah orang yang membuka pintu untukku tadi.


"I...iya pak." Jawab ku mendadak gemetar.


"Sanksi khusus buat kamu adalah................."


.


.


.


...----------------...


Hayooo coba tebak...


Sanksi apa yang cocok buat Anya kali ini???


Buat pembaca yang telah meninggalkan jejak like, komen, maupun vote..


Terima kasih banyak....!!!

__ADS_1


Semoga kalian tetap sehat dan rejekinya lancar....🤗🤗🤗


__ADS_2