
Malam adalah tanda, bahwa dunia ini tak hanya berisi cahaya. Begitu juga masalah, adalah tanda, bahwa dunia masih penuh perjuangan.
Malam ini aku kembali bermalam di rumah sakit. Menemani ibu yang mulai membaik dan bisa tersenyum lagi. Tante Mina pulang, namun kak Vero tak kunjung muncul meski malam semakin larut.
"Anya..tadi Fani siuman, tapi hanya berkedip dan tak mau bicara. Dia seperti trauma, seperti bingung dengan keadaannya sendiri." Ujar tante Mina sembari menghapus air matanya.
"Iya tante," Aku hanya bisa mengangguk lemah, tak mampu lagi menangis apalagi bersuara keras.
"Jadi gimana Nya? Besok lu masih mau di sini apa balik kerja?" Tanya kak Selly, ia duduk di samping ku, mengelus bahu ku, seolah tahu tentang kegelisahan yang kurasakan saat ini.
"Entahlah kak. Ini pilihan sulit. Kalau balik kerja, siapa yang akan menjaga ibu dan Fani? Tapi kalau tetap di sini, bagaimana aku bisa membayar biaya rumah sakit mereka...." Ujar ku pasrah, hingga membuat tante Mina menghela napas panjang sembari menatap prihatin ke arah ku.
"Tante bisa rawat mereka Nya...kamu gak usah khawatir..." Ujar tante Mina mantap menatap mata ku tegas.
"Anya tahu tante, tapi bagaimana dengan keluarga tante sendiri kalau tante terus menerus di sini?" Ucap ku lemas, tak tahu lagi harus berbuat apa.
Ya Allah mengapa semua ini terjadi? Kenapa harus aku..?.!? Kenapa harus keluarga ku? Batin ku menjerit.
Tante Mina dan keluarganya sungguh baik. Mereka selalu mendukung dan merangkul keluarga ku dalam kondisi apapun.
"Gue bakal di sini bantuin bu Mina. Lu bisa lanjut kerja, oke?" Ujar kak Selly lembut sembari merapikan poni ku. Ia tersenyum simpul dengan begitu tulus dan tanpa beban.
"Kakak serius? Tapi...." Aku terperangah, bagai terguyur air sejuk tiba-tiba.
"Apa? Kerjaan gue? Jujur ya Nya, pak Dan kali ini nugasin gue buat jagain keluarga lu." Terang kak Selly.
''Tapi...tapi bagaimana mungkin?" Sahut ku heran.
Apa mungkin Gara yang minta? Atau kak Vero yang nyuruh kak Selly? Batin ku.
"Kalau lu pingin tahu, tanya aja sama pak Dan kalau kalian ketemu. Yang pasti tugas gue jagain ibu lu, lu bisa balik kerja besok, oke?" Desak kak Selly.
Aku menghapus sisa air mata ku. Menatap wajah serius kak Selly yang sialnya malah nampak begitu keren dan dewasa di hadapan ku.
"Ngapain lu lihatin gue gitu? Naksir? Idihh.." Ucap kak Selly jijik.
"Sembarangan!! Gue masih normal kali kak. Gue cuma mau mastiin aja, kakak gak bohong kan?" Sahut ku kesal.
"Haha...Kirain. Kalau lu gak percaya, lu hubungin aja Gara atau Vero." Tukas kak Selly sembari masih tertawa menatap ku.
"Kalian benar-benar akrab ya. Makasih kalian semua baik sama Anya..." Tante Mina menghela napas panjang usai mengatakan hal ini. Ia tahu, dunia kerja memang kejam, tak ada yang namanya cuti karena menunggu orang tua yang sedang sakit.
__ADS_1
"Sama-sama tante. Oh iya, Vero mungkin masih di pesawat, dia balik karena papanya membutuhkan dia." Kak Selly memberitahu ku yang hendak menelfon kak Vero.
"Oh gitu ya kak. Pantesan nomornya gak aktif. Kalau Gara, gue gak berani, hehe, takut ganggu atau di kira caper. Biasanya dia duluan yang hubungin gue." Aku memasukkan kembali ponsel ku ke dalam tas.
"Yang bener Nya? Wah kemajuan ini...." Sahut kak Selly berbinar.
"Maksudnya kemajuan?" Tanya ku tak paham.
"Oh gak, lupain aja. Gak penting kok." Tukas kak Selly agak gelagapan.
Hebat. Jadi cewek yang di sebut Iwan spesial yang bisa bikin tuan muda galau sebelum menelfon itu si Anya ini? Kemajuan nih, biar tuan muda mencair, gak cuek lagi sama cewek. Batin Selly.
"Yakin...." Selidik ku tajam, aku menangkap ekspresi gugup dari wajah kak Selly.
"Of course."
Baiklah, karena kak Selly tak mau menjelaskan apa maksudnya akupun tak akan memperpanjang urusannya.
Di sisi lain, seorang pemuda memperhatikan interaksi antara Anya, Selly dan tante Mina dari kejauhan. Ia bersedih melihat wajah sedih Anya, namun ia juga tiba-tiba tersenyum melihat senyum Anya.
.
.
.
"Itu bukan kecelakaan, tapi percobaan pembunuhan." Satu kalimat sang papa membuat Gara diam membeku. Ia bahkan sempat menganga beberapa saat, sebelum kemudian mendapatkan kesadarannya kembali.
"Apa? Tapi bagaimana mungkin?!" Ujar Gara tak percaya.
"Papa sudah menyelidikinya. Tapi belum bisa menemukan pelakunya. Sepertinya ini berhubungan dengan musuh keluarga kita."
"Tapi kenapa harus....? Apa hubungannya dengan Mami?..." Teriak Gara frustasi.
"Tenangkan dirimu..!! Pikirkan dengan kepala dingin..!!" Bentak sang papa pada Gara.
"Kenapa harus mami pa. Gara sayang banget sama mami, dan.. dan.. bukannya mami sudah lama keluar dari rumah kita?" Ratap Gara dengan suara lirih. Ia bersandar di sebuah kursi kayu sembari menghela napas panjang-panjang agar kembali tenang.
"Papa sudah menyelidikinya, karena itu papa minta agar kamu dan Vero berhenti menemui Anya untuk sementara waktu." Ujar sang papa dengan tegas, kemudian pergi meninggalkan sang putra sendirian dalam ruang kerjanya.
Sang papa tahu bagaimana kerasnya sang putra, maka dari itu ia langsung mengambil tindakan daripada sekedar menghubunginya melalui ponsel.
__ADS_1
Drrrrtt.. Drrrttt
Ponsel berdering nyaring, nada khusus dari pengawal bayangan Veronika.
"Ya." Jawab sang papa.
"Pa, ponsel Vero lowbet, Vero butuh penjelasan papa alasan sebenarnya kenapa papa mulangin Vero" Tanya Veronika to the point.
"Hemm..ternyata kamu cerdas juga. Datang ke apartemen papa besok pagi, papa akan menjelaskan semuanya." Jawab sang papa penuh misteri.
"Dari dulu Vero cerdas pa, masak papa baru tau sekarang?" Vero merajuk setengah kesal.
"Ya..ya..yaaa.. anak-anak papa memang cerdas. Puas?" Tukas sang papa.
"Fine. Besok pagi Vero datang ke apartemen papa. Oh iya, Selly masih nemenin Anya pa, tolong jangan tarik dia ya, kasihan Anya sendirian." Ucap Vero memohon.
"Baiklah, asal kamu nurut sama papa." Jawab sang papa enteng.
"Siap bos." Sahut Veronika lega. Ia tahu walau sang papa egois tapi dalam hatinya penuh kasih sayang untuk keluarganya.
"Sudah malam, cepat tidur, jangan nonton film atau stalking instagram orang tidak penting..!" Ucap sang papa sebelum ia mengakhiri panggilannya.
"Papa.....!!!" Teriak Vero kesal dan sedikit malu, tak menyangka jika sang papa mengetahui kebiasaan barunya akhir-akhir ini.
"Ha ha ha." Tawa renyah sang papa menggema. Lalu menghilang seiring ditekannya tombol merah tanda panggilan berakhir di ponselnya.
.
.
.
...****************...
**Hai hai hai reader sayang...
Maaf ya telaaat sekali up cerita ini...
Karena kesibukan yang berasa tiada habisnya jadi kelanjutan cerita yang sudah author susun sempat terbengkalai😵
Tapi jangan khawatir, berkat semua dukungan kalian author jadi semangat lagi buat ngetik lanjutannya.
__ADS_1
So, semoga kalian semua makin sehat makin semangat buat baca cerita ini..
Terima kasihhh...😍😍😍**