
"Tunggu"
Suara dalam sang presdir menghentikan pergerakan telapak tangan Nuriva yang hendak membuka pintu ruangan.
Aduh...apalagi ini??? Batin Nuriva.
Hah...pasti pesen buat si Anya nih. Batin asisten sang presdir.
"I-iya pak". Nuriva perlahan berbalik, netranya menangkap kilatan seringai di wajah sang presdir.
"Kapan kamu balikin jaket Anya?" Tanya sang presdir.
"Emm..rencananya nanti atau besok kalau ketemu pak." Jawab Nuriva agak ragu. "Ta-tapi dia pesan kalau pas dia ganti sif saja pak soalnya kalau sif malam dia sering datang mepet banget sama jam ganti sif."
Hening.
Sang presdir malah terdiam seakan memikirkan sesuatu.
Ada apa sih? Kenapa malah diem? Bikin gue penasaran aja. Batin Nuriva.
"Bilang sama dia buat ambil hadiahnya di kafe kemarin." Ujar sang presdir dengan raut muka datar.
"Hadiah? Kafe? Maksudnya bagaimana pak?" Tanya Nuriva tak mengerti.
"Ck..." Sang presdir tiba-tiba berdecak kemudian melirik ke arah sang asisten seraya mengibaskan jemari tangan kanannya ke arah Nuriva.
"Sudah Va, jangan kepo, nanti turun lagi loh jabaran kamu, hihi.." Ujar sang asisten sembari berjalan ke arah Nuriva.
"Hah? Emm..baiklah, permisi pak." Nuriva kemudian cepat-cepat keluar dari ruangan sang presdir yang tiba-tiba berbicara penuh misteri itu.
Apa-apaan itu? Masak cuma tanya bisa bikin jabatan gue turun lagi? Hiii aneh. Batin Nuriva.
"Nuriva..!!"
Sebuah panggilan menghentikan langkah kakinya kembali.
Kenapa lagi sih? Batin Nuriva.
"Masih penasaran? Mau gue kasih tau nggak?!" sang asisten presdir tiba-tiba berdiri di samping Nuriva seraya tersenyum tipis ke arahnya.
"Apa pak? Bagi tau dong.." Sahut Nuriva dengan antusias.
"Bagi nomor ponsel kamu dulu.." Ucap sang asisten sembari tersenyum smirk menyodorkan ponselnya ke hadapan Nuriva.
Kasih nggak ya? Kalau gue kasih ntar dikira gampangan, kalau enggak nanti dikira nggak hormat. Tapi gue juga penasaran. Aduh gimana ini??? Batin Nuriva.
"Tenang. Aman. Rahasia ini." Ucap sang asisten.
Nuriva kemudian dengan ragu mengetikkan nomor ponselnya.
__ADS_1
"Jadi maksud pak Kris tadi apa pak?" Tanya Nuriva dengan hati-hati.
"Mana saya tahu, hehe.." Jawab sang asisten sembari menyimpan nomor ponsel Nuriva.
"Pak! Jangan curang dong..!" Tukas Nuriva kesal.
"Lah saya kan memang tidak tahu, itu urusan pribadi presdir." Jawab Pras dengan senyum jahilnya.
"Hmmm jadi benar ada hubungan khusus antara gadis itu sama pak presdir?" Tanya Nuriva menyelidik.
Aduh. Kenapa jadi gue yang kepancing omongan sama nih cewek? Batin Pras.
"Bukan begitu. Pokoknya ini masalah rumit dan rahasia, jangan sampai siapapun tahu. Atau...."
"Atau jabatan saya diturunkan lagi kan? Huh, nyebelin.." Nuriva meninggalkan sang asisten presdir tanpa menoleh lagi. Hatinya cukup kesal tak mendapat jawaban pasti atas rasa penasarannya.
Sementara itu di sebuah rumah sederhana. Nampak seorang wanita paruh baya tengah duduk bersandar. Ia menatap langit-langit sembari mengingat semua kejadian demi kejadian dalam hidupnya. Kejadian yang secara tak langsung kini mengancam nyawa keluarganya.
Flashback on
Tiga puluh tahun yang lalu.
Saat ia keluar hendak menjemput putra majikannya, ia teringat bahwa obat tuan besarnya telah habis. Jadi ia berbalik untuk mengambil resep obat guna ia tunjukkan pada apoteker agar memudahkannya dalam membeli obat yang sama.
Braakkk...!!!
"Kenapa pa? Mau teriak? Silahkan. Putramu selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai melupakanku. Dua pengawal aku tugaskan membeli obat papa yang habis, dan baby sister kesayangan kalian barusaja keluar menjemput Gara." Teriak suara wanita yang sangat familier.
Ya. Aku adalah pengawal khusus yang menyamar sebagai babysister cucu tuan besar.
Aku mengendap-endap seperti pencuri, mencuri dengar semua yang dikatakan wanita itu pada tuan besar. Juga mencuri gambar lewat pintu kamar tuan besar yang sedikit terbuka.
"Cepat, tanda tangani berkas pengalihan harta ini atau cucumu tersayang akan segera menemui malaikat mautnya." Ancam wanita itu sembari menunjukkan sebuah video pada tuan besar.
"Kenapa nak? Demi harta kau mau membunuh darah dagingmu sendiri? Bukankah kau sudah kuanggap putriku sendiri, juga kuberi beberapa saham dan juga Villa pribadi?" Tanya tuan besar dengan tangan gemetar memegang pena.
"Huh. Kau fikir aku tidak tahu? Kalian berkomplot untuk menendangku dari sini kan? Setelah putramu resmi menceraikanku dia juga akan mengambil semua harta yang kudapat darimu kan? Licik."
"Tidak nak, itu tidak benar..." Tukas tuan besar dengan raut mengiba.
"Cepat tanda tangan. Atau...." Sahut wanita itu dengan tidak sabar.
"Baiklah-baiklah. Tapi jangan sentuh Gara."
Tuan besar segera menandatangani berkas itu kemudian hendak menekan bel darurat khusus yang di pasang di bed nya.
Namun...
Sreett..!!
__ADS_1
Bruk..!!!
"Aaaaaaa..." Jerit ku tertahan karena reflek menyaksikan sendiri tubuh tuan besar ambruk dengan sebuah suntikan yang melekat di lengan tuan besar.
"Sialan. Sini kau..!!" Secepat kilat wanita itu menyeret ku kemudian membanting ku ke ujung almari kecil.
Dahi ku berdarah. Kepala ku langsung pusing dan mata ku berkunang-kunang. Aku tak dapat melawannya karena aku melindungi perut ku.
"Ja-jangan nyonya.." Ujar ku ketika wanita itu hendak menendang perut ku.
"Cepat pergi jauh dari sini, atau bayi yang ada di perutmu ini akan...." Ucap nya seraya menyeringai ke arah ku.
"I-iya nyonya saya akan segera pergi. Ta-tapi setelah tuan besar...." Aku tak mampu melanjutkan kata-kata ku. Aku hanya bisa menangis karena tiba-tiba perut ku terasa kram.
"Baiklah, cepat jemput Gara dan segera pergi setelah pemakaman selesai. Ingat, tetap diam atau..."
"Baik nyonya, saya mengerti."
Wanita itu lantas melenggang dari hadapan ku. Menelepon seseorang dengan suara pelan, namun aku masih bisa sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Rusak kamera CCTV dari kamarku ke kamar papa. Bagus. Lepaskan anak itu di toko terdekat, biarkan babysister sialan itu yang menjemputnya."
Aku menangis tanpa suara. Aku gagal melindungi tuan besar. Aku gagal mengungkap fakta. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Tuan besar baik hati yang malang. Sejak aku berhasil mendekati cucunya, beliau akhirnya memberiku tugas untuk menjaganya. Memberiku bonus-bonus tambahan jika berhasil mengajari cucunya hal yang tak ia dapatkan di sekolah.
Tuan besar bahkan hadir di hari pernikahan ku. Memberi ku libur khusus bahkan hadiah khusus.
"Hei bodoh. Cepat jemput putraku sana..!!" Teriak wanita itu dengan lantang.
Aku terpaksa menurutinya. Menghapus air mata ku dan mengembalikan ekspresi sedih ku menjadi datar seakan tak terjadi apa-apa.
"Baik nyonya. Tapi tuan...."
"Sudah jangan banyak bertanya. Ingat kau harus tetap diam. Kalau sampai seseorang tahu kejadian ini, artinya kau siap kehilangan Gara atau bayimu yang belum lahir itu." Ancamnya kemudian berlalu dari hadapan ku.
Aku melangkah gontai keluar rumah. Tak pernah menyangka jika nyonya yang selama ini cukup baik ternyata sungguh mengerikan.
"Hei, kenapa muka mu itu?" Sapa seorang pengawal yang menuju ke arah ku.
"Gak apa-apa. Lu dari mana?" Tanya ku berusaha bersikap senormal mungkin.
"Nih, di suruh nyonya beli ikan hias, aquarium tuam muda kecil ikannya mati dua ekor, kasihan." Jawab pengawal itu dengan riang.
"Oh yasudah." Jawab ku sambil berlalu.
Permainan yang cantik. Wanita yang licik. Pantas saja tuan muda kecil tak mau lagi pergi bersama mamanya. Batin ku.
Flashback off
__ADS_1
"Sekarang bukti rekaman sudah di tangan mereka, mungkin sebentar lagi wanita itu akan tahu dimana berkas asli di simpan." Gumam bu Ami.
"Anya dalam bahaya karena ku, jadi sekarang aku harus menyelamatkan mereka semua. Kuharap aku tidak terlambat seperti waktu itu. Batin bu Ami.