
Matahari tenggelam.
Mengalunkan pesona warna bertabur kemilau senja.
Menerbitkan malam, memberikan mimpi yang akan kita raih di esok hari.
Langit malam.
Sudi kah berikan harapan?!?
.
.
"Hei anak-anak...!! Ayo masuk, sudah maghrib ini..!!" Teriak seseorang dengan lantang. Membuyarkan lamunan ku dan juga Gara di sebelah ku.
Kami menoleh kemudian terlonjak hampir bersamaan.
"Apa sih kak. Iya iya kita turun nih." Gerutu Gara sedikit kesal.
"Kak Veroooo......!!! Kangen...!!" Teriak ku sambil berlari, meninggalkan Gara yang masih setengah jalan di undakan menurun batu karang.
Aku berhambur memeluk kak Vero. Menumpahkan semua kerinduan akan sosok kakak darinya.
"Cup..cup.. Sudah..sudah.. Masuk yok, ada Miko juga loh di dalam." Ujar kak Vero ketika kami mulai melepas pelukan.
Plakk...
Kak Vero menampar lengan Gara sekuat tenaga.
"Apasih kak? Anya di peluk, kenapa gue malah di gampar?" Protes Gara dengan raut kesal yang di buat-buat.
"Heh, anak nakal, bukannya pulang ke rumah malah nyulik Anya kesini. Ngapain?" Sahut kak Vero tak mau kalah.
"Cuma menikmati sore kak. Ngilangin stres. Kakak juga kenapa ikut kesini? Gak sibuk?" Jawab Gara sembari melangkah mengikuti masuk mengikuti kami.
Hap..!
Kak Vero melempar sesuatu ke belakang dan Gara dengan sigap menangkapnya.
"Wah..kunci mobil nih...buat gue kak?" Gara berbinar.
"Bukan lah. Lu kan bisa beli mobil sendiri ngapain gue kasih. Tolong masukin mobil gue ke garasi ya..." Jawab kak Vero dengan muka datar.
"OMG. Kenapa musti gue sih kak.." Gerutu Gara sembari melangkah meninggalkan kami. Ia ke depan lalu sepertinya tetap melaksanakan perintah kak Vero walau diiringi gumaman kesal sepanjang jalan.
Kak Vero mengajak ku masuk ke dalam rumah. Aku melihat sekilas beberapa ruangan yang ku lewati. Ruang tamu yang cukup luas dengan perpaduan warna putih dan abu-abu.
Ruang tengah, cukup nyaman dengan sofa panjang berwarna hitam yang di letakkan di depan layar televisi besar.
Ada beberapa tanaman hias, lampu hias, juga pajangan dinding artistik di setiap sudut ruangan.
"Bi tolong siapkan makanan ya." Pinta kak Vero pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Siapa ma?" Tanya seorang anak laki-laki yang baru masuk dan berdiri lima langkah di belakang ku. Ia mengenakan seragam basket berwarna biru, juga sepasang sepatu berwarna senada dengan kaosnya.
"Teman mama sama om Gara. Kenalan gih." Jawab kak Vero sembari menuangkan minuman dari dispenser ke gelas kosong di tangannya.
__ADS_1
"Hei boy... Panggil aja kak Anya ya, jangan panggil tante." Sapa ku sok akrab.
"Pacarnya om Gara ya?" Tanya Miko polos, hingga membuat ku meringis geli menanggapinya.
"Bukan." Sahut ku cepat.
"Emangnya boleh kalau kak Anya ini jadi pacar om?!" Gara yang baru muncul langsung membalas pertanyaan Miko dengan sebuah pertanyaan konyol.
"Emmmmm..kalau style yang kayak gini boleh om, kalau modelan kayak kemarin Big No..!" Jawab Miko tegas, hingga membuat ku dan kak Vero menatap nya tak percaya.
"Emang style gue kenapa?" Gumam ku seraya menilik pakaian ku. Celana bahan krem gelap, kaos hitam dengan gambar dan tulisan putih, juga outer levis semi jas yang sering kupakai kemana-mana.
"Hahaha......selera lu boleh juga, anak bawang." Gara malah tertawa.
"Miko udah gede om, bukan anak bawang lagi. Mau tanding gak? Ayo..." Miko langsung menyeret Gara keluar, tak peduli dengan ekspresi ku yang mendadak kaku.
"Hahaha...anak gue udah gede ternyata Nya." Kak Vero ikut tertawa setelah Gara dan Miko menghilang dari hadapan kami.
"Kenapa sih kak?!" Tanya ku penasaran.
"Style lu ini favorit Miko, kayak anak baru masuk kuliahan, masih polos, gak neko-neko." Jelas kak Vero.
"Maksudnya?"
"Dandanan lu cuma bedak sama lipglos, gak pakai maskara, blush on, dan seperangkat make up lainnya."
"Terus maksudnya modelan kemarin apa?"
"Kemarin gue sama Miko ketemu Gara di mall, dia sama cewe sexy, dandanannya lengkap, pakaiannya ketat, dadanya gede, terus nempelin lengan Gara mulu sepanjang jalan. Nah si Miko langsung illfeel lihatnya. Haha.."
"Lu tau mereka?" Tanya kak Vero.
Aduh..jangan-jangan kak Vero dengar apa yang barusan ku katakan!?!. Batin ku.
"Lu tau Joana? Tau Sicilia? Sebenarnya lu sama Gara punya rasa apa gak sih?" Tanya kak Vero lagi.
Aku mengerjap pelan, sembari merangkai kata agar kak Vero tak tersinggung dengan ucapan ku. "Tau..Gara sering cerita. Gue sama Gara kan cuma sahabatan kak, sebelum ketemu sama kakak kan kita udah temenan akrab.."
Kak Vero mengangguk, tapi matanya tak lepas memandang ekspresi wajah ku.
"Baiklah, kita lihat saja nanti." Ucap kak Vero seraya mengajak ku naik ke kamarnya di lantai dua.
Kak Vero memaksa ku menginap di sini. Gara pulang karena malam ini juga ia harus terbang lagi keluar negeri. Ada masalah pada pembangunan hotel barunya di sana.
Aku menikmati kebersamaan malam ini. Meski kak Vero tak lepas dari laptop dan pekerjaannya tapi ia tetap mengawasi ku yang sedang mengajari Miko mengerjakan PR nya.
Setengah sepuluh malam Miko pamit naik ke kamarnya, sedangkan aku dan kak Vero masih santai di karpet ruang tengah.
Ponsel ku berdering berulang kali, hingga kak Vero menegur ku.
"Biarin kak, dari kadal amazon.." Ucap ku datar.
"Lu mau gue pecat dia? Atau selingkuhannya? Gampang." Tukas kak Vero sembari menutup laptop nya.
"Hah? Jangan. Ngapain kak.." Sahut ku cepat dan setengah terkesiap mendengar ucapan kak Vero.
__ADS_1
"Why? Kenapa?"
"Gak ada gunanya kak. Lagian gue udah ikhlasin dia. Mau dia selingkuh kek, kawin kek, kembung kek, di copet atau di mutilasi kek, gue gak peduli lagi." Ujar ku cepat, tanpa jeda napas.
"Ngeri juga lu ya...."
Aku nyengir mendengar komentar kak Vero.
Drrtt...Drrtt
Ponsel ku berdering lagi, langsung ku angkat karena kali ini dari ayah.
[Halo...]
.......
[Gak..gak mungkin...]
........
[Hiks... Huaa.... Hikss.....]
Aku menangis histeris. Menjerit dan meraung tertahan, bahkan sampai ingus ku keluar tak terbendung.
"Nya, lu kenapa?" Kak Vero terkaget. Kemudian ia langsung menyambar ponsel ku yang terjatuh. Panggilan masih berlangsung dan kak Vero menempelkan ponsel ku di telinga kanannya.
"Halo, saya teman Anya, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya kak Vero pada orang di seberang telfon.
Wajah kak Vero memucat, ia melirik ku seraya menghembuskan napas panjang. Ia tetap tegas berbicara, memutuskan langkah apa yang harus mereka ambil, serta berjanji akan segera ke sana untuk menangani semuanya.
Beberapa menit bercakap-cakap, akhirnya kak Vero memeluk ku setelah mengakhiri panggilan telfon di ponsel ku.
"Nya, sabar Nya. Gue turut berduka." Ucap kak Vero pelan sembari mengelus punggung ku.
"Ayah kak...ayah.......hiks.." Aku masih terisak, tersendat antara berbicara atau menormalkan nafas ku terlebih dahulu.
"Sstttttt.....Lu harus kuat, oke? Gue temani lu pulang." Aku masih tetap menangis mendengar kata-kata kak Vero. Tak bisa menjawab ataupun sekedar mengangguk padanya.
Kak Vero memilih beberapa kontak di ponselnya. Kemudian bersiap menelfon seseorang dengan wajah sedikit tegang.
"Kak...jangan..kasih..tau..Gara.." Ujar ku serak, dan sedikit sengau akibat tangis ku yang sejak tadi meledak.
"It's oke. Bukan Gara." Ucap kak Vero lirih.
[Bintang tiga, gue butuh kalian malam ini ke kota J. Privacy and urgent. Go! Now!]
Aku hanya mendengar satu kalimat panjang kak Vero. Kemudian ia naik ke kamar meninggalkan ku yang saat ini masih terisak tak tahu harus melakukan apa.
Ini seperti mimpi. Halusinasi terburuk yang tak pernah ku bayangkan.
Dunia ku runtuh. Tempat ku pulang telah hilang. Memori masa kecil berkelebat di kepala ku. Mengupas detail kisah balik masa lalu ku.
Ingatan tentang Ayah yang begitu kuat mengerjakan apapun sepanjang hari agar kami bisa makan. Kesabaran ibu yang berjuang mendampingi ayah agar kami bisa dapat kasih sayang utuh. Juga ocehan Fani yang selalu membuat ku kesal.
Semuanya berputar dan silih berganti muncul dalam pikiran ku. Kata-kata ayah. Ucapan random ibu. Celotehan Fani. Apakah semua itu hanya kebetulan? Ataukah telah mereka rencanakan?!?
.
__ADS_1
.