Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
67. Mama


__ADS_3

Dua jam sebelumnya.


Ketika Veronika masuk kantin bersama Anya.


Selly berada di ruangan dokter, sementara dua orang pengawal yang bersamanya berjaga di luar kamar rawat bu Ami.


"Paman, tolong...!! Tolong ayah saya..." Seorang wanita berteriak di ujung lorong, berjarak tiga kamar dari tempat mereka berjaga.


Dua orang pengawal saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka menghampiri wanita yang berteriak tadi.


"Ayah jatuh dari bed nya paman, tolong..." Ujar sang wanita dengan raut panik. Mereka kemudian masuk ke salah satu kamar rawat.


Beberapa menit berlalu namun si pengawal tak juga muncul, membuat pengawal yang tertinggal menjadi gelisah dan sedikit was-was.


"Suster, tolong jagain pasien di dalam sebentar ya, saya mau memanggil teman saya di kamar ujung sana." Ujar pengawal tadi pada perawat yang hendak masuk memeriksa bu Ami.


"Baik pak." Jawab sang suster seraya tersenyum ramah, kemudian masuk ke kamar rawat bu Ami.


Sang pengawal melangkah perlahan, lalu mengetuk pintu kamar rawat yang tadi di masuki temannya.


Pintu sedikit terbuka, lalu muncul wanita yang tadi meminta tolong. Tanpa ba-bi-bu wanita tadi langsung menarik lengan si pengawal masuk ke dalam, dan sebuah tangan di belakang sigap membekap rapat mulutnya dengan saputangan yang telah diberi obat bius.


Sang pengawal melawan, menekuk sikunya ke balakang dan menghantam perut pembiusnya. Si pembius terjengkang ke belakang, hingga saputangannya terjatuh. Pengawal tersebut berjalan sempoyongan, ia meraih ponsel di sakunya, menyalakan, lalu secepat kilat memencet tombol darurat.


Brakk...!!


Tengkuk sang pengawal terhantam, hingga ia langsung jatuh tengkurap di atas lantai.


"Beres nyonya." Ucap si pembius yang terdengar samar di telinga pengawal sebelum ia tak sadarkan diri dan di ikat di samping temannya yang telah pingsan duluan.


.


.


"Halo pengasuh putra ku tersayang.... Bagaimana kabar mu? Ku dengar putri kecilmu masih koma ya..." Sapa seorang wanita paruh baya yang baru masuk ke kamar rawat bu Ami.


"Nyo...Nyonya besar..." Ucap bu Ami dengan suara lemah karena baru siuman pasca operasi. Ia terkejut, tak menyangka dengan kehadiran mantan majikannya yang arogan dan sedikit pemaksa.


"Langsung saja ya. Di mana kau sembunyikan berkas yang sudah di tanda tangani mertua ku dulu? Katakan sekarang. Aku tak suka basa-basi" Tanya wanita itu dengan santai. Ia berdiri sembari mengelus selang infus bu Ami dari atas ke bawah, hingga beberapa gelangnya ikut bergemerincing bagai melodi ketegangan yang di rasakan bu Ami.


"Sa..sa... Saya ti.. Tidak.. Me.. Memegangnya nyo.. Nyonya.." Ucap bu Ami sekuat tenaga. Ia gelisah, melirik pintu kamarnya, berharap seseorang datang dan menyelamatkannya dari sang nyonya.


"Benarkah? Bagaimana jika nanti aku menjenguk putrimu dan memotong selang infusnya sebagai tanda perkenalan." Ujar sang nyonya seraya menyeringai menakutkan.


"Jangan..!!" Sahut bu Ami dengan ngos-ngosan, hingga bunyi detak jantung pada monitor terdengar lebih cepat dan nyaring.


"Jadi..di mana?" Tanya sang nyonya dengan pandangan datar.


"Ja..jangan..ganggu..pu..putri saya.." Ucap bu Ami dengan takut dan semakin khawatir.


"Baiklah. Aku berjanji tak akan menyentuh putrimu jika kau mengatakannya dengan jujur." Ujar sang nyonya dengan tegas.


"A..ada..di..di..bawah lantai..kamar sa..saya di ru..rumah tuan be..besar." Ucap bu Ami parau, sembari mengatur napasnya yang semakin tak teratur.

__ADS_1


"Good. Sebagai hadiah dari ku, aku akan membiarkan putrimu berteman dengan anak-anak ku. Hanya berteman, jangan bermimpi bisa lebih dari itu.!" Ujar sang nyonya sebelum pergi.


"Te..terima kasih..." Jawab bu Ami seraya memejamkan matanya. Berusaha menormalkan napas dan detak jantungnya agar kembali normal.


Sang nyonya kemudian keluar. Menutup pintu dengan pelan sembari menyunggingkan senyum misterius di wajahnya.


"Nyonya? Apa yang nyonya lakukan di dalam?" Tanya Selly sembari berlari menghampiri sang nyonya.


Dua pengawal menghadang, mencengkram lengan kanan dan kiri Selly ketika ia sampai di hadapan sang nyonya.


"Mama? Ada apa ini?!" Teriak Vero dari belakang Selly. Ia bersama Anya kemudian bergegas melangkah dengan cepat.


Sang nyonya mengangkat telapak tangannya, lalu mengibaskannya pelan, tanda agar dua pengawalnya menyingkir.


"Veronika putriku....mama hanya kebetulan berada di kota ini, lalu menjenguk mantan pengasuh adikmu." Jawab sang nyonya setelah menarik Vero ke dalam pelukannya.


"Benarkah?" Tanya Vero, masih dalam dekapan sang mama.


"Ya. Tentu saja." Sang mama kemudian mengurai pelukan. "Ayo ke tempat mama sebentar, mama kangen." Lanjutnya dengan raut wajah memelas.


"Vero juga kangen...tapi Anya.." Veronika berkaca-kaca. Sejak hari pernikahannya ia sama sekali tak berjumpa dengan sang mama.


"Anya? Kamu putri Ami? Terima kasih ya nak sudah mau menjadi teman anak-anak ku." Ucap sang nyonya dengan suara lemah lembut.


"I...iya nyonya." Jawab Anya sedikit takut.


"Oh iya, tadi ibu kamu sudah sadar. Cepat masuk gih, saya mau ajak Vero ke apartemen saya sebentar. Ayo..." Vero menurut. Ia berjalan sembari bergelayut manja di lengan sang mama.


"Nya, gue ikut mama sebentar..." Pamitnya sebelum benar-benar meninggalkan tempat Anya.


"Kenapa kak?" Tanya Anya heran, tangannya masih menggantung di gagang pintu kamar bu Ami.


"Gak apa-apa. Udah lu masuk aja." Jawab Selly sebelum kemudian ia sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.


.


.


.


"Ibu....ibu sudah sadar? Bagaimana bu..apa ada yang sakit?" Tanya ku ketika sampai di depan bed ibu dan mendapati beliau menatap ku dengan berlinang air mata.


"Ibu tenang ya. Fani aman. Dia masih tidur." Aku tersenyum, lalu mengulurkan tangan menghapus air mata ibu.


"Si...ni..."Ucap ibu lirih, lebih seperti berbisik. Wajahnya masih pucat, namun matanya yang terbuka memancarkan kasih sayanag membuat ku sedikit lega.


Aku mendekat. Mensejajarkan wajahku dengan wajah ibu. Rasanya ingin menangis, tapi kutahan. Aku tidak boleh menangis di depan ibu. Tidak. Aku harus kuat agar ibu cepat sembuh.


"Anya baik dan sehat bu. Ibu harus sembuh ya. Nanti kalau Fani sudah bangun, kita jalan-jalan sama-sama." Ucap ku pelan sembari membelai wajah ibu.


"Ayah mu...di mana..." Tanya ibu lirih. Hingga membuat ku tak kuasa lagi menahan bulir air mata ku untuk tak terjatuh.


"Ayah.. ayah di rumah bu.. iya ayah di rumah." Jawab ku berbohong sembari menghapus air mataku dengan cepat. Aku tak mungkin berkata jujur, bukankah kata dokter ibu tak boleh berpikir hal yang berat terlebih dulu?.

__ADS_1


"Jangan..bohongi ibu..nak.." Ibu menangis menatap ku.


Gawat. Apa ibu tahu aku berbohong? Tidak tidak ibu gak boleh tau. Batin ku.


"Anya gak bohong bu. Ayah di rumah...ayah sedang.. ayah lagi ngambil baju. Ayah lagi ngambil baju buat Fani bu, buat ibu juga." Ucap ku sedikit berputar-putar. Aku tak terbiasa berbohong jadi semoga ibu tak tahu.


Semoga ibu percaya. Semoga ibu tak curiga. Batin ku.


"Ibu dengar nak. Ayah sudah tak bernapas ketika kami di bawa ambulans." Ucap ibu dengan jelas, meski suaranya terdengar sangat pelan.


"Ibu....hiks...maafin Anya...." Akhirnya aku memeluk ibu, menumpahkan kesedihan ku di bahu ibu. "Maaf kalau Anya bohongin ibu. Anya cuma gak mau ibu berpikir berat. Ibu harus sembuh. Ibu harus sembuh."


Tit-tit. Tit-tit. Tit-tit-tit.


Tiba-tiba suara detak jantung ibu di monitor terdengar nyaring dan bergerak cepat.


Aku menengadah, menatap ibu yang bernafas cepat dan tersengal-sengal.


"Ibu.. ibu.. ibu kenapa?!?" Tanya ku bingung. "Dokteerrrr...!! Suster...!! Dokteerr..!! Tolong ibu.." Teriak ku sekuat tenaga.


Aku bangkit, hendak berlari ke pintu agar teriakan ku terdengar oleh perawat ataupun dokter.


"Kak..." Ibu menahan lengan ku, lalu menarik ku agar mendekat ke wajahnya lagi.


"Ibu harus sembuh, Anya panggil dokter dulu ya bu.." Ucap ku lirih sembari menghapus air mata ku yang tetap keluar.


"Ja..ga.. Fani kak.. Ka..lian..harus.. Te..tap rukun.." Ucap ibu terbata dan berkaca-kaca.


"Ibu jangan bicara seperti itu. Kita akan jaga Fani sama-sama bu. Ibu sebentar lagi pasti sembuh..!" Teriak ku tanpa sadar.


"Dokteerr......!!!" Teriak ku lebih keras ketika melihat napas ibu yang memburu.


Ibu menarik lengan ku lagi, lalu berbisik dengan suara serak dan tercekat. Suaranya jelas namun terdengar samar karena aku tak fokus sama sekali.


"Ibu bilang apa? Apa maksud ibu? Ibu jangan bicara dulu, oke? Dokter sebentar lagi akan memeriksa ibu." Ucap ku semakin gelisah.


Aku menengadah lagi dan tiba-tiba melihat tombol hijau di samping bed ibu. Secepat kilat ku tekan tombol itu berulang kali, tombol darurat pemanggil dokter dan perawat.


Bodoh. Bodoh. Kenapa gue bodoh banget sih? Dari tadi ada tombol kenapa gue malah teriak-teriak gak jelas. Batin ku kesal.


Beberapa langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka, lalu beberapa orang berseragam putih dengan sigap menangani ibu.


"Nona keluar dulu ya..biar ibunya kami periksa dulu.." Seorang perawat memapah ku keluar kamar ibu dan mendudukkan ku di kursi tunggu di depan kamar.


Air mata ku mengalir deras. Pandangan ku kosong dan seluruh tubuh ku melemas tak bertenaga.


Ibu...jangan tinggalin Anya bu.. Anya gak bisa apa-apa tanpa ibu. Batin ku.


Aku meratap dalam diam dan air mata. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa harus ayah yang tiada terlebih dahulu? Kenapa bukan aku saja?!?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2