
Malam ini sungguh mencekam. Aura-aura tajam dan tegang yang terpancar dari semua penghuni line sembilan membuatku merinding.
Kami mengerjakan mie varian soto yang akan di ekspor ke negara T. Dan bagian minyak adalah yang tersulit ditangani. Minyak begitu licin dan rawan jatuh meski kami meletakkannya dengan sangat perlahan serta hati-hati di tengah mie.
"Anyaa....!! Fokus Nya. Pelan, gak usah mikir yang lain, ayo pasang yang bener...!!" Teriak kak Andini padaku.
Bu Tuti nampak tegang, tak mengatakan sepatah katapun untuk membelaku atau menenangkan kak Andini.
"Lala bantuin benerin minyak sebelum lu pasangin garnis dong, jangan nyanyi mulu..!" Teriak kak Andini lagi.
Setengah jam kemudian.....
"An lo minum dulu sana, Pril gantiin Andin sebentar." Perintah pak Wan, bapak operator mesin line sembilan ini.
"Waa bapake perhatian syekali.. Huaa terharu aku tuh..." Ternyata kak Andin bisa lebay juga. Kami semua jadi mendengus senyum menertawakan tingkah kak Andini.
"Go go go An! Cepet ! Anya lebih fokus! Sam bantu rapikan minyak! Lala berhenti nyanyi!" Perintah mutlak kak April saat menggantikan kak Andin.
Gila. Waktu kartoning kalem penuh senyum, eh pas gantiin job kak Andin berubah jadi pembina pramuka. Tegas dan perintahnya mutlak gak bisa di bantah, bikin ngeri. Batinku.
Sam yang bertugas menata letak bumbu-bumbu plastik besar di line kami sekaligus kartoning di mesin dua puluh enam langsung melaksanakan tugas dari kak April. Berdiri di sampingku tanpa suara sembari merapikan minyak-minyak yang kupasang agak miring agar kembali pas di tengah mie.
"Damai ya Nya gak ada yang bentakin lu terus... senyum dikit dong.. hahaha.." Ucapan kak April membuat kami semua tertawa di tengah ketegangan kami.
Dua menit kemudian kak Andin muncul sambil tersenyum senang. "Bu Tuti mau minum? Ayo bu silahkan mumpung si April baik hati dan Sam setia di sini."
"Oke. Mau banget An....." Bu Tuti langsung melipir pergi setelah kak Andin menggantikannya memasang minyak di depanku.
"Nak senyum nak. Jangan ngambek ya gue marah-marahin terus. Pasang yang bener, nih begini.. taruh pelan-pelan di atas mie tapi jangan biarkan mie terlewat lebih dari dua.. biar bu Tuti gak keteteran dan gue tetep kalem di posisi cekker. Tangan kananmu masang, tangan kirimu merapikan.. ayo coba..." Kak Andin mengajariku lebih cepat menggerakkan jari-jari tangan ketika memasang minyak.
"Rukun ya sama anak e..." kak Sam bersuara meledek kak Andin. Aku diam tak berani menimpali ucapannya.
"Yo harus lah Sam. Awas lu kalau naksir Anya. Hahaha..." Sahut kak Andin seraya tertawa lebar.
"Kak Sam ini terkenalnya di Noodle satu kak An.. kalau di sini terkenal pendiam.." Starla mulai menggosip.
"Terkenal gimana La?" Sahut bu Tuti yang baru tiba, kemudian menggantikan kak Andin.
"Kata teman kosku kak Sam ini cool dan ganteng banget kak. Hahayyy..." Teriak Starla tanpa malu.
"Huuuuu...." bu Tuti dan hampir semua yang mendengar ucapan Starla kompak menyoraki kak Sam.
"Gimana Sam? Banyak fans lu tuh di N-satu.." Ledek bu Tuti.
"Biarin buk, nanti Sam audisi aja.. Haha" Ucap kak Sam seraya bersiap meninggalkan mesin kami.
"Nak mau minum? Sam jangan pergi dulu, tolong gantikan Anya sebentar ya.." Ucap kak Andin saat tengah bersiap menggantikan kak April.
"Ayo Nya minum bareng gue." Ajak kak April, kemudian aku melangkah mengikutinya setelah kak Sam menggantikan posisiku memasang minyak.
Aku berjalan di belakang kak April yang tenang dan sesekali menyapa teman-temannya di line dua belas, lima belas dan dua puluh. Aku tak melihat Monik di line empat belas.
Kemana tuh anak ya? Kenapa gak ada di line? Batinku.
"Betah kamu Nya di sini?" Tanya kak April saat kami berbelok ke arah ruang minum.
__ADS_1
"Alhamdulillah betah kak. Line sembilan ini orangnya asik dan unik. Hehe.." Jawabku seraya mengambil cangkir kemudian memutar kran air minum.
"Ah leganya... Eh lu gak marah gak kesel terus terusan di teriakin si Andin?" Kak April meletakkan cangkirnya kemudian menungguku selesai minum.
"Pas pertama ya kaget kak. Tapi bisa di maklumi sih, soalnya Anya emang belum bisa secepat yang lain, jadi wajar kalau kak Andin marah-marah mulu." Aku nyengir menertawakan diri sendiri kemudian keluar bersama kak April yang juga tertawa atas jawabanku.
"Good. Pertahankan ya, jangan sampai resign. Susah tau cari pengganti yang kebal sama ocehan si Andin.." Ujar kak April seraya berjalan kembali ke arah mesin kami.
"Yang bener kak?" Kak April hanya mengendikkan bahu menanggapi pertanyaanku.
Kami sampai di mesin kami kemudian bersiap di posisi masing-masing. Kali ini lebih mudah karena pak Wan mengurangi kecepatan laju mesin packing kami.
.
.
.
"Nya lu ngapain duduk di sini?" Suara Monik mengagetkanku yang sedang duduk sambil meluruskan kaki di undakan musholla di dekat kantin.
"Capek Mon. Hari ini line gue dapat soto ekspor negara T, aduh susah banget pasang minyaknya, licin kayak belut." Keluhku tanpa menatap Monik ataupun berganti posisi.
"Yasudah ayo pulang, mending istirahat di kos kan?" Monik menarikku namun aku tak bergeming sedikitpun.
"Lu duluan aja deh, ceklok masih antri panjang. Gue nunggu longgar aja sambil ngadem di sini." Ucapku lirih.
"Sebenarnya gue juga malas antri Nya. Tapi gue udah ada janji mau keluar sama Ira." Monik ikut duduk di sampingku.
"Kalau gitu buruan antri sana. Kasihan nanti Ira nungguin, keburu makin malam kan?"
"Iyaaa.. gue cuma capek Mon. Nanti juga pulang, tenang saja." Monik kemudian berdiri dan mulai melangkah meninggalkanku.
"Oke, sampai ketemu di kos Nya.." Aku hanya melambaikan tangan kananku membalas teriakan Monik. Entahlah, badanku rasanya remuk, capek sekali.
Lima belas menit kemudian ku lihat antrian sudah sangat berkurang. Aku memutuskan melangkah ke mesin ceklok dengan antrian hanya lima orang di depanku.
Drrrt.. Drrttt..
Ponselku bergetar.
Dua chat baru masuk, kubaca sebentar lalu membalasnya sambil tetap berdiri antri.
Kak Arya,
Malam Nya, udah pulang? Gue boleh telpon lu gak? Ada berita bagus nih...
*M**alam juga kak. Ini masih di pabrik, baru mau keluar. Telpon besok aja ya, udah malam, pengen langsung pulang ke kos, capek. Maaf ya kak*. Balasku
Krisna,
Nya lu udah pulang belum? Gue tunggu di Vega Cafe depan pabrik lu ya. Penting nih, soal kak Vero.
*B***elum, ini* baru mau keluar.. Oke gue kesitu*. Balasku.
Setelah semua orang di depanku selesai ceklok kini giliranku untuk maju.
__ADS_1
Setelah selesai aku melangkah cepat menuju gerbang pabrik kemudian keluar menuju Vega Cafe.
Drrrt...Drrrtt..
Chat masuk dari Gara.
Krisna,
Gue di lantai dua Nya, langsung masuk naik aja.
Kumasukkan kembali ponselku ke dalam tas tanpa membalas chat Gara.
Cafe ini lumayan terkenal di sini. Tempatnya instagramable dan harga makanannya pas di kantong pekerja pabrik seperti kami.
Aku melihat Gara duduk dengan santai. Kemeja gelap dengan lengan yang tergulung sampai siku. Terlihat lebih Manly hingga sekelebat bayangan kak Zidan muncul di benakku.
Apaan sih? Kenapa tiba-tiba wajah kak Zidan nongol? Batinku.
Hanya ada lima meja di lantai dua ini, dan suasana malam benar-benar memukau jika dilihat dari balkon belakang meja kami.
"Heiii duduk Nya. Lu kelihatan capek banget. Maaf ya malah gue suruh naik ke lantai dua." Gara menyambutku lalu menyodorkan jus avocado dan sepiring martabak manis ke hadapanku.
"Kelihatan banget dari muka gue yang makin lecek ya?" Balasku sembari nyengir kemudian meminum jus di depanku.
"Iya, gak ada semangat-semangatnya kayak tadi siang. Haha..." Gara tertawa kemudian tangannya bergerak mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Oke, ada apa sama kak Vero?" Tanyaku seraya mencomot sepotong martabak dan memakannya tanpa jaim di depan Gara.
"Seperti yang sudah gue bilang, besok gue berangkat ke luar negeri. Dan karena cuma lu yang bisa bikin kak Vero ketawa lepas, gue mau minta bantuan lo." Ucap Gara dengan wajah serius.
"Hmmm...oke.." Aku tetap memakan martabak manis di depanku dengan santai.
"Tolong.. tiap kali lu longgar, ataupun kalau nanti kak Varo mau ketemu lu, lu bersedia nemenin kakak gue......" Gara menjeda ucapannya sejenak, lalu meletakkan sesuatu di samping piring martabak di depanku.
"Gue tahu lu kerja pasti buat keluarga lu, jadi ini buat pengganti uang transportasi lu dari kos ke tempat kakak gue..."
Aku mengerjap dua kali. Melirik apa yang diletakkan Gara, ternyata adalah sebuah ATM.
"Lu pikir gue cewek apa an? Gue ikhlas tau nolongin lu. Gue juga udah anggap kak Vero itu kakak gue sendiri!" Ujarku sedikit kesal.
"Iya gue tahu. Tapi entah kenapa, gue ngerasa tenang kalau lu pegang kartu ini. Gue bakal jauh dari kak Vero jadi kalau misalnya terjadi sesuatu, lo bisa pakai kartu ini Nya."
Aku menghela napas panjang dua kali untuk meredakan kekesalanku. "Oke gue terima, tapi gue bakal gunain hanya kalau ada situasi mendesak, oke?" Akhirnya aku mengalah. Kasihan juga kalau dia di luar negeri lalu kepikiran kakaknya terus-menerus.
"Fine." Gara tersenyum tipis mendengar jawabanku. "Pin nya tanggal, bulan, dan tahun hari ini." Lanjutnya.
Aku tak bicara lagi, hanya menghabiskan beberapa makanan di mejaku. Kulihat Gara pun hanya diam dengan ponsel di tangannya.
"Satu lagi, gue barusan kirim nomor Selly ke ponsel lu. Dia bersedia antar jemput lu. Jadi kalau lu mau ke tempat kak Vero, tinggal lu hubungin dia aja." Ujar Gara sembari memasukkan ponselnya ke saku depan kemejanya.
"Lu ngatur kak Selly kayak dia itu pengawal lu aja....,, tapi boleh deh kalau nanti gue pulang malam kan gak ada angkot, hehe.." Sahutku menertawakan pengaturan darinya.
Gara terkesiap mendengar ucapanku, namun secepat kilat dia kemudian terkekeh, membuatku sedikit curiga...
Sebenarnya si Gara ini beneran supir pribadi apa bukan sih? Kenapa dia gampang sekali mengatur orang? Batinku.
__ADS_1