
Suasana kantin cukup sepi. Jalanan paving yang mulai nampak tak rata membentang sampai menuju gedung N-2.
Aku melangkah pelan. Menikmati semilir dingin angin menjelang subuh.
Masuk ke ruang packing dengan santai dan penuh semangat kembali. Melupakan sejenak semua masalah yang menerpa, juga keadaan yang tak lagi sama.
"Nak...ya Allah.. Lu gak apa-apa?!" Tanya kak Andini begitu aku sampai di depannya.
"Nya lu di hukum apaan jam segini baru balik?" Sahut Starla yang juga mengkhawatirkan ku.
"Gak apa-apa kak. Tenang aja." Jawab ku seraya tersenyum, kemudian mulai memasang bumbu.
"Nya, lu di hukum ngapain?" Teriak Feni kepo.
"Iya nak, lu gak di hukum aneh-aneh kan?" Tukas kak Ajeng dengan nada tak kalah tinggi dengan teriakan Feni.
"Aneh gimana Jeng?" Tanya Dewi.
"Yaa...bersihin kantor direktur di lantai dua misalnya, kan wajar kalau lama banget selesainya." Jawab kak Ajeng tanpa menoleh, ia sibuk mengatur pasang minyak sendirian, entah kemana pasangannya pergi.
"Ngawur lu. Mana ada yang boleh masuk kesana selain staf khusus." Sahut kak Dewi.
"Di hukum apa nak?" Kali ini bapak operator yang menanyai ku.
Duhh...dijawab apa ini? Masak iya gue jawab di suruh makan terus ketiduran lamma disana? Batin ku.
"Emmm.....di suruh....." Ucapan ku menggantung, bingung bagaimana mencari alasan yang cukup masuk akal.
"Tadi pas habis jam istirahat makan gue lihat cewek ketiduran di pojokan dekat pos jaga gudang tepung, itu lu kan?" Tanya bapak operator lagi.
"Ya Allah nak...lu di suruh bersihin gudang di situ? Pantesan lama, itu gudang kan kotor banget.." Sahut bu Tuti iba.
"Beneran Nya? Gak capek lu?" Tanya Starla.
Lah...trus gue jawab pertanyaan siapa duluan nih? Batin ku.
"Hehe...gak apa-apa kok, lagian tadi gue gak sendirian di sana." Jawab ku ambigu.
Yaiyalah, gue disana gak sendirian, tapi sama cowok aneh yang mendadak jadi kekanak-kanakan. Batin ku.
"It's okay, semangat ya Nya." Ucap bapak operator sembari menepuk bahu ku pelan kemudian melangkah meninggalkan ku.
"Ayo-ayo nyanyi lagi..." Teriak Feni.
"Heh waktunya gantian sholat subuh ini, hayo siapa yang duluan?" Tukas kak Sam tiba-tiba sambil membawa sekantong penuh bumbu mie rasa sambal goreng yang akan di ekspor ke negara D.
"Waduh...sif C ngerjain sambal goreng? Kalau gitu gue duluan Sam yang sholat, sini gantiin gue..." Teriak kak Dewi semangat.
"Oke."
Kak Sam berjalan memutar, kemudian bersiap menggantikan kak Dewi memasang bumbu. Bu Tuti meminta Starla menggantikan ku untuk memasang minyak bersamanya karena nanti ia juga bertugas mengisi bumbu yang terlewat di pasang oleh kak Sam.
"Nak santai aja tak bantuin nanti, pokoknya jangan miring.." Ujar kak Andini ketika aku mulai memasang garnis di depannya.
__ADS_1
"Siap kak.."
Kak Dewi berlalu, sementara bapak operator menurunkan laju speed mesin kami.
"Anya ayo nyanyi lagi.." Ajak Starla tanpa menoleh ke arah ku. Ia tengah serius memasang minyak dan membenahi posisi bumbu yang di pasang kak Sam agak miring.
"Hei, lu aja yang nyanyi, kasihan tuh Anya pasti capek abis dihukum bersihin gudang tepung." Ujar kak Sam membela ku.
"Ciyeee...perhatian nih yee..." Seru Feni di sambut tawa kami semua.
"Udah deh buruan nyanyi, gue ngantuk nih," Ketus kak Sam mengabaikan ledekan tawa dari mereka semua.
"Fen lagu apa Fen?!" Teriak Starla.
"Lelaki Cadangan aja gimana?" Jawab Feni cepat.
"Lagu siapa tuh? Jadul ya?!" Tanya kak Ajeng.
"Iya kak.. gini nih lagunya......."
Feni dan Starla pun mulai bernyanyi bersahut-sahutan, diiringi tawa dan ledekan dari kami semua.
..Ku tuliskan sebuah cerita cinta segitiga.
Dimana akulah yang jadi peran utama (Suara Feni)
..Aku tak dapat membohongi segala rasa.
Aku mencintai dia dan dirinya (Suara Starla)
"Cuma lagu kak... Ayo yang tahu lagunya lanjutin dong..." Jawab Starla membela diri.
..Nanti pukul satu dia menemui aku.
Maka jangan kamu pasang wajah yang cemburu (Suara kak Ajeng)
..Nanti bila dia datang menemui aku.
Maka cepat-cepat kamu ngumpet dulu (Suara Starla)
"Mantap La.. Ayo lanjutin kak Andin..masak gak bisa.. Hahaha" Tantang Feni memprovokasi.
..Dan aku sudah pernah bilang.
Pacarku bukan cuma kamu saja (Suara kak Andin)
..Ku mempunyai dua hati.
Yang tak bisa untuk kutinggali (Suara Starla)
..Kan aku sudah pernah bilang.
Janganlah kamu terlalu sayang (Suara Feni)
__ADS_1
..Dan bila nanti kau menghilang.
Ku masih punya lelaki cadangan (Suara Starla)
"Mantap...." Ujar kak Sam akhirnya bersuara.
"Mantap apa Sam? Lu mau jadi lelaki cadangan Starla? Apa Feni? Haha.." Sahut bu Tuti yang tentu saja mendapat sambutan tawa dan ledekan dari kami semua.
"Ayo Sam pilih Starla apa Feni?" Teriak kak Ajeng ikut menjahili.
"Heh. Ngawur kalian semua." Tukas kak Sam dengan raut wajah kesal.
"Pilih apa nih pilih apa? Gue ketinggalan info apa gaes?!" Seru kak Dewi heboh, ia yang baru selesai sholat shubuh nampak segar ditambah wangi parfum yang menyeruak indra pernafasan kami.
"Tuh Lala sama Feni nyanyi lagu Lelaki Cadangan, trus Sam bingung pilih siapa yang mau jadiin dia lelaki cadangannya." Jelas bu Tuti sebelum ia pergi dan di gantikan oleh kak Dewi.
"Jangan dengerin Wi, mereka semua lagi kurang obat." Sahut kak Sam nampak kesal.
"Haha...bales dong Sam, pakai lagu juga, biar seru." Ujar kak Dewi memberi solusi.
"Lagu apa?" Tanya kak Sam antusias.
"Buaya darat- Bunda Inul kak." Sahut Starla sembari mengerling nakal.
"Gila lu." Tukas kak Sam kesal.
"Hahaha."
"Makhluk Tuhan Paling Sexy- Tante Mulan." Feni kembali menyahuti.
"Sinting lu."
"Hahaha."
"Naluri lelaki-Samsons" Ujar kak Andini.
"Gak ah, gue bukan player ya.." Ucap kak Sam sembari mencoba memikirkan lagu apa yang cocok.
"Halah gaya lu Samm-Sammm..." Gerutu kak Andini tanpa menoleh.
Sementara itu di sebuah penthouse hotel di pusat kota G. Terlihat seorang wanita paruh baya tengah menyusun beberapa berkas di atas meja, mengurutkannya, lalu memasukkannya dengan rapi ke dalam beberapa map.
"Sayang kapan kita bisa mengambil alih perusahaan mantan suami kamu itu?" Tanya seorang lelaki yang bertelanjang dada di sebelah nya, nampak sebuah tato naga melingkar di lengan kirinya.
"Sabar sayang, surat perjanjian asli dari kakek sialan itu sudah di tangan ku, tinggal mainkan drama yang cantik untuk membuat mereka sedikit pusing sebelum kita mengambil alih semuanya, hahaha." Jawab wanita paruh baya itu sembari menaruh map-map yang telah ia susun ke dalam laci meja kerja nya.
Sang lelaki kemudian berdiri, lalu mengecup tengkuk sang wanita. Kecupan itu lantas beralih ke bahu yang terbuka, hingga terdengar ******* halus sang wanita yang membuat tangan dan bibir sang pria semakin bersemangat untuk bergerilya.
"Ahh sayang..." Sang wanita mulai merancau ketika bibir sang pria menggapai area favoritnya. Hingga perlahan busana mereka terlepas satu per satu.
Suasana kamar yang dingin mendadak panas akibat ******* dan rancauan dua manusia yang tengah bergumul saling memuaskan. Tak peduli dengan usia, manusia yang tengah di kuasai nafsu itu terus dan terus bermain tanpa peduli pada beberapa pengawal yang ada di luar kamar mereka.
.
__ADS_1
.
.