Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
12. Gosip tetangga..


__ADS_3

Suasana rumah kembali cerah ceria ketika ibu telah sembuh. Kali ini aku lebih sering membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah agar beliau tak terlalu capek.


"Kak aku punya sesuatu dari kak Zidan buat kakak," bisik adikku seraya tersenyum jahil.


"Udah gak usah bohong sama kakak. kak Zidan perginya udah lama, terus dari kemarin kakak pulang kamu diam, kenapa sekarang tiba-tiba ngaku punya titipan?" Omel ku padanya sambil membawa tumpukan baju kering yang baru kuambil dari jemuran.


"Hehe, Fani lupa kak, nih," ucapnya sambil menyodorkan sebuah kartu ucapan bersampul kuning ke hadapanku.


Astaga. Apa lagi sih maunya? Kenapa sampai memakai adikku lagi? Batinku.


"Yaudah mana." Aku mengambil kartu ucapan itu tapi Fani juga tak melepas tangannya dari ujung kartu itu. Kenapa lagi nih bocah?


"Eitss, tapi nanti bikinin Fani telur dadar sosis kayak kemarin ya kak?" Ucapnya riang. Dasar bocah tuyul milenium, pikirannya gak jauh-jauh dari sosis ya.


"Iya- iya. Gampang." balasku, lalu dia pun berlari ke depan dengan gembira.


Ku letakkan baju-baju yang baru kering ini ke tikar depan ruang tengah untuk kemudian ku lipati sebelum memasukkannya ke dalam almari.


Di tengah kesibukan ku tiba-tiba Kia menghubungiku, mengatakan kalau dia mau mencoba melamar kerja ke tempat lain di kota ini. Aku hanya tersenyum dan menyemangatinya.


Aku belum berani keluar dari rumah. Bukan karena ucapan-ucapan tetangga, tapi aku lebih khawatir dengan kesehatan ibu. Bagaimana jika ibu mendengar mereka menggosipkan ku yang jelek-jelek? Pasti ibu akan kepikiran dan tensinya naik lagi bukan?


Jadi sebisa mungkin aku ingin keluar dari sini. Keluar dari gosip tetangga yang kadang lebih berbahaya ketimbang virus yang lagi viral saat ini.


Hello, taukah kalian bahwa gosip kalian ini bisa merenggut kepercayaan diri seseorang bahkan yang paling parah bisa membunuhnya?


Belum tentu apa yang kalian bicarakan itu sebuah kebenaran tapi mulut kalian dengan mudahnya membeberkan aib-aib tetangga kalian. Membuat sang tetangga terkucilkan, lalu terisolasi dari lingkungan. Mendapat lirikan sinis setiap kali keluar rumah. Itu bisa membuat mentalnya down, apa kalian tau akibatnya?


Hidupnya jadi penuh tekanan. Menjelaskan pun percuma karena kalian sudah termakan gosip. lama-lama dia jadi stres, dan jika tak ada yang merangkul dan memotivasinya maka dia bisa putus asa atau bahkan mengakhiri hidupnya.


Lalu bagaimana dengan keluarganya? Pasti menyedihkan, malu, hancur, bagai tak ada semangat hidup lagi...


So, wahai para tetangga yang budiman, hati-hati dengan mulut anda! Gosip itu bukan hanya menyakiti satu orang tapi imbasnya bisa menghancurkan satu keluarga!!


.


.


.

__ADS_1


Sore hari setelah mengerjakan sholat Ashar aku melipat mukenaku dan meletakkannya di rak sudut musholla rumah. Aku membuka tirai lalu keluar dari musholla rumah dan....


"Astaghfirullah deekkk!!!", teriakku mengelus dada, kaget. Tiba-tiba ada tuyul milenium jongkok di hadapanku. Ia mendongak, memicingkan matanya ke arahku.


"Kakak jangan teriak-teriak dong, nanti ibu dengar loh dikira ada kebakaran," ucap adikku santai.


"Hei Chibi Maruko Chan kalau mau ketemu kakak jangan ngagetin gini lah. Nongol depan musholla, jongkok pula", Gerutuku kesal.


"ihh kakak, namaku Fani kak. ef-afa-en-ini, F A N I. Jangan panggil Maruko terus, nanti aku bilangin ayah loh biar disembelihin sondesip beneran buat ganti namaku," omel adikku panjang lebar, kalau sudah begini dia mirip juga dengan ibu. hihi.


"Shaun de sheep. bukan sondesip dek, haduh ada-ada saja kamu ini," ucapku seraya melenggang dari hadapannya.


"Kakak tungguuu..", teriaknya kemudian.


"Apalagi sih fani adikku tersayang..."


"Mana telur dadar sosisku kak, aku sudah menunggu kakak sholat lama sekali loh. Kukira kakak ketiduran tadi," protesnya dengan sedikit memonyongkan bibir. Lucu sekali ekspresinya.


"Oh iya hampir saja kakak lupa. Yasudah ayo kakak buatin."


Fani mengikutiku ke dapur. Dia duduk tenang di kursi kecil yang biasa kugunakan untuk duduk ketika mencuci baju.


"Hmmm harum..", komentar Fani sambil menutup matanya, membiarkan hidung kecilnya bekerja menghirup aroma masakanku.


"Taraa.. sudah jadi, ini omlet telur sosis ala chef Anya," ucapku menebar senyum songong di hadapan Fani.


"Asikk.. horee.. mau kak mana-mana piring Fani.''


"Nih, pakai nasi sedikit ya dekk biar telurnya ada temannya, biar gak kesepian nanti di perut Fani." lakarku sambil menahan tawa.


"Siap kak. Gak bakal kejadian, tenang saja nanti Fani ajakin ngomong biar dia gak kesepian lagi, hehe", balas Fani.


Aku tertawa lepas mendengarnya. Astaga. Punya adik lucu yang polos tapi bisa mengimbangi omonganku ternyata semenyenangkan ini ya.


"Yasudah kakak tinggal ke kamar dulu ya ganti baju, ibu tadi sudah minum obat belum dek?" tanyaku sambil meletakkan piring dan gelas Fani ke meja makan.


"Sudah kak, yang lama ya kak di kamarnya, jangan lupa baca yang tadi siang Fani kasih, hehe." Fani tersenyum lebar setelah pindah duduk dan mulai menikmati makanannya.


"Ish kamu ini, kecil-kecil jahil banget."

__ADS_1


"Kan kakak yang ngajarin, waa enaknya..." jawabnya asal tanpa menoleh ke arahku.


Aku geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Yah kejahilannya memang mirip aku sih, tapi kalau aku mirip siapa ya? perasaan ayah atau ibu gak pernah bersikap usil...


.


.


Srekk..


Kurobek ujung kartu ucapan kuning yang diberikan Fani siang tadi. Sedikit berdebar saat aku mengeluarkan isinya. Sebuah surat?


Dear my Lovely Anya,


haduh kayak surat-suratan sama pacarnya aja. Batinku langsung protes ketika aku mulai membaca.


***Hai Nya, gimana kabar kamu? Sudah diterima kerja? Betah gak di sana? Maaf ya pertanyaanku kebanyakan...


Anya maaf aku gak berani bilang ini ke kamu langsung. Aku memutuskan untuk mengambil S2 setelah kepergian kamu. Bukan, bukan kamu penyebabnya, ini memang sudah jadi keputusanku, aku perlu pendidikan ini untuk bisa membangun bisnis keluarga menjadi lebih maju lagi di masa depan. Jadi kamu jangan merasa bersalah ya, abaikan saja apa yang dikatakan orang lain, tetaplah jadi diri kamu sendiri, oke?


Anya, seandainya saat aku pulang nanti kamu masih sendiri, maukah kamu menjadi bagian dari masa depanku?


Jangan di jawab sekarang, jangan jadi beban. Itu hanyalah harapanku, toh kalau jodoh takkan kemana kan?


Kalaupun nanti kamu sudah punya kekasih, aku ikhlas, semoga aku juga bisa secepatnya menemukan someone yang berbeda sepertimu, yang bisa menarik perhatianku hanya dengan mendengar tawamu.


Maaf ya aku terlalu banyak bicara. Sekali lagi maaf atas sikapku kemarin, semoga sukses dan sehat selalu ya Nya.


From Someone who love you,


M. Zidan Pratama***


Aku menghela napas panjang berkali-kali untuk menenangkan debaran hatiku. Kubaca sekali lagi dan kuresapi apa yang ingin disampaikan kak Zidan itu. Namun semakin aku mengerti semakin aku merasa bersalah telah menolak lelaki sebaik dia.


Ya Allah... Apa yang harusnya Anya lakukan sekarang?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2