
Assalamu'alaikum..
Selamat malam semuanyaaa...
Maaf yaa lama banget gak up.. Ada something trouble.. Ada masalah keluarga.. Ada hal yang membuatku tak bisa fokus melanjutkan cerita ini kemarin... Maaffff sekalii..
But, now..
Tapi, sekarang.. Aku siap melanjutkan kembali..
Jangan lupa kasih like n vote ya biar makin semangat.. 😀😁
...----------------...
"Semangat Nak..!" Seru kak Andini dan kak Dewi hampir bersamaan.
"Ayo Nya, takhlukkan hukuman pak Ilham, nanti gue bantu.." Tukas Starla.
"Bantu pakai apa lu?" Sahut Feni.
"Pakai do'a lah. Lebih mantap tahu..!" Jawab Starla diiringi seruan teman-teman lainnya.
"Huuuu...kalau itu mah kita juga bakal do'ain Anya."
Aku tersenyum dan mengacungkan ibu jari ku pada mereka semua seraya berjalan keluar dari gedung N-2.
Berjalan sendirian di antara deru mesin dan dinginnya malam di pertengahan jam kerja. Sedikit merinding namun tak membuat ku takut karena masih ada beberapa kepala bagian yang hilir mudik di luar ruangan demi mengurusi anak buah mereka.
"Anya Zahrotul Jannah dari packing N-2..?" Tanya seorang pria berseragam hitam di depan kantor pak Ilham.
"Benar pak." Jawab ku singkat.
"Oke, silahkan masuk." Ucapnya sopan smbari membukakan pintu untuk ku.
Aku melenggang masuk tanpa rasa curiga karena ini adalah kali kedua aku memasuki ruangan ini. Ruangan yang sama ketika tiba-tiba Gara yang muncul memberiku 'sanksi khusus'.
Tanpa sadar aku tersenyum mengingat hal itu. Mengingat betapa takutnya diriku saat menanti hukuman apa yang akan ku jalani ketika itu.
"Ekhem..kenapa malah senyum?" Suara pak Ilham mengagetkan ku. Menyadarkan ku dari lamunan konyol ku.
"Bukan pak. Maaf, saya masih terbawa suasana candaan teman-teman kerja tadi." Jawab ku sedikit gugup sembari memasang wajah ramah senormal mungkin.
"Oke, silahkan duduk, kamu tahu apa kesalahan kamu hingga di panggil kemari?" Tanya pak Ilham to the point.
"Tahu pak. Saya tidak masuk kerja selama beberapa hari. Maaf pak, orangtua saya kecelakaan dan ayah saya meninggal." Jawab ku dengan suara semakin mengecil tercekat di kata terakhir.
Hening.
Pak Ilham diam, sementara aku menunduk dan tak berani menatap pak Ilham lagi.
"Saya turut berduka." Ucap pak Ilham kemudian sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Tapi maaf, kamu tetap saya panggil demi profesionalisme kerja. Kamu akan tetap menerima hukuman walau jujur saya sebenarnya tak mau menghukum kamu."
"Terima kasih pak. Tidak apa-apa, saya mengerti. Saya akan menerima apapun hukumannya asal saya tidak di pecat pak." Ucap ku mantap, seraya kembali menegakkan kepala ku dan menatap pak Ilham dengan ramah.
"Good."
Brakk..
Suara pintu terbuka dengan sedikit tergesa. Membuat ku reflek menoleh ke arah asal suara.
"Gara?" Gumam ku lirih seraya melotot sempurna, tak menyangka dia akan kemari lagi.
Kenapa kesini? Setelah beberapa hari menghilang bagai tertelan ombak... Apa mau memberiku sanksi khusus lagi? Batin ku.
"Ck, gak sabaran banget." Ucap pak Ilham seraya berdiri dari duduknya.
"Ini yang om minta." Gara mendekat, kemudian menyodorkan sebuah jurnal pada pak Ilham.
"Oke. Anya selanjutnya urusan kamu sama dia." Ujar pak Ilham kemudian melenggang pergi tanpa mendengar jawaban ku.
Aku terdiam. Heran. Sebenarnya ada apa ini? Apa hubungan pak Ilham dan Gara?
"Hei kedip Nya..! Pak Ilham udah keluar," Seru Gara mengagetkan ku.
"Iya iyaa... Lu ngapain kesini? Nemuin gue? Atau mau kasih sanksi khusus lagi kayak kemarin?" Tanya ku.
__ADS_1
"To the point aja ya Nya. Ada beberapa hal penting yang harus gue bagi tahu sama lu." Jawab Gara dengan mode serius.
Apalagi ini? Kenapa mendadak Gara jadi seperti bapak operator mesin gue sih? Mukanya datar tanpa ekspresi. Batin ku
"Emm oke. Jadi...?" Tanya ku menggantung.
"Dulu, ketika orang tua gue cerai, kakek punya surat perjanjian khusus dengan mama. Entah apa yang terjadi sebenarnya hingga kakek menandatangani surat itu. Surat yang mengatakan bahwa mama berhak memiliki lima puluh persen dari asset papa." Jelas Gara.
"Lalu..apa hubungannya sama gue?" Tanya ku tak mengerti.
"Surat perjanjian asli itu hilang, raib entah kemana. Jadi ketika mama menuntut, ia hanya punya salinannya dan itu kalah di pengadilan. Kemudian kakek meninggal dan menurut penyelidikan papa, surat asli itu ada pada salah satu pengasuh gue. Ibu lu Nya." Jelas Gara lagi.
"Ja..jadi...?"
"Ya, kemungkinan besar saat ini mama sudah tahu dan sedang mengincar ibu lu." Sambung Gara.
"Ta tapi ibu kecelakaan dan... dan ayah..." Aku tak mampu melanjutkan kata-kata ku.
"Spekulasi gue itu bukan kecelakaan. Tapi percobaan pembunuhan, papa udah menyelidiki semuanya tapi sayangnya kami tak punya bukti kuat. Maafin gue Nya..."
"Apa...?!?" Tukas ku kaget sembari menahan tangis.
"Maafin gue dan keluarga gue karena udah buat lu dan keluarga lu terseret dalam masalah kami. Tapi gue janji, gue dan keluarga gue bakal selalu lindungin lu." Ucap Gara lebih serius.
Hening.
Perlahan air mata ku keluar tanpa kuminta, mengalir bak perosotan anak-anak TK.
"Maafin keluarga gue Nya..." Ujar Gara sembari memegang erat tangan kanan ku di atas meja.
Aku menghela nafas panjang dua kali. Memikirkan beberapa hal tentang ibu. Ibu yang telah mengajari ku, jika kita harus ikhlas dengan semua konsekuensi atas pilihan kita.
"It's okay, aku maafin, tapi...apa lu yakin kalau ibu yang udah bawa surat perjanjian asli?" Tanya ku sembari menghela napas panjang lagi untuk menormalkan emosi ku.
"Ya. Dan kabar buruknya mama sepertinya sudah menemukannya." Ucap Gara mantap.
"Ini benar-benar rumit, seperti sinetron saja. Lalu apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya ku berusaha menerima kenyataan ini.
"Papa besok akan mengundurkan diri dan mengajukan gue sebagai presdir menggantikannya. Gue akan merubah beberapa peraturan dan mengganti direktur yang tidak kompeten untuk mengecoh orang-orang mama." Jawab Gara santai.
Gara mengangguk atas pertanyaan ku.
"Lalu kak Vero gimana?" Tanya ku lagi.
"Kak Vero akan memegang bagian accounting, sembari mengawasi arus keuangan, audit semua kantor cabang dan menyelidiki kemana saja dana perusahaan mengalir selain kepada kami."
"Haduh...gue gak ngerti masalah begituan. Gue kan cuma lulusan SMK." Keluh ku.
"Heh, yang nyuruh lu mikirin itu siapa?" Tukas Gara sedikit kesal.
"Lah terus lu jelasin itu ke gue gunanya apa dong kalau bukan minta gue bantuin?" Tanya ku heran.
"Ge-er amat lu. Disini mami dan juga elu yang bakal diincar kalau rencana mama gak berhasil." Sahut Gara cepat.
"Oh iya ya...." Gumam ku sembari nyengir.
"Jadi rencana gue, mulai besok, kita pura-pura gak kenal, gue gak akan nyapa lu dan lu jangan bilang ke siapapun kalau lu kenal sama gue, oke?" Jawab Gara seraya menaik-naikkan sebelah alisnya.
"Oke, terus apalagi?" Tukas ku cepat.
"Apapun yang gue lakukan nanti adalah untuk membela papa, untuk mempertahankan asset kami, bukan semata-mata harta, tapi ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan kami."
"Sama kak Vero juga pura-pura gak kenal?" Tanya ku ragu.
"Iya. Tapi tenang aja, Selly yang akan jaga mami dan iwan yang akan jagain lu." Jawab Gara.
"Iwan yang nganter gue balik?"Tanya ku.
"Yups, kenapa? dia ganteng kan? Hehe" Ucap Gara konyol.
"Ganteng sih, tapi masih lebih ganteng kak Ar. Ups.. Hihihii" Jawab ku asal.
"Hush..! Mantan Nya...jangan diingat terus. Hahaa" Kali ini Gara tertawa, mungkin lega karena telah mengatakan semuanya pada ku.
"Iya..iyaa..." Jawab ku sambil cemberut.
__ADS_1
Tok..tok...
Seseorang mengetuk pintu. Gara berjalan melewati ku, membuka pintu lalu kemudian menutupnya lagi.
"Nih ayo makan dulu, lu pasti lapar kan? Belum makan kan?!" Tanya Gara sembari berjalan ke arah ku.
"Hehe..tau aja lu. Sif malam gini tuh emang bikin perut gue selalu laper tau gak." Jawab ku seraya tersenyum senang menyambut makanan yang datang.
Ada ayam bakar madu dan juga pizza dengan empat toping berbeda. Hmmmm benar-benar memanjakan cacing-cacing di perut ku.
"Minumnya mana?" Tanya ku ketika selesai menata semua makanan di atas mejanya.
"Ambil sendiri sana, masak gue juga yang harus ngambilin." Gerutu Gara sembari menunjuk kulkas kecil di sudut ruangan ini.
"Hahaa..gitu aja sewot." Aku melangkah mengambil dua soft drink lalu meletakkannya di depan ku dan di depan Gara.
Kami mulai makan dengan tenang. Mengunyah dan menikmati makanan dengan penuh syukur dan penuh kedamaian.
Hmmm gimana reaksi teman-teman nanti ya kalau tau hukuman gue malah makan enak kayak gini. Di temani cowok ganteng lagi, hihihiiu. Batin ku.
"Ngapain lu ketawa tanpa suara gitu? Kesambet?" Tanya Gara heran.
"Enak aja. Gue lagi menikmati betapa lezatnya makanan nih." Kilah ku tanpa menoleh ke arah Gara.
"Hem gue gak yakin. Bilang aja lu lagi terpesona kan sama ketampanan gue?!" Ujar Gara sembari menarik sudut bibirnya.
"Dihh... Ge-er banget. Terserah lu deh, gue mau habisin ini pokoknya.." Ucap ku sambil memotong pizza terakhir ku.
Sial, kenapa si Gara ngomongnya suka bener sih? Batin ku.
"Oh iya, lu kenapa gak pernah gunain atm yang waktu itu gue kasih?" Tanya Gara tiba-tiba.
"Belum butuh. Kenapa? Mau gue balikin aja?" Jawab ku enteng.
"Jangan..! Itu buat lu pokoknya udah gue kasih jangan coba-coba lu balikin.!" Sahut Gara sedikit emosi.
"Kenapa sih? Kak Vero kan juga udah sembuh.."
"Pokoknya jangan dibalikin. Lu harus gunain itu, oke?"
"Iyaa..bawel juga lu lama-lama. Nanti kalau urgent pasti gue pakai, tenang aja."
"Goodgirl. Itu udah di tambahin sama kak Vero waktu dia sembuh. Katanya buat lu beli kuota biar bisa streaming film anime sepuas hati."
"What? Yang bener lu? Asik...besok gue cairin ah ke atm, hehe makasih ya..." Ucap ku senang.
''Heh, pas gue kasih lu biasa aja, giliran dikasih kak Vero lu seneng banget." Protes Gara.
''Iyalah..kan jelas kegunaannya buat beli kuota, hehe. Lagian kalau kak Vero yang kasih tuh gue serasa di kasih kakak perempuan tau gak." Ujar ku sembari tersenyum senang.
"Hmmm gitu. Yaudah, lu mau balik kerja apa disini dulu sampe istirahat?" Tanya Gara sembari membuka laptopnya.
Aku melihat ke arah jam dinding. Pukul 00.16. Empat belas menit lagi giliran line tujuh sampai line sebelas yang istirahat.
"Emm...kalau gue di sini sampai jam istirahat gue selesai boleh gak? Gue ngantuk banget." Pinta ku pada Gara.
"Boleh aja, tapi gak ada kasur disini, lu mau tidur di sofa sana?" Ucap Gara seraya menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.
"Mau banget. Tapi kalau nanti ada yang datang gimana?"
"Gak bakal ada yang berani datang. Gue udah booking tempat ini sama om Ilham." Ucap Gara tanpa sadar.
"Sombongnya...orang kaya mah bebas ya...eh om Ilham? Jadi pak Ilham itu om lu?!" Tanya ku penasaran.
"Udah deh, tanya-tanya mulu lu kayak wartawan. Udah tidur sana, gue mau lanjutin bikin presentasi buat besok." Ucap Gara sinis.
"Oke bos. Tolong bangunin gue jam satu ya. Hehe"
"Heh, nglelunjak ya lu lama-lama." Aku tertawa melihat Gara pura-pura merajuk. Ia sama sekali tak menatap ku, hanya kulihat sudut bibirnya sedikit terangkat ketika aku menertawakannya.
Aku melangkah lalu duduk di sofa dan memejamkan mata ku. Gara memutar lirih instrumen musik klasik, membuat ku dengan cepat terlelap damai dalam mimpi.
.
.
__ADS_1