Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
52. bu Nurma


__ADS_3

Selama kak Vero di rumah, aku menunjukkan banyak hal yang bisa membuatnya tertawa lepas dan melupakan sejenak beban masalahnya.


Mulai dari memetik jambu biji yang buahnya cukup tinggi, dengan cara memukul-mukulnya menggunakan sebatang kayu panjang, lalu berebut memunguti jambu-jambu yang telah rontok berjatuhan ke tanah.


Menonton bola Voly di lapangan desa pada sore hari. Kami bersorak dan menertawakan tingkah lucu beberapa pemain yang tak sengaja terkena shot bola.


Pagi hari aku mengajak kak Vero berjalan setengah berlari tanpa alas kaki di pematang sawah sampai lapangan. Kami sempat tergelincir beberapa kali, namun tak sampai jatuh, kami bahkan bisa saling menertawakan dan mengejek kemampuan kami dalam melangkah sepanjang perjalanan.


Kak Vero sangat menyukai embun pagi di rerumputan lapangan. Bahkan ia rela berlari-lari kecil mengelilingi lapangan demi merasakan sejuknya embun yang menyentuh kaki indahnya.


Sepulang dari lapangan aku membelikan kak Vero es potong dan juga cilok yang di masukkan plastik lalu di beri bumbu serta sambal.


Aku membiarkan kak Vero yang nampak terheran, seperti belum pernah melihat jajanan seperti ini. Aku tertawa ketika ia mencoba menggigit ujung plastik seperti yang kulakukan, namun ia tak berhasil.


Aku terbahak ketika ia begitu menikmati es potong sampai lelehan es nya menetes dari sela sudut-sudut bibirnya.


Kak Vero berbinar bahagia, ia kemudian pergi membeli cilok dan es potong lagi, sementara aku menunggunya di bebatuan pinggir lapangan.


"Eh, ada Anya. Astaga, jajan cilok kayak anak kecil, memang ya orang miskin kayak kamu cocok kalau makanannya cilok. Hahaha.." Ujar bu Nurma yang berhenti di depanku setelah berbelanja sayur.


"Bu Nurma, apa kabar bu?" Sapa ku ramah. Aku tak mempedulikan kata-katanya yang selalu menghina ku ataupun keluargaku.


"Kabarku selalu baik Nya, bahkan suamiku yang pintar sekarang naik jabatan jadi manager. Gak seperti ayahmu yang bodoh itu, sampai tua nanti juga tetep aja kerjanya di sawah." Balas bu Nurma sembari merapikan ujung lengannya. Memperlihatkan beberapa gelang yang di pakainya.


Rahang ku mengeras, tanganku terkepal kuat. Aku benar-benar marah ketika ia menghina ayahku. Aku menghela napas panjang.


"Oh gitu ya bu." Ucapku datar, tak menuruti nafsu amarah yang baru saja terkumpul di dada ku.


"Iya, lihat nih, gelang baru. Ibumu itu gak mungkin bisa beli. Kamu juga, baru kerja jangan sok jadi kaya. Dengar ya Nya biarpun kamu kerja sampai sakit pinggang juga namanya miskin tetap aja miskin.!" Hardik bu Nurma seraya menunjuk-nunjuk wajahku dengan menggebu-gebu.


"Siapa yang miskin? Memangnya ibu punya apa berani sekali menghina orang lain?" Bentak kak Vero yang tiba-tiba telah berdiri di sampingku.


"Siapa kamu? Berani sekali membentak orang tua?" Bentak bu Nurma sembari menunjuk kak Vero.


"Udah kak udah. Bu maafkan teman saya ya bu. Permisi..." Aku menarik kak Vero pergi dari hadapan bu Nurma, sebelum ia nanti bertambah murka.


"Hei dengar kalian! Anak kemarin sore saja belagu. Sudah miskin, gak sopan lagi, pasti ibunya gak bisa didik dengan benar.!" Teriak bu Nurma dengan suara yang melengking, hingga membuat beberapa pedagang kompak menatap tingkah sombongnya.


"Nya, dia itu harus di kasih pelajaran. Dia udah hina lu sama keluarga lu." Protes kak Vero.


"Biarin kak. Gak akan menyelesaikan masalah kalaupun gue balas omongan dia. Yang ada dia malah semakin benci sama keluarga gue." Aku berhenti di halaman rumah. Tak mau kalau sampai perdebatan ku dan kak Vero di dengar oleh ibu.

__ADS_1


"Tapi dia keterlaluan Nya." Kak Vero masih tak terima.


"Kak, dia itu kaya raya, sedangkan keluarga gue miskin. Kita gak akan bisa menang melawan dia. Jadi biarkan saja dia menghina, toh nanti dia akan capek-capek sendiri kalau kita cuekin." Jawabku santai.


"Tapi Nya...."


"Udah kak gak apa-apa, gue baik, keluarga gue baik. Itu udah cukup. Oke?" Tukas ku sembari melangkah ke dalam rumah. Membiarkan kak Vero yang masih terdiam di halaman rumah.


"Loh kak, nak Vero mana?" Tanya ibu ketika melihatku masuk sendirian.


"Saya di sini bu..." Sahut kak Vero sambil melangkah di belakangku.


"Kalian jadi balik sekarang? Gak nanti sore aja?" Tanya ibu.


"Iya bu, biar Anya bisa istirahat di kos, nanti sif malam biar seger gak capek di jalan." Jawabku seraya melangkah masuk ke kamar.


"Yasudah, ibu siapkan bekal kalian dulu ya." Ibu menuju ke dapur, sementara kak Vero menyusul ku ke kamar.


Aku memasukkan beberapa baju ke dalam tas ransel, juga melipat kaos dan jaket yang nanti akan ku pakai. Kak Vero melakukan hal yang sama, namun ia hanya membawa tas kecil di pundaknya.


"Kakak serius mau balik naik motor? Kakak kan baru sembuh...." Tanya ku sembari mengecek pesan chat di ponselku.


"Udah lu tenang aja. Beres pokoknya." Jawab kak Vero mantap.


Aku tersenyum malu membaca pesan dari kak Arya. Sebenarnya aku masih marah, namun kak Arya telah menyesal dan berjanji takkan mengulanginya lagi. Jadi aku memberinya kesempatan kedua.


"Kenapa lu senyum-senyum? Oh, chatting an sama cowok lu ya..." Tebak kak Vero, kemudian mendekat ikut melihat layar ponselku.


"Ini kak, namanya kak Arya." Aku menunjukkan foto kak Arya pada kak Vero.


"So cute, manis sekali. Tapi tampang-tampang playboy Nya. Hati-hati. Well, semoga langgeng sampai pelaminan ya..." Ucap kak Vero.


"Aamiin...."


.


.


.


Rumah pak Dan.

__ADS_1


Seorang lelaki mengenakan kaos hitam, outer abu-abu, celana hitam, juga kaca mata hitam terlihat keluar dari mobil sport hitam.


Ia melangkah dengan pelan dan tampak berwibawa meski membawa tas ransel di punggungnya.


"Kakak....aku pulang...!!!" Teriak lelaki tadi dari pintu depan. Ia melangkah dengan tegap dan tersenyum lebar seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.


Kenapa sepi sekali? Batin sang lelaki.


"Hei kenapa teriak-teriak? Mau paduan suara kamu sama Miko?" Tanya seseorang di belakang tubuhnya dengan tiba-tiba, hingga membuatnya tersentak dan hampir oleng ke samping.


"Paman? Kok paman di sini?" Tanya lelaki tadi dengan raut wajah kaget bercampur heran.


"Heh anak nakal, tentu saja aku di sini. Ini kan rumahku." Jawab sang paman dengan berpura-pura kesal.


"Maksud Gara kenapa paman di rumah? Bukannya ini masih jam kerja?" Balas sang keponakan sambil melangkah masuk ke ruang keluarga diikuti sang paman.


"Cuma memastikan anak nakal ini pulang bawa kabar baik atau sebaliknya." Ucap sang paman sembari mengusap-usap rambut keponakannya.


"Paman Dan hentikan. Pesona ketampanan Gara bisa hilang kalau paman selalu acak-acak rambut Gara begini." Protes sang keponakan dengan wajah kesal, kemudian ia duduk dan meletakkan tas punggung nya di atas meja.


"Kakakmu pergi berlibur." Ujar sang paman tiba-tiba. Membuat sang keponakan mengerutkan kening dan menautkan alisnya, heran.


"Kemana? Kan baru sembuh, kenapa paman izinkan? Nanti kalau kakak kenapa-kenapa gimana?" Keluh sang keponakan.


"Dia ke desa, menyusul temannya. Dia butuh suasana baru yang segar, sebelum menghadapi keluarga Wilson. Jadi mana mungkin aku tak mengizinkannya." Jelas sang paman.


"Teman siapa?", Tanya sang keponakan sembari melepas outer dan sepatunya. Menyisakan kaos hitam pas badan yang justru menambah pesona ketampanannya.



"Katanya sih namanya Anya." Jawab sang paman dengan raut wajah awas. Ia mengamati ekspresi wajah sang keponakan ketika ia menyebutkan nama seorang gadis yang menurut laporan satu pengawalnya, bisa membuat sang keponakan tersenyum sepanjang jalan.


"What? Ke rumah Anya? Kalau gitu Gara susul sekarang ya." Ucap sang keponakan dengan antusias. Tanpa ba-bi-bu ia terburu-buru berjalan keluar, tak mempedulikan penampilannya yang sedang acak-acakan tanpa outer dan sepatu.


"Hei boy, tenang. Mereka sudah di jalan, mungkin satu jam lagi sampai." Teriak sang paman dengan menahan tawa geli.


"Aaarrggghhh... menyebalkan.." Sang keponakan berteriak kesal, kemudian naik ke kamarnya di lantai dua. Tak menoleh ke arah sang paman lagi.


Ah, jadi begitu. Baru kali ini aku melihat sifat asli Gara kembali hanya dengan satu nama seorang gadis. Hei nona, ku tunggu kejutan mu selanjutnya. Batin sang paman.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2