
Cuaca siang yang semakin panas tak mengusik penghuni paviliun kenanga. Mereka tetap beraktifitas seperti biasa dan sesekali terlihat beberapa orang berkunjung ke kamar mereka.
Aku menutup pintu kamar kak Vero. Dia tertidur setelah makan dan nonton video di ponselku. Aku tersenyum, ternyata kakak Gara memang tidak gila, dia hanya sangat tertekan dan butuh banyak kasih sayang. Apa selama ini hidupnya sangat menderita ya?
"Gimana Nya? Kakak udah tidur?" Pertanyaan Gara membuyarkan lamunanku. Tadi dia pamit ke ruangan dokter yang merawat kakaknya.
"Sudah, yuk anterin gue pulang." Aku melangkah mendahului Gara.
"Makan dulu yuk, gue laper banget nih... di kantin rumah sakit aja gimana?" Gara terlihat sedikit pucat saat mengatakan hal ini.
Kenapa nih anak orang? Apa terjadi sesuatu dengan kesehatan kak Vero? Kenapa dia jadi pucat sih? Batinku.
"Oke deh..." Akhirnya aku menyetujui ajakannya.
Kami menuju kantin, lalu duduk di dekat jendela yang menghadap area taman rumah sakit ini.
"Gue boleh lihat video yang lu tonton sama kak Vero tadi gak?"
"Boleh dong.. nih.. ada di galeri, cari aja." Aku menyerahkan ponselku lalu beranjak dari tempat duduk untuk mengambil makanan kami.
"Heh kalau nanti pacar lu telpon atau chat gimana?" Tanya Gara sembari mencari-cari video di galeri ponselku.
"Hah? Yaudah angkat atau balas aja! Hehe, lagian isinya cuma anime semua, hihihi." Aku terkikik meninggalkan Gara yang menganga menatapku.
Haduh wajah bengong Gara lucu banget.. Hihihi tapi kenapa ya.. emangnya gue aneh? Atau kata-kata gue terlalu konyol? Kok dia kayak mikir apa gitu ya?!? Batinku.
Aku mengambil gado-gado dan lemon tea, sedangkan Gara kupesankan jus jeruk. Dari beberapa kali ketemu kulihat dia lebih menyukai jus dari pada minuman yang lain.
"Hei Nya kenapa nama gue lu rubah? Lu gak suka?" Tanya Gara tepat setelah aku menaruh makanan kami di meja.
"Oh itu... Emm.. gak papa, aneh aja kalau namanya Krisna, gue kan biasa manggil lu Gara." Jawabku kaku.
Lah katanya tadi lihat video. Kenapa sekarang bahas nama kontaknya sih? Batinku.
"Gak bisa gitu lah, gue ganti ya. Awas kalau sampai lu ganti lagi." Gara kemudian menyerahkan ponselku. Kulihat dia memang merubah nama kontaknya sendiri di ponselku dengan nama 'Krisna'.
"Kenapa lu jadi kayak anak kecil gini sih. Cuma nama kontak loh ini, aneh. Lu pikir lu beneran bisa jadi Krisna apa? Naik kereta kuda?" Akhirnya aku menyampaikan apa yang otakku pikirkan.
"Gue sih berharap banget bisa jadi Krisna. Jadi gue bisa sembuhin kakak gue dengan kata-kata sihir dewa Krisna. Haha..." Ucapan Gara terdengar getir, namun dia menutupinya dengan tawa kaku.
"Okelah, anggap saja lu ini dewa Krisna, jadi nanti kalau gue kesusahan lu harus bantuin gue ya!" Aku tersenyum lebar mengatakan ini sementara Gara tercengang menatapku.
"Of course, tentu saja. Kalau gue bisa, pasti gue bakal bantuin lu. Tapi... kak Vero...." Gara tak melanjutkan kata-katanya, seolah mengangkat beban yang begitu berat, dia tercekat, lalu menghela napas panjang.
Aku menyodorkan air mineral kemasan yang memang tersedia di setiap meja di kantin ini, "Nih minum dulu. Maaf nih sebelumnya ya.. bukannya gue sok tahu, tapi menurut gue kak Vero cuma butuh dukungan dan kasih sayang full dari keluarganya biar dia bisa sembuh." Ucapku mantap.
__ADS_1
"Papa.. papa terlalu sibuk dengan pekerjaannya Nya. Sedangkan gue.... gue besok harus ke luar negeri...ikutin bos gue....." Ucap Gara perlahan dan lirih, setelah menghabiskan air minum yang kusodorkan tadi.
Astaga... Berat juga beban hidup nih orang ya! Dia dan papanya pasti bekerja keras buat biaya hidup mereka dan juga biaya rumah sakit kak Vero. Batinku.
"Mama lu gimana? Pastinya deket dong sama kakak lu.." Ucapan spontan ku membuat Gara memejamkan matanya.
"Mama... Huh, sudah lama gue gak sebut namanya. Wanita itu menghilang meninggalkan kami sejak gue masih SMP." Gara menundukkan kepalanya saat menceritakan ini.
"Ups.. sorry. Maaf untuk itu, gue gak tau. Maaf ya.. jadi bikin lu sedih....." Aku pun tak mampu melanjutkan kata-kataku.
"It's oke, gak apa-apa. Bukan salah lu juga sih. Btw, ini pertama kali gue cerita ke orang lain masalah keluarga gue. Maaf kalau bikin lu jadi illfeel sama gue." Gara kembali tegar setelah menghela napas beberapa kali.
"Kalau gitu gini aja.. Lu pilih satu sahabat atau sodara kakak lu yang paling akrab dan bisa dipercaya, suruh rawat kakak lu di sini biar kakak lu gak ngerasa kesepian dan punya teman ngobrol. Gue janji tiap weekend kalau gue gak sibuk gue bakal nemenin kak Vero di sini.'' Ucapku mantap, membuat Gara menatapku dalam seolah tak percaya dengan kata-kataku.
"Lu serius tiap weekend mau nemenin kak Vero? Gak capek? Lu kan kerja..."
"Hello..gue kerja tiga sif kali. Kalau gue gak pulang kampung ya gue usahain kesini lah. Dari pada gue nonton naruto sendirian kan mending ngajak kak Vero, hehehe..." Gue nyengir di akhir kalimat, membuat Gara mendengus senyum ke arah lain.
"Nah ini nih yang bikin gue nemuin lu lagi Nya. Lu mirip sama kak Vero, jadi kalian pasti cepat akrab karena punya idola yang sama." Gara menghabiskan makanannya kemudian menghubungi seseorang.
Aku menghabiskan makananku tanpa mengomentari ucapan Gara. Kurasa apa yang dikatakan Gara benar, lagipula sudah lama aku menginginkan seorang kakak, namun aku tau itu mustahil. Aku kan anak sulung.
"Hei bro, sorry gue telat." Ucap seseorang di belakangku. Aku reflek menoleh, ada seorang pria dan seorang wanita di belakangku.
"Sini-sini. Nya kenalin, ini Pras teman gue, yang ini Selly teman kak Vero." Ucap Gara memperkenalkan kami.
"Nya lu di anter Selly aja gak apa-apa kan? Maaf nih gue ada kerjaan mendadak." Gara tiba-tiba berwajah tegang menatapku.
"Ya gak apa-apa sih, tapi Selly nya bisa gak?" Aku memandang Selly, tak mungkin kan dia mau, dia baru sampai di sini dan belum bertemu kak Vero.
"Iya iya saya antarkan saja nona." Ucap Selly agak aneh dan nampak ragu.
Lah kenapa manggil gue nona? Batinku.
"Selly.." Pras menyenggol lengan Selly. Kemudian berbisik lirih.
Mereka ini kenapa sih? Kenapa wajahnya pada tegang? Batinku.
"Mm mari saya antar, sekalian mau membeli sesuatu yang ketinggalan." Ucap Selly masih terkesan kaku.
"Oke deh, ayok."
Yasudahlah terserah mereka yang penting gue cepet sampai kos terus kerja. Batinku.
Aku berpamitan dengan Gara dan Pras kemudian pergi bersama Selly.
__ADS_1
.
.
.
Sementara di kantin rumah sakit....
"Lu yakin si Selly bisa acting di depan Anya? Dia kaku sekali tadi." Ucap Gara.
"Yakin. Lagipula cuma dia pengawal yang paling dekat dengan kak Vero dan tidak diingat olehnya." Ujar Pras mantap.
"Oke. Lu atur semua yang di sini. Biar gue yang hadepin papa nanti." Gara bersiap meninggalkan kantin, namun tiba-tiba...
Brakkk...!!!
Seseorang membanting setumpuk foto di depan meja Kris dan Pras.
"Kris, jelaskan siapa dia?" Teriak seorang pria tua yang mirip Kris.
"Oh, jadi papa sudah tahu... dia teman Kris pa, teman kak Vero juga." Jawab Kris santai.
"Papa tahu semua temanmu dan teman kakakmu. Jelaskan siapa dia atau papa sendiri yang akan mencari tahu.!"
"Om dia ini....." Pras.
"Diam kamu Pras...!!" Sahut papa Kris emosi.
"Oke, papa duduk dulu. Biar Kris cerita siapa Anya." Ucap Kris kemudian meminum sisa orange jusnya.
Papa Kris duduk kemudian meminum air mineral kemasan untuk meredakan emosinya.
"Anya ini salah satu karyawan di KingNoodle. Kris gak sengaja ketemu dia ketika hampir nabrak orang. Dia yang nolongin Kris pa, tapi dia gak tahu identitas Kris, dia tahunya Kris ini Gara, seorang supir pribadi. Dan kebetulan nih cewek suka naruto kayak kak Vero dan tadi mereka udah ketemu. Kak Vero seneng banget pa, dan kata dokter, kalau kita mau kak Vero cepat sembuh, kita harus bisa bikin kak Vero bahagia terus." Papa Kris terdiam mendengar cerita ini.
"You serius dia gak tau siapa kamu sebenarnya?" Tanya papa Kris.
"Yakin om, Pras sudah menyelidiki latar belakang gadis itu." Ucap Pras seraya menyodorkan dua lembar ketas file berisi semua data tentang Anya.
"Oke. Jadi apa rencana kamu boy?" Tanya papa Kris setelah membaca singkat profile Anya.
"Gara mau papa mengizinkan Anya berteman dengan kak Vero, juga Selly, salah satu pengawal kak Vero yang Gara tugaskan untuk selalu di samping kak Vero." Ujar Gara serius.
"Oke. Tiga bulan. Jika dalam tiga bulan tak ada perkembangan dari kakakmu, maka papa gak akan biarkan gadis itu menemui kakakmu lagi."
"Oke. Deal. Oh iya satu lagi pa, tetap rahasiakan identitas Kris dari Anya. Sampaikan juga pada pengawal papa di sini." Kris berdiri kemudian Pras mengikuti.
__ADS_1
"Haha jadi kau sudah tahu boy... kau memang putra papa.." Papa Kris tergelak kemudian ikut berdiri menyusul Kris dan Pras yang telah keluar kantin menuju kamar sang kakak.