Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
Bubur ayam perkenalan


__ADS_3

Aku berdiri mematung. Kerongkonganku terasa kering, seperti usai lari maraton beberapa kilometer.


Aku menilik pria di depanku. Sepatu sport hitam, celana bahan hitam, jaket kulit hitam, rahang yang tegas, rambut yang tersisir ke samping namun agak berantakan terkena helm, juga senyum kecil di sudut bibirnya yang terkesan meledekku.


"Thanks ya udah nolongin. Sebagai gantinya yuk gue traktir sarapan." Ucapnya sambil menyeret tanganku ke arah motornya.


Apa ini? kenapa gue nurut aja sih di tarik-tarik sama nih orang? Batinku.


"Tu-tunggu. Kita mau kemana?" Tanyaku mendadak tergagap setelah sadar akan keterkejutanku tadi.


"Cari sarapan. Udah ayo naik." Ujarnya seraya bersiap menghidupkan motor gede miliknya.


"Gak mau." Ucapku kemudian berlalu dari hadapannya. Aku tak menoleh lagi. Aku takut speachless seperti tadi. Bahaya.


"Hei kamu mau kemana?". Ternyata dia naik motor dan mensejajari langkahku.


Aku diam. Tak tahu harus bicara apa. Sungguh, baru pertama kali ini aku mengalami drama semacam ini.


Aku melihat pedagang bubur ayam dua meter dari bundaran dua. Aku masuk lalu memesan satu porsi bubur ayam lengkap dengan teh manis hangat. Duduk di pojokan dan berharap agar dia tak mengikutiku.


"Nih minum dulu. Masih kaget ya?" Ucap seseorang mengagetkanku.


Aku mendongak, menatap seraut wajah tampan yang tersenyum atau lebih tepatnya nyengir ke arahku.


Sial. Kenapa nih human ngikutin gue sih? Batinku.


"Gue boleh duduk kan ya?" Ucapnya langsung duduk di hadapanku tanpa menunggu persetujuanku.


Aku mengambil air mineral yang dia sodorkan tadi lalu meminumnya hampir setengah botol. Masa bodoh dengan makhluk narsis ini.


"Haha. Haus apa doyan buk.." Ledeknya.


Aku tetap diam tak merespon apapun yang dia katakan.


"Oke oke sorry. Maaf ya kalau gue ada salah kata ataupun tindakan. But, makasih, makasih banget tadi kamu udah nolongin saya." Bahasanya campur aduk. Membuatku meringis geli menatap ekspresi kesalnya karena ku abaikan.


Pesanan ku datang. Ternyata dia juga memesan bubur ayam sepertiku.


Astaga. Harusnya tadi gue bungkus aja makan di kosan. Batinku.


Kami makan dalam diam. Sampai setengah porsi kemudian dia mengulurkan tangannya padaku.


"Nama gue Gara. Boleh kan gue jadi temen Lu?" Ucapnya memperkenalkan diri.


Gara?


Kazekage Gara?


Haha. Apa-apaan sih? Itu kan nama teman Naruto. Batin ku.


"Eh kenapa lu geleng-geleng sambil senyum?" Ucapannya menyadarkan ku yang tanpa sadar malah tersenyum geli menatap tangannya.


"Gak. Nama gue Anya. Tapi itu beneran nama kamu? Siapa yang kasih? Lucu tau, kayak teman Naruto. Haha." Akhirnya aku memutuskan untuk menjabat tangannya.


"Hah? Lu fans Naruto juga?" Tanyanya heran.


"Iya. Lu juga?"


"Gak. Itu kakak gue yang suka." Ucapnya lirih, terasa seperti ada kesedihan dalam kata-katanya. "Btw makasih ya tadi.."


"Kembali kasih. Dulu kamu juga nolongin aku kan? Jadi kita impas." Sahutku kemudian meminum teh manis hangat pesananku.


"Kamu kerja di sini? KingNoodle apa KingCoffe?" Tanyanya penasaran.


"Iya. KingNoodle sif dua. Kamu...." Ucapanku menggantung, teringat aku kemarin melihatnya membawa mobil masuk ke area kantor PT. KingNoodle.

__ADS_1


"Aku driver. Kebetulan tadi mau ke tempat bos jadi agak buru-buru." Ucapnya sambil meminum jus pesanannya.


"Jangan bohong. Bukannya lu manager atau direktur mungkin." Sergahku. Entahlah aku merasa dia berbohong kali ini.


"Darimana lu punya pemikiran itu?" Tanyanya kaget.


"Kemarin gue lihat lu bawa mobil terus masuk area kantor PT. KingNoodle."


"Oh.. Haha.. ya gue.. bos gue ada kerjasama sama CEO KingNoodle terus gue kesana jemput dia. Gue ini supir pribadi. Gimana? Keren gak?" Ucapnya sambil menautkan alis menatap jahil ke arahku.


"Astaga. Narsis lu gak pernah ilang ya ternyata." Ucapku jengah.


"Haha. Lu emang judes atau gimana sih. Gak ada terpesona sama sekali sama gue." Keluhnya seperti anak kecil.


Gila. Kok ada sih makhluk kayak dia?. Batinku.


"Gue judes sama orang asing apalagi pembohong". Ucapku mantap kemudian beranjak dari tempat dudukku menuju kasir untuk membayar makananku.


"Semua sudah di bayar sama pacarnya kak. Dan ini pesanannya sekalian. Terima kasih atas kunjungannya." Ucap kasir di hadapanku sambil tersenyum manis dan menyerahkan sekantong bubur ayam ke arahku.


"I-iya. sama-sama." Ucapku kaku lalu berbalik ke arah cowok narsis yang ternyata telah menungguku di atas motornya.


"Apa-apaan sih? Kenapa bayarin makananku terus bungkusin juga?" Protesku sebal.


"Anggap saja bubur ayam perkenalan. Dan itu buat teman-teman kos kamu. Oke. Yuk aku antar balik ke kos." Ucapnya santai. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ya."


"......"


"Apa?"


"............."


"Oke saya kesana sekarang."


"Gak usah. Aku balik sendiri saja. Dekat kok. Kosku di ruko utara bundaran satu." Tolakku halus. Kuharap dia tak memaksa seperti tadi dia menarik tanganku.


"Oh yasudah. Aku balik dulu ya. Ada panggilan juga barusan." Ucapnya lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.


Dia berbalik lalu melambaikan tangan ke arahku sebelum berlalu melaju pergi berlawanan arah denganku.


.


.


.


Gara.


Aneh sekali namanya.


Kira-kira siapa yang kasih dia nama itu ya?


Apa mungkin kakaknya?


Dia bilang tadi kakaknya juga suka anime naruto kan ya?


Aku berjalan kembali ke kos dengan memikirkan satu nama itu. Sampai di depan kos kulihat May dan Lala sedang membeli sate ayam.


"Dari mana Nya" Sapa May setelah menoleh ke arahku.


"Cari sarapan. Gue naik duluan ya." Jawabku kemudian naik ke atas tangga.


"Oke.." Jawab May dan Lala kompak.

__ADS_1


Aku melewati ruang tengah yang kosong. Mungkin cewek yang tertidur di sini sudah bangun. Aku langsung menuju kamarku.


"Waaa apa itu Nya..." Kia langsung kepo setelah aku meletakkan bungkusan yang kubawa ke atas meja kecil di antara kasurnya dan kasur Inda.


"Buka aja. Buat kalian." Aku tersenyum melihat Inda dan Ike yang telah membuka bungkusan dan langsung memindahkannya ke atas mangkuk.


"Bubur ayam. Mantap nih. Sering-sering aja ya Nya traktir kita kayak gini." Ucap Inda pada suapan pertamanya.


"Dari siapa Nya? Gak mungkin lu yang beli sendiri kan?" Tanya Kia penasaran.


"Ra ha si a" Jawabku penuh penekanan sambil tersenyum penuh misteri. Membuat Kia kesal karena aku tak mengatakan apa yang ingin dia ketahui.


"Udah Ya ayo makan dulu, udah jam tujuh nih, setengah jam lagi kita berangkat." Ucap Ike mengingatkan.


"Awas lu Nya. pokoknya nanti pulang kerja cerita ya.!" Ancam Kia.


"Lu pulang gue masih di pabrik kali Ya." Jawabku sambil tertawa geli.


"Sialan lu Nya." Kia kesal menatapku. Tapi kemudian aroma bubur ayam membuatnya menyerah. Dia makan dengan lahap. Tak menanyaiku lagi seperti tadi.


"Ke pinjam charger hp lu dong",


Kami semua menoleh ke arah pintu. Seorang gadis dengan muka bantal bersandar di pintu kamar kami.


Ini kan cewek yang tadi pagi tidur depan tv? Batinku.


"Masih gue pakai Mon." Jawab ike sambil menunjuk ke arah ponselnya.


"Mau pakai punyaku gak? Gue Anya, itu Kia, kami penghuni baru di sini", Ucapku memperkenalkan diri.


"Boleh deh... gue Monika." Ucapnya seraya menerima charger milikku. Dia kemudian berbalik lalu masuk ke kamar sebelah kami.


"Bau bubur ayam nih.. beli dimana guys?" Serobot seorang cewek lagi dari arah pintu. Dia langsung menuju Inda dan mengambil satu bungkus bubur ayam dari meja di sampingnya.


"Eh, ini punya Anya Ir. Main ambil aja." Gerutu Inda lalu mengambil bubur ayam yang ada di tangan Ira.


"Apa sih Nda. Gue kan juga lapar." Keluh Ira seraya merengek seperti anak kecil.


"Tinggal berapa bungkus Nda?" Tanyaku sambil tertenyum geli melihat tingkah Ira.


"Tadi lima bungkus, aku satu, Ike satu Kia satu, tinggal dua Nya." Jawab Inda.


"Buat gue satu ya Nya. Gue Ira, nih buat salam perkenalan. Oke.!" Seru Ira semangat.


"Yee itu mah maunya elu.." Gerutu Inda.


"Enak banget lu baru nongol malah ngerampok makanan.." Gerutu Ike. Sepertinya mereka cukup dekat dan akrab.


"Jangan kasih Nya." Sahut Kia di sela makannya.


"Iya boleh, sekalian satunya bawain buat Monika tadi ya." Ucapku sambil tetap tersenyum.


"Siap bos.."


Ira langsung melipir pergi dengan membawa dua bungkus bubur ayam.


"Wah, parah nih anak. Nya cerita dong. Ada apa di balik bubur ayam ini?" Tanya Kia masih penasaran, tapi tak menghentikan suapan demi suapan buburnya.


"Besok aja ya ceritanya. Gue mau mandi dulu. Da da" Ucapku pelan, sengaja menggoda Kia.


"Anyaaa......" Teriak Kia dari dalam kamar.


Aku tertawa menuju kamar mandi. Kia ini suka penasaran, pasti kesal kalau aku membuatnya penasaran. Haha. Rasain. Salah sendiri dulu ikut bantuin kak Zidan dengan mengawasiku.


Aku masih sedikit tertawa sampai kamar mandi. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ya. Kata-kata Ira mengingatkanku pada Gara.

__ADS_1


Bubur ayam perkenalan. Haha.


Pagi ini aku berkenalan dengan tiga orang. Namun ada satu hal yang masih mengganjal di fikiranku. Kira-kira Gara tadi jujur apa bohong ya kalau dia itu seorang supir pribadi?


__ADS_2