Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
57. Pertemuan


__ADS_3

Aku tiba di kos pukul enam lewat empat puluh menit. Monik langsung duduk selonjoran di depan kamarnya sementara Yessi melepas seragam dan langsung tengkurap tidur di kasurnya.


Aku bergegas mandi, kemudian memasukkan ponsel serta dompetku ke dalam tas selempang kecil.


"Mau kemana Nya?" Tanya Ike di sela-sela makan sarapannya.


"Jangan bilang kalau lu mau pulang.!" Tebak Inda sembari memakai bedaknya.


"Nya, perjalanan jauh, lu kan masuk malam, gak capek?" Tanya Kia dengan raut khawatir padaku.


"Gue nebeng Gara." Jawab ku singkat, membuat ketiga teman sekamarku kompak menatapku curiga.


"Kenapa sih? Gue cantik ya? Gitu amat lihatnya.." Ucap ku sembari mengunci almari dan memasukkan beberapa permen ke dalam tas?


"Kok bisa???" Tanya mereka bertiga, hampir bersamaan.


"Ciyeee kompak..." Ledek ku sembari duduk di sebelah Kia, kemudian menyeruput sedikit minumannya.


"Serius Nya..!!" Tukas Inda.


"Bukannya dia di luar negeri?" Sahut Kia. Ia sampai melotot ke arah ku saking penasarannya.


"Hmmmm....dia kemarin pulang karena kak Vero sudah sembuh..." Jawab ku santai, tak membalas tatapan mata Kia.


"Nya cerita dong. Jangan sepotong-sepotong." Protes Ike ikut penasaran dan memicingkan matanya padaku.


"Duh, ceritanya panjang. Besok aja ya, gue buru-buru nih." Aku langsung berdiri dan melangkah keluar dari kamar.


"Nya. Lu gak kasih tau kak Arya?" Ucapan Kia membuat ku menoleh sebentar, sebelum membuka pintu kamar.


"Udah, tadi udah gue chat, tapi belum di bales." Jawab ku dengan raut agak kecewa.


"Hah belum di balas? padahal udah hampir jam tujuh pagi.. masak dia belum bangun?" Ujar Inda sambil menoleh ke arahku.


"Entahlah. Gue berangkat dulu ya gaes, Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam... tiati Nya... Semoga ibu lu cepat sembuh.." Ucap Kia, Inda, dan Ike bersamaan.


Aku melangkah pelan karena Monik sudah tertidur di depan kamarnya. Aku menuruni tangga pelan, sambil membalas pesan chat ayah yang mengabarkan kondisi ibu.


Aku juga mengabari Gara kalau akan menunggunya di warung bu Ratmi sambil sarapan.


Tin. Tinn.


Suara klakson sebuah mobil di depan toko ibu kos mengagetkan ku. Aku reflek mendongak dari ponsel ke arah SUV hitam yang perlahan menurunkan kaca mobilnya.


"Anya buruan..!!" Teriak sesorang dari dalam mobil itu.


Aku mendekat, memastikan siapa gerangan yang memanggilku.


"Gara? Kok pakai mobil?" Tanya ku heran.


"Udah ayo masuk, jadi ikut gak?" Ia malah menjawab pertanyaan ku dengan kesal.


Aku membuka pintu penumpang belakang, kemudian duduk dengan raut wajah datar memandang Gara.


"Kenapa lu? Gak suka naik mobil gue?" Tanya Gara sembari melirik sopir di depannya.


"Bukan gitu. Gue kira naik motor, kan bisa lebih cepet sampai." Ucap ku lirih.


"Heh, naik mobil juga bisa lebih cepet tau, lewat tol. Lagian lu bisa tidur bentar nanti, abis begadang semalaman emangnya gak ngantuk lu?" Sentak nya sedikit kesal.


Tidur bentar? Mana bisa? Ada lu ada sopir lu. Yang bener aja? Batinku.


"Terserah lu aja deh..." Balas ku lirih. Percuma juga berdebat dengannya. Dia tak akan mau di kalahkan dalam hal apapun. Menyebalkan.

__ADS_1


"Jalan pak." Singkatnya, kemudian mobil pun berjalan santai dan kami terdiam dengan pikiran masing-masing.


Dasar cewek aneh. Kalau cewek lain pasti udah seneng banget di jemput pakai mobil, lah dia malah kesel? Salah gue apa coba? Batin Gara.


Huffft..padahal gue belum sarapan. Kalau pakai motor kan nanti gue bisa minta turunin bentar buat beli sarapan. Kalau sama supir ya malu lah gue. Ngeselin nih cowok narsis. Batin Anya.


Sepuluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah kedai sate ayam yang cukup ramai. Gara mengajak ku turun, sementara sang supir memarkirkan mobilnya.


"Kenapa kesini?" Tanya ku sambil menahan senyum.


"Sarapan lah, gue lapar." Jawabnya sedikit sinis.


Aku duduk di sudut ruangan, sementara gara memesan makanan kami. Kedai ini cukup besar dan bersih. Ada tiga pelayan yang bertugas mengantar makanan dan seorang lagi berada di depan kasir.


"Supir lu gak ikut masuk?" Tanya ku ketika Gara sampai dan duduk di depanku.


"Gak, dia bisa cari makanan sendiri." Jawabnya masih agak sinis.


"Kok gitu sih? Ya diajak makan sekalian dong, dia kan ikut lu, harusnya dia juga makan apa yang lu makan." Ujar ku sok bijak.


"Lu kenapa sih, cerewet banget. Bukannya nanya gue pesen makanan apa malah nanyain supir gue. Perasaan cewek lain gak pernah ada yang ribet mikirin supir gue." Gerutu Gara kesal, hingga membuat ku tertawa kecil.


"Hellooo... Dengar ya..orang yang bekerja untuk kita itu harus kita hargai usahanya, kerja kerasnya, keringatnya, jadi kalau bisa apa yang kita makan, mereka juga makan. Bayangkan kalau lu kerja sama orang, terus lu di ajak bos lu makan juga, pasti seneng kan?" Jelas ku pada Gara yang nampak kesal melihat ku.


"Tapi apa untungnya? Malah mereka nanti ngelunjak." Kilah nya.


"Gini ya.. kalau mereka senang, otomatis mereka akan loyal ke kita. Kalau terjadi apa-apa sama kita, mereka bakal dengan sukarela menolong... bahkan membela kita.


Intinya, kalau kita baik pada mereka, maka mereka.... akan membalas dua kali lebih baik pada kita." Ucap ku pelan, hingga membuat wajah kesal Gara perlahan menerbitkan senyum.


"Lu bener juga. Pantas paman Dan lebih di sukai anak buahnya daripada papa. Ternyata gitu ya rahasianya." Gumam Gara sembari mengetuk-ngetuk meja dengan buku jari tangannya.


Beberapa saat kemudian makanan kami sampai. Dua porsi sate ayam lengkap dengan nasi serta kerupuk dan semangkuk potongan buah melon campur semangka.


Awalnya memang canggung, namun perlahan ia terlihat senang dan terharu melihat bos nya. Ia bahkan membukakan pintu mobil untuk Gara ketika kami akan memulai kembali perjalanan kami.


Aku mengajak supir Gara mengobrol santai, sementara Gara melanjutkan pekerjaannya.


Tak beberapa lama, mataku terasa berat. Aku menguap beberapa kali hingga Gara menyadarinya. Ia mengambil bantal leher dan menyuruhku memakainya.


Aku lantas tertidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Tak peduli dengan keberadaan Gara ataupun sopirnya.


Pukul sembilan lewat lima belas menit Gara membangunkan ku. Ia menggoyang-goyangkan lengan ku, lalu mencubitnya sedikit keras.


"Akh...sakit tau. Punya dendam lu sama gue?" Teriak ku tanpa sadar ketika terbangun karena merasakan cubitan seseorang.


"Ia, dendam kesumat karena lu gak bangun-bangun." Sinisnya, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hehe..sorry ya..." Aku nyengir, menyadari kesalahanku.


Kami turun, kemudian melangkah masuk ke rumah sakit. Gara ikut karena dia ingin tahu bagaimana sosok ibuku yang kemarin hanya ia dengar dari cerita kak Vero.


Aku mengetuk pelan pintu kamar rawat inap ibu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka, menampilkan raut wajah ayah yang nampak semakin tua. Ah, mungkin beliau terlalu capek karena kurang tidur dan merawat ibu seorang diri.


"Anya?" Ucap lirih ayah menyambutku. Aku berkaca-kaca, kemudian berhambur memeluk ayah.


"Kakak nekat pulang? Sama siapa nak? Nanti kerjanya gimana?" Tanya ibu lirih. Ia masih saja mengkhawatirkan ku walau ku yakin tangan kirinya yang terbalut gips masih terasa berdenyut ngilu.


"Sama teman bu...dia masih ke toilet.." Aku menghampiri ibu, mencium punggung tangannya, kemudian duduk di kursi di sebelah kanan tempat tidurnya.


"Ibu baik-baik saja kak...sebentar lagi pasti sembuh..kakak gak usah khawatir..." Ibu mengelus kepalaku pelan dengan tangan kanannya.


"Iya. Tapi ibu hampir gak pernah sakit sampai masuk rumah sakit, jadi Anya takut, Anya gak mau ibu kenapa-kenapa...." Akhirnya aku tak sanggup membendung air mataku lagi.


Aku merebahkan kepalaku di ranjang ibu, lalu menangis dalam diam.

__ADS_1


"Ayah sebaiknya pulang dulu, tengok Fani, istirahat sebentar. Ayah belum tidur sama sekali kan karena ibu." Ucap Ibu lirih sambil tetap mengelus puncak kepalaku.


Beberapa menit kemudian aku sudah lebih tenang. Aku mendongak, melihat ibu yang kini tersenyum menatap ku.


"Ibu senang, kamu dan adikmu sayang sama ibu dan ayah..." Ucap Ibu. "Tapi kamu harus ingat, nyawa ini bukan milik ibu dan ayah, jadi kalau kami nanti gak ada, kamu gak boleh nangis kayak gini ya kak, kamu harus kuat untuk adikmu." Lanjut ibu.


"Ibu bicara apa sih, jangan lagi bahas ini ya bu. Anya gak suka." Sahut ku sembari menghapus bekas lelehan air mataku dengan selembar tissu.


Tok. . Tok . .


Suara ketukan pintu terdengar lirih.


"Tolong buka kak, mungkin itu suster atau teman kamu." Ucap ibu.


Aku melangkah pelan, lalu membuka pintu.


Ternyata Gara, dengan sebuket bunga di tangan kiri dan sekeranjang besar buah-buahan segar di tangan kanannya.


"Apa-apaan lu?" Tanya ku dengan menahan suara tinggi ku.


"Udah cepet buka lebar pintunya, kasih gue lewat..!" Sahut nya sinis.


Meski sedikit kesal aku tetap melakukan perintahnya. Aku tak mau ibu mendengar keributan kami.


"Assalamu'alaikum bu... perkenalkan saya Gara, adiknya kak Vero." Ucap Gara seraya melangkah masuk, kemudian meletakkan sekeranjang buah-buahan di atas meja.


Aku bersedekap, ingin melihat apa yang akan Gara lakukan dengan sebuket bunga di tangannya.


"Kalau bunga ini, dari kak Vero. Katanya biar ibu cepat sembuh kalau lihat bunga-bunga segar seperti ini." Gara berbalik, lalu melangkah ke arah ibu.


Namun, baru dua langkah ia berjalan, tiba-tiba tangannya gemetar. Ia mendadak kaku dan nampak terkejut melihat wajah ibu.


Sedetik kemudian ia menjatuhkan bunga yang dipegangnya ke atas lantai. Membuat ibu bingung dan aku langsung melangkah menghampirinya.


"Gara lu kenapa?" Tanya ku ketika telah berada di sampingnya. Badannya bergetar, keringat dingin membasahi pelipis dan dahinya.


"Ma..mi..." Ujar Gara pelan dan terbata. Ia seolah butuh tenaga ekstra untuk mengucapkannya.


"Mami...!" Seru Gara sekuat tenaga, kemudian berlari dan berhambur memeluk ibuku.


Apa ini? Kenapa Gara memanggil ibu dengan sebutan mami??? Batinku.


Aku melihat raut wajah cemas ibu, namun beberapa detik kemudian ia mengelus punggung Gara yang menangis memeluknya.


Kenapa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?? Batinku.


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Hai hai reader sayang....


Maaf ya karena baru bisa up hari ini..


Kemarin ada jahitan yang deadline harus segera ku selesaikan jadi belum sempat menulis kelanjutan kisah Anya...


So, apa yang akan terjadi selanjutnya???


Jangan lupa like, fav, komen, n vote ya biar aku makin semangat lanjutin ceritanya...😁😂😄


Terima kasihhhhh.....😆😍**

__ADS_1


__ADS_2