
Gara sampai tepat pukul sepuluh pagi. Memakai kaos polo dan jeans, tak lupa kaca mata hitamnya, terlihat saat dia membuka kaca helm nya.
OMG. Cuma pakai itu aja udah keren banget! Stop.! Jangan terpesona Nya. Jangan lihat dia lama-lama. Ayo kedip, jangan sampai naksir dia. He just your friend, isn't he?. Batinku.
Aku menghampirinya sambil memikirkan topik pembicaraan apa yang bisa mengurangi rasa canggung di hati.
Loh ganti motor lagi nih anak orang. Hmmm kenapa pakai motor tinggi sih? Aku kan pendek, mana bisa langsung naik gitu aja. Batinku
"Kok lu pakai Ninja sih? Kenapa gak pakai motor matic aja kayak kemarin?" Protes ku saat dia memberiku helm.
"Bukannya cewek itu suka ya kalau dibonceng motor gede kayak gini?"
"Itu mah mereka, bukan gue. Susah ini naiknya, gue gak suka. Boncengannya tinggi, bikin punggung cepat pegal tau..." Aku menggerutu kesal, tapi aku tetap naik motornya.
Gara hanya tersenyum simpul mendengar ocehan ku. Tak mengelak ataupun membalas ucapanku.
Motor melaju santai. Kali ini udara cukup sejuk, tak sepanas kemarin.
"Loh kok ke rumah sakit?" Tanyaku saat Gara menghentikan laju motornya di depan portal rumah sakit terbesar di kota ini.
"Kakak gue di rawat di sini Nya. Gue pernah bilang kan kalau kakak gue depresi?" Gara melajukan motornya ke tempat parkir motor yang masih kosong.
"Hmmm begitu." Aku turun dari motor kemudian melepas helm.
"Gue harap lu gak kaget ya nanti. Kakak gue gak gila, dia cuma depresi, belum bisa nerima keadaannya hingga membuat psikisnya tertekan."
Kami memasuki lobi rumah sakit. Melewati beberapa lorong sampai ke sebuah kamar VIP di ujung ruangan paviliun Kenanga.
"Gue masuk duluan ya. Nanti kalau kakak udah siap gue panggil elu." Ucap Gara sebelum membuka pintu kamar.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Gara. "Semangat ya..!!" Lirihku.
.
.
.
Gara POV.
Akhirnya hari ulang tahun kakak pun tiba. Tak ada pesta atau ucapan selamat ulang tahun dari ayah. Tak ada kue ulang tahun ataupun kebahagiaan seperti tahun kemarin di wajah kakak.
"Kakak.. aku datang...!!" Ucapku ceria ketika memasuki kamar rawat inapnya di rumah sakit milik keluarga kami.
Kakak hanya menoleh sebentar, lalu kembali terdiam menatap jalanan di luar jendela kamarnya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun ya kak. Semoga kakak makin sehat, makin semangat, makin cantik juga," Kakak sedikit tertawa mendengar kata-kataku.
"Mana kue? Mana kado?" Ucap kakak sambil menengadahkan kedua tangannya ke hadapanku.
"Kuenya sudah di makan Miko kak. Nah kalau ini kado untuk kakakku tersayang." Aku tak tahu apa kakak sudah mengingat Miko putranya atau belum, tapi kemudian aku menyerahkan kantong kertas berisi kaos yang telah di sablon kepadanya.
"Miko kucing kecil di depan ya? Yasudah gak apa-apa kasihan dia gak ada yang merawat. Wah apa ini dek?"
Aku mendesah panjang. Ternyata kakak belum ingat dengan putranya.
"Waaaa Yondaime... Horeee.. Makasih ya dek ini bagus banget..." Kakak sangat senang sampai-sampai bertepuk tangan seperti anak usia lima tahun.
Kakakku yang malang. Veronika. Sarjana Ekonomi dengan segudang prestasi. Jatuh cinta dengan Wilson, kakak senior di kampusnya. Papa dan aku sempat menentang hubungan mereka. Namun kakakku yang keras kepala membuat kami menyerah.
Wilson bersumpah bahwa dia hanya akan mencintai kak Vero seumur hidupnya. Kami pun akhirnya merestui pernikahan mereka, setahun kemudian Miko hadir menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
Lima tahun kemudian Miko mengalami gagal ginjal, dan Wilson dengan sukarela mendonorkan ginjalnya. Saat itu aku mulai percaya bahwa cinta yang tulus itu memang ada.
Setelah itu Wilson menggantikan kak Vero mengelola dua pabrik di kota ini, sementara kak Vero full di rumah mengurus Miko.
Sedikit demi sedikit Wilson berubah, kak Vero tak pernah menceritakan apapun padaku ataupun pada papa. Sampai setengah tahun yang lalu tiba-tiba kak Vero hampir ditangkap polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap sekertaris suaminya.
Aku dan papa kaget. Aku langsung bertindak mengamankan kak Vero, sementara Papa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Keesokan harinya orang suruhan papa melaporkan bahwa Wilson telah berselingkuh dengan sekertarisnya dan saat ini sekertarisnya itu tengah hamil tiga bulan.
Aku langsung berlari ke kamar kak Vero. Dari jendela kaca kamar kakak nampak sunyi dan gelap, tanpa pikir panjang ku dobrak pintu kamarnya dan ternyata kak Vero pingsan dengan banyak darah di pergelangan tangannya.
Kak Vero ingin mengakhiri hidupnya!
Papa menangis melihatku meraung di depan IGD saat itu. Papa bilang aku harus kuat, sebagai laki-laki aku harus bisa melindungi kakak dan menjadi panglima perang terdepan untuk keluarga ini.
Papa memberiku jabatan direktur utama setelah memecat Wilson sekaligus sekertarisnya. Di sana aku terkenal tegas dan dingin, selalu memastikan pekerjaan dengan rapi dan sempurna.
Semiggu kemudian kak Vero sadar dari komanya, namun kondisi jiwanya kosong. Kak Vero sama sekali tak merespon ucapanku ataupun Miko.
Saat papa datang menjenguk, kak Vero bertingkah seperti anak usia lima tahun yang sayang sekali dengan papanya.
Aku kembali menangis saat dokter mengatakan jika psikis kakak tertekan dan memerlukan perawatan ekstra.
"Wah ada lagi.!! Itachi.. Sasuke.. Waa imutnya. Lihat dek dia imut sekali, persis seperti kamu sewaktu kecil." Kakak menggoyang-goyangkan lenganku, menyuruhku melihat gambar sablon di kaosnya.
"Iya kak iya imut...." Ucapku lirih sembari menghapus sudut mataku yang basah. Kenangan masa lalu kelam kakakku tersayang kembali bagai tayangan ulang di benakku.
Sejak saat itu aku tak pernah percaya cinta. Aku selalu bersikap baik dengan siapapun, namun tak pernah bisa berdebar lagi tiap berhadapan dengan lawan jenis.
__ADS_1
Tapi kemarin? Saat seorang gadis menyelamatkanku dari drama kecelakaan tak sengaja membuatku sedikit berdebar. Dia manis, apa adanya, dan suka naruto seperti kakakku.
Entah kenapa aku menjadikannya teman. Mungkin aku hanya merindukan kakak, dan sosoknya sudah seperti kakak dengan wajah versi remaja.
Dia tampak senang, namun tak menunjukkan ekspresi berlebihan padaku saat aku membelikan makanan untuknya dan teman-temannya. Gaya bicaranya yang santai dan tanpa jaim di depanku membuatku betah berlama-lama di dekatnya.
Aku mengaku bekerja menjadi supir pribadi padanya. Entah kenapa aku takut dia akan berubah agresif seperti gadis-gadis yang mengejarku jika tau identitas asliku.
"Dek ini beli di mana? Gak mungkin di mall kan?" Pertanyaan kakak membuyarkan lamunanku. Kakak sudah memakai kaos bergambar yondaime dan terus mengamati gambarnya.
"Oh itu.. itu sablon kak. Temanku yang memilih gambarnya khusus buat kakak." Kakak langsung menatapku tajam.
"Kamu punya teman yang suka Yondaime? Mana mana mana..." Ucap kak Vero sambil menggoyang-goyangkan lenganku.
"Iya kak, bentar ya aku panggilkan, kebetulan aku mengajaknya kemari tadi." Aku melangkah keluar memanggil Anya yang duduk di kursi tunggu di depan ruangan kakak.
"Kakak lu suka gak sama gambar yang gue pilihin kemarin?" Anya berdiri dan langsung bertanya padaku.
"Lihat aja sendiri, yok kakak mau ketemu lu tuh.." Ucapku seraya melangkah kembali ke dalam kamar. Anya mengikutiku dengan ragu, kulirik wajahnya yang terdiam kaku entah memikirkan apa.
"Waaaaa..... ternyata temanmu seorang gadis dek.. sini sini sini.." Kakak terlihat sangat senang, ia sampai menepuk-nepuk kasurnya meminta kami untuk duduk di sampingnya.
"Hai kak...namaku Anya, salam kenal ya.." Ucap Anya sembari menjabat tangan kakak, menciumnya, lalu duduk di ranjang di samping kak Vero.
Aku mematung memperhatikan mereka. Sudah lama aku tak melihat pemandangan jabat tangan sambil mencium tangan seperti ini. Kakak tersenyum senang sementara Anya membenarkan posisi duduknya.
"Aku Veronika, panggil aja Vero, oke, jangan kaku jangan terlalu formal seperti Pras ya!" Anya hanya tertawa menanggapi ucapan kak Vero.
"Btw, selamat ulang tahun ya kak... tapi maaf Anya belum sempat beli kado tadi..."
"Kalau gitu boleh aku yang request kado dari kamu gak?" Kak Vero menyeringai jahil.
"Kak biar Gara aja ya yang beliin kakak kado lagi, jangan Anya.'' Ucapku khawatir, aku takut kak Vero akan minta hal-hal absurd pada Anya.
"Gak mau. Pokoknya aku mau yang dari Anya..!" Kak Vero mulai teriak-teriak. Bagaimana ini? Aku takut kak Vero kambuh lagi.
"Kakak, tenang dulu, gak usah peduliin dia, oke? Kakak mau hadiah apa? Kalau aku bisa nanti aku belikan." Anya mencoba menenangkan kakak dengan menyanggupi permintaannya, tapi aku tahu nada suaranya terdengar ragu.
"Aku mau nonton Naruto Shippuuden the movie yang terbaru. Anya pasti punya kan? Papa gak kasih aku hp, jadi aku gak bisa nonton..." Kakak berkaca-kaca hampir menangis di depan Anya sementara aku menganga dan terdiam kaku. Tak menyangka jika permintaan kakak sesederhana itu.
"Oh itu. Iya iya aku punya kak. Tapi kita nonton sambil makan ya, kakak belum makan kan? Tuh nasi di piring masih utuh." Aku speachless tak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata Anya memperhatikan kakak sejauh itu. Aku yang masuk lebih dulu saja tak tahu kalau kak Vero belum memakan makanannya.
"Iya iya iya ayo mana mana videonya..." Kak Vero merengek seperti anak kecil kemudian wajahnya berbinar sangat senang saat Anya menunjukkan video yang diinginkannya.
Mereka lebih nampak seperti kakak beradik, padahal baru saja bertemu. Kak Vero makan dengan lahap sementara Anya memegangi ponselnya.
__ADS_1
Mereka saling bercerita dan tertawa-tawa mengomentari video itu. Aku bahagia melihat kakakku bahagia. Aku terharu menyaksikan kakakku tertawa lagi hingga tanpa terasa sudut mataku mulai basah.........
Gara POV end