Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
87. Kepo


__ADS_3

Iwan memarkir motornya, kemudian mengikuti Anya masuk ke dalam restoran.


"Nya, selera lu boleh juga. Gue kira lu bakal masuk ke warung sebelah." Ujar Iwan ketika dia duduk lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru resto yang terkesan rapi, elegan dan instagrammable.


"Tadinya gue mau masuk ke warung sebelah, tapi nggak jadi, disana lebih banyak laki-laki daripada perempuan." Ucap ku santai sembari memilih menu makanan.


Iwan menaikkan sebelak alisnya, "Yakin cuma itu? Lu nggak nyuruh gue bayar kan nanti?", tanya nya curiga.


"Yahh....cepet banget sih ketahuan." Ucap ku seraya tersenyum smirk.


"What?....jadi bener? Aduh Nya balik aja yok, gue belum gajian..." Tukas Iwan memelas.


"Haha...udah tenang aja, Gara yang bakal bayar." Ucap ku enteng sembari tersenyum penuh arti.


"Tu..tuan muda?!" Ujar Iwan kaget hingga sedikit tergagap.


Sial. Kenapa gue lupa kalau gadis ini adalah teman tuan muda yang cukup misterius dan berani. Gue harus lebih hati-hati. Batin Iwan


"Sssttt...udah deh diem aja." Sahut ku sedikit kesal, kemudian memanggil pelayan dan mulai memesan makanan.


Kenapa sih nih orang pakai bilang tuan muda tuan muda segala!? Untung saja nggak ada yang dengar... Batin ku.


Beberapa menit kemudian makanan datang dan kami menikmatinya tanpa obrolan apapun.


"Emmm...Maaf ya..." Ujar Iwan tiba-tiba setelah kami selasai makan.


"Maaf kenapa?" Tanya ku heran.


"Gue nggak bisa bayarin ini, gue juga nggak sopan sama lu." Jawab Iwan dengan nada lirih, sedikit takut menyinggung.


"Hei, lu ngomong apaan sih? Nggak jelas banget. Santai aja, kan gue sendiri yang minta lu buat jadi teman, bukan pengawal. Gue gadis desa biasa, bukan seorang putri yang kemana-mana harus di kawal." Jelas ku panjang kali lebar.


"Yaa tetep aja tugas gue jagain elu, bukannya-"


"Udah deh nggak penting,'' sahut ku menyela kata-katanya.


"Oke. Sorry. Jadi apa yang harus gue sampaikan nanti ke tu-"


"Gara. Panggil aja Gara." Tukas ku lagi, hingga membuat Iwan menghela napas panjang.


Sabar Wan.. Sabar.. Tenang.. Batin Iwan.


"Iya maksud gue Ga..ra. Apa yang harus gue sampaikan.?" Tanya Iwan dengan wajah serius.


Jangan-jangan nih cewek kangen berat sama tuan muda? Terus malu buat nyampein sendiri!? Hihihiii... Batin Iwan.


Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan suasana aman sebelum mulai berbicara.


"Tadi subuh pas gue habis sholat, gue lihat dua orang berpakian hitam sedang memasang sesuatu. Gue nggak tahu apa soalnya itu di seberang jalan di depen gedung N-2." Ucap ku dengan suara dan intonasi sangat jelas.


"Apa?!?!?" Ucap Iwan kaget, hingga membuat beberapa orang di kanan meja kami menoleh ke arahnya.


"Sssttt...biasa aja dong suara lu..!" Seru ku menyadarkannya.


"Maaf maaf...terus gimana?" Ujar Iwan sedikit meringis.


"Ya lu sampaikan lah, terserah sama Gara atau sama kak Vero. Dan satu lagi, lu harus dengar ini...." Aku membuka galeri rekaman suara di ponselku dan menyodorkannya pada Iwan.


"Lu kirim aja ke nomor gue, nggak aman dengar di sini." Ujar Iwan sembari mengetikkan nomor ponsel nya.


"Okke." Aku pun menyimpan nomor Iwan, kemudian memanggil pelayan meminta bill.

__ADS_1


"Semuanya empat ratus delapan puluh ribu nona." Ujar sang pelayan, kemudian aku memberinya kartu atm untuk pembayaran.


Ya. Ini adalah atm yang sama yang dulu sempat di berikan oleh Gara pada ku sebelum ia pergi ke luar negeri dan menitipkan kakaknya pada ku.


"Banyak amat..." Iwan melongo mendengar nominal yang harus ku bayar.


"Bungkus sepuluh kotak sekalian dong buat teman-teman kos gue, hehe..." Jelas ku seraya tersenyum senang.


"Mmm tapi katanya Ga..ra yang bayar, kenapa lu pakai atm sendiri?" Tanya Iwan penasaran, meski sedikit grogi menyebut nama tuan mudanya tanpa embel-embel apapun.


"Kepo banget sih lu. Udah ayo balik, ngantuk nih gue..." Ucap ku berpura-pura kesal agar ia tak banyak bertanya lagi.


Aku keluar terlebih dahulu sementara Iwan membawa sepuluh kotak makanan di belakang ku.


"Oke. Siap nona, ayo berangkat..."Ujar Iwan penuh semangat.


Drrrt.... Drrrtt...Drrrttt


Tiba-tiba ponsel Iwan berdering.


"Iya tuan...." Ucap Iwan setelah ia mengangkat panggilan di ponselnya.


".............."


"Benar tuan."


"................................."


"Baik tuan. Siap laksanakan."


Iwan menyimpan ponselnya, lalu menoleh, menatap ku dengan pandangan horor penuh tanda tanya.


"Kenapa?!" Tanya ku ketus.


Ajaib. Ternyata benar tuan muda langsung tahu kalau aku baru aja makan sama nih cewek. Tapi dari mana tuan muda bisa tahu? Tempat tadi kan steril, tanpa pengawal bayangan satu pun?!? Batin Iwan.


"Yasudah ayo jalan."


Sementara itu, beberapa menit sebelumnya di sebuah mobil mewah yang tengah melaju dengan kecepatan sedang. Sang presdir tiba-tiba tersenyum ketika melihat notifikasi di ponselnya.


"Kenapa lu?" Tanya sang asisten.


"Kepo banget sih lu." Jawab sang presdir.


Akhirnya lu gunain juga atm dari gue Nya. Tapi lu tumben banget makan di resto? Ah iya Iwan pasti tau sesuatu. Batin sang presdir.


Sang presdir kemudian nampak menghubungi seseorang.


"Iwan. Bintang tiga, perintah tiga." Ucap sang presdir dengan wajah dan suara datar.


"Iya tuan" Jawab Iwan di seberang telpon.


"Lu bersama Anya makan di High n Fun Resto?" Tanya sang presdir.


"Benar tuan" Jawab Iwan lagi di seberang telpon.


"Setelah antar dia pulang, segera temui gue di kantor Kingnoodle." Perintah sang presdir dengan suara senang dan wajah bahagia.


"Baik tuan. Siap laksanakan." Balas Iwan dengan suara sedikit terkejut.


Oh ternyata tentang nona Anya. Pantas saja Gara langsung tersenyum senang. Tapi apa yang sebenarnya gadis itu lakukan ya?!? Batin sang asisten.

__ADS_1


"Kenapa lu lihatin gue segitunya?" Tegur sang presdir menyadarkan lamunan sang asisten.


"Gak apa-apa. Heran aja kenapa lu tiba-tiba jadi kelihatan bahagia tiap kali ada Anya." Ujar sang asisten memancing.


"Kepo lu." Balas sang presdir acuh tak acuh.


Haduh....mimpi apa gue semalam hingga presdir aneh ini ngatain gue kepo dua kali.. Batin sang asisten.


.


.


.


"Ayo cepat-cepat semuanya baris yang rapi. Sebentar lagi presdir kita sampai.!" Seru pak Yudha, kepala HRD yang sedang menata barisan staf kantor untuk menyambut kedatangan sang presdir.


"Siap pak..." Sahut kompak beberapa staf seraya merapikan outer, kemeja, maupun jas mereka.


Beberapa menit kemudian, lamborgini hitam metalik nampak memasuki area parkir PT. Kingnoodle.


Sang sopir keluar, kemudian membukakan pintu untuk sang presdir.


Semua mata memandang takjub pada dua pria tampan yang berjalan penuh wibawa ke arah mereka.


Sang presdir yang benar-benar memukau. Rahangnya tegas, tatapan matanya tajam, namun wajahnya terkesan dingin dan tak tersentuh.


"Selamat pagi pak...." Sapa semua staf kantor dengan nada dan suara kompak bagai paduan suara.


"Pagi juga semua...." Balas sang asisten presdir dengan tersenyum ramah.


"Silahkan tuan.." Ujar pak Yudha dengan sopan mengantar sang presdir naik ke podium di depan mereka.


Sang presdir berdiri dengan tenang dan penuh kharisma. Ia kemudian mengedarkan pandangannya, menyapu wajah para staf kantor yang hadir di hadapannya.


"Pagi semua. Terima kasih atas penyambutan pertama kalian pada saya hari ini." Ucap sang presdir dengan suara lembut dan terkesan manly, hingga membuat sebagian besar staf wanita seakan terhipnotis, dan tak berkedip menatap sosoknya.


"Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini sehingga PT. Kingnoodle berhasil mendapatkan julukan pabrik paling bersih, karyawan paling loyal, serta profit yang selalu meningkat tiap tahunnya." Para peserta kemudian bertepuk tangan mendengar pujian sang presdir.


"Terima kasih juga karena peraturan baru dari saya sudah kalian terapkan dengan sukarela. Namun di sini kembali saya tekankan." Sang presdir berhenti sebentar, mengamati gerak-gerik semua wajah di hadapannya, lalu menghela napas sebelum melanjutkan.


"Loyalitas akan dapat bonus pas, dan penghianatan akan dapat resiko yang menyakitkan. So, tetap semangat dan bantu saya memajukan perusahaan kita. Terima kasih." Terang sang presdir dengan tatapan tajam dan aura mengintimidasi. Namun malah tampak semakin mempesona di mata kaum hawa.


"Siap presdir..." Jawab semua orang dengan suara dan nada kompak, namun ekspresi wajah yang mulai berubah-ubah.


Sang presdir dan juga asistennya kemudian masuk ke kantor, lalu naik ke lantai dua.


"Aaaaa.....presdir tampan sekali...mimpi apa gue semalam sampai bisa lihat makhluk Tuhan paling sexy pagi ini..." Seru salah satu staf wanita di tengah kumpulan geng nya.


"Suaranya itu loh....duhh adem berwibawa banget..gue mau deh tiap hari meeting sama dia..." Ujar staf wanita lainnya.


"Tatapannya tajem banget..sumpah.. Berasa di cekik leher gue..." Ujar staf laki-laki di samping mereka.


"Tapi macho banget kan?! Duhh jadi pengen di peluk dia tahu nggak...hmm gimana rasanya ya..?!" Sahut staf wanita di sebelahnya.


"Sudah-subah....bubar-bubar. Ayo kembali...kerja-kerja semuanya..." Teriak pak Yudha dengan lantang.


"Huuu....." Seru kompak beberapa staf wanita yang membicarakan sang presdir mereka tadi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2