Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
14. Rahasia gila?


__ADS_3

Gerimis sore yang menenangkan. Aku bisa mencium semerbak wangi tanah basah oleh air hujan. Menentramkan jiwa.


"Kak bikinin telur dadar sosis lagi dong.." Fani menghampiriku yang sedang menikmati pemandangan hujan gerimis dari jendela ruang tamu.


"Dek jangan sosis terus nanti lama-lama muka kamu kayak telur dadar sosis loh, makin bulat kayak sinchan." Balasku seraya tersenyum samar.


"Beneran bisa gitu kak?", tanya Fani sambil memegangi kedua pipinya. "Gak mungkin gak mungkin."


Aku tertawa lepas melihat ekspresi adikku. Entah apa yang dia bayangkan tapi caranya memegangi pipi dan gumaman-gumaman kecil di bibirnya itu terlihat sangat lucu.


"Kakak bohong ya? Kok ketawa? Ih gak boleh jahat sama Fani yang imut tau..." gerutunya sambil menarik-narik ujung baju yang ku kenakan.


"Oke kakak bikinin, tapi kasih tau kakak dulu kamu sama kak Kia punya rahasia apa?"


Fani langsung diam. Matanya mengerjab beberapa kali. "Ka-kakak tau dari mana aku sama kak Kia punya rahasia?" tanya nya sedikit terbata.


"Dari Kia dek pas tadi ngasih permen buat kamu. Tapi dia gak mau ngaku pas aku tanya. Emangnya apa sih rahasia kalian?", tanyaku lagi sedikit serius.


"Oh itu... gak penting kok kak.. hehe," Ucap Fani kemudian beranjak menjauhiku.


"Eiitttss.. mau ke mana?" secepat kilat aku bergerak lalu kupegangi lengan kecil adikku.


"Mau ke dapur kak. Ayo bikinin telur dadar sosis.. ayo kak.. Fani sudah sangat lapar.." Rengeknya seraya mengkedip-kedipkan mata seakan ingin menangis.


"Haisss... yasudah ayo.."


Akhirnya ku turuti kemauan adikku. Lima belas menit kemudian telur dadar sosis pesanan tuan putri sudah tersaji di atas sepiring nasi hello kitty, haha itu sih memang piring adikku bergambar hello kitty.


"Hmmm enaknya. Terima kasih kakakku tersayang tercantik terbaik terlope-lope pokoknya." Gombalannya berlebihan sekali.


Hufffth. Aku meniup ujung poniku. "Kalau ada maunya aja muji-muji setinggi langit, tapi gak mau berbagi rahasia. Hiks..." Aku berpura-pura akan menangis di depannya.


"Loh loh kak jangan nangis dong," Fani langsung berdiri lalu menghampiriku.


Yes. Berhasil. Ayo bilang dek apa rahasia kalian itu. Batinku


"Yaudah deh Fani kasih tau, tapi jangan bilang-bilang sama kak Kia ya." Ucapnya kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga kananku. "Sebenarnya kak Kia di suruh kak Zidan buat jagain kakak dari cowok-cowok pengganggu, terus Fani di suruh gangguin kalau ada cowok yang main ke rumah kak."

__ADS_1


Jederrr...!!!


What??? Apa ini?? Gila. Sebenarnya adik dan sahabatku ini di pihak siapa sih? Kenapa malah mau-mau saja di suruh si Zidan? Batinku.


"Kakak jangan marahin Fani ya.. Fani kan sudah jujur." Bisik Fani lagi tapi dengan suara lebih pelan. Ekspresi takutnya malah terlihat menggemaskan.


Aku melotot padanya, kupegang kedua pipinya lalu kuciumi dengan gemas. Seluruh wajahnya ku ciumi tanpa terkecuali.


"Aaaaaaa... kakak hentikan kak. haha. Berhenti kak. Ampun kak. Haha. Geli kak. Kakak. Ampun..." Teriaknya sambil bergerak ke kanan dan ke kiri sesuka hati.


"Gimana? Enak? Hukuman dari kakak?," Bisikku kemudian.


"Hueekk.. gak enak. Ampun kak.." Rengeknya lagi.


"Lagian kenapa sih mau saja disuruh-suruh begitu sama kak Zidan?" tanyaku kesal sekaligus menahan tawa melihat ekspresi adikku yang sangat lucu.


"Waktu itu kita bertiga gak sengaja ketemu pas beli mie ayam kak. Terus di traktir. Terus kalau mau bantuin dia kita bakal di traktir lagi makan mie ayam, gitu kak." Jawab Fani polos.


Plakk..!


Aku menepuk keningku sendiri. "Astaga. Ya Allah dek keterlaluan banget sih. Cuma demi mie ayam kalian punya rahasia gila macam ini? Ck ck ck... bagus sekali."


Gila. Benar-benar gak waras tuh orang. Sampai menggunakan adik dan sahabat gue buat mata-matain gue habis-habisan. Untung gue tolak. Bisa gila kalau seandainya gue jadi istrinya. Gak bisa kemana-mana. Gak boleh ketemu cowok lain. Gak boleh ini. Gak boleh **i**tu. Bisa karatan gue dikurung di rumah mulu. Batinku.


Bayanganku tentang kehidupan rumahtangga sudah berkelana kemana-mana.


Tok tok tok.


"Kak, kakak bangun, ponsel kamu bunyi tuh kak, ayo diangkat barangkali penting", teriak ibu di balik pintu kamarku.


"Iya bu." Aku melangkah keluar kamar dengan malas. Ponselku tergeletak di atas meja makan, di samping bunga mawar plastik yang setia mempercantik suasana dapur kami.


Kulihat ibu sedang mengajari Fani cara mencuci piringnya sendiri. Setelah selesai dia terus memperhatikanku yang mengotak-atik ponsel dengan tenang.


"Siapa nak?", tanya ibu yang kemudian duduk di sampingku.


"Tidak tahu bu, nomor baru." Jawabku singkat.

__ADS_1


Tiba-tiba bunyi nada SMS masuk. Memberitahukan bahwa aku diterima bekerja di PT. KingNoodle, pabrik tempat Anis bekerja, dan besok sudah harus berkumpul di kantor tempat melamar kerja jam tujuh pagi.


"Ibu...." Aku langsung menangis dan memeluk ibu. Membuat adikku juga menangis dan berlari memeluk ibu juga.


"Eh.. loh loh kenapa ini anak-anak ibu kok kompak nangis bareng?" tanya ibu heran.


"Anya diterima kerja bu, besok Anya kerja," teriakku haru.


"Alhamdulillah.. akhirnya apa yang kamu inginkan terkabul ya nak.. Terus kamu kenapa ikut nangis dek?" tanya ibu sambil mengelus puncak kepala kami.


"Aaa Fani takut kakak nangis kakak kenapa-kenapa.. huaaa.." Fani malah menangis kencang. Aku tertawa melihatnya lalu kupeluk tubuh kecil adikku.


"Cup.. cup cup.. oh sayangnya adik kakak. Kakak terharu kamu sesayang ini sama kakak. Udah ya nangisnya. Kakak gak papa kok."


Ibu tersenyum memperhatikan kerukunan kami. Walaupun kami sering bertengkar, sering jahil, sering teriak-teriak, sering berdebat, tapi kami tetap saling menyayangi satu sama lain.


"Waduh.. lagi main drama apa ini kok pada peluk-pelukan? Ayah gak diajak?", Protes ayah yang baru pulang.


Kami berlari menghambur ke pelukan ayah. Berebut posisi ternyaman menurut versi kami masing-masing.


Ibu tertawa lepas melihat kelakuan kami. Saling senggol demi mendapat perhatian dari ayah.


Inilah keluarga yang sangat kucintai. Dimana ayah selalu punya tempat ternyaman untukku bersandar. Dimana ibu selalu menjadi tempat terdamai dalam berkeluh-kesah. Dimana ada adik yang jahil yang menggemaskan tapi menyayangiku dengan tulus.


Keluarga adalah tempat kita pulang. Tempat kita mengadu. Tempat kita berbagi kasih sayang, cerita dan perjuangan.


Keluarga adalah rumah ternyaman bagi kita. Walau rumah itu jauh dari kata mewah namun orang-orang di dalamnya kaya akan cinta tulus untuk kita.


Aku janji aku akan bekerja dengan keras. Aku akan membangun rumah ini menjadi lebih layak agar ibu dan ayah bahagia, bisa menghabiskan masa tua mereka di rumah yang cukup nyaman.


Agar adikku tidak malu ketika mengajak teman-temannya bermain atau belajar kelompok di rumah.


Agar tetangga-tetangga yang biasa merendahkan kami tak bisa bicara lagi mengomentari hidup kami.


Aku janji.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2