
Semakin ke atas langkah kami terasa semakin berat. Ku edarkan pandangan ke sekitar tempat ini. Sepi, meski cuaca masih cerah, namun hawa dingin mulai menyapa, menusuk-nusuk melewati ujung baju yang ku kenakan merambat menembus kulit.
Aku ingat terakhir kami berpapasan dengan pasangan yang baru menuruni bukit ini lima menit yang lalu.
"Kak bentar lagi ashar mau habis loh." Kak Arya hanya bergumam kecil menanggapi ucapanku.
Sampai di atas ada satu gazebo yang begitu indah. Tiang-tiang nya kokoh dan berukir timbul tenggelam, nampak lebih mirip bangunan luar istana pada zaman dulu.
Kak Arya membawaku duduk di pinggiran gazebo, sembari menatapku dalam.
Kak Arya kenapa sih? Kenapa gue ngerasa takut ya sama pandangannya ini? Batinku.
"Bentar. Lima menit lagi Nya." Ucapnya dengan menarik sudut bibirnya seraya menilik pada jam tangan yang ia pakai di tangan kirinya.
"Apanya yang lima menit kak?" Tanyaku bingung.
"Ssstttt.... Sini naik." Kak Arya melepas sepatunya kemudian mengajakku ke dalam gazebo.
Deg,,,,,Deg,,,Deg,,,,,
Dadaku berdebar hebat. Raut wajahku gelisah, dan tungkai kakiku terasa sangat ngilu ketika telah berada di tengah gazebo ini.
Kenapa malah masuk ke tangah sini?. Duh bagaimana ini. Tolong... Batinku.
Tiba-tiba kak Arya menarik tanganku yang terasa dingin. Ia menggenggamnya erat, kemudian merapatkan tubuhku ke dadanya hingga suara detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.
"Kak..." Aku tercekat, bahkan tak dapat melanjutkan kata-kataku ketika lengan kanan kak Arya mendarat memeluk kedua pundak ku.
"Lihat itu deh Nya..." Kak Arya mengarahkan jari telunjuknya ke samping kiri kami. Aku menoleh dan seketika tercengang, tanpa sadar mulut ku pun sedikit terbuka.
"MasyaAllah....." Aku terperangah, takjub dengan pemandangan di hadapanku.
Hamparan rumah penduduk yang begitu indah dengan lampu-lampu kecil. Hutan hijau yang begitu asri dan sungguh menenangkan. Lukisan alam awan putih yang mulai kemerahan terpampang nyata di depan kami. Sungguh cantik dan tak tertandingi ke-elokannya.
"Subhanallah..." Gumam ku tanpa berkedip. Hatiku bergemuruh, begitu damai tatkala mega merah nampak jelas terlihat di antara awan putih jingga yang sangat mempesona.
Aku terus menikmati pemandangan di depanku, tak sadar jika posisi kami semakin dekat. Kak Arya memelukku semakin erat dari samping.
Aku merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menonjol di samping paha ku.
Apa ini??? Batinku.
Aku melirik kak Arya tanpa menoleh ke arahnya. Kulihat ia kini memandangku cukup lama, kemudian merunduk lebih dekat ke wajahku.
Cup..*
Tiba-tiba sebuah benda kenyal nan hangat menyentuh pipiku.
"Astaghfirullah kakak...!" Teriakku kaget, aku cepat-cepat melepaskan diri dari pelukan kak Arya dan mundur dua langkah menjauhinya.
"Maaf Nya..maaf...gue.. gue.. gue terbawa suasana tadi...gue.. gue..gak sengaja..." Ujar kak Arya dengan gugup dan mendadak tergagap. Ekspresi wajahnya penuh sesal, meringis dan nampak kemerahan.
Aku berdiri mematung. Ucapan kak Arya sama sekali tak terdengar di telingaku. Bukan hanya masalah ciumannya yang tiba-tiba. Namun sesuatu yang terasa menonjol tadi tengah membuat otak ku traveling kemana-mana.
__ADS_1
Aku seorang gadis berusia hampir dua puluh tahun, sedikit banyak aku paham apa yang terjadi dengan bagian tubuh pria jika berdekatan dangan wanita.
Aku yang hobi membaca dan menonton film jadi membayangkan hal-hal dewasa yang tak seharusnya terbayang di otak ku.
"Nya maaf... maafin gue.. oke.." Kak Arya masih terus mengoceh walau aku tetap diam. Nampaknya ia mengerti jika aku tengah syok dengan apa yang barusan ia lakukan.
"Stop kak..!!" Teriakku gusar. Kini kesadaran ku mulai kembali. "Stop, kita pulang sekarang kak." Ucapku mantap seraya melangkah dengan gerakan cepat meninggalkan kak Arya.
Kenapa kak? Kenapa kakak berubah? Kenapa kakak melanggar kesepakatan kita? Kesepakatan yang bahkan kakak sendiri yang mengajukannya. Batinku.
Aku berlari ketika jalanan tak lagi menurun. Berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Berlari hingga napasku kian sesak dan keringat ku mengucur deras. Beberapa kali aku sempat tersandung, namun gerakan reflek ku masih bisa menolongku hingga aku tak terjatuh.
"Nya, tunggu..!! Jangan berlari..!! Jalanan ini licin Nya..!!" Teriak kak Arya sembari berlari menyusulku.
Aku sampai di parkiran motor terlebih dahulu. Menenangkan napasku yang ngos-ngosan akibat berlari dalam ketakutan dan kegelisahan.
"Anya. Gue minta maaf oke. Nih minum dulu. Lari lu cepet juga ya, masih sama seperti dulu." Kak Arya memberiku minuman kemasan yang ia beli di samping gerbang wisata sebelum sampai ke parkiran ini.
"Gue mau pulang kak.." Ucapku lirih, tak peduli pada candaan yang coba ia lontarkan.
"Iya, kita pulang. Ayo..." Kak Arya mengambil motornya, kemudian menyuruhku naik.
"Tas gue kak. Gue mau cek ponsel sebentar." Ini hanyalah alasanku. Aku tak mau lagi berboncengan tanpa penghalang di antara kami.
Kak Arya memberikan tas ku. Kemudian ia mulai menjalankan motornya dengan perlahan.
Sepanjang perjalanan kak Arya mengajak ku bicara, namun aku hanya menyahutinya dengan malas. Aku sedikit kecewa dengan perubahan kak Arya tadi. Mau protes, mau marah, namun aku tak bisa. Entahlah, aku tak tau perasaan apa yang kini ku rasakan untuknya. Yang pasti saat ini aku kesal dan malas berbicara dengannya.
Kami singgah di masjid untuk sholat ashar dan maghrib, kemudian singgah ke sebuah kafe di seberang jalan dari masjid terakhir yang kami singgahi.
"Nya, sekali lagi gue minta maaf. Lu mau kan maafin gue?" Ucap kak Arya memelas.
Aku hanya mengangguk menjawabnya. Masih malas sekali berbicara padanya saat ini.
"Nya ngomong dong..." Lirih kak Arya frustasi. Ia sampai mengacak acak rambutnya karena melihatku hanya diam dan tak ceria sama sekali.
"Gue masih malas bicara kak. Tolong kasih gue waktu ya, please.." Akhirnya aku bisa bicara normal setelah menghabiskan satu gelas jeruk hangat di depanku.
"Fine." Kak Arya menatapku dengan rasa bersalah yang menggelayuti pelupuk matanya.
Aku tau pandangan itu. Aku cukup hafal. Itu adalah pandangannya ketika dulu, pacarnya memaki dan menghina ku di hadapan banyak orang.
Ia tak mampu menenangkan pacarnya. Juga tak bisa membelaku. Ia hanya diam seraya memandangku dengan penuh sesal. Dan hal itu sungguh membekas dalam ingatanku.
Akhirnya kami sampai. Aku berpamitan dan berlalu masuk ke halaman rumah, sementara kak Arya langsung pulang. Sengaja aku tak mengajaknya mampir agar kedua orang tua ku tak bertanya macam-macam.
Aku menghela napas panjang. Bernafas dari hidung lalu perlahan ku keluarkan melalui mulut. Ku lakukan beberapa kali sampai tubuh ku rileks dan wajahku segar kembali. Aku mengerjap berkali-kali sampai kedipanku terasa normal. Ku pasang senyum terindah ku dan aku siap untuk membuka pintu rumah.
"Assalamu'alaikum...Kakak pulang...!!" Teriak ku penuh semangat.
"Wa'alaikum salam..." Aku mendengar suara ayah, ibu, dan Fani dari dalam. Mungkin mereka tengah makan bersama atau menonton tv.
"Kakaaakkkk....!!" Fani berteriak dan berlari menyambutku.
__ADS_1
Aku merentangkan tanganku..tapi
tiba-tiba,
Sraaakk...Bruukkk....!?!?!!
Fani terpeleset kakinya sendiri. Ia jatuh dengan lutut dan tangan yang menyentuh lantai terlebih dahulu. Seketika tangisnya pecah, dan ibu buru-buru keluar menghampiri adikku.
"Huaaaa... ibu..Huaa.. sakit bu... Huaa...!!'' Teriak Fani di sela-sela tangisannya.
Aku tertawa lepas melihat atraksi adikku ini. Memang ya, keluarga adalah obat paling ampuh untuk rasa lelah dan gelisah yang kita rasakan.
"Ya Allah nak.. sini-sini..cup..cup.. Anak cantik udah ya nangisnya.. Lain kali jalan saja kalau di dalam rumah yaa..." Ucap ibu dengan suara lembutnya.
"Kakak bu.. Huaa..kakak ketawain Fani tuh..Huaa " Protes Fani dengan suara sedikit serak.
"Hahaha...Dek dek.. Saking kangennya sama kakak ya sampai bikin atraksi begini demi menyambut kak Anya yang paling cantik.." Ledek ku sembari menghampiri ibu dan menyalami beliau.
"Kakak, udah dong.." Tukas ibu seraya meniup lutut Fani yang memerah dan sedikit memar.
"Kenapa nak?" Tanya ayah yang baru keluar ke ruang tamu.
"Ini yah, si Chibi Maruko Chan bikin aksi seru menyambut Anya pulang. Haha..." Aku beralih, berganti menyalami ayah.
"Huaa.. kakak bu..." Rengek Fani manja dalam gendongan ibu.
"Kakak...sudah sana cuci kaki cuci tangan dulu. Jangan jahilin adeknya mulu.." Ucap ibu sembari menggendong Fani ke ruang tengah kemudian menyuruh ayah mengambil kotak P3K untuk merawat lutut Fani yang sekarang mulai berdarah.
"Sakit bu.. perih..." Rintih Fani dengan wajah meringis dan terlihat makin lucu.
Aku membuka pintu kamar. Meletakkan tas ranselku dan paper bag berisi makanan pesanan Fani di atas meja belajar, kemudian berbalik menuju kamar mandi.
Aku menggulung lengan outer ku, lalu mencuci tangan dan kaki ku dengan perlahan.
Aku melangkah keluar kamar mandi menuju ruang tengah. Ibu dan ayah menungguku sambil menonton tv, sementara Fani berbaring dengan paha ibu yang ia jadikan sebagai bantalnya.
"Kakak onde-onde Fani mana?" Tanya Fani ketika aku duduk di samping ayah.
"Ya Allah dek.. bukannya nanyain kabar kakak, malah nanyain makanan." Leluhku berlagak kesal sembari melirik tajam ke arah Fani.
"Kakak kan sudah selamat sudah sampai rumah. Tampak sehat dan makin cantik, jadi mau tanya apalagi?" Sahut Fani. Ajaib. Bocah ini makin pintar saja kalau mendebat ku.
Aku menepuk kening, sembari mengerucutkan bibir ke arah Fani. "Iya, iya, tuh ada di kamar kakak.. ambil aja sana, tapi jalan aja.."
"Oke kakak ku sayang.." Fani berjalan ke kamarku dengan tersenyum lebar dan bersiul senang. Ia cepat sekali melupakan sakit di lututnya setelah ingat 'onde-onde'.
Hemm enaknya jadi anak kecil gitu ya. Gak perlu mikirin masalah kerja, masalah pasangan, yang di pikirin cuman pelajaran sekolah, main sama makan. Batinku.
.
.
.......
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...