Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
53. Salah bet.


__ADS_3

Suara bising kendaraan kembali ku nikmati. Pergerakan roda empat yang terhambat oleh laju roda dua yang saling mendahului satu sama lain.


Banyak ibu-ibu yang berkendara dengan santai walau melanggar jalur. Mereka seperti berlomba dengan waktu, dan hampir semua tak peduli dengan kepentingan pengendara lainnya .


"Loh kenapa berhenti kak?" Tanya ku heran. Kami masih berasa di wilayah taman kota J, dan kak Vero tiba-tiba berhenti di samping pintu masuk taman ini.


"Udah tenang.. sebentar," Kak Vero mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


[Bintang tiga. Posisi?..]


[.......,..............]


[Okke.]


Kak Vero mengakhiri panggilan, kemudian turun dan mengajakku duduk di halte bis yang kosong.


"Tadi siapa kak?" Tanya ku penasaran.


Belum sempat menjawab tiba-tiba sebuah SUV hitam merapat ke arah kami.


Setelah terparkir sempurna, dua orang pria keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah kami.


"Kak, kabur yuk....mereka mendekat, jangan-jangan penculik.." Bisik ku pada kak Vero.


"Hahaha. Bukan Nya, mereka pengawal gue." Balas kak Vero dengan suara lirih. Ia kemudian menyerahkan kunci motornya pada salah satu pri tadi kemudian mengajak ku masuk ke mobil.


Duh gusti.....enak sekali ya, tinggal telfon, semua urusan beres. Batinku.


"Jadi bintang tiga itu mereka kak?" Tanyaku penasaran.


"Iya. Ada beberapa sih sebenarnya. Mereka bertugas mengawal gue sama Gara." Jelas kak Vero.


"Kalau perintah dua?"


"Itu perintah langsung dari paman Dan. Kenapa? Bingung ya? Nanti biar Gara sendiri yang jelasin ya. Gue capek, tidur yuk perjalanan masih jauh."


Aku mengangguk mendengar penjelasan kak Vero. Deru AC mobil membuat kami mengantuk, lalu tertidur tak lama kemudian.


.


.


.


Rumah pak Dan.


SUV hitam memasuki halaman. Menurunkan penumpang beserta bawaannya, kemudian meluncur masuk ke dalam garasi.


Seorang wanita cantik berambut panjang melenggang masuk ke dalam rumah. Ia berjalan lurus menuju ke dapur, lalu duduk di sakah satu kursi meja makan.


"Non Vero sudah pulang..Alhamdulillah...mau makan non? Sebentar bibi siapkan ya.." Ucap salah satu ART senior yang ada di dapur.


"Gak usah bi... Tolong buatin jus tomat aja, Vero sudah ada makanan, nih lihat..." Sang wanita menunjukkan kotak bekal yang baru ia keluarkan dari dalam tas nya.


"Loh dari siapa non?" Tanya sang ART penasaran.


"Dari ibunya Anya. Beliau baiiikkk banget bi, udah anggap aku jadi anaknya juga, hehe.." Ucap sang nona dengan mata berbinar bahagia.


Alhamdulillah. .. Ahirnya non Vero sembuh juga. Kasihan den Miko kalau non Vero sakit dia di asuh oleh orang lain. Batin sang ART.


Sang ART tersenyum haru kemudian segera membuatkan jus untuk sang nona.


"Kakak............dari mana aja? Adiknya pulang malah gak ada di rumah...." Teriak Gara kesal dari arah tangga.


"Hehe.. kangen ya? Sini-sini... ayo makan bareng kakak...." Seru sang kakak dengan raut wajah bahagia.


Syukurlah kakak benar-benar telah sembuh.. Batin Gara.


"Apa itu kak?" Tanya Gara heran, kemudian ia duduk di samping sang kakak.


"Ini bekal dari ibunya Anya. Enak loh, hak.. hak.." Sang kakak menyuapi adiknya dengan tersenyum haru. Ia sadar, ia telah lama melupakan kenyataan pahit yang menimpanya, hingga sang adik rela jatuh bangun tertatih-tatih berusaha menggantikan posisinya di perusahaan.


"Iya enak kak...loh loh tapi kenapa kakak nangis?" Tangan Gara terulur, menyeka air mata sang kakak dengan lembut.


"Maafin kakak ya dek...karena kakak gila, kamu jadi harus turun tangan gantiin Wilson, padahal kakak tahu passion kamu bukan di sana.. hiks..." Sang kakak masih menangis.

__ADS_1


"Sssttt...udah kak udah..kakak gak gila, jangan bilang gitu,oke? Kakak hanya depresi. Maafin Gara ya selama ini jarang nengokin kakak sampai masalah kakak separah itu, Gara gak tau apa-apa." Sang adik mulai tersenyum demi menghibur sang kakak.


"Hei..hei.. ada drama apa nih?" Sebuah suara di belakang mereka tiba-tiba muncul. Membuat kedua kakak-beradik ini kompak secepat kilat menghapus air mata mereka.


"Paman?" Ujar mereka hampir bersamaan.


"Wah..kompak sekali kalian. Nih buat Vero, ini buat Gara. Jangan nangis lagi, oke?" Sang paman memberikan sebuah kado pada mereka.


"Apa ini?" Ucap mereka kompak.


"Buka aja. Papa kalian minggu depan akan kembali, jadi pastikan tugas kalian selesai dengan baik." Ujar sang paman, kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Wah, tiket liburan...yes, akhirnya gue bisa bebas sementara dari tugas negara." Seru sang adik dengan gembira.


"Tapi jangan bawa cewek liburan. Awas aja kalau lu melanggar.!" Ancam sang kakak dengan tatapan tajam nya.


"Siap nyonya... hadiah kakak apa?" sang adik penasaran, lalu ikut membuka kado sang kakak.


"Amazing... HG Corp resmi jadi milik kakak tiga bulan lagi.! Selamat ya kak!!" Seru sang adik dengan penuh semangat.


"Heh seneng banget! Lu gak dapat bagian tau kalau gue yang pegang nih perusahaan!" Ujar sang kakak dengan sinis.


"Gak masalah.. gue gak minat, gue lebih suka hotel and resto, waktunya flexible, hehe.." Jawab sang adik bangga.


"Dasar, jangan pacaran mulu dek. Bisnis itu penting. Nanti gue kasih saham 30 persen di cabang kota G, gimana?" Ucap sang kakak antusias.


"Gue sih oke." Jawab sang adik seraya tersenyum smirk ke arah sang kakak.


"Kenapa lu senyum gitu? Lagi punya rencana apa? Ayo ngomong..!!" Desak sang kakak.


"Kita bisa jebak si Wilson dengan ini kak." Ucap sang adik penuh misteri.


"Caranya?" Sang kakak penasaran.


Sang adik kemudian membisikkan rencananya kepada sang kakak, lalu mereka tersenyum lebar bersama-sama.


"It's good."


.


.


.


Udara malam berhembus sepoi-sepoi. Hujan tadi sore membuat aroma tanah basah menguar memenuhi area kota G.


Langit masih mendung, mengantarkan para pekerja sif malam yang sebagian besar berangkat dengan wajah sayu.


"Da Monik, Bye Anya..." Pamit Yessi dan Putri di tikungan jalan setelah kami ceklok.


"Okke.." Jawab kami kompak.


"Lu udah ngantuk Nya?" Tanya Monik saat kami melewati musholla.


"Iya Mon, duh kurang tidur gue, tadi sore kak Arya telfon lama banget." Keluh ku dengan wajah memelas.


"Diihh. Gaya lu. Yang pacaran siapa? Kok sekarang ngeluh gitu. Bye sayang. Muach. Lebay." Cibir Monik dengan meniru ucapan dan gerakan ku ketika bertelfon ria tadi sore.


"Hahaha.....nguping lu? Gak sopan." Tukas ku berpura-pura kesal.


"Heh Anya Geraldine versi remaja..! Gue gak nguping ya, tapi emang kedengeran jelas. Lu telfon di balkon, nah gue lagi jemur cucian di samping lu. Amnesia lu?" Sahut Monik kesal.


"Hahaha... Iya iya sorry..maaf..." Ucapku lirih seraya tersenyum tipis padanya.


"Okke, gue duluan ya.." Ujar Monik sembari melangkah lebih cepat meninggalkanku.


Monik berlari, sementara aku hanya berjalan pelan. Berharap semoga malam ini cepat berakhir, semoga gak masuk angin, semoga line sembilan aman, dan semoga-semoga lainnya.


Masuk loker, menaruh tas, lalu memakai masker, topi, dan juga sepatu khusus dalam ruang packing.


Mengangguk sekilas ketika melewati petugas jaga kunci, namun tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Ku lihat jam kerja masih kurang sepuluh menit lagi.


Ah, sesekali terlambat gak apa-apa kali ya. Batinku.


Aku melangkah cepat menuju toilet, bersamaan dengan bunyi beberapa langkah yang berlarian keluar ruang packing. Pergantian shift sudah berlangsung di dalam sana.

__ADS_1


Yasudahlah ke toilet sebentar, daripada nanti baru masuk terus izin ke toilet. Bisa di omelin kak Andin sampai pagi malahan nanti. Batinku.


Beberapa menit berlalu.


Aku keluar dari toilet. Sudah sepi. Cepat-cepat aku melangkah melewati petugas jaga kunci loker. Melewati petugas semprot alkohol dan hand sanitizer.


Namun langkah ku terhenti ketika melewati petugas yang memeriksa kelengkapan atribut shift kami.


"Kenapa celana kamu pakai bet merah? Ini waktunya bet biru..." Ucapan petugas ini bagai petir yang menyambarku. Membuatku langsung tersentak kaget, kemudian melihat warna bet pada atasan serta celana yang ku pakai.


"Astaghfirullah. Kok beda?" Gumamku dengan raut wajah cemas.


"Namamu siapa? Bagian apa? Nih isi data kemudian kembali pulang sana..!" Seru si petugas sembari memberiku secarik kertas beserta pena nya.


"Iya kak...." Sahut ku lirih. "Kak gak ada hukuman apa gitu kak, biar saya bisa tetap masuk?" Tanyaku kemudian.


"Gak ada. Udah cepat isi, terus pulang.!" Tukas si petugas dengan raut wajah sinis.


Astaga....mimpi apa gue semalam? Kenapa bisa salah bet begini sih? Haduh jadi pulang gini kan gue...Hiks.... Batinku.


Aku menghela napas panjang. Tak menyangka hal ini akan terjadi.


Dengan lesu aku melangkah keluar, pandangan ku kembali segar, tak mengantuk sama sekali.


"Kenapa dek? Kok lemas? Sakit?" Tanya ibu penjaga kunci loker.


"Gak apa-apa bu. Salah bet celana, jadi harus pulang." Jelasku lirih, bagai tak punya energi.


"Ah, harusnya tadi kamu kesini dulu sebelum masuk, ada bet cadangan kalau kamu mau." Ucap ibu penjaga loker.


"Bisa begitu bu?" Tanya ku penasaran.


"Bisa. Biasanya ada yang salah bet, langsung kesini tukar bet, tapi ya dedel sendiri jahit sendiri, hehe..." Jelas ibu penjaga loker.


"Yah...tapi sudah terlanjur ketahuan bu, sudah isi form salah atribut tadi di dalam." Ucapku kembali lesu.


"Yasudah pulang aja nak, tidur. Semangat ya..!" Ucap ibu penjaga kunci loker.


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku pasrah. Membuka lokerku, kemudian menyimpan sepatu serta masker dan topiku.


Aku melangkah keluar gedung N-2 sendirian. Sunyi. Sepi. Hanya ada satu penjual yang masih buka ketika aku melewati area kantin.


Beberapa menit kemudian aku telah keluar gerbang pabrik. Melewati area penitipan motor, melewati beberapa warung yang masih buka, namun hanya di isi beberapa pemuda di dalamnya.


Aku berhenti sebentar. Berniat akan membeli beberapa makanan di seberang jalan. Sampai tiba-tiba.................


Sreeetttt. Klik.


Sebuah motor sport yang masih nampak baru dan kinclong berhenti tepat di depanku.


"Ayo naik." Seru si pengendara motor sembari melambaikan sebelah tangannya padaku.


Aku menoleh ke kiri, ke kanan, serta ke belakang tubuhku. Barangkali si pengendara melambaikan tangannya bukan padaku.


"Hahaha... cari siapa? Ayo cepetan naik..!" Seru si pengendara motor sambil tertawa meledek ku.


Aku tetap diam dalam posisiku. Tak bergerak barang secenti pun.


Akhirnya si pengendara membuka kaca helm dan juga masker wajahnya.


"What....?!?!?" Seru ku kaget bercampur heran. Tak menyangka dengan kehadirannya yang tiba-tiba muncul di depanku.


.


.


.


...----------------...


Hayooo coba tebak itu siapa???


Hihihiii........


Selamat berbuka puasa bagi anda yang menjalankannya...🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2