
Senin.
Hari yang di benci anak-anak sekolah karena harus mengakhiri masa liburannya.
Hari yang menyebalkan bagi para pekerja karena harus kembali menghadapi segudang pekerjaan yang menanti.
Namun hari senin menjadi tak begitu penting di mata para pedagang kecil, para pengarang buku & novel, juga para buruh tani karena bagi mereka setiap hari adalah hari kerja. Terus bekerja demi menafkahi keluarga. Tetap berjuang meski terik mentari serasa menguliti. Tetap bertahan walau badai menghadang.
"Nya, besok kita beli magicom kecil yuk, kita bisa masak nasi, nanti tinggal beli lauknya sesuai selera. Gimana menurut lu?" Ucap Kia sambil memakai seragamnya.
"Ide bagus tuh, gue setuju Ya." Aku memeluk boneka Ike, berguling dari kasur Kia ke kasurku.
"Hei gak usah beli, pakai aja punyaku. Nanti aku join sama Inda." Sahut Ike tanpa menoleh ke arahku.
"Ikeee.. baik bangetttt sih...." Seru Kia seraya menoel dagu Ike.
"Apasih Ya, jijay tau.." Keluh Ike sambil bergidik.
"Thanks ya Ik.. Tapi gue boleh dong ya nitip setrika seragam.. satu doang..." Ujarku sambil nyengir.
Bukk..!!
Ike menumpuk ku dengan bantal di dekatnya!
"Woe ngelunjak lu, dikasih hati minta jantung...." Gerutu Ike kesal, membuatku tertawa-tawa ke arahnya.
"Bercanda Ik..ya Allah Ike yang cantik dan baik hati kok marah beneran sih.." Ledekku pada Ike.
"Gila ya kalian, kok lebay barengan gini.." Ike menepis tanganku yang mengelus rambutnya.
Aku dan Kia tertawa-tawa melihat wajah kesal Ike. Entah kenapa itu sangat menghibur kami, juga mengingatkanku pada Fani adikku.
"Sarapan datang...!!" Seru Inda dan Ira bersamaan saat masuk ke kamar kami.
"Wah bubur ayam..." Aku mencium aroma lezat yang membuat cacing diperut berteriak senang.
"Hafal banget lu Nya.." Sahut Ira seraya membuka bungkusan bubur pertamanya.
"Ini traktiran siapa?" Tanya Ike.
"Bayar sendiri-sendiri lah, kemarin kan pada gajian..."Jawab Inda sembari memasukkan dompetnya ke dalam tas.
"Yaaahhh kirain ditraktir siapa gitu.. hehee.." Perkataan Ike membuat Ira, Kia dan Inda kompak melempar pandangan tajam.
"Huuuu..maunya..." Seru mereka kompak.
Ike nyengir menatap mereka.
"Ini nih sudah dikasih hati minta jantung." Ucapku datar, meniru ucapan Ike tadi.
"Woi Nya, itukan kata-kata gue tadi..!!" Sahut Ike kesal.
__ADS_1
"Bodo...Udah yuk sarapan.. sarapan.. I'm coming.." Ujarku mengabaikan Ike yang masih menggerutu kesal.
"Nya, temen lu si Gara-Gara itu kemana? Kok gak ada beritanya semingguan ini?" Kia tiba-tiba bertanya kepadaku saat aku mendekat duduk di sampingnya.
"Dia di luar negeri. Katanya sih kuliah, tapi gak tau juga dia ngapain di sana?" Jawabku cuek.
"Lu gak nanya? Gak chat atau telfon gitu?"
"Gak lah, ngapain? Cuma pernah VC sekali, ya dia lagi ribet tuh sama tumpukan buku."
"Hmmmmm begitu...." Kia manggut-manggut dengan pandangan serius ke arahku.
Terserah lu deh Ya mikir apaan. Bodo amat. Batinku.
Kemudian kami sarapan dengan tenang. Walau kemarin libur namun tak ada yang pulang kampung jadi kos tetap ramai.
.
.
.
Hari ini pertama kali aku akan masuk sif malam. Kata kak Andin aku harus bisa tidur siang selama enam sampai delapan jam agar saat bekerja nanti tidak mengantuk.
Tapi menurut kak Mela, yang paling penting sebelum berangkat kerja harus makan dulu biar fresh dan gak masuk angin.
Drrt..Drrrt
Ada dua chat masuk. Seperti biasa aku langsung membalasnya.
Hai juga. Gue baik. Nanti sif malam. Lu di sana gimana? Alhamdulillah...gue ikut seneng. Terakhir kata kak Selly dia nanyain Miko. Balasku.
Kak Arya : Hai Nya, Gue udah sampai rumah nih. Btw kalau kapan-kapan gue ke tempat kos lu boleh gak?
Hai juga kak. Boleh aja, tapi di luar kak. Cowok dilarang masuk ke dalam kos. Hehe. Balasku.
Aku terus ber-chatting ria dengan mereka berdua. Gara menceritakan kondisi kampusnya di sana. Beberapa teman baru, cuaca yang jauh berbeda, juga tak lupa ada banyak gadis cantik yang mengerjarnya dengan lebih agresif dibanding ketika di sini.
Haduh nih anak narsisnya gak ilang-ilang ya. Untung ganteng, jadi masih termaafkan lah sikap narsisnya itu. Awas aja kalau pulang dari sana mukanya makin jelek. Gue jadiin ojek online lu..Batinku.
Sementara kak Arya malah menceramahiku dengan beberapa nasihat. Jangan keluar malam sendiri lah, jangan jajan sembarangan lah, makan harus tepat waktu lah. Bla bla bla.
Duhh, ribet banget sih ngurusin hidup gue? Kayak emak-emak nawar sayur. Ayah dan ibu saja tak sedetail itu. Batinku.
Entah kenapa aku agak risih ketika kak Arya menyuruhku begini dan begitu. Aku menaruh ponsel ke atas meja, lalu bersiap untuk tidur.
.
.
.
__ADS_1
"Nya..Anya..Bangun Nya.. udah jam sembilan lewat nih..." Kia menggoyang-goyangkan lenganku. Selepas isya' tadi aku tidur kembali dan berpesan pada Kia agar membangunkanku jam sembilan tepat.
"Iya..." Jawabku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Buruan Nyaaaa.. ini udah hampir setengah sepuluh..!" Teriak Kia geregetan, melihatku yang masih setengah sadar.
"Iya iya gue bangun..." Aku berjalan dengan malas ke kamar mandi. Kulihat Monik sudah memakai kaoskaki dan sekarang bersiap memakai sepatunya.
"Nya gue duluan yaa..!! Horor line gue nanti kalau gue telat...!!!" Monik berteriak kemudian berlalu tanpa menunggu jawabanku dari dalam kamar mandi.
Aku berganti baju seragam dengan cepat. Keluar lalu berlari ke kamar, memakai bedak dan lipgloss, juga kerudung instan warna merah biar lebih semangat.
"Seragam rapi, wangi, bet oke, benar. ID Card, ponsel, dompet, dan mukena. Oke, gue berangkat dulu Ya. Assalamu'alaikum." Aku melangkah keluar dengan sedikit tergesa-gesa.
Aku menuruni tangga dengan melangkahi dua anak tangga sekaligus. Ini pukul sembilan lewat tiga puluh lima menit. Bisa telat jika berjalan kaki memakan waktu tujuh belas menit, belum antri ceklok dan perjalanan dari tempat ceklok ke Noodle dua.
Aduh..gimana nih... masak baru pertama masuk malam sudah telat.. ya Allah tolongin Anya... Batinku.
"Ayo Nyaa.. semangat.. semangatt Nya..!!" Teriak Ike, Inda, dan Ira bersamaan dari pinggir bundaran.
Aku tersentak, lalu reflek menoleh ke arah mereka. Aku lantas tersenyum, baru menyadari kalau ada mereka di sana.
Aku mengangkat ibu jari ke arah mereka. Tanda isyarat 'Thanks guys udah kasih semangat buatku'.
Mereka balas mengangkat ibu jari mereka ke arahku sambil tersenyum lebar. Aku melanjutkan langkahku, ada beberapa orang yang juga berjalan cepat sepertiku.
Ah ternyata bukan cuma gue yang hampir telat. Batinku.
"Hai Nya. Mau bareng gak?" Sapa seseorang dengan motor matic merah di depan dealer tempat Hilda bekerja. Karena aku tak menjawab akhirnya dia membuka kaca helm miliknya sambil tersenyum tipis.
"Loh...kak Selly? Kok bisa ada di sini?" Tanyaku heran.
"Tadi abis beli pesenan Vero di dekat sini. Udah ayo naik." Tanpa protes aku langsung menaiki motornya.
Alhamdulillah makasih ya Allah do'aku tadi langsung terjawab. Batinku.
Kak Selly menurunkanku tepat di depan gerbang pabrik. Setelah berterima kasih aku langsung ngacir berlari ke dalam.
Setelah mengantri tujuh orang akhirnya aku bisa ceklok. Ceklok menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh satu menit. Aku langsung berjalan cepat menuju Noodle dua.
"Hai adik kecil...Semangat ya sif malam pertama kan?" Sapa kak Mela saat aku baru sampai dan meletakkan satu plastik besar minyak di samping kanan Yayuk.
"Hai juga kak.." Aku tersenyum lebar. Bersyukur aku bisa sampai di sini tanpa terlambat.
"Siapa mau malam pertama Mel?" Sahut bu Tuti yang baru datang.
"Duh ibu-ibu satu ini mesum juga ternyata. Ini sif malam pertama buat Anya buk, bukan malam pertama. Astaga..." Bu Tuti dan Yayuk tertawa mendengar obrolan mereka.
"Hai hai hai semuanya... Aku datangg...!!" Starla berlari membawa satu plastik besar garnis dan meletakkannya di samping kiri Yayuk.
"Nakk.. nak.. semangat-semangat, awas lu kalau nanti ngantuk!" Sahut kak Andini sembari membetulkan topi rambutnya.
__ADS_1
"Ayo Nya semangatt..!!!" Ujar Yayuk sebelum meninggalkanku.
Aku mulai fokus. Memasang minyak dengan penuh semangat dan hati-hati. Aku harus bisa. Aku harus tetap bertahan walau udara malam menyerang.