
Matahari kian meninggi pertanda hari semakin siang. Sif dua dimulai dari pukul dua siang sampai pukul sepuluh malam.
"Nya gue mau keluar cari makan, lu mau nitip gak? Atau ikut saja?" Tanya Monika ketika melewatiku di depan tv.
"Boleh deh, nitip aja ya, nih ibu gue mau telfon soalnya. Bentar gue ambilin uangnya dulu."
"Pakai uang gue dulu aja, gue buru-buru nih. Bye.. " Ucapnya dengan sedikit berlari ke arah tangga tanpa menunggu persetujuanku.
"Yee malah kabur nih anak.." Keluhku kemudian duduk kembali di depan tv.
Tak lama kemudian ibu menelfonku. Bertanya kabar dan mengatakan kalau adikku terus menerus bertanya kapan aku pulang bawa onde-onde. Aku membayangkan bagaimana kesalnya dia sewaktu aku pulang tak membawa pesanannya. Hah, lucu sekali.
"Nya siapa di kamar mandi kok lama banget?" Tanya Zumy dari dalam kamarnya yang terbuka setengah.
"Lala. Katanya dia sakit perut tadi." Jawabku sambil masih memegang ponselku.
"Nak kata ayahnya Kia kalian kerjanya gak bisa bareng ya?" Tanya ibu.
"Iya bu. Kia nonsif, masuknya pagi terus, kalau Anya masuknya tiga sif. Nanti masuk sif siang." Jelasku pada ibu. Kemudian aku menceritakan kalau kami menempati kos di lantai dua, dan ibu sangat senang mendengar ceritaku itu.
Aku menutup panggilan tepat saat Lala keluar dari kamar mandi. Wajahnya pucat dan sepertinya badannya gemetar.
"La perut lu masih sakit?"Tanyaku khawatir.
"Kayaknya gue masuk angin deh. Gue masuk ke kamar aja ya." Jawabnya seraya berjalan melewatiku dan langsung memasuki kamarnya.
Aku mengikuti Lala masuk ke kamarnya. Lebar kamar Lala kira-kira dua meter setengah, memanjang dengan tiga buah kasur busa berjajar dan tiga almari di depan masing-masing kasur. Cukup pengap karena tak ada jendela di kamar ini.
"May kerokin gue dong.." Lala menepuk-nepuk kaki may yang tidur di sebelahnya.
"Gue kerokin mau gak? Kayaknya May nyenyak banget tuh tidurnya." Ucapku seraya masuk ke kamarnya.
"Boleh deh. Bentar gue ambil lotion dulu." Ucap Lala kemudian mengambil uang logam dan mencari lotion di laci almarinya.
"Pakai balsem saja atau minyak kayu putih lebih mantap La, enak hangat di kulit."
"Hmm bener juga sih tapi gue gak punya gimana dong."
"Bentar gue ambilin punya Kia ya." Aku melipir ke kamarku mengambil minyak kayu putih lalu kembali ke kamar Lala.
Lala sudah tengkurap tanpa kaos dan bra saat aku masuk ke kamarnya. Aku mematikan kipas angin lalu mulai mengerokinya perlahan dari bahu ke samping.
"Lu sering ngerokin ya Nya? Enak banget." Komentar Lala.
"Ya gitu deh. Tiap kali ibu atau ayah masuk angin ya aku yang kerokin. By the way, lu udah berapa lama di bumbu?"
"Baru dua minggu, ini sif malam pertama gue. udah tiga malam tapi masih aja masuk angin tiap pulang kerja." Keluh Lala.
__ADS_1
Sif malam kenapa terdengar menyeramkan begitu ya? Apa nanti kalau aku sif malam juga bakal masuk angin terus seperti Lala? Tapi May biasa saja, malah tidur dari tadi pagi. Batinku.
Kami terus mengobrol sampai aku selesai mengeroki Lala. Aku menawarinya untuk membelikan teh hangat tapi rupanya dia sudah membuatnya sendiri sedari pagi. Kulihat di pojok kamarnya ada magicom kecil dan teko listrik. Mungkin dia merebus air untuk membuat teh hangat dari teko listrik itu.
"Thanks ya Nya." Ucap Lala sambil memakai kembali kaosnya lalu bersiap untuk tidur lagi.
"Sama-sama. Santai aja, siapa tahu pas giliran gue sif malam nanti gantian gue yang ngerepotin lu."
Lala hanya tersenyum simpul mendengar ucapanku.
"Nyaaa... Lu di mana? Nasi datang...!!" Teriak Monika dari ruang tv.
"Gue di sini Mon.." Ucapku seraya keluar dari kamar Lala.
"Ngapain lu di kamar Lala- Po?" Tanya Monika.
"Lu kira Teletubbies.. Dasar.." Aku mengikuti Monika yang terkikik geli masuk ke kamarnya. Dia mengambil dua sendok bersih lalu meletakkan bungkusan makanan di hadapanku.
"Gue tadi beli pecel tumpang. Lu gak ada alergi sama kacang kan?" Tanya Monika memastikan.
"Gak. Santai aja." Jawabku kemudian mulai membuka bungkusan dan berdo'a sebelum makan.
Kami makan dalam diam. Sesekali kulihat Monik membalas chat di ponselnya.
"Guys udah setengah satu nih. Gue mandi duluan yaa.." Teriak Putri dari ruang tv.
"Kalian biasa gitu ya?" Tanyaku heran.
"Biasa apa? Teriak apa antri?" Tanya balik Monik.
"Saling mengingatkan sambil teriak.." Ucapku sambil tersenyum simpul.
"Iya. Soalnya sama-sama sif B. Jadi biar gak ada yang terlambat bangun atau berangkat kerja nanti." Jelas Monik sambil membersihkan bekas makannya.
"Sip. Gue suka gaya kalian. Kalau gitu gue mandi di kamar mandi bawah aja ya biar nanti selesainya bareng." Ucapku sambil membereskan bekas makanku lalu membuang sampah plastiknya ke tong sampah di dekat pintu kamar Monik.
"Oke." Jawab Monik singkat.
Aku masuk ke kamarku, mengambil handuk, baju ganti, juga sabun mandi. Turun ke bawah lalu bersiap untuk mandi.
.
.
.
Kami berangkat pukul satu lebih seperempat. Aku berjalan kaki bersama Monika dan Putri, sementara Zumy naik motor, katanya dia menjemput temannya yang mengekos di RT.10.
__ADS_1
Sampai di gerbang pabrik kulihat antrian ceklok sudah memanjang. Aku berjalan di belakang Monika lalu ikut mengantri di mesin yang antriannya paling sedikit.
"Elu line berapa Nya?" Tanya Monik saat kami sama-sama berjalan ke arah N-2.
"Line sembilan. Lu line berapa?"
"Gue line empat belas." Jawab Monika agak lesu.
Kami masuk bersama ke N-2, meletakkan tas di loker lalu memakai masker dan penutup kepala seperti topi yang di pakai koki, namun ini menutupi seluruh rambut kami.
Memasuki area Packing kami di sambut dengan hand sanitizer, lalu seseorang yang bertugas memeriksa kelengkapan atribut kami termasuk warna bet yang harus kami pakai pada hari ini.
"Halo adik kecil..." Sapa kak Mela saat aku sampai di depan bumbu mesin nomor dua puluh tujuh.
"Halo juga kak.." Balasku singkat. Aku hanya memperhatikan mereka. Tak tahu harus melakukan apa di awal pergantian sif seperti ini.
"Heiii ada anak baru ya? Ayo dek ambil bumbu dulu di sana.." Teriak seseorang yang baru datang sambil menunjuk tumpukan bumbu di plastik besar yang ada di ujung tembok perbatasan gudang dan lurus dengan line delapan.
"Ambil berapa kak?" Tanyaku mulai melangkah dari tempatku berdiri.
"Satu aja dek.." Teriaknya lantang beradu dengan kebisingan suara mesin-mesin packing.
Aku mengambil satu plastik besar. Kulihat Feni yang baru datang pun ikut mengambil bumbu di sampingku.
"Ramai banget ya kalau pergantian sif gini." Bisiknya pelan.
"Iya, semoga kakak-kakaknya gak galak ya.." Balasku ikut berbisik dan Feni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Namanya siapa dek?" Tanya kakak senior yang menyuruhku mengambil bumbu tadi.
"Anya Geraldine versi remaja ini An.." Sahut Friska diikuti tawa hampir semua penghuni mesin dua puluh tujuh.
Aku ikut tersenyum mendengarnya. Setidaknya mereka ramah, tak ada yang ketus padaku.
"Lo ada anak baru lagi ya.. baru masuk apa dari kemarin dek?" Tanya lagi seseorang yang baru masuk dengan membawa satu plastik besar minyak.
"Baru masuk kemarin bu Tuti, jangan galak-galak ya, biar dia kerasan di sini." Kali ini Mela yang menyahuti dan bu Tuti tadi cuma tertawa lalu berbalik menata minyak yang di bawanya ke dalam cekungan konveyor di depan Friska.
"Yang galak tuh kak Andini Nya. Cekker yang nyuruh lu ngambil bumbu tadi tuh." Bisik Yayuk di dekatku, membuatku terkesiap dan langsung melirik ke arah kak Andini yang tengah mengobrol dengan kak Lani.
Ting..!!
Gawat. Pandangan mataku dan kak Andini sekontak!
Tiba-tiba kak Andini menghampiriku. Aku mematung cemas sedangkan Yayuk langsung terdiam sambil tetap fokus memasang minyak di hadapannya.
Apa kak Andini mendengar kata-kata Yayuk barusan? Apa dia akan marah?? Batinku.
__ADS_1