Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
58. Bukan Mami.


__ADS_3

Aku berdiri mematung di antara ranjang ibu dan sebuah meja di samping kanan pintu. Pikiran ku melayang kemana-mana memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Di depan ku, Gara masih menangis sesenggukan di pelukan ibu. Dan kini ibu juga ikut menitikkan air matanya sembari mengelus punggung kekar Gara.


Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ibu adalah ibu kandung Gara? Tapi kenapa ibu atau ayah tak pernah menceritakan apapun? Apakah ayah tidak mengetahui hal ini? Batinku.


Aku mendekat, meski dengan menahan getar kegundahan dalam dada. Aku melangkah pelan, meski tulang-tulang di kaki ku terasa sungguh berat untuk di gerakkan.


Aku terdiam di belakang Gara. Lidah ku kelu, tak sanggup mengeluarkan kata-kata ketika melihat pandangan sayang ibu terhadap lelaki di depannya.


"Nak, sudah ya...bangun, kamu laki-laki, harus kuat demi keluargamu." Ucap ibu pelan dan hati-hati, hingga membuat Gara perlahan mendongak serta menghapus air matanya.


"Maaf...maafin Gala mi..." Ujar Gara sedikit serak. Ia masih berusaha menghapus sisa lelehan air matanya di pipi dan dagunya menggunakan punggung tangannya.


Aku menyambar tissu di atas meja, kemudian menyodorkannya ke hadapan Gara.


Gara mengambil tissu yang ku sodorkan, lalu memandangku sebentar sembari mengedipkan pelan kelopak matanya. Seolah isyarat tanda 'Terima kasih' yang entah sejak kapan bisa kumengerti maksudnya.


Aku tetap diam. Menunggu mereka meredakan emosinya. Menanti penjelasan mereka. Mengawasi setiap gerakan dan kata-kata mereka yang penuh misteri.


"Gala sudah besar ya. Tambah tinggi, tambah ganteng. Gimana? Sudah kuat gendong mami belum? Hmm?" Ujar ibu sembari mengusap air matanya yang kembali terjatuh deras.


Gara tersenyum, lalu menyeret kursi di sebelah kanannya agar merapat dekat ke ranjang ibu. "Iya dong mi, Gala gak mau ngerepotin mami lagi. Mami mau kemana? Mau Gala gendong?" Ucapnya sembari duduk dan tetap condong ke arah ibu.


Aku mendekat, berdiri tepat di samping ibu dan di hadapan Gara.


Ibu hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Gara. Beliau menarik tengan ku, lalu mengelusnya pelan.


"Kakak pasti bingung kan? Kenapa anak nakal ini manggil ibu kamu mami?" Tanya ibu. Aku hanya mengangguk, sedangkan Gara tersenyum ke arah ibu.


"Sebenarnya...ibu adalah pengasuh Gala sewaktu kecil. Mereka semua memanggil ibu bu Ami, tapi karena Gala masih kecil, dia belum bisa dengan jelas memanggil ibu, jadi cuma dia di sana yang memanggil Mami. Dia kesepian, jadi ibu menyayanginya seperti putra ibu sendiri. Ibu berhenti, karena nenekmu meninggal dan kamu saat itu masih di dalam perut ibu." Jelas ibu panjang lebar.


Aku mengerjab dua kali, kemudian menghela napas panjang yang cukup melegakan hati dan jantung ku.


"Mami kemana saja? Setelah mami pergi, mama juga pergi... hanya kak Vero yang terus datang, papa hanya melihat Gala dari jauh.." Keluh Gara sembari merunduk, membuat ku merasa iba sekaligus prihatin dengan nasib masa kecilnya.


"Mami pindah ke kota J mengikuti ayahnya Anya nak... Maafin mami ya..." Ujar ibuku seraya menyeka kembali sudut matanya.


Hati ku sesak, entah kenapa aku bisa membayangkan bagaimana seorang anak kecil yang masih haus kasih sayang harus merasakan pengabaian dari kedua orang tuanya.


Anak yang menjadi anugerah bagi sebuah keluarga, malah menjadikannya miskin akan perhatian. Anak yang hanya ingin di peluk dan di manja, malah berdiri diam melihat pertengkaran orang tuanya.


Ternyata, di balik sikap sinis dan tak mau mengalah darinya adalah bentuk dari tameng untuk menyembunyikan kesendiriannya selama ini.


"Kak, bisa minta tolong kupaskan apel merah itu?" Ujar ibu sembari menunjuk sekeranjang buah-buahan di atas meja.


"Ia bu..." Aku beranjak dari sisi ibu, kemudian duduk di sofa.


Aku mengupas apel merah sambil sesekali melihat ibu yang tersenyum dan tertawa bertukar cerita dengan Gara.

__ADS_1


Aku mengiris apel merah ini menjadi potongan-potongan kecil, meletakkannya di atas piring, memberi garpu, kemudian kuberikan pada ibu.


Ibu hanya memakan dua potong, selebihnya ia menyuapi Gara dan aku beegantian dengan berlinang air mata bahagia.


Drrrtt... Drrrtt


Ponsel Gara berdering. Ia mengangkatnya sebentar, kemudian pamit pada ibu untuk keluar menyelesaikan urusannya.


"Kakak sudah tau siapa sebenarnya Gala?" Tanya ibu beberapa menit setelah kepergian Gara.


"Sudah bu, baru kemarin ketika kak Vero sembuh, sebelumnya dia hanya mengaku kadi sopir pribadi salah satu pengusaha di kota G." Jawab ku sembari merapikan selimut ibu.


"Ya, dia adalah pewaris tahta kerajaan bisnis HG Corp. Hati-hati ya kak, jangan sampai menyinggung keluarganya." Ucap ibu.


"Iya bu..." Jawab ku singkat, bertepatan dengan dua perawat yang masuk ke kamar ibu.


Perawat satu mengantar makanan, sementara perawat dua mengecek kondisi ibu.


"Kondisi ibu semakin bagus ya... Kalau begini besok ibu sudah boleh istirahat di rumah." Ucap perawat dua sembari menulis laporan kesehatan ibu pada kertas yang ia bawa.


"Iya, makasih ya sus..." Ujar ibu seraya tersenyum tipis pada para perawat.


Aku mulai menyuapi ibu ketika para perawat meninggalkan kami. Ibu terlihat bahagia, ia kini tak nampak pucat lagi karena terus tersenyum ke arah ku.


"Ibu kenapa? Kenapa lihatin Anya begitu?" Aku mengambilkan ibu minum setelah makanannya habis.


"Kami?" Tanya ku tak mengerti.


"Ada dua pengasuh dan dua pelayan yang dulu ditugaskan khusus menemani Gala. Mama dan papa nya kerja, jadi dia selalu merasa kesepian." Jelas ibu.


"Kak Vero? Kenapa kak Vero malah tak mengenali ibu?" Tanya ku penasaran.


"Non Vero saat itu di asuh kakek-neneknya di luar negeri. Sudah ya, kakak istirahat saja sini, habis shift malam kakak pasti sudah mengantuk kan?" Ibu menggeser tubuhnya agar aku bisa berbaring di sebelahnya.


"Anya tidur di sofa saja bu.. lebih nyaman, kalau di sini nanti bisa-bisa nyenggol lengan ibu. Anya kalau tidur kan suka muter, hihihi..." Ibu ikut tertawa mendengar kata-kataku.


"Yasudah sana. Mungkin ayahmu sore nanti baru bisa kesini."


Aku mulai merebahkan badanku di kursi panjang, dan benar kata ibu, tak lama kemudian aku telah sampai di alam mimpi.


.


.


.


......................


Di sebuah kamar di hotel bintang tiga di kota J.

__ADS_1


Empat orang pria berjas hitan dan dua orang wanita sexy tengah berkutat dengan beberapa dokumen penting kepemilikan di atas meja bulat.


Mereka nampak sangat serius mendebatkan sebuah gagasan selama hampir dua jam, pihak pembeli dan penjual selalu tawar menawar sampai menemui kesepakatan titik temu harga.


Tak lama kemudian mereja semua saling berjabat tangan, lalu berfoto tanda kerja sama mereka telah di mulai.


"Tuan Kris, sebagai hadiah dari kami, anda bisa memilih salah satu dari dua wanita ini untuk menemani anda selama berada di kota ini." Ucap pak Wirawan sembari mencolek lengan wanita di sampingnya.


"Benar tuan, kami siap melayani anda dua puluh empat jam." Ujar wanita berpakaian ketat dan cukup terbuka yang ada di samping kanan pak Wirawan dengan suara manja.


"Maaf pak sepertinya saat ini saya belum bisa menerima tawaran pak Wirawan. Saya masih ada beberapa kesibukan lain dan sore nanti saya harus kembali ke kota G." Ucap Gara sopan.


"Kami siap di manapun anda mau tuan." Sahut wanita di sebelah kiri pak Wirawan sembari mengerling, menggoda Gara dengan menggigit bibir bawahnya.


"Atau tuan mau di sini? Di luar nampak sangat panas tuan, kami bisa mendinginkan pikiran tuan serta membuat tubuh tuan lebih rilex." Ujar wanita di sebelah kanan pak Wirawan. Ia sampai membuka dua kancing kemeja atasnya kemudian mengipasi dadanya dengan dokumen yang tadi di bacanya.


"Sekali lagi saya mohon maaf. Mungkin lain kali jika ada kesempatan." Ujar Gara sopan. Ia kemudian berdiri dan berpamitan dengan mereka semua.


Gara melenggang pergi, bersama supir yang merangkap menjadi bodyguard yang mengikutinya masuk ke hotel tadi.


"Anda yakin tuan jika mereka tak akan membuat ulah lagi setelah ini?" Tanya sang bodyguard ketika mereka telah keluar dari area hotel.


"Hmmmm" Jawab Gara ambigu. Pikirannya kacau. Untung lah ia membawa serta bodyguard nya untuk masuk, jika tidak, pasti mereka bisa menjebak Gara dengan mudah.


"Wanita di sebelah kanan pak Wirawan dadanya cukup besar tuan, tapi saya juga melihat adanya sebuah chip di balik bra yang dia pakai, itu mungkin bisa menyadap pembicaraan kita di dalam tadi tuan.


"Huh. Matamu ternyata cukup jeli juga ya melihat yang besar-besar." Tukas Gara sembari mengecek ponselnya.


"Maafkan saya tuan, saya hanya menjalankan tugas, bukan bermaksud mengintip." Kilah sang bodyguard agak malu.


"It's oke. Gak masalah. Makasih ya.." Ujar Gara, kemudian mereka meluncur membelah padatnya ibukota.


Dengan ini aset kak Vero aman. Aku bisa memulai kembali bisnis hotel yang sempat terbengkalai. Juga memenuhi janji ku pada mami. Batin Gara.


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Sampai di sini dulu ya reader sayang....


Hmmm kira+kira apa janji Gara pada sang mami?


Yuk terus like, fav, komen, dan vote karya ini yaa biar aku makin semangat nulis kelanjutannya....


Terima kasih atas dukungan kalian semua.. 🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2