Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
41. Dia.....


__ADS_3

Aku mengerjap dua kali demi meyakinkan pandanganku. Melihat lagi sosok di depanku dari ujung kaki ke ujung rambut.


"Kaget ya? Atau terpesona?" Suara renyahnya memecah keterkejutan ku.


Lelaki di depanku tersenyum kecil, lalu berjalan pelan lebih dekat ke arahku. Seperti melihat slow motion. Langkahnya tegap seperti dulu, gaya berjalannya masih tetap sama, dan senyum kecilnya seringkali membuat kaum hawa terpana.


Dulu aku selalu tertawa ketika membahas satu soal matematika atau fisika bersamanya. Dulu dia pernah melindungi kepalaku dari lemparan bola volly. Dulu dia pernah memelukku ketika sepulang sekolah badanku basah kuyup akibat di bully kakak kelas.


Kenangan-kenangan itu berputar di memori otakku. Dan sekarang? Ah, andai boleh, ingin sekali aku berlari dan memeluknya. Mencium aroma parfum yang dulu sering ku rindukan.


Astaghfirullah. Sadar Nya? Lu ngayal kejauhan. Sadar woiii... Batinku.


"Kak Arya?" Akhirnya aku bisa bersuara, mengembalikan kewarasan dan kesadaran ku.


"Haha, gue kira lu udah lupa sama wajah gue." Ucapnya sembari tersenyum lembut kepadaku.


"Gak lah, gue masih ingat kok. Tuh lesung pipi yang selalu bikin teman-teman sekelas gue teriak-teriak gak jelas kalau lihat kan..." Kata-kataku membuatnya tertawa lebar. Huh, seneng ya dipuja cewek-cewek?


"Gue gak inget tuh. Gue ingetnya malah Pertidaksamaan Linier Dua Variabel yang dulu sempat bikin lu stres" Dalam sekejap aku langsung berubah masam mendengar kata-katanya. Dia tak berubah, masih sama seperti dulu, jahil.


"Apaan sih kak.." Aku jadi sedikit kesal bercampur malu mengingatnya.


Saat itu aku begitu kacau karena dua hari tak bisa memahami satu bab matematika. Kak Arya yang melihatku menangis di pojok perpus kemudian menyapaku dan akhirnya mengajariku trik cepat bagaimana memahami sekaligus cara menyelesaikan masalah metematika itu.


"Ka ka ka Hu a, iga..." Nafisa berceloteh menarik lenganku agar melihatnya lagi.


"Hai cantik...namanya siapa? Anak siapa Nya? Lucu banget...." Kak Arya mencoba menyapa Nafisa.


"Namaku Nafisa om.. haha. Ini anaknya ibu kos. Btw kakak kok bisa ada di sini? Naik apa?" Aku melihat ke belakang kak Arya, ada sebuah motor yang terparkir di sebelah pohon palem di samping kiri trotoar.


"Kok om sih? Kakak aja ya.. Adek cantik udah sarapan belum?." Kak Arya tak merespon pertanyaanku, tapi malah menggoda Nafisa.


"Anya.. ini siapa? Yuk Nafisa sama ibu..." Ibu kos muncul di belakangku dan langsung bertanya.


"I-ini kak Arya bu, kakak kelas Anya waktu masih sekolah." Jawabku dengan sedikit gelisah.


Semoga bu kos gak nanya-nanya lagi. Batinku.


"Oh begitu, yasudah ibu tinggal dulu ya.. Nya di samping fotokopi depan ada kafe tuh, ajakin ngopi sana..." Ibu kos berlalu sambil menggendong Nafisa setelah mengatakan hal itu.


''Iya bu...." Ujarku lirih. Kini aku semakin gusar, bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan kak Arya.


"Kenapa Nya? Kok gugup? Kayak belum pernah nerima tamu aja..." Aku terdiam mendengar ucapan kak Arya. Meliriknya sekilas kemudian berjalan ke selatan menjauhinya. "Hei, jadi bener gue yang pertama datang kesini?" Kak Arya tertawa kemudian menyusulku.


"Bodo..." Ucapku malas.

__ADS_1


"Hahaha... Btw lu makin cakep tau Nya, tadi gue hampir gak ngenalin lu. Gue nunggu setengah jam tadi di depan toko kayak orang gila." Aku tersenyum tipis mendengar keluhan kak Arya.


"Serius setengah jam? Kenapa gak langsung ngabarin aja sih?" Ujarku sembari masuk ke dalam kafe diikuti kak Arya.


Aku memilih duduk di pojok kafe mengahadap ke arah jendela luar, terasa sejuk dan memanjakan mata dengan beberapa tanaman hijau di depan sana.


"Gue kan mau kasih kejutan buat lu." Ucapnya lirih, sembari duduk di depanku.


"Oh jadi kakak sama si Kia kerjasama nih ceritanya...bagus...!!." Sahutku sedikit kesal. Sementara kak Arya hanya tertawa tanpa suara menanggapiku.


Awas lu barbie lokal. Gila. Kejutan lu bener-bener gak lucu. Batinku.


"Mau pesan apa kak?" Tanya seorang waiters yang menghampiri meja kami.


"Jus jambu satu, coffe latte satu, Banana crispy satu ya.." Aku menaikkan sudut bibirku, melirik kak Arya dari balik bulu mataku. So sweet. Ternyata kak Arya masih mengingat minuman favoritku.


"Gimana? Lu beneran terkejut kan? Hehe." Kak Arya menaik-naikkan alisnya ke arahku sambil melebarkan senyumannya. Sumpah ya, gaya model begini nih yang bikin kadar terpesona kaum hawa meningkat dua kali lipat. Astaga.


"Udah ah gak penting." Aku bersikap masa bodoh, memasang perisai anti terpesona di depannya.


Beberapa menit kemudian minuman kami datang, dan kami pun terlibat obrolan seru seputar masa-masa sekolah dulu.


"Gue putus sama dia karena gak cocok Nya, bukan karena elu. Dia itu emosian sekali, kasar, harus diturutin apa maunya. Ups, sorry gue malah jadi curhat, haha..." Ujar kak Arya kemudian meminum sisa Coffe latte nya.


Mereka pernah mengunciku di gudang, mengempesi ban sepedaku, dan yang paling parah, membuatku basah kuyup di toilet sampai hampir pingsan karena kedinginan.


Saat itu kak Arya yang kembali ke sekolah karena akan mengikuti ekskul bela diri mendengarku menggedor pintu toilet. Dia mendobraknya kemudian reflek memelukku yang sudah memucat kedinginan.


Dia mau mengantarku pulang, tapi kutolak. Aku malah memintanya menghubungi Aini saja untuk menjemput ku.


"Iya, iya, maaf. Karena itu gue kesini Nya. Gue mau minta maaf secara langsung sama elu. Dari gue mulai try out sampai ujian akhir sampai wisuda, lu menghindari gue terus. Jadi gue ngerasa bersalah banget, gara-gara gue lu jadi bahan bully an. Lu mau kan maafin gue?" Kak Arya menatap dalam ke arahku sambil mencoba mengambil telapak tanganku untuk di genggamnya.


"Aku udah maafin kakak dari dulu kok.. santai aja. Aku menghindar karena.. karena gak mau kalau pacar kakak salah paham lagi aja..." Ucapku lirih, sembari melepaskan diri dari genggaman tangan kak Arya.


"Good girl. Gadis baik. Lu tenang aja, mantan gue kuliah di luar negeri, gue jamin dia ataupun teman-temannya gak akan bisa bully lu lagi." Aku tersenyum simpul mendengar ucapan kak Arya.


"Fine. Kita tetap teman." Kuputuskan untuk ambil jarak aman dengannya.


"Teman? Gak bisa naik level dikit Nya?" Tanya kak Arya sambil menaikkan alisnya mamandangku.


"Bisa sih, tapi tunggu nanti harga cabai turun dulu, hihihi..."


"Lu kira mie goreng level pedas, kalau mau naik level berarti nambah cabai sekilo baru jadi level setan?" Sahut kak Arya kesal seraya memandangku tajam.


"Hahaha... Baru ketemu kak... jangan bahas naik level dulu lah..." Ujarku dengan sedikit berdebar.

__ADS_1


"Oke. Sepertinya gue kurang usaha nih." Kak Arya mengangkat tangan kanannya memanggil waiters. Bertanya total pesanan kami kemudian membayarnya.


"Kakak langsung mau pulang atau ke tempat kerja?" Tanyaku setelah kami sampai di depan toko ibu kos.


"Gue ke tempat kerja aja Nya, mau survei lokasi sama cari kos juga." Jawab kak Arya sembari memakai helm nya.


"Jauh kak?" Tanyaku penasaran.


"Dekat, cuma dua jam perjalanan naik motor. Kenapa? Mau ikut?" Kak Arya tersenyum manis setelah mengatakan hal itu.


OMG..!! Jangan senyum gitu dong kak. Lesung pipi kakak itu gemesin tau.. Batinku.


"Gak lah, mau tidur aja, ngantuk kak." Kilahku seraya membuang pandanganku darinya.


"Yakin nih... Oke, gue balik dulu ya Nya. Assalamu'alaikum." Kak Arya menyalakan motornya kemudian berlalu dari hadapanku.


"Wa'alaikumsalam..." Jawabku lirih, masih memandang kepergian kak Arya walau motornya sudah tak terlihat lagi.


"Ciyyeee... pacarnya ya nak?" Ucapan pak kos membuatku terkesiap kaget. Reflek aku langsung menoleh ke arah beliau sambil tertawa canggung.


"Bukan pak...itu kakak kelas Anya waktu SMP. Mari pak..." Aku langsung kabur naik tangga ke atas, berlari masuk kamar, dan meminum segelas air putih untuk menenangkan debaran jantungku.


Ya Allah pak kos ngagetin banget tadi. Hampir jantungan gue. Batinku.


Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku belum tidur sama sekali sejak pulang kerja tadi. Jadi sekarang ku putuskan untuk merebahkan badan, dan bersiap tidur cantik di kasurku.


Aku mengatur alarm pukul satu siang. Membalas pesan ayah yang rutin menanyakan kabarku, juga Fani yang katanya terus bertanya kapan aku pulang.


Kangen ayah..kangen ibu..kangen Fani.... kalau di rumah tidur jam segini pasti di gangguin nih sama si Chibi Maruko Chan, hahaha. Batinku.


.


.


.


...-----------∆∆∆∆∆--------...


Terima kasih duhai para pembaca yang baik dan selalu semangat.


Semoga kalian semua tetap sehat yaa...jadi bisa terus pantengin tulisan aku😁😂


Jangan lupa like n favorit ya kawan-kawan...


Komen dan masukan juga aku tunggu loh biar makin semangat dan bisa memperbaiki kualitas cerita ini🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2