
Vita masuk ke ruang kerjanya dengan sedikit was-was. Pasalnya ia melihat pria yang menegurnya tadi baru saja keluar dari ruangan atasannya.
"Vita. Ke ruangan saya sebentar.'' Suara intercom tiba-tiba membuat Vita hampir terlonjak kaget.
Dengan perlahan ia menormalkan detak jantung nya, merapikan sedikit dandanannya, kemudian melangkah keluar menuju ke ruangan atasannya.
"Ia pak. Ada yang bapak perlukan lagi? Untuk meeting dengan pak Kris dan pak William nanti jam tiga sore di hotel KV." Ucap Vita dengan intonasi cukup tenang seperti biasanya.
"Tidak ada. Nanti kamu bisa ikut saya kan? Materi nanti tentang laporan siklus pertumbuhan keuangan cabang kita, saya rasa kamu lebih kompeten untuk menyampaikannya." Ujar pak Wisnu, atasan Vita.
"Bisa pak. Kalau begitu saya persiapkan berkas-berkanya terlebih dulu. Permisi." Vita langsung melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari pak Wisnu.
"Tunggu."
Vita berhenti, lalu menoleh ke arah pak Wisnu sebelum membuka handle pintu keluar.
"I-iya pak." Ucap Vita reflek tergagap.
Aduh..jangan ketahuan sekarang, please...gue masih mau kerja di sini. Batin Vita.
"Ganti rok kamu dengan yang lebih panjang atau pakai celana saja, jangan sampai kamu nanti di komplain asisten presdir kita." Ujar pak Wisnu datar tanpa menoleh ke arah Vita.
"Ba-baik pak." Jawab Vita dengan wajah cengo. Tak menyangka jika penampilan yang menurutnya sudah cukup sempurna, dinilai sang atasan akan menjadi komplain bagi asisten presdir muda mereka.
Astaga...ini mau meeting apa mau fashion show? Pakai dinilai segala. Lagipula itu asisten apa istri presdir sih?, Segala hal dikomentarin, di benerin, harus begini harus begitu. Huffff. Batin Vita.
Sementara itu di lobi hotel KV, beberapa awak media mengerubungi seorang wanita cantik yang baru saja turun dari mobil mewahnya.
Mengenakan high heels merah dua belas centimeter serta gaun ketat merah yang melekat di tubuh sexy nya, ia melangkah dengan begitu anggun dan percaya diri. Kacamata hitam tak lupa selalu bertengger di hidung mancung nya yang menawan.
Ia melenggang masuk ke hotel di tengah para bodyguard yang mengelilinginya, dan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan apapun yang di ajukan para wartawan padanya.
"Selamat datang nona Carla. Ini kunci kamar yang nona pesan." Ujar sang resepsionis dengan ramah menyambut wanita cantik tersebut.
"Thanks.." Balas sang wanita seraya mengambil kunci kamarnya.
"Mmm...nona, boleh saya minta foto sebentar?" Pinta resepsionis dengan ragu.
"Just one, okey." Jawab sang wanita dengan sedikit nada sedikit jengah.
Sang resepsionis dengan cepat mengambil satu foto dengan kamera ponselnya, kemudian mengucapkan terima kasih dengan mata berbinar bahagia.
Astaga...gue minder banget, nona Carla benar-benar cantik. Lebih cantik aslinya dibanding fotonya. Batin sang resepsionis hotel KV.
"Ekhemm...tolong rahasiakan nomor kamar nona Carla pada semua awak media." Ucap salah seorang bodyguard Carla dengan tegas, hingga membuyarkan tatapan terpesona sang resepsionis hotel.
"Baik tuan." Balas sang resepsionis dengan nada profesional. Ia bahkan tersenyum lebar sampai sang bodyguard menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
__ADS_1
"Jen, kenapa kita malah ke hotel ini sih? Males banget gue ketemu wartawan kayak tadi.." Keluh Carla seraya melemparkan tas mewahnya sembarangan.
"Sssttt...jangan keras-keras, ini perintah papa. Sebentar lagi ada presdir muda HG Corp yang akan meeting disini, jadi lu harus tampil maximal dan buat dia terpikat sama elu." Jawab Jena, sang asisten yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.
"Really? Presdir ganteng yang viral itu? Hmm papa emang the best, tau banget selera gue kayak gimana.." Ujar Carla seraya tersenyum senang.
"Tapi gimana dengan kak Hans?" Tanya Jena sedikit takut.
''Hans? Gampang lah itu bisa diatur, dia kan cinta mati sama gue. Kalau si presdir muda itu gagal gue dapetin, ya sama Hans juga ayo aja." Jawab Carla dengan senyum sinisnya.
"Serakah sekali...tapi emang kakak cantik sih, jadi wajar aja kalau nanti diperebutkan sama dua cowok ganteng dan superkaya. Wahhh pasti viral nih, bisa bikin popularitas kakak meningkat." Ujar Jena dengan mata berbinar.
"Nah itu lu udah pinter sekarang. Ayo bantu gue siap-siap. Kita buat presdir muda itu bertekuk lutut di hadapan gue. Hahaha." Ucap Carla dengan penuh percaya diri.
.
.
.
"Vita, Devi. Ingat peraturannya, jangan bicara jika pak Kris tidak bertanya, jangan centil, dan jangan berpakaian terlalu terbuka." Ucap pak Wisnu mengingatkan.
"Aduh om...ini Devi udah pakai celana sama blazer loh, masak masih dinilai terbuka?" Protes Devi yang merupakan keponakan pak Wisnu.
"Jangan panggil om, ingat harus profesional." Tukas pak Wisnu dengan raut kesal.
"Pak ini berkas yang bapak butuhkan, dan ini materi yang harus kita sampaikan." Ujar Vita sembari menyerahkan berkas ke tangan pak Wisnu dan juga Devi.
"Siap kak...." Ucap Devi antusias.
Sementara itu di dalam sebuah mobil sport warna hitam. Sang presdir terus mengamati kedatangan Carla. Ia menilai dengan jeli, sikap dan tampilan Carla serta asistennya yang cukup mirip.
"Pras kenapa Carla dan asistennya ini sedikit mirip?" Tanya sang presdir pada asistennya.
"Mirip lah, dia kan adik kandungnya." Jawab Pras datar tanpa menoleh, ia sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Pak Wisnu dan Willian sudah menunggu kita di restoran, jadi kapan kita turun?", Tanya sang presdir.
"Sebentar lagi. Kata kak Vero saat Carla masuk restoran, kita muncul dan buat dia terpesona sama lu, jika dia menyapa, lu pura-pura gak tahu siapa dia, oke?" Jelas Pras sembari menutup laptopnya.
"Okay. Kakak gue kayaknya emang cocok jadi sutradara dari pada bussinesswomen." Gumam sang presdir seraya tersenyum smirk.
"Siap? Carla udah jalan masuk ke resto yang kita tuju." Ujar Pras kemudian membuka pintu mobil.
Ia keluar, berputar kemudian membuka pintu sang presdir.
"Zaki, tetap di samping presdir kita dan mari kita mainkan drama ini. Hehe.." Ujar Pras pada salah satu pengawalnya.
__ADS_1
"Siap tuan." Jawab sang bodyguard sembari menyerahkan kacamata hitam pada sang presdir.
Sang presdir keluar, lalu melangkah perlahan diikuti asisten dan bodyguard nya.
Sayup-sayup terdengar kasak-kusuk para wanita yang memuji ketampanan sang presdir muda. Beberapa bahkan memotret dengan kamera ponsel masing-masing.
"Carla di meja kiri nomor tiga belas." Bisik sang asiten di sela perjalanan mereka.
Sang pengawal kemudian mambukakan pintu restoran. Dan sang presdir berjalan lurus dengan penuh wibawa, tanpa senyum juga tanpa menjawab sapaan dari waiters yang menyambut kedatangan mereka.
"Astaga...Kak itu presdir muda tampan sekali...." Ucap Jena tanpa sadar berdiri seraya memandang kagum pada sosok yang baru saja melewati pintu masuk restoran.
".........."
Carla tidak membalas. Ia sendiri tengah terpesona pada sosok sang presdir dan reflek sedikit menganga, juga memperhatikan dengan tatapan memuja tanpa berkedip ke arah dimana kini sang presdir berjalan bagai slow motion yang melewatinya.
Ya Tuhan dia benar-benar sempurna, cocok banget jadi pendamping hidup gue. Gue harus dapetin dia. Harus. Batin Carla.
"Tunggu.!" Seru Carla tiba-tiba, hingga membuat perhatian sebagian orang beralih ke arahnya.
"Ya. Kenapa nona?" Sang asisten presdir menoleh, lalu menyapa Carla. Sementara sang presdir tetap berjalan ke area dalam restoran yang memang di desain memiliki cukup privacy untuk bisa digunakan sebagai tempat meeting.
"Emmm....tidak... Emmm bisakah besok saya bertemu dengan presdir? Ada yang ingin saya sampaikan." Ujar Carla dengan begitu percaya diri.
"Maaf nona, presdir kami sangat sibuk. Jika ingin bertemu silahkan nona hubungi nomor sekertaris kantor kami." Jawab sang asisten dengan tegas.
"Anda tahu siapa saya? Saya Carla Cinciana, putri CEO PT. CJ Star, bagaimana?" Ujar Carla dengan nada sombong nya.
"Putri Mr. Smith? Baiklah....jika begitu saya akan sampaikan pada pak Kris terlebih dahulu, nanti kami akan menghubungi nona kembali." Ucap sang asisten dengan pura-pura terkejut seraya tersenyum smirk.
"Baiklah. Jen kasih kartu nama gue."
"Siap. Ini kak." Jena dengan sigap mengeluarkan kartu nama kakaknya kemudian menyerahkannya ke tangan sang asisten presdir.
"Kalau begitu, saya permisi..." Ujar sang asisten kemudian berbalik menyusul sang presdir.
"Kak..kakak yakin mau sama presdir tadi? Dingin begitu, nggak noleh ke kakak sama sekali loh tadi." Ucap Jena setelah melihat sang asisten presdir masuk ke area dalam restoran.
"Justru itu tantangannya Jen. Dia nggak melirik satu pun wanita di sini, jadi dia pasti akan jatuh ke tangan ku ketika melihat kecantikan dan kesempurnaan tubuh ku." Ujar Carla sembari tersenyum senang membayangkan semua ucapannya akan segera terjadi.
"Yah...baiklah...semoga berhasil kak..." Ucap Jena kemudian memanggil waiters dan mulai memesan makanannya.
.
.
.
__ADS_1