Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
69. Praduga Veronika


__ADS_3

POV Veronika.


Aku merasa heran, ketika mama muncul di balik pintu ruang rawat ibu Anya. Raut wajahnya masih sama seperti dulu, sedikit sinis namun tetap memaksa senyum pada ku.


Dulu, mama memang sangat memperhatikan ku juga pengasuh ku. Dulu, ia bahkan menolak pekerjaan yang banyak menyita waktu. Ia hanya mengambil job iklan atau brand ambassador produk kecantikan yang menghabiskan hanya sedikit waktunya.


Dulu, mama sangat lembut dan penyayang. Meski papa pulang larut, beliau tak pernah protes. Meski aku nakal di sekolah, beliau tak pernah memarahi ku. Beliau hanya memeluk dan menemani ku sebelum tidur, sembari berbicara dari hati ke hati tentang kenakalan ku, tentang apa yang tak boleh kulakukan lagi di sekolah. Beliau adalah idola ku, sosok ibu yang sempurna.


Namun, lima tahun setelah adik ku lahir, mama mulai berubah. Mama mulai menerima job-job dengan bayaran besar dan menyita waktunya untuk keluarga, bahkan adik ku ia serahkan sepenuhnya pada pengasuhnya.


Aku yang saat itu masuk sekolah menengah pertama memutuskan untuk ikut nenek.


Saat libur panjang sebelum masuk sekolah menengah atas aku pulang. Melepas rindu pada papa, mama, serta adik ku. Namun semuanya tak sama lagi.


Adik ku berusia sembilan tahun di asuh oleh tiga pengasuh sekaligus. Papa pulang larut malam, sedangkan mama baru pulang tiga hari kemudian.


Di hadapan ku mereka akur dan romantis, namun di belakang ku mereka ribut dan bertengkar tiada henti.


Setahun kemudian papa dan mama berpisah. Papa bilang mama berubah, dan ia tak sanggup lagi melihat mama mengabaikan keluarga dan lebih memilih karir model nya.


Saat di bangku kuliah, mama menemui ku. Mengatakan bahwa ia merindukan ku dan meminta ku agar mengikutinya. Aku menolak, karena saat itu nenek sakit dan sangat membutuhkan ku.


Selain itu, aku merasa papa benar. Mama berubah, mama tak lembut lagi seperti dulu. Wajah mama juga menjadi lebih sinis, dan sedikit pemaksa.


"Masuk saja sayang. Anggap rumah sendiri, oke?" Kata-kata mama membuyarkan lamunan ku. Kami sampai di apartemen mewah yang cukup besar. Mama masuk terlebih dahulu, duduk di sofa, kemudian memejamkan matanya sebentar.


"Ini apartemen mama? Pilihan yang bagus..." Ucap ku sembari memperhatikan isi apartemen mama. Interior dengan warna putih dan gold, lampu hias artistik, lampu gantung, juga beberapa ornamen pendukung yang cukup mahal menghiasi dinding sepanjang aku melangkahkan kaki ku.


"Of course. Kamu boleh kemari kapanpun sayang. Nanti mama kasih kuncinya." Ujar mama kemudian melangkah menuju dapur.


"Bi, tolong siapkan makanan."


"Baik, nyonya."

__ADS_1


"Mama merokok? Sejak kapan?" Tanya ku heran. Dulu, mama tak peenah menyentuh rokok, bahkan sangat menentang ketika papa merokok di rumah. Tapi sekarang?


"Iya sayang. Terkadang, rokok bisa sedikit mengurangi kadar stres mama. Oh iya itu kamar untuk mu, kamu boleh istirahat sekarang." Jawab mama enteng sembari mengepulkan asap rokok nya, dan sama sekali tak menatap ku.


Aku diam. Aku tahu mama berubah. Namun tak ku sangka akan sejauh ini.


"Mama udah nikah lagi kan? Gimana suami mama? Apa aku juga punya adik lagi?!" Tanya ku memancing.


"Ya. Mama memang menikah lagi. Suami mama baik, dia mengizinkan mama berkarir sampai sekarang. Tapi sayang kamu belum punya adik lagi, tapi suami mama punya dua putra yang cukup tampan." Mama tersenyum bangga ketika mengatakan ini.


Mama....apa mama bahagia? Kenapa mama bahkan tak menanyakan kabar Kris ataupun kabar perceraian ku? Batin ku.


"Oh iya, mama dengar kamu sempat depresi. Maafin mama ya sayang, mama gak bisa nemenin kamu karena pekerjaan mama tak bisa ditinggalkan, mama harus menyelesaikan kontrak mama dan baru bisa kesini sekarang." Mama mengelus bahu dan punggung ku. Ia juga sedikit berkaca-kaca meminta maaf pada ku.


"Mama......" Aku merebahkan kepala ku ke pangkuan mama, aku menangis, terisak sampai bahu iu terguncang. Aku rindu mama, rindu kehangatan mama, rindu belaian kasih sayang mama seperti dulu.


"Sudah sudah ayo bangun. Vero putri cantik mama tersayang pasti kuat. Ayo bangun, nanti gaun mama kotor." Ucap mama seraya memegang kepala ku dan membantu ku bangun.


Apa ini? Kenapa mama malah lebih khawatir dengan gaun nya dari pada menenangkan ku? Kenapa mama terasa berbeda? Batin ku.


"Kenapa mama gak jenguk Vero kalau mama tahu Vero sedang depresi?" Tanya ku sembari menghapus air mata ku.


"Ssssttt...iya-iyaa.. Mama minta maaf, okey? Sekarang sebaiknya kita makan dulu, ayo..." Balas mama cuek, kemudian menggandeng ku menuju meja makan.


Mama menceritakan betapa sibuk pekerjaannya, kontrak kerjanya, juga banyaknya perhiasan yang ia miliki sekarang. Mama dengan bangga memamerkan pencapaiannya meski tau aku tak lagi antusias mendengarnya.


"Mama sejak kapan bisa makan udang?" Tanya ku heran ketika melihat mama mencocol udang cryspy dengan saus lalu memakannya dengan nikmat.


"Hmm..iya..sejak..dua tahun lalu." Jawab mama sedikit kaku dan kemudian kembali menormalkan ekspresinya. "Oh iya adik kamu gimana sekarang?". Pertanyaan pengalihan. Dan aku mengerti hal ini karena ekspresi mama masih terkesan was-was.


"Dia baik." Jawab ku singkat, sembari memperhatikan wajah mama yang sedikit gelisah.


"Baiklah, kamu lanjutkan makan ya mama mau ganti baju dulu." Mama berdiri menyamping, melepas outer, kemudian menyampirkannya di lengan kanan sembari melangkah meninggalkan ku.

__ADS_1


Aku memperhatikan mama dengan lebih teliti. Apa? Apa yang salah di sini? Kenapa aku merasa kalau ada yang tidak beres.


Wait.


Tunggu.


Ada tahi lalat kecil di bawah telinga kiri mama? Sejak kapan?!?


Pikiran ku langsung penuh dengan praduga-praduga yang mungkin terjadi. Menerka dan mencoba menggambarkan kemungkinan paling masuk akal yang akan ku hadapi.


Pertama, kebiasaan mama yang berubah. Kedua, alergi mama terhadap udang yang katanya sudah sembuh. Ketiga, sikap mama yang cuek pada ku.


Apakah mungkin mama..........?!?!? Batin ku.


Fix. Gue harus menyelidiki ini sendiri. Gue harus memastikan dengan benar praduga ini.


Biasanya papa dan Gara yang menyelidiki orang-orang di sekeliling ku, tapi kali ini giliranku. Aku sendiri yang harus mengetahui kebenarannya untuk melindungi mereka semua.


Aku melangkah keluar apartemen mama. Membuka pintu dengan pelan dan mendapati pengawal ku Laila, tengah berdiri menantikan kemunculan ku.


"Nyonya, anda tidak apa-apa? Ponsel anda lowbat? Tadi pak Dan langsung menelfon saya." Ujar Laila khawatir.


"It's okay Laila. Iya bentar lagi gue cas. Gue ada tugas buat lu." Aku kemudian membisikkan rencana ku pada Laila.


"Baik nyonya akan segera kami laksanakan." Ucap Laila mantap.


"Thanks ya...dan jangan kasih tau yang lain tugas ini, gue gak mau rencana ini gagal sebelum dimulai jika papa atau Gara tau lebih dahulu." Ucap ku sebelum meninggalkan Laila dan kembali masuk ke apartemen mama.


"Siap nyonya." Jawab Laila lirih, sembari melangkah menjauhi apartemen mantan nyonya besarnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2