Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
Kos baru..


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke kos aku terus terdiam dengan semua spekulasi ku tentang orang narsis yang kutemui di kota ini.


"Nya lu besok berangkat jam berapa? Gue jemput mau gak?" Pertanyaan Feni menyadarkan ku dari lamunanku.


"Jam setengah dua. Boleh deh, nanti gue chat ya." Jawabku singkat.


Sepuluh menit kemudian kami tiba di kosan Anis. Feni tak mau mampir, dia langsung melajukan motornya pulang setelah menurunkan ku.


"Nya...... kok lu baru pulang sih?" Teriak Kia dari arah dapur ketika aku baru saja melangkahkan kakiku ke ruang tengah.


"Astaghfirullah.." Aku meringis sambil mengelus dada, kaget dengan teriakan Kia. "Heh barbie lokal..! Kira-kira dong kalau teriak. Ini kosan orang kalau ada yang lagi tidur gimana?" Protes ku seraya melempar Kia dengan masker yang baru saja kulepaskan.


"Ups iya, sorry-sorry. Kebiasaan sih. Hihi. Btw kenapa lu jam segini baru pulang? Gue tadi sampai kos setengah tiga". Tanya Kia masih penasaran.


Kulirik jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. "Gue tadi masuk jam tujuh jadi pulangnya jam tiga, terus tadi teman baru gue ada yang pingsan, jadi gue bantu nolongin dia dulu," Jelasku.


"Pingsan? baru sehari kerja loh ini. Bagian apa dia?" Tanya Kia penasaran.


"Bagian bumbu. Ya memang dia punya riwayat maag kali, makanya waktu telat makan dan banyak pikiran langsung tuh asam lambungnya naik." Jelasku kemudian mengambil handuk dan baju ganti dari dalam tas besar yang kubawa.


"Yasudah buruan sana mandi, habis ashar kita cari kos baru ya." Ucap Kia kemudian melenggang masuk ke kamar.


"Oke." Balasku singkat.


Aku mandi dengan cepat, tak mau sampai ada penghuni kos lain yang mengantri kamar mandi menungguku terlalu lama.


.


.


.


Aku dan Kia berjalan ke arah utara dari kos Anis. Menurut informasi dari Hilda tadi di daerah ini banyak kos baru yang masih kosong.


Kami menemukan satu lokasi kos yang baru dan bersih terlihat dari luar. Ibu kos juga ramah. Tetapi setelah kami mengecek lebih ke dalam deretan bangunan ternyata ini kos campuran.


Kamar kos laki-laki dan perempuan bersebelahan. Ini kurang nyaman, jadi kami memutuskan untuk mencari kos yang lain.


Kami terus berjalan ke arah utara. Ada beberapa tempat kos baru, namun kami belum merasa 'klik' dengan suasananya.


Kami berputar arah ke selatan, menurut Kia di tempat teman barunya ada satu kamar kos yang masih kosong.


"Yah lu telat Ya. Barusan udah ada yang nempatin tuh kamar kosong." Ucap teman Kia saat kami baru sampai di kosannya .

__ADS_1


"Oh oke, gak papa. Ada rekomendasi lain gak?" Tanya Kia.


"Ada di dekat jalan raya, di belakang warung kuning." Jawab teman baru Kia.


"Oke gue tau. Thanks ya.." Ucap Kia kemudian langsung berpamitan.


Kami berjalan lagi menuju arah jalan raya. Kia mampir ke toko kecil membeli dua minuman kaleng. Muter-muter cari kos ternyata cukup melelahkan ya.?.


"Teman baru lo gak ada yang punya kamar kosong Nya?" Tanya Kia setelah meneguk habis minumannya lalu membuangnya ke tong sampah besar yang kami lewati.


"Ada sih, tapi jauh Ya, mereka ke pabrik naik motor." Ucapku lesu.


Kami akhirnya sampai di tempat kos yang di maksud teman Kia. Tempatnya lumayan bersih, ada kamar mandi di luar kos tepatnya di samping rumah ibu kos.


"Per bulannya seratus ribu dek, tapi kamar mandi cuma satu yang di luar itu." Jelas ibu kos kepada kami.


What? Sepuluh kamar kos cuma ada satu kamar mandi? Kalau antri berapa jam baru bisa buang air kalau pagi? Batinku.


Gila apa? Gak ada kamar mandi yang di dalam terus kalau malam-malam kebelet gimana? Aku kan takut keluar sendirian, gelap lagi. Batin Kia.


"Oh begitu ya bu. Ini sepuluh kamar masing-masing diisi berapa orang bu? Kerja sif semua kah?" Tanyaku sopan.


"Semuanya kerja sif, kecuali kamar nomor tiga dan empat, penghuninya masih kuliah." Jelas ibu kos.


Aku dan Kia berpandangan sejenak. Aku menikkan sebelah alisku sebagai kode 'aku tak nyaman dengan kos ini'. Kia tersenyum tipis di sudut bibirnya, tanda dia mengerti apa maksudku.


Aku sudah lelah. Kaki ku semakin berat untuk melangkah. Kuhitung sudah tujuh tempat kos yang kami datangi namun belum ada yang cocok di hati.


Drrrttt.. Drrrttt..


Ponsel Kia berbunyi.


"Wa'alaikumsalam. Belum. Serius? Oke bentar lagi gue kesitu. Share lok ya." Ucap Kia berbinar lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.


"Siapa?" Tanyaku penasaran.


"Teman baru gue Nya, katanya tempat kos dia itu fresh, masih baru. Tempatnya bersih, strategis, di lantai dua jadi kita bisa lihat pemandangan malam dari balkon." Jelas Kia dengan penuh semangat.


"Keren tuh. Yaudah ayo kita liat kesana.!" Ujarku ikut semangat kembali.


Kami melangkah mengikuti arah lokasi yang dikirimkan teman Kia. Sampai di jalan besar depan bundaran satu aku baru tersadar.


"Loh ini kan bundaran satu. Itu tempat kerja Hilda. Kosnya sebelah mana Ya?" Tanyaku sembari menengok ponsel yang Kia pegang.

__ADS_1


"Kalau gak salah ini itu................


Nah itu Nya, ruko dua lantai." Seru Kia antusias kemudian menarikku berjalan cepat ke arah ruko pertama setelah melewati bundaran.


Ini bukannya toko ibunya isa kemarin? Jadi yang di lantai dua itu tempat kos? Ah kenapa kemarin aku gak tanya sih, tau gitu tadi gak usah pakai acara muter-muter cari kos. Batinku


"Kia.... akhirnya lo sampai juga. Ayo naik lihat sendiri kosnya." Teriak seseorang dari tengah tangga di sisi luar kanan toko.


"Oiya Ke kenalin ini teman gue Anya. Nya ini Ike," Ucap Kia memperkenalkan kami.


"Hai, semoga cocok ya di sini. Gue tadi udah bilang bu kos juga soalnya." Sapa Ike sembari melepas jabat tangan kami kemudian melangkah menaiki tangga.


"Iya Ke, semoga cocok, kaki gue udah pegel banget dari sore muter-muter cari kosan." Ujarku seraya mengikuti langkah Ike dan Kia di depanku.


"Di bawah tangga ini ada dua kamar mandi, di atas ada satu. Ada enam kamar tapi beda-beda, ada yang kecil buat dua orang, ada yang paling besar bisa buat enam orang." Jelas Ike.


"Hmm gede juga ya... kamar lo dimana?" Tanya Kia saat kami masuk ke dalam kos.


Di depan pintu masuk adalah ruang tamu sekaligus ruang tengah, tanpa sofa namun ada sebuah tv yang diletakkan di atas meja kecil di sebelah kiri ruangan ini.


sebelah kiri tv ada kamar mandi, sebelah kanannya adalah kamar pertama.


"Kamar gue paling gede noh di ujung sana." Jawab Ike saat kami semua melewati ruang tengah lalu berbelok ke kanan.


Kami langsung menuju ke kamar Ike. Ike masuk terlebih dahulu, pintunya hanya setengah terbuka, kami mengikuti Ike di belakangnya.


"Inda nih Kia sama temannya sudah datang." Ucap Ike pada seseorang yang sedang memakai skincare di depan kaca almari.


"Hai..ayo masuk-masuk. Semoga betah ya.." Ucap Inda ketika aku dan Kia mulai masuk ke kamar mereka.


Kamar ini cukup luas karena berada tepat di pojok ruangan. Ada dua kasur busa yang berjajar di sudut ruangan, tiga almari berjajar di samping kanannya, sedangkan satu lagi kasur busa terletak memanjang bersebrangan dengan dua kasur lainnya. Tak lupa satu kipas angin dinding di antaranya.


"Oke Ya, almarinya gede, kamarnya gede." Ucapku setelah mengamati seluruh isi kamar ini.


"Gue setuju Nya. kasur busanya empuk. Ah.. nyamannya..." Ujar Kia seraya membaringkan badannya di tengah salah satu kasur busa. Ike kemudian mengikuti Kia berbaring di kasur sebelahnya.


"Yaudah yuk lapor ke bu kos kalau kalian mau ngekos di sini." Ucap Ike.


"Perbulannya berapa Ke?" Tanya Kia.


"Seratus ribu. Udah ayo gue anter," Ucap Ike seraya berjalan keluar kamar.


Ike mengatakan bahwa kamar-kamar sebelah kamarnya sudah terisi penuh. Tersisa satu kamar yang masih kosong di dekat kamar mandi.

__ADS_1


Di luar ada balkon memanjang leter L sampai setengah melingkari kamar Ike. Sabagian untuk menjemur cucian, sebagian lagi untuk duduk-duduk santai.


Kos baru. Bersih, strategis, ada balkon, ada tiga kamar mandi, full cewek semua. Semoga kami semua nanti bisa rukun seperti yang ada di kosan Anis. Semoga.


__ADS_2