
Mandi.
Sebuah aktifitas yang kini paling enggan ku lakukan sejak patah hati.
Padahal di sini, air tak terasa dingin.
Namun, hati ku lah yang kini telah mendingin..
.
.
Aku penasaran dengan si penelpon. Aku terpaksa mandi, lalu menunggu. Lima menit lagi tepat satu jam dari waktu dia bicara akan menjemput ku.
Aku turun ke bawah.
Menuruni anak tangga satu per satu dengan malas.
Toko ibu kos lumayan ramai. Beberapa ibu rumah tangga nampak berbelanja bulanan dan suami mereka menunggu di atas motor di depan parkiran toko.
"Nya.. mau ke mana? Gak mudik?!" Teriak bu Ratmi dari dalam warungnya.
"Mau keluar bu... Bulan depan saja mudik, sekarang belum gajian lagi.." Ujar ku beralasan sembari mendekat ke arahnya.
"Mau es teh gak?" Tawar bu Ratmi ketika aku sampai lalu duduk di teras warungnya.
"Gak usah bu, sebentar lagi temanku bakal kesini". Jawab ku santai sembari membuka kembali aplikasi pesan di ponsel ku.
"Yasudah kutinggal ke dalam ya.." Pamit bu Ratmi ketika pelanggannya memanggil mau membayar makanan mereka.
Aku mengangguk, lalu beberapa detik kemudian sebuah motor matic merah berhenti di depan ku.
"Yuk Nya, naik..." Suara perempuan yang sangat familiar membuat ku terhenyak. Aku menatapnya dalam, tak bergerak meski kini telah berdiri.
"Pangling lu sama gue?" Ujar nya seraya terkekeh pelan. Ia kemudian menaikkan kaca helm nya, lalu menatap ku sembari tersenyum lebar.
"Kak Selly...!! Ya Ampun.. makin cantik aja, jadi gak ngenalin kan gue..." Ujar ku senang, lalu berlari ke arahnya.
"Haha.. sa ae lu. Udah yok naik." Aku menerima helm dari kak Selly, kemudian langsung memakainya.
"Kakak gimana kabarnya? Kak Vero juga.. udah setahun gak ketemu....." Tanya ku sendu ketika kak Selly mulai melajukan motornya.
"Baik-baik..kita semua baik." Jawab kak Selly singkat.
Motor kak Selly melaju membelah kota, melewati bundaran dua, tiga, empat. Melewati alun-alun, rumah sakit, juga beberapa hotel besar di kota ini.
"Kita mau ke mana kak?" Tanya ku heran. Sudah hampir satu jam tapi belum sampai tujuan.
"Nanti juga lu tahu." Jawab kak Selly singkat, lagi.
Ini ke mana sih? Apa gue mau di culik?
Hilih, mikir apa sih Nya! Sadar woe! ini bukan sinetron. Batin ku.
Motor memasuki kawasan pantai, namun tak berhenti di pintu masuk. Masih melaju perlahan dengan kecepatan stabil. Beberapa warung penjual makanan dan minuman pun terlewati begitu saja.
"Ini kemana sih kak?" Tanya ku sedikit kesal karena kak Selly sama sekali tak mau mengatakan tujuan kami.
"Sudah sampai....!" Teriak kak Selly, beberapa menit kemudian. Ia tersenyum simpul ketika melirik wajah kesal ku.
Kami sampai di sebuah rumah minimalis lantai dua di ujung jalanan. Di belakangnya langsung berbatasan dengan batu karang dan hamparan pasir putih pantai.
Suasana yang santai dan jauh dari kebisingan membuat ku relax seketika. Ada beberapa rumah sebelum ini, namun jarak rumah satu dengan rumah lainnya cukup jauh.
__ADS_1
"Rumah siapa kak? Kak Vero? Apa dia di dalam sana kak?!?" Tanya ku penasaran. Aku mengikuti kak Selly keluar dari parkiran sembari menahan rasa kesal karena di abaikan.
"Bukan di dalam. Tuh di belakang." Jawab kak Selly sembari menunjuk pintu belakang rumah ini.
Aku membuka pintu perlahan, kemudian melongok ke kiri dan ke kanan, takut jika mungkin ada yang akan mengagetkan ku.
"Masuk aja sana Nya. Gue ambil makanan dulu ke dalam." Ujar kak Selly seraya meninggalkan ku.
Aku maju dua langkah, kemudian duduk di salah satu bangku di tepi batu karang.
Semilir angin pantai sore melenakan khayalan ku. Betapa senangnya jika mungkin ayah, ibu, dan Fani bisa ku ajak kemari, bersama-sama menikmari keindahan pantai ini.
Aku melepas sepatu ku, kemudian berjalan mendekat ke arah pantai. Merasakan betapa merinding telapak kaki ku kala menginjak pasir dan kerikil alami pantai.
Subhanallah....indahnya... Lebih cantik dari pantai yang ku kunjungi bersama kak Ar tiga bulan lalu. Hilih, apa sih Nya? Kenapa lu mikir kak Ar lagi? Bodoh. Batin ku.
Aku menyusuri pinggir pantai, menikmati jemari kaki yang perlahan terkena hempasan kecil ombak pantai. Dingin, dan sungguh menyegarkan.
Aku berjongkok. Mengamati beberapa kerang laut, ikan kecil, juga bintang laut yang terdampar di sekitar kaki ku.
Lucu sekali. Bentuk mereka unik-unik. Bodoh kalau gue masih mikirin kak Ar, sementara di sini suasananya jauh lebih menyenangkan. Mungkin tinggal menambah hadirnya satu pangeran di samping gue, maka sore ini akan jadi sempurna buat melupakan si kadal amazon. Kihihii. Batin ku.
Matahari mulai nampak turun, mungkin ini sekitar jam empat atau lima sore. Cahayanya sungguh mempesona, meneobos di antara garis pantai dan awan yang berarak.
"Cari harta karun buk?" Sebuah suara tiba-tiba muncul, hingga membuat ku terkesiap dan menoleh ke kiri juga ke kanan.
Suara siapa? Gak ada orang. Jangan-jangan........... Batin ku.
Aku berdiri sambil memegang tengkuk ku yang merinding. ''Masih sore, di sini gak mungkin ada hantu kan?''. Gumam ku pelan.
"Sora!. Kangen gue gak?!?". Suara itu lagi-lagi muncul, kali ini sepertinya berasal dari belakang tubuhku.
Aku menoleh pelan dan sedikit was-was. Ingin berteriak namun rasanya berat sekali untuk mengeluarkan suara dari kerongkongan ku yang tengah tercekat.
Tiba-tiba sebuah lagu dangdut yang biasa di nyanyikan Starla mengalun di telinga ku.
.....Seraut wajah tampan, sangat mempesona
.....Mimpiku. Mimpi-mimpi manis
.....Di balik pintu hati, tersimpan rindu ku
.....Mimpiku. Mimpi-mimpi manis.
[Mimpi manis~Dewi persik]
Wajah dan mata ku memanas. Entah kenapa aku tersenyum tapi air mata ku ikut menetes keluar membasahi pipi.
Aku berhambur masuk ke dalam rentangan tangan nya. Menangis terisak di dada nya. Aku senang dia hadir, tapi mengapa air mata ku ikut mengalir?!?
Ia memeluk ku erat. Menepuk punggung ku pelan, seolah mengizinkan ku untuk terus menangis dalam dekapannya.
"Kenapa lu di sini?" Tanya ku serak, setelah melepas pelukannya dan mengelap ingus ku dengan tissu yang selalu ada di dalam tas slempang yang ku pakai.
"Udah nangisnya?" Tanya nya balik. Ia tersenyum jahil, lalu mengajak ku duduk selonjoran di tepi pantai ini.
"Apaan sih." Aku kesal, tapi juga tersenyum senang. Aku ikut duduk selonjoran di sebelahnya. Tak peduli celanaku basah ataupun muka ku yang pastinya jadi berantakan.
"Apa kabar?" Tanya Gara singkat.
"Kabar gue akhir-akhir ini buruk. Gue putus sama kadal amazon. Lu gimana?" Aku memandang hamparan air laut di depan ku.
__ADS_1
"Kadal amazon? Haha boleh juga sebutan lu. Gue agak stres Nya. Kerjaan numpuk tiap hari, meeting, ketemu orang nomor satu tiap perusahaan. Huffth capek." Keluh Gara sembari memandang lautan.
"Itu artinya lu makin dewasa. Tanggung jawab lu makin banyak. Orang tua lu pasti bangga." Ucap ku menyemangati nya.
"Iya sih, kata kakak, papa sering muji gue di depan semua rekan bisnisnya." Gara tersenyum, ia kemudian bercerita banyak mengenai pekerjaannya. Juga keluh kesah tentang beberapa wanitanya yang manja dan banyak menuntutnya.
Gara juga bertanya tentang pekerjaan, orangtua, juga teman-teman kos dan sang mantan yang kini coba ku lupakan.
"Lu gak nampar dia Nya?" Tanya Gara kesal.
"Gak lah. Ngapain. Ngotorin tangan gue aja. Biar semesta yang menghukumnya, lebih adil dan membekas." Jawab ku sembari menarik sudut bibir kanan ku.
"Widih...ngeri juga lu." Komentarnya kemudian.
"Lu juga jangan main sama Joana kalau masih pacaran sama Sicilia." Komentar ku balik pada Gara.
"Gue bosen Nya. Sicilia itu model, cuman gue manfaatin buat icon hotel, kalau Joana lebih smart, kerja sama gue sama dia selalu bikin deposito gue nambah. Hahaha..." Gara tertawa, seolah wanita-wanita itu hanya mainannya.
"Lu gak cinta sama mereka?" Tanya ku heran.
"Cinta? Gue gak tau apa itu cinta. Yang gue tau cuma hubungan yang saling menguntungkan, itu aja." Jawab Gara.
"Heh, awas kena karma lu, mainin perasaan cewek kayak gitu. Ingat, kakak lu juga cewek, kalau dia di PHP sama cowok lu pasti gak terima juga kan?" Ujar ku sedikit kesal.
Itha Lin, Hwang Ziyi, Sarada, Sicilia, Joana, Emelyn, Gila nih cowok. Semua di incipin kayak milih kue lebaran aja. Batin ku.
"Haha...bukan gue Nya. Mereka sendiri yang ngaku jadi cewek gue, padahal gue gak pernah nembak atau bilang sayang ke mereka." Jelas Gara santai.
"Tapi lu gak nidurin mereka juga kan?" Tanya ku sedikit khawatir menyinggung nya.
"Gak lah, gue masih perjaka ting-ting tau." Sahut Gara cepat, sembari menatap ku tajam.
"Masak sih?! Gak pernah cium?!" Tanya ku penasaran.
"Mau tau aja apa mau tau banget?" Ucap Gara pelan, wajahnya condong ke arah ku, bahkan hembusan napasnya terasa menyapu permukaan kulit wajah ku.
"Apaan sih, udah yuk masuk, udah hampir maghrib nih.." Aku mendorong pipinya dengan dua jariku, lalu berdiri, tanpa menoleh lagi melihat wajahnya.
Gila-gila. Kenapa sih pakai dekat-dekat? Sadar Nya sadar. Pasang perisai anti terpesona lu lagi. Batin ku.
"Hahaha. Kenapa Nya? Muka lu merah tuh..." Gara terkekeh, lalu ikut berdiri menghampiri ku yang kini melangkah menjauhi pantai.
"Bodo...." Singkat ku, sedikit kesal dan malu dengan ekspresi wajah ku sendiri.
"Ya ya ya.. gue jujur nih, kalau cium dimana-mana pernah, tapi mereka yang mulai Nya, bukan gue. Suer..." Gara mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ketika menghadang langkah ku.
Aku tersenyum geli. Tingkah Gara ini lebih cocok jadi ABG ketimbang seorang calon presdir sebuah kerajaan bisnis.
"Lu percaya kan?" Tambahnya lagi, sembari melingkarkan lengannya ke pundak ku.
"Iya iya... lagian lu jujur atau gak kan gue juga gak tahu, gak ada bukti, hihihi..." Jawab ku sembari terkekeh dan mengikuti langkahnya.
"Awas lu ya! Naik kesini Nya, kita lihat matahari tenggelam..."
Kami naik ke salah satu batu karang yang cukup landai. Berdiri di sana dalam diam sambil memandang cahaya matahari yang berhambur warna jingga, kuning hingga mega merah merata di sekitarnya.
Tangan Gara kembali melingkar di pundak ku, sementara aku bersedekap dan menyandarkan kepala ku di pundak nya.
.
.
.
__ADS_1