Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Sella Telah Tiada


__ADS_3

"Dia kenapa, ada apa dengan Sella?" tanya Ken.


"Dia kecelakaan, orang tuanya membawa dia ke sini sambil menangis, baru saja dia masuk ke ruang IGD. Ken, tubuhnya penuh dengan luka bakar, aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Kenapa bisa seperti ini, Ken?" tanya Nina dengan panik.


Keadaan Sella sangat mengenaskan, dan ia ingat jika semalam Ken menghilang selama empat jam. Mungkinkah kepergian Ken ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami Sella?


"Apa! Kau serius, Nin?" tanya Ken.


"Iya."


"Dia kecelakaan di mana?" tanya Nyonya Carolyna.


"Saya kurang paham Nyonya. Saya tadi sempat mencuri dengar, katanya mobilnya jatuh ke jurang dan meledak, tapi saya tidak tahu lokasinya di mana." Jawab Nina.


"Ayo kita melihatnya!" ucap Ken sambil melangkahkan kakinya. Nyonya Carolyna dan Nina, mereka mengikuti langkahnya di belakang.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di depan ruang IGD. Bu Dina sedang menangis meraung-raung, dan Pak Reno, beliau mencoba menenangkan istrinya.


"Sella Mas, bagaimana keadaan dia sekarang, dia baik-baik saja kan, Mas?" teriak Bu Dina disela isakannya.


"Apa yang terjadi dengan Sella?" tanya Nyonya Carolyna sambil melangkah mendekati mereka.


Pak Reno dan Bu Dina tersentak kaget, mereka mendongak, dan menatap wanita yang berdiri di hadapannya.


"Untuk apa kau ke sini?" tanya Pak Reno dengan tegas. Beliau tahu, jika Nyonya Carolyna sudah menjebak anaknya dalam kemiskinan.


"Aku sedang menjenguk rekanku, dan tak sengaja mendengar Sella kecelakaan. Aku dan dia pernah saling mengenal, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya," jawab Nyonya Carolyna sambil menatap Pak Reno dan Bu Dina.


"Dan kau akan tertawa puas, saat tahu Sella ditimpa musibah. Pergi kau dari sini, aku tidak sudi melihat wajahmu yang penuh dengan kemunafikan!" bentak Bu Dina sambil melotot tajam.


"Ayo kita pergi Nyonya, kehadiran kita tidak diharapkan di sini!" kata Ken dengan tegas, matanya menatap tajam ke arah Pak Reno dan Bu Dina.


"Kau, kenapa kau ada di sini?" tanya Pak Reno. Beliau sedikit kaget saat melihat kehadiran Ken. Apa yang ia lakukan di sana?


"Istriku sedang sakit, seminggu yang lalu dia jatuh di kamar mandi, dan kepalanya mengeluarkan banyak darah. Dia harus dirawat di sini, dan tentu saja aku menemaninya. Aku mencintainya, aku tidak akan membiarkan dia merasakan sakit seorang diri," jawab Ken dengan pandangan mata yang tetap tajam.


Tubuh Pak Reno seakan membeku saat itu juga. Dari nada bicara dan juga sorot matanya, sepertinya Ken sedang menyiratkan sesuatu hal yang cukup penting.


"Senja sakit, kepalanya berdarah, apa jangan-jangan Sella yang sudah menyakitinya, dan sekarang Ken sedang berusaha membalasnya. Kata cinta yang Ken ucapkan, mungkin itu punya makna lain. Dia tidak akan memafkan siapa pun yang menyakitinya. Ah Sella, apa yang sudah kau lakukan, Nak?" batin Pak Reno dalam hatinya.


Pak Reno kembali menatap Ken, dan beliau bergidik ngeri saat melihat kilatan yang terpancar dari mata Ken. Tampaknya lelaki itu menyimpan amarah yang cukup besar. Ketegasan, dan tatapan tajamnya, layaknya seorang mafia, menyiratkan aura dingin dan kejam. Dia benar-benar lelaki yang berbahaya, pikir Pak Reno kala itu.


"Ke...kenapa Senja bisa jatuh? Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Pak Reno dengan gugup.


"Lantainya terlalu licin, tapi..." belum sempat Ken meneruskan ucapannya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang dokter berdiri di sana sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan, Dokter?" tanya Bu Dina dengan cepat.


"Maaf Bu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain. Saya gagal menyelamatkan pasien, lukanya terlalu parah, dia tidak bisa bertahan." Jawab Dokter menjelaskan.


"Maksud Dokter?"


"Iya, Nona Sella sudah meninggal."


"Tidak, ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin, Dokter! Dokter pasti salah, Sella pasti masih hidup. Katakan jika semua ini tidak benar, Dokter!" teriak Bu Dina sambil menangis, tidak menyangka jika anaknya akan pergi secepat ini.


"Ma tenanglah, Ma. Kita harus sabar, Ma," ucap Pak Reno sambil merangkul istrinya.


"Ini tidak mungkin, Mas. Katakan jika ini salah. Sella tidak boleh meninggal Mas, dia harus hidup bersama kita!" ratap Bu Dina dengan tangis yang semakin pecah.


Nyonya Carolyna, dan Nina sama-sama menutup mulutnya. Mereka tidak menyangka jika Sella akan mengalami nasib yang setragis ini. Meskipun masing-masing menyimpan rasa benci, namun mereka juga merasa kaget saat tahu Sella sudah meninggal, diusianya yang masih sangat muda.


"Semoga ini menjadi awal kebahagiaanmu Sella. Dengan begini, kau tidak lagi menyimpan rasa iri, dengki, dan juga dendam dalam hatimu," batin Ken sambil menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian, Pak Reno dan Bu Dina masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat anak semata wayangnya, yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya .


Ken, Nina, dan Nyonya Carolyna, mereka kembali ke ruang inap, tempat Senja beristirahat. Sejak ia bisa bicara, dan bisa menggerakkan tangannya, ia dipindahkan ke kamar inap, bukan di IGD.


"Kak!" panggil Nina saat mereka sudah tiba di depan ruangan. Kala itu Alvin sedang duduk sendiri di kursi tunggu.


"Ada apa?" tanya Alvin.


"Siapa yang menemani, Aya?" tanya Ken sebelum Nina sempat menjawab pertanyaan Alvin.


"Tante Ratih." Jawab Alvin.

__ADS_1


"Mama ke sini?"


"Iya, baru saja tiba."


"Oh."


"Boleh saya melihatnya lagi?" sela Nyonya Carolyna.


"Tentu saja, silakan Nyonya!" jawab Alvin.


"Terima kasih," jawab Nyonya Carolyna sambil melangkah masuk.


"Nina, sayang, kau kenapa? Kau terlihat panik, apa ada sesuatu?" tanya Alvin sambil beranjak dari duduknya, ia berdiri, dan menghampiri istrinya.


"Sella meninggal Kak." Jawab Nina.


"Meninggal?" tanya Alvin dengan kaget.


"Iya Kak, dia kecelakaan, tubuhnya penuh dengan luka bakar. Waktu Kak Alvin menemani Senja, aku pergi jalan-jalan ke depan, aku tidak sengaja berpapasan dengannya, dia didorong di atas brankar. Melihatnya saja aku sangat ngeri, Kak," kata Nina sambil mengusap-usap lengannya.


Alvin tidak menjawab ucapan istrinya, namun pandangan matanya, menatap ke arah Ken yang sedang duduk di kursi.


"Ken!" panggil Alvin.


"Iya, Kak." Jawab Ken tanpa rasa bersalah.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Alvin sambil duduk di sebelah Ken, ia menatap tajam pada adik iparnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Kak." Jawab Ken.


"Kau semalam menghilang, dan sekarang Sella kecelakaan. Kemarin kau juga menolak untuk menjebloskannya ke penjara, apa yang sudah kau lakukan, Ken?" tanya Alvin dengan suara yang pelan.


"Percayalah padaku, aku tidak melakukan apa-apa, Kak. Mungkin ini karma baginya." Jawab Ken.


"Kali ini aku tidak percaya padamu Ken. Kenapa kau bertingkah bodoh, Senja akan kecewa. Dan jika perbuatanmu terungkap, kau yang akan mendekam di penjara. Pikirkan itu, Ken!"


"Aku tidak melakukan apa-apa, Aya tidak akan kecewa, dan aku tidak akan dipenjara." Ucap Ken dengan tegas.


Alvin menatapnya tanpa kedip, "tapi kenapa aku ragu dengan ucapanmu, Ken." Batin Alvin dalam hatinya.


***


Tiga hari kemudian, Senja sedang berbaring di atas ranjang kamarnya. Di sebelahnya, Rashya sedang terlelap dalam tidurnya. Sebenarnya dokter belum mengizinkannya pulang, namun Senja merasa bosan, dan bersikeras untuk keluar dari rumah sakit. Luka di kepalanya kadangkala masih terasa nyeri, namun kesehatannya sudah membaik. Dokter berpesan, agar Senja tidak terlalu lelah, tidak berpikit keras, dan segera ke rumah sakit, jika rasa nyerinya semakin menjadi.


Tak lama kemudian, Ken datang membuka pintu kamar, dan melangkah menghampiri Senja. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Aya, kenapa kau tidak tidur, beristirahatlah!" kata Ken sambil duduk di sebelah Senja.


"Bagaimana keadaanmu, hmm?" tanya Ken seraya mengusap rambut Senja dengan lembut.


"Aku baik-baik saja, Ken." Jawab Senja. Ia menatap Ken lekat-lekat, seolah ada hal yang ingin sekali ia tanyakan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken.


"Ken!"


"Hmm, kenapa?"


"Apa yang kau lakukan pada Sella? Jujurlah Ken!"


Sejak mendengar nada bicara Ken sewaktu di rumah sakit, Senja yakin, lelaki itu sudah melakukan sesuatu terhadap Sella. Tapi ia tidak menyangka, jika Ken melakukan hal yang sefatal ini.


Ken menghela nafas panjang, mungkin sudah saatnya ia harus jujur terhadap istrinya. Meskipun ini akan mengecewakan Senja, tapi ia harus tetap jujur, ia tidak mungkin menyembunyikan hal besar ini selamanya.


"Ken!" panggil Senja untuk yang kedua kalinya.


"Kau ingin tahu apa yang kulakukan?" Ken balik bertanya.


"Jadi kau benar terlibat, Ken?" Senja balik bertanya, raut wajahnya memancarkan kekecewaan.


"Menurutmu?"


"Hal bodoh apa yang sudah kamu lakukan Ken, seharusnya kamu tidak boleh membunuhnya." Kata Senja dengan cepat.


"Aku tidak membunuhnya."

__ADS_1


"Lalu?"


"Kau ingin tahu?"


"Iya, cepat katakan apa yang kau lakukan!" kata Senja.


"Aku akan mengatakan semuanya, tapi ada syaratnya." Ucap Ken.


"Syarat apa?"


"Mulai sekarang jangan panggil aku Ken!"


"Terus?"


"Panggil aku sayang, atau baby, atau hunny, atau sweety, atau hubby, atau panggilan sayang yang lainnya!" jawab Ken sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ken, aku tidak terbiasa dengan panggilan-panggilan seperti itu. Itu berlebihan, dari dulu aku sudah terbiasa memanggilmu Ken."


"Makanya mulai sekarang biasakan, Aya."


"Aku tidak bisa."


"Kalau begitu aku tidak akan bercerita," jawab Ken sambil tersenyum miring.


"Ken, kamu harus mengatakan yang sebenarnya padaku!" kata Senja.


"Kalau begitu panggil aku sayang!"


"Tapi Ken."


"Ya sudah aku tidak mau cerita."


"Kamu berniat menyembunyikan sesuatu dariku? Ya sudah, terserah kamu, aku tidak peduli lagi!" kata Senja sambil melipat tangannya di dada, seraya memalingkan wajahnya.


Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal, niat hati ingin merajuk agar Senja mau memanggilnya sayang. Tapi, ternyata malah Senja yang lebih dulu merajuk. Ken beringsut, dan lebih mendekati istrinya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, namun Senja sama sekali tak peduli.


"Aya, sayang!" bisik Ken sambil menyandarkan dagunya di bahu Senja, namun wanita itu masih saja diam.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu. Aya, seberat itukah memanggilku dengan sebutan sayang?" bisik Ken sambil menciumi leher Senja, dan meninggalkan beberapa bekas kemerahan di sana. Kedua tangannya mengusap perut Senja dengan lembut


Tubuh Senja memanas, selalu saja Ken membuatnya tak berdaya. Sentuhannya, bisikannya, ahh Senja selalu terbuai karenanya. Bahkan rasa kesal yang tadi sempat bersarang di benaknya, kini luluh dengan sendirinya.


"Sayang!" bisik Ken, kedua tangannya menyentuh tubuh Senja dengan semakin liar.


"Ken, lepas! Jangan seperti ini!" ucap Senja sambil memejamkan matanya.


"Panggil aku dengan sebutan mesra, nanti aku akan melepaskanmu!" jawab Ken.


"Ahh Ken, menjauhlah!"


"Aku tidak akan menjauh, sebelum kau memanggilku dengan mesra." Bisik Ken.


"Menjauhlah, sayang!" kata Senja dengan mata yang tetap terpejam.


"Ulangi sekali lagi!"


"Menjauhlah, atau aku akan mendiamkanmu. Tubuhku masih sakit Ken!" ucap Senja dengan nada yang tertahan. Ia menggigit bibirnya, menahan hasrat yang semakin menjalar di tubunya.


Perlahan Ken mulai melepaskan pekukannya, namun ia tak menjauh sedikitpun.


"Berjanjilah untuk selalu memanggilku dengan sebutan sayang!" kata Ken sambil menatap Senja.


"Tidak!" Jawab Senja dengan tegas.


"Aya, kau..."


"Jangan banyak bicara, ceritakan apa yang sudah kau lakukan pada Sella!" sahut Senja sebelum Ken sempat meneruskan kalimatnya.


"Aku hanya ingin..."


"Jika kamu tidak mengecewakan aku, aku berjanji akan selalu memanggilmu sayang. Jika kau masih menyembunyikan sesuatu dariku, aku tidak akan memaafkanmu!" kata Senja sambil menatap Ken.


Ken terdiam, ia mengusap wajahnya dengan kasar, sebelum ia membuka suara.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Sebenarnya malam itu." Kata Ken mengawali pembicaraanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2