Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Aku Tidak Pernah Menyentuhnya


__ADS_3

Ditengah hingar-bingar musik yang memekakkan telinga. Alvin, dan Dika sedang duduk bersama sambil meracik minuman pesanan pelanggan. Sesekali Dika menyesap sebotol vodka yang kini tinggal setengah. Alvin menatapnya sambil menggelengkan kepalanya. Meski sekarang umurnya sudah kepala tiga, namun sifatnya masih tidak berubah. Ia sangat senang menghamburkan uangnya hanya demi minuman keras. Sejauh ini sama sekali belum ada rencana, untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.


Alvin tahu Dika sedikit kecewa dengan pernikahannya Fajar, dan Senja. Namun mau bagaimana lagi, Alvin juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak akan memaksa Senja dalam memilih masa depannya.


"Vin!" panggil Dika sambil memainkan botolnya.


"Hmmm." gumam Alvin tanpa menoleh.


"Kamu ingat Adara?" tanya Dika sambil menatap Alvin.


Alvin menoleh, ia menatap Dika dengan heran.


"Adara mantannya Fajar, kenapa?" jawab Alvin balik bertanya.


"Dia sekarang tidak ada Vin, kenapa bisa begitu ya." ucap Dika sambil menyesap kembali botol vodka yang masih digenggamnya.


"Tidak ada bagaimana, aku tidak mengerti maksud kamu. Kamu mabuk ya?"


"Aku tidak mabuk, aku bicara serius ini Vin. Tiga hari yang lalu aku kan pergi ke Jakarta ikut Papa. Bisnis Om Jhon di sana berkembang pesat, tapi yang membuatku heran, kenapa dia mengenalkan Alex sebagai putra tunggalnya. Lalu bagaimana dengan Adara?" kata Dika dengan panjang lebar.


Alvin mencerna kalimat yang Dika lontarkan, lalu ia menggeser duduknya, dan lebih mendekat pada Dika.


"Kamu serius?" tanya Alvin.


"Sangat serius. Om Jhon menyangkal, jika ia pernah memiliki putri. Padahal kita semua tahu, kalau Adara itu jelas-jelas anaknya. Menurutmu kenapa bisa begitu Vin?"


Alvin berfikir keras, ia mencoba memikirkan kemungkinan yang paling masuk akal. Lalu otaknya kembali mengingat kejadian tadi siang. Fajar yang pucat, dan kurus, juga wajah muramnya saat ia membicarakan kehamilan. Apakah dua hal ini ada hubungannya? Mungkinkah Fajar yang menyembunyikan Adara, mungkinkah ia sakit karena terlalu banyak berfikir, atau merasa bersalah karena sudah mengkhianati Senja.


"Vin, malah melamun!" kata Dika sambil menepuk bahu Alvin dengan keras.


"Akhir-akhir ini kamu pernah bertemu Fajar?" tanya Alvin dengan tiba-tiba.


"Fajar, hampir dua bulan ini aku belum pernah bertemu dengannya. Kau tahukan, sejak menikah dia tak pernah lagi berkumpul dengan kita. Ahh jangankan berkumpul, menanyakan kabarpun tidak." jawab Dika sambil tertawa sumbang.


"Aku tadi bertemu dengannya." ucap Alvin dengan pelan, bahkan suaranya nyaris tenggelam dalam alunan musik yang berisik.


"Terus?" tanya Dika.


Cukup lama Alvin tak memberikan jawaban. Bingung harus bagaimana menjelaskannya.


"Vin!" panggil Dika.


"Dia pucat, dan kurus, seperti orang sakit. Tapi saat kutanya, dia bilang hanya sedkit flu. Menurutmu dia benar-benar sakit, atau karena ada banyak beban?" tanya Alvin sambil menghela nafas panjang.


"Pucat, kurus, kamu serius?"


"Iya, cobalah temui sendiri kalau kau tidak percaya. Sekarang bagaimana pendapatmu?" tanya Alvin dengan serius.

__ADS_1


Kini giliran Dika yang diam seribu bahasa, ia termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu kenapa diam, apa yang kau fikirkan?" tanya Alvin sambil menatap Dika.


"Aku sempat mendengar isu tentang Adara, tapi aku tidak tahu itu benar, atau salah." jawab Dika.


"Isu apa?" tanya Alvin.


"Aku mendengar ini dari seseorang yang dulu menjadi rivalnya Om Jhon. Katanya Adara itu sudah meninggal, karena menderita HIV. Tapi tidak ada bukti sama sekali, jadi kufikir itu hanyalah kebohongan yang dibuat untuk menjatuhkan Om Jhon. Apa mungkin Adara ada masalah dengan keluarganya yang membuat Om Jhon marah. Lalu beliau tak mengakui Adara lagi, dan itu dijadikan celah oleh rival-rivalnya untuk menjatuhkannya. Terkadang bisnis memang sekejam itukan Vin." ucap Dika menjelaskan.


Penjelasan Dika yang panjang lebar, sukses membuat tubuh Alvin membeku. Meskipun menurut Dika itu adalah kebohongan, namun tidak bagi Alvin. Ia kembali teringat dengan raut wajah Fajar, dan Senja tadi siang.


Tanpa permisi jantung Alvin mulai berdetak cepat, dan keringat dinginnya mulai bercucuran. HIV, jika benar Adara mengidapnya, lalu bagaimana dengan Fajar, dan bagimana nasib Senja?


Mengingat wajah pucatnya Fajar, hati Alvin semakin tidak tenang. Satu tahun lebih tujuh bulan Fajar, dan Senja menikah. Dan sekarang Senja sudah hamil. Ohh tidak, semoga semua ini belum terlambat.


"Vin kamu kenapa Vin?" tanya Dika dengan cepat. Ia sedikit bingung saat melihat Alvin beranjak dari duduknya dengan raut wajah yang panik.


"Vin!"


Alvin tidak menjawab, ia hanya melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam 11.00 malam, mungkinkah Senja masih terjaga?


"Vin, jawab aku!" teriak Dika sambil beranjak dari duduknya.


"Maaf aku harus pulang Dik, urusan di sini aku serahkan padamu. Aku pergi dulu!" kata Alvin dengan cepat. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Dika. Ia tak peduli dengan teriakan Dika yang terus memanggil namanya.


Sementara itu Alvin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya adalah apartemennya Fajar. Saat ini yang ada dalam fikirannya hanyalah Senja, dan Senja. Bayangan Senja saat masih bayi, lalu tumbuh menjadi anak-anak. Lalu adiknya itu beranjak menjadi gadis remaja, dan kini telah menjadi wanita dewasa. Namun bagi Alvin, Senja tetaplah adik kecilnya yang lucu, yang selalu ia sayangi.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Alvin tiba di halaman apartemen. Ia merogoh sakunya, dan mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi nomor Senja. Namun hingga berkali-kali ia menghubunginya, Senja belum juga mengangkat telfonnya.


"Senja, ayo angkat telfonnya Senja." ucap Alvin sambil mengacak-acak rambutnya.


"Hallo!" sapa Senja dengan suara seraknya.


Alvin menghela nafas panjang, ia tersenyum lega saat Senja mengangkat telfonnya.


"Buka pintunya Senja, aku ada di depan apartemen kamu." kata Alvin sambil melangkahkan kakinya, ia bergegas menuju ke apartemen.


"Hah!" teriak Senja dengan kaget, tidak biasanya Alvin datang selarut ini. Dan lagi tadi siang dia sudah kesini, kenapa sekarang kembali lagi?


Tanpa membangunkan Fajar terlebih dahulu, Senja beranjak dari tidurnya. Ia turun dari ranjang, dan melangkah keluar kamar.


Alvin saat itu sudah berdiri di depan pintu, berkali-kali ia mengusap keningnya yang berkeringat.


Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka.


"Silakan masuk Kak!" kata Senja sambil menguap.

__ADS_1


Tanpa menjawab sepatah katapun, Alvin langsung melangkah masuk, dan memegang kedua bahu Senja.


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!" kata Alvin dengan tegas.


"A...apa maksudmu Kak?" tanya Senja dengan heran.


"Senja jujurlah padaku, apa yang terjadi dengan Fajar!" kata Alvin sambil menatap Senja lekat-lekat.


"Kak Fajar...Kak Fajar tidak apa-apa, ap...apa maksudmu Kak?" tanya Senja dengan gugup. Jantungnya mulai berdetak cepat, mungkinkah Alvin sudah tahu segalanya.


"Jangan bohong Senja, aku Kakakmu!" kata Alvin.


Senja menunduk, dia bingung harus mengatakan apa.


"Aku dengar Adara sudah meninggal, karena HIV, apa itu benar?" tanya Alvin.


Senja tersentak kaget, dan spontan ia langsung mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Alvin dengan gugup. Senja tak bisa berkata apa-apa, hanya matanya saja yang kini mulai berkaca-kaca.


"Apakah itu benar Senja?" kata Alvin mengulang pertanyaannya.


Senja masih tak menjawab, namun kini buliran bening mulai menetes dari sudut matanya.


"Apa Fajar juga mengidapnya?" Alvin kembali bertanya.


Lagi-lagi Senja tak menjawab, hanya tangisnya saja yang kini semakin pecah.


Hati Alvin bagai tertikam benda tajam, sangat menyakitkan. Air mata Senja sudah cukup membuatnya mengerti. Semuanya ternyata benar.


Alvin meraih tubuh Senja, dan membawanya kedalam pelukannya. Ia sangat kecewa dengan takdir yang terjadi pada adiknya. Sejak dulu ia rela membanting tulang demi kebahagiaannya Senja, namun kenapa sekarang ia harus menderita seperti ini.


"Maafkan Kakak yang tidak tidak menyadari semua ini, maafkan Kakak yang terlambat mengetahuinya." ucap Alvin sambil mengusap-usap rambut Senja.


"Kasihan Kak Fajar!" kata Senja disela-sela tangisnya.


"Justru yang kasihan itu kamu Nja. Kamu wanita baik-baik, tapi harus mengalami semua ini. Dia yang berbuat dosa, tapi kamu yang terkena imbasnya. Gara-gara dia kamu tertular penyakit itu, Kakak sangat tidak rela Nja!" kata Alvin sambil melepaskan pelukannya.


Belum sempat Senja menjawab perkataan Alvin, tiba-tiba Fajar sudah lebih dulu menyahutnya.


"Kamu tenang saja Vin, Senja tidak akan pernah tertular penyakitku. Walaupun sulit, tapi aku selalu menahan hasratku untuk tidak menyentuhnya." sahut Fajar yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Senja.


"Apa maksudmu? Senja sudah hamil, dan kau bilang tidak pernah menyentuhnya." kata Alvin.


"Aku memang tidak pernah menyentuhnya, jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada adikmu!" jawab Fajar dengan nada datar.


"Aku sudah berusaha keras melindungi Senja. Aku rela batinku tersiksa demi keselamatan dia. Aku juga berusaha memaafkan dia yang sudah mengkhianatiku. Tapi nyatanya apa, aku masih saja salah." batin Fajar sambil tersenyum getir, ia sungguh kecewa mendengar kalimat yang Alvin ucapkan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2