Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Bangun Tengah Hari


__ADS_3

Kirana sang surya, menerobos masuk lewat jendela yang baru saja dibuka tirainya. Ken tersenyum kala menatap sang mentari yang sudah merangkak naik. Ia menoleh sekilas, menatap wanita pujaannya yang masih meringkuk, di bawah selimut tebal. Wajahnya yang teduh, terlihat damai dalam lenanya.


"Cahaya Senja, kau benar-benar cahaya dalam hidupku." Gumam Ken dengan pelan.


Lalu ia membuka almari yang ada di sudut ruangan. Mengambil celana kasual, dan kaos warna putih tanpa kerah. Ia membungkus tubuhnya yang masih sedikit basah, kemudian ia membawa handuknya kembali ke kamar mandi.


Setelah itu, Ken menyisir rambutnya yang sedikit panjang, buliran-buliran air berjatuhan dari ujungnya, membasahi baju yang baru saja dikenakannya. Kemudian Ken menyemprotkan parfum ke tubuhnya, dan senyuman di bibirnya semakin mengembang, saat netranya menangkap bekas kemerahan di lehernya.


"Kau nakal, Aya," gumam Ken sambil mengusap kissmark yang terlihat samar-samar.


"Ken!" panggil Senja dengan suara yang masih serak, seraya tangannya meraba-raba ke ke samping, seolah sedang mencari sesuatu.


Ken menoleh, dan mendapati Senja yang masih memejamkan matanya. Ken tersenyum, lalu melangkah mendekati ranjang, dan kemudian duduk di sebelah Senja.


"Apa kamu memimpikan aku, Aya?" tanya Ken sambil merapikan rambut Senja yang berantakan di wajahnya.


Tak ada jawaban dari mulut Senja, karena saat itu, ia kembali terlena dalam tidurnya.


Ken menundukkan kepalanya, dan mencium kening Senja cukup lama. Wanita itu menggeliat, dan memalingkan wajahnya. Lalu ia mengerjapkan matanya dengan pelan.


"Kau sudah bangun, Ken?" tanya Senja sambil menguap.


"Kau sudah berjanji untuk memanggilku sayang, Aya," ucap Ken sambil merebahkan tubuhnya di samping Senja. Ia menopang dagunya, dan menatap wajah sang istri yang masih sayu.


"Selamat pagi, sayang!" kata Senja dengan senyuman manisnya.


"Selamat pagi, Aya. Biasa saja kalau tersenyum, jangan manis-manis, nanti aku tergoda! Kau sudah cukup lelah, kalau aku kembali tergoda, kau nanti tidak akan bisa berjalan," ucap Ken.


"Ken!" teriak Senja sambil bangkit dari tidurnya. Ia meraih guling, dan memakainya untuk memukuli tubuh Ken.


"Dasar mesum!" teriak Senja.


"Mesum sama istri sendiri, itu tidak ada larangannya, Aya. Justru itu sangat dianjurkan," kata Ken sambil tertawa.


"Tapi kalau tidak mau mengerti kondisi istri, itu juga dilarang!" sahut Senja dengan bibir yang manyun.


"Aku mengerti, aku tidak pernah memaksamu." Kata Ken tidak mau kalah.


"Tapi aku masih sakit, dan semalam kau berlebihan!" teriak Senja.


"Hei, semalam kau yang menggodaku, Aya. Aku sudah mengajakmu tidur, tapi kau yang bersikeras melakukannya," kata Ken sambil menatap Senja.


"Itu karena kau marah, coba kau tidak marah, aku tidak akan merayumu!" gerutu Senja sambil memalingkan wajahnya.


"Oh, jadi kau melakukannya, karena aku mendiamkanmu, hemm?" tanya Ken seraya merengkuh tubuh Senja dari belakang.


"Lepas, Ken!"


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Apa?"

__ADS_1


"Kau mau merayuku, karena aku mendiamkanmu?" tanya Ken.


"Iya."


"Kenapa?" tanya Ken.


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa kau merayu dengan cara yang seperti itu? Kenapa tidak hanya dengan kata-kata saja?" tanya Ken.


"Dari beberapa buku yang kubaca, amarah lelaki itu akan cepat reda, setelah melepaskan hasratnya. Dan aku ingin kau segera mengakhiri marahmu, jadi aku merayumu untuk melakukannya." Jawab Senja. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ken, dan membiarkan lelaki itu merengkuh pinggangnya dengan erat.


"Aya, buku apa yang kau baca? Kau punya bacaan negatif, ya?" tanya Ken dengan cepat.


"Ckk, jangan salah! Itu hanya buku novel. Kau jangan berpikiran yang macam-macam!" jawab Senja.


"Oh novel, aku kira kau punya bacaan yang menarik. Boleh dong, aku pinjam," ucap Ken sambil tertawa.


"Jangan mulai deh, Ken!" teriak Senja seraya mencubit lengan Ken dengan cukup keras.


"Aw, sakit Aya."


"Makanya jangan kotor terus pikirannya."


"Ya ya baiklah! Ya sudah mandi sana, setelah itu kita turun, dan makan siang!" kata Ken sambil melepaskan rengkuhannya.


"Makan siang?" tanya Senja sambil mengernyitkan keningnya.


"Hah!" teriak Senja dengan mulut yang membuka lebar. Hari-hari sebelumnya, tak pernah ia bangun sesiang ini.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku, Ken!" teriak Senja sambil beranjak dari ranjang.


"Ken?" ucap Ken sambil menaikkan alisnya.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku, sayang?" ucap Senja, ia menekan kata 'sayang' di akhir pertanyaannya.


"Tidurmu sangat nyenyak, aku tidak tega, Aya." Jawab Ken.


"Tapi aku malu sama Mama. Ini sudah tengah hari, dan aku baru bangun. Kamu menyebalkan, Ken!" gerutu Senja.


"Ken?"


"Kamu menyebalkan, sayang!" teriak Senja sambil melotot tajam. Lalu ia melangkah menuju ke kamar mandi, meninggalkan Ken yang saat itu sedang tertawa keras.


***


Tepat pukul 11.30, Ken dan Senja turun ke lantai bawah. Bu Ratih sudah menunggu mereka di meja makan. Ken berjalan dengan langkah yang ringan, dan senyumannya terus mengembang di bibirnya.


Sementara Senja, ia berjalan di belakangnya dengan gugup. Tinggal dirumah mertua, dan bangun tengah hari, oh tidak, itu adalah sesuatu yang sangat buruk. Sejak menikah dengan Ken, baru kali ini ia melakukannya.


"Selamat siang, Ma!" sapa Ken sambil duduk di depan ibunya.

__ADS_1


"Siang, Ken!" Jawab Bu Ratih.


"Selamat siang, Ma!" sapa Senja dengan suara yang pelan, seraya duduk di sebelah Ken.


"Senja, kamu baik-baik saja?" tanya Bu Ratih. Melihat Senja yang terus menunduk, Bu Ratih sedikit khawatir. Mungkinkah luka di kepalanya kembali sakit?


"Aku baik, Ma." Jawab Senja.


"Aya, jangan terlalu dipikirkan! Aku yakin, Mama akan lebih senang kalau kita sering bangun siang. Kenapa? Karena peluang Rashya untuk memiliki adik, itu semakin besar," ucap Ken sambil tersenyum lebar.


Dengan cepat Senja mencubit pinggang Ken. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di depan ibunya.


Namun Ken malah tertawa, dan hanya menatap Senja sekilas.


"Oh sekarang Mama mengerti, kamu merasa tidak enak sama Mama?" tanya Bu Ratih sambil menatap Senja.


Senja tidak menjawab, dia hanya menanggapinya dengan anggukan, dan senyuman kaku.


"Tidak perlu seperti itu Senja. Mama sudah pernah bilang kan, jangan anggap Mama sebagai mertua kamu, tapi anggaplah sebagai orang tua kamu. Tidak perlu merasa tidak enak, Mama juga pernah muda, Mama sangat mengerti, ya!" kata Bu Ratih sambil tersenyum ramah.


"I...iya Ma." Jawab Senja dengan gugup.


"Ya sudah, ayo makan!" ajak Bu Ratih sambil mencentong nasi, dan menaruhnya di atas piring.


Senja tersenyum, lalu ia melakukan hal yang sama. Ia mengambil nasi dan lauk untuk dirinya, dan juga untuk suaminya.


"Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberikan anugerah yang terindah dalam hidup hamba. Seorang suami yang sangat mencintaiku, dan seorang mertua yang sangat menyayangiku. Menikah dengan Ken, membuatku merasakan arti hidup yang sebenarnya." Batin Senja dalam hatinya.


"Oh ya Ma, Rashya di mana?" tanya Senja sambil menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Sedang bermain dengan Bibi di kamar." Jawab Bu Ratih.


"Oh."


"Nanti malam biarkan Rashya tidur di kamar Mama, ya!" kata Bu Ratih.


"Kenapa begitu, Ma?" tanya Senja.


"Biar kalian lebih leluasa." Jawab Bu Ratih dengan santainya.


"Leluasa?" ucap Senja mengulangi ucapan Bu Ratih.


"Iya, kalau leluasa kan, nanti adiknya Rashya cepat jadi," kata Bu Ratih sambil tersenyum.


"Oh My God Mama," batin Senja sambil memalingkan wajahnya.


Tidak heran Ken juga sering berkata vulgar, ternyata ibunya saja seperti ini. Wajah Senja langsung semerah tomat, dan Ken, dia hanya menatapnya sambil tertawa.


Bersambung...


Dua episode lagi end yahh!!

__ADS_1


__ADS_2