
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 sore waktu Jepang. Seorang lelaki muda sedang duduk sendiri di kursi kerjanya. Dia adalah Ken, dia sedang duduk sambil menatap foto Senja yang terpampang jelas di layar laptopnya. Senja sedang berdiri di pinggir laut, merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.
Ken menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengingat tentang Senja selalu saja membuat hatinya sesak, dan perih. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, ia mengukir kenangan yang manis, dan merajut cinta yang indah bersama dengan Senja. Setahun sudah mereka berpisah, namun Ken belum juga berhasil menghapus perasaannya. Ia masih sangat mencintai Senja, ia masih berharap suatu saat Senja kembali kedalam pelukannya.
Ken beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati jendela ruangannya. Tak lupa ia menyambar rokok, dan pemantik api elektrik yang tergeletak di atas meja. Ken mulai menyulut rokoknya, dan menghisapnya dengan pelan, menikmati aroma nikotin yang perlahan masuk kedalam tenggorokannya.
"Senja." gumam Ken sambil menghembuskan asap rokoknya. Matanya menatap lurus ke depan, entah maksudnya sinar senja yang hampir berlalu, ataukah Cahaya Senja yang sedang ia rindu.
Fikiran Ken menerawang jauh ke masa lalu. Masa dimana ia, dan Senja saling menjaga hati. Sangat indah, saat itu Ken merasa menjadi lelaki yang paling beruntung. Mendapatkan Senja, adalah sebuah anugerah terindah dalam hidupnya. Namun kini semua tinggal kenangan, yang sebenarnya harus ia lupakan. Karena Senja kini sudah menjadi milik lelaki lain, mereka sudah terikat pernikahan.
Lamunan Ken terhenti, saat mendengar bunyi ponselnya yang cukup nyaring. Dengan malas Ken kembali melangkah menuju meja kerjanya. Ia raih ponsel itu, yang ternyata penelfonnya adalah Sella. Selain berteman dengan Senja, Sella juga berteman dengan Ken, karena dulu mereka kuliah di universitas yang sama.
"Hallo Sel!" sapa Ken.
"Hallo Ken, bagaimana kabar kamu?" tanya Sella.
"Aku baik Sel, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik." jawab Sella.
"Kau menelfonku hanya untuk bertanya kabar, atau ada hal lain?" tanya Ken.
"Sebenarnya ada hal lain Ken, dan ini...menyangkut tentang Senja." jawab Sella dengan pelan.
"Senja, apa yang terjadi padanya?" tanya Ken sambil menegakkan duduknya. Mendengar nama Senja, hatinya mulai berdebar-debar.
"Tadi dia menelfonku, dan dia meminta bantuanku." jawab Sella.
"Bantuan apa? Apa dia sedang ada masalah?" tanya Ken dengan cepat.
"Dia meminta tolong padaku untuk mencari informasi tentang Adara, katanya wanita itu adalah mantannya Fajar. Kau mengenalnya Ken?"
"Adara! Aku tidak kenal, tetapi aku tahu siapa dia." ucap Ken.
"Apakah dia putrinya Jhon Victory?" tanya Sella.
"Iya, dan dari kabar yang kudengar mereka sekarang tinggal di Jakarta." jawab Ken.
"Itulah masalahnya Ken. Jhon Victory adalah pemilik Grup Golden Star, aku tahu orangnya. Tapi aku tidak tahu tentang Adara, sejak pertama kali muncul di Jakarta, dia mengaku jika Alex Victory adalah putra tunggalnya. Tidak pernah sekalipun mengatakan tentang putrinya, apalagi menyebut nama Adara." ucap Sella dengan panjang lebar.
"Kau serius Sel?" tanya Ken.
"Aku serius. Aku tadi mencoba mencari tahu tentang keluarga Jhon Victory waktu di Surabaya. Tapi aku tidak menemukan apapun, sepertinya informasi tentang mereka sengaja ditutup. Dan Adara, aku sama sekali tidak mendapatkan titik terang tentang dia." jawab Sella menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi Adara itu benar-benar anaknya Jhon Victory, aku yakin itu." kata Ken.
"Tadi Senja juga bilang begitu. Itu sebabnya aku menghubungi kamu Ken, tolong kamu bantu aku untuk mencari tahu tentang Adara ya." ucap Sella.
"Baik, tapi kenapa Senja mencari tahu tentangnya? Apakah Fajar macam-macam?" tanya Ken.
"Aku juga tidak tahu, tadi Senja tidak bilang apa-apa, dia hanya meminta tolong itu padaku." jawab Sella.
"Baiklah, aku akan membantumu."
"Tapi jangan mengatakan apa-apa pada Senja, dia akan marah jika tahu aku memberitahumu." ucap Sella.
"Tidak akan, lagi pula sekarang aku tidak pernah berhubungan dengan dia."
"Terima kasih ya Ken." ucap Sella sambil tersenyum.
"Aku ingin memastikan hubungan Senja, dan Fajar selalu membaik. Dengan begitu, Ken tidak akan berharap lagi padanya. Ken, sejauh ini apa kamu belum sadar, jika aku sangat mencintai kamu. Kau, dan Senja sudah berakhir, tidak salah kan jika aku mengharapkan kamu." batin Sella dalam hatinya.
"Iya sama-sama, ya sudah aku tutup ya." kata Ken.
"Iya." jawab Sella.
Lalu Ken meletakkan kembali ponselnya. Dan ia duduk di kursinya, sambil melipat tangannya di dada. Ia mencoba berfikir keras, mencerna setiap kalimat yang baru saja Sella ucapkan padanya.
"Adara, kenapa Jhon Victory tidak mengakui keberadaannya. Jelas-jelas dia itu putri pertamanya. Tidak mungkin dia melakukan ini tanpa alasan, pasti ada sesuatu yang terjadi." ucap Ken dengan pelan.
"Ternyata benar, informasi tentang Adara memang ditutup, apa yang sebenarnya terjadi." ucap Ken sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
"Tapi aku tidak peduli betapa sulitnya mencari tahu tentang Adara. Aku akan melakukannya, aku akan membuktikan bahwa Fajar adalah lelaki yang tidak setia. Kalau aku berhasil, peluangku untuk kembali mendapatkan Senja, akan semakin besar." kata Ken sambil tersenyum lebar.
***
Malam yang dingin, tiada bintang, dan tiada sinar rembulan. Langit luas tertutup hamparan mega hitam. Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, semakin lama semakin deras. Seolah alam ikut melukiskan perasaan Senja kala ini. Perasaan resah, dan gelisah yang bercampur dalam hatinya.
Malam ini Fajar, dan Senja baru saja tiba di rumah Bu Rani. Sebuah rumah megah berlantai tiga. Halamannya luas, dan dilengkapi taman yang ditanami bermacam-macam bunga, dan anggrek yang harganya cukup fantastis. Gaya rumah yang klasik, dan elegan, dengan perabotan yang semuanya impor. Sekali lihat saja orang langsung tahu, jika pemiliknya adalah orang yang kaya raya.
Fajar, dan Senja berjalan bersama menuju pintu utama yang sudah terbuka lebar. Fajar menggandeng tangan Senja, dan mengajaknya melangkah masuk. Mereka langsung menuju ke ruang makan. Tampak di sana sebuah meja panjang yang dibalut kain renda warna putih lengkap dengan kursinya. Aneka macam menu makanan, dan minuman tersaji dengan rapi di atas meja.
"Kak Senja, Kak Fajar!" panggil Farah sambil melangkah mendekati Kakaknya.
"Sayang, pelankan jalanmu! Ingat kamu sedang hamil!" kata Bu Rani sambil ikut melangkah mendekati Fajar, dan Senja. Matanya menatap remeh pada Senja.
Senja menghela nafas panjang, mencoba bersabar menghadapi sikap mertuanya yang selalu menyindirnya dengan kehamilan.
__ADS_1
"Selamat malam Ma!" sapa Fajar saat Ibunya sudah berdiri tepat di depannya.
"Selamat malam sayang, akhirnya kamu datang juga!" jawab Bu Rani sambil tersenyum.
"Bagaimana kabar Mama?" tanya Senja sambil berusaha tersenyum.
"Buruk." jawab Bu Rani dengan singkat.
"Buruk, apakah Mama sakit?" tanya Senja.
"Tidak, hanya saja bagaimana ya, punya menantu yang mandul itu rasanya seperti makan hati. Seperti sia-sia menikahkan anak, karena tidak bisa memberikan cucu." jawab Bu Rani dengan santainya.
"Jika Mama mengundang kami hanya untuk menghina Senja, lebih baik kami pulang sekarang. Harus berapa kali Ma aku bilang, aku yang belum menginginkan anak, aku masih ingin hidup berdua dengan Senja. Kenapa Mama tidak bisa mengerti!" kata Fajar dengan nada yang sedikit tinggi.
"Ma jangan seperti itu, kasihan Kak Senja." bisik Farah dengan pelan.
Senja memejamkan matanya, mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Ingin sekali ia berteriak bahwa Fajar tidak pernah menyentuhnya. Tetapi ia sadar, itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah akan menimbulkan masalah yang baru.
"Kamu memang sering mengatakan hal itu, tetapi Mama juga ragu Fajar. Itu benar keinginan kamu, atau hanya cara kamu untuk menutupi kekurangan istrimu." ucap Bu Rani sambil menatap Fajar, dan Senja secara bergantian.
"Cukup Ma! Aku tahu aku banyak kekurangan, aku tidak cantik, aku miskin, dan aku belum bisa memberikan keturunan. Tapi aku juga punya harga diri Ma, aku tidak rela jika Mama terus merendahkan aku. Tanyakan saja kepada Kak Fajar, kenapa sampai saat ini aku belum bisa hamil." kata Senja dengan nada yang sedikit tinggi. Untuk pertama kalinya ia berbicara sedikit kasar pada mertuanya.
"Kamu mulai kurang ajar Senja!" geram Bu Rani.
"Aku tidak akan seperti ini, jika Mama tidak terus-terusan merendahkan aku." jawab Senja, kali ini ia sambil menangis. Ia sudah tak mampu lagi membendung air matanya.
"Ma sudah, ayo kita makan!" sahut Fajar.
"Kamu membela dia Fajar! Dia membentak Ibumu, dan kamu malah membelanya. Kamu benar-benar telah buta karena cinta yang tidak masuk akal!" bentak Bu Rani sambil menatap Fajar dengan tajam.
Belum sempat Fajar menjawab perkataan Ibunya, tiba-tiba Dion, dan Pak Hery datang mendekati mereka.
"Ada apa ini Ma?" tanya Pak Hery pada istrinya.
"Menantumu yang mandul sekarang mulai bertingkah!" jawab Bu Rani sambil menatap Senja dengan sinis.
"Ma, apa yang kau katakan. Jangan seperti itu, Senja juga bagian dari keluarga kita." kata Pak Hary sambil menatap Bu Rani.
"Kamu juga membelanya Mas? Aku tidak mengerti dengan jalan fikiran kalian, apa yang kalian lihat dari dia." ucap Bu Rani sambil menunjuk ke arah Senja.
"Dia hanya wanita miskin yang tidak sederajat dengan kita, dan dia juga mandul. Seharusnya Adara yang lebih layak bersanding dengan Fajar, bukan dia." sambung Bu Rani sambil melotot tajam.
"Aku pulang Kak!" kata Senja sambil melangkahkan kakinya. Ia berlalu pergi tanpa pamit pada mertuanya. Cukup sudah, ia tidak akan membiarkan dirinya terus dihina oleh Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Senja! Tunggu sayang!" panggil Fajar sambil mengejar Senja. Ia tidak peduli dengan teriakan Ibunya yang memanggil namanya.
Bersambung.....